Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 9..OCT

January 26, 2021 0 Comments

Kekhawatiran kami berkurang karena hasil visus setiap bulan yang kami lakukan menunjukan tekanan mata tetap normal. Pemberian glaupen dihentikan karena pemakaian yang terus menerus akan menimbulkan peradangan sehingga timol menjadi obat satu-satunya untuk menjaga tekanan mata agar tetap stabil.

Empat bulan sudah kami menjadi warga RS Cicendo. Masih di masa PSBB, sistem skrining saat pendaftaran mulai disederhanakan. Apabila di awal masa pandemi kami harus mengantri lama untuk menjalani skrining Covid 19 terlebih dahulu, di awal tahun ini skrining dilakukan secara online bagi pasien kontrol dan skrining langsung bagi pasien baru.

Di awal tahun ini, pupil mata Zauji mulai memucat. Pupil merupakan bagian tengah mata berbentuk bulat dan berwarna hitam yang berfungsi untuk menangkap cahaya lalu memfokuskan pada retina sebagai pusat penglihatan.

Pupil yang mulai memucat ini dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya glaukoma dan adanya benda asing (silikon) dalam mata. Opsi dari Prof Arief adalah evakuasi silikon apabila sudah dipastikan pupil memucat bukan disebabkan dari efek glaukoma dan sudah dilakukan OCT pupil. Optical coherence tomography (OCT) merupakan teknik pencitraan diagnostik medis yang memanfaatkan fotonik (photonics) dan serat optik untuk mendapatkan gambar dan karakterisasi jaringan mata.


OCT

Hari berikutnya kami kembali ke bagian glaukoma dan melakukan OCT. Pemeriksaan dokter menyebutkan bahwa dalam kasus Zauji, pupil memucat tidak bisa secara spesifik diketahui sebabnya karena pupil pucat biasa terjadi pada orang yang memiliki minus tinggi. Dokter bagian glaukoma memberikan acc untuk evakuasi silikon.

Selanjutnya di Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 10...Evakuasi Silikon

Foto : justmenong

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 8....Ikhtiar Maksimal

November 19, 2020 0 Comments

Dokter subspesialis glaukoma, dr. Maula Rifada, SpM(K), menyarankan operasi pembuatan saluran untuk mengeluarkan cairan agar dapat menurunkan tekanan mata yang tentunya membahayakan. Sesuai jadwal klinik reguler BPJS, kami kembali berkonsultasi dengan bagian glaukoma. Berdasarkan catatan yang tertera direkam medis, dokter memberikan rekomendasi yang sama yaitu operasi. Berbeda dengan prosedur biasanya, kali ini pemeriksaan pra operasi dilakukan langsung pada hari itu juga tanpa harus menunggu H-3 operasi. Kami pun kembali melakukan pemeriksaan rutin seperti pemeriksaan lab (termasuk PCR), rontgen (hal ini tidak perlu karena rontgen bulan Juni masih berlaku), konsultasi di bagian penyakit dalam dan anestesi.



Menjelang sore, kami kembali ke klinik glaukoma. Dokter memberikan jadwal ±2 minggu yang akan datang. Karena hari sudah sore sehingga suasana klinik relatif sepi dibanding biasanya. Dengan pengalaman operasi hingga 7x, setelah kami diskusi panjang lebar dengan dokter jaga, akhirnya dokter jaga menyarankan agar kami kembali keesokan harinya untuk berdiskusi langsung dengan dokter kepala.

Kami pun kembali keesokan harinya dan Alhamdulillah berkesempatan bertemu lagi dengan dr. Maula. Beliau memahami kondisi dan kekhawatiran kami sehingga memberikan alternatif lain yaitu tindakan laser yang relatif lebih ringan dan insya Allah dapat menurunkan tekanan mata. Namun, tak berbeda jauh dengan operasi pembuatan saluran, tindakan laser ini tetap harus dilakukan saat mata ‘bersih’ dari silikon.

Dokter pun memberikan waktu kepada kami untuk bersiap dan memberikan obat penurun mata selain timol, yaitu glaupen. Dan kami dijadwalkan untuk kembali konsultasi di hari Senin.

Kembali ke rumah dengan segala macam rasa yang tidak bisa dijabarkan. Zauji mengingatkan bahwa ikhtiar yang harus dilakukan pertama kali adalah ikhtiar langit. Segala segala sesuatu milik Allah maka Allah juga yang akan menyembuhkan segala penyakit yang kita rasa. Kita hanya bisa ikhtiar maksimal dengan berobat di rumah sakit terbaik dan dokter terbaik.

Hari Senin kami kembali ke RS Cicendo. Hari itu kami bertemu dengan konsulen lainnya. Hasil visus menyatakan bahwa tekanan mata Zauji di bawah 20 sehingga penundaan operasi dikabulkan. Selanjutnya kami harus kembali kontrol secara rutin.

Di klinik Paviliun RS Cicendo, kami bertemu dengan Dr. dr. Andika Prahasta, SpM(K), M.Kes, dokter subspesialis senior glaukoma, selama ± 2 bulan kami berkonsultasi. Setelah tekanan mata relatif stabil di kisaran 20-an, kami kembali ke bagian retina.

 

Bagaimana selanjutnya?

Baca : Pengalaman Operasi AblasioRetina...Perjuangan itu Dimulai..Part 9

Foto : pixabay

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 7...Sejauh Mana Kita Bersabar

November 02, 2020 0 Comments

Selepas operasi ablasio retina ke-7 ini, perasaan kami berdua relatif baik-baik saja. Kontrol dijadwalkan satu bulan sekali dan kami sengaja konsultasi dengan dokter yang sama di klinik paviliun. Tiga bulan berlalu, Alhamdulillah kondisi retina Zauji dalam keadaan baik, artinya silikon oksana HD  yang ditambahkan bekerja secara efetif. Hal ini sungguhlah melegakan. Meski penggunaan silikon oksana HD disarankan tidak lebih dari 3 bulan namun Prof. Arief menyarankan untuk tetap mempertahankan silikon oksana HD selama mungkin agar retina menempel dengan sempurna. Evakuasi (pengangkatan) silikon oksana HD hanya akan dilakukan apabila sudah terbentuk emulsi atau hal lain yang mengganggu kondisi retina atau mata secara umum.


Kondisi mata Zauji masih sama seperti sebelumnya, hanya bisa melihat dengan samar namun sudah tidak ada lagi blank seperti dulu. Kondisi inilah yang harus dipertahankan dan tentunya disyukuri.

Qodarullah di bulan ke-4, sesuatu terjadi. Tekanan mata Zauji tiba-tiba naik mencapai 40 artinya red allert karena mengindikasikan glaukoma. Tidak ada gejala sama sekali seperti sebelumnya, pusing atau mual sehingga Zauji merasa baik-baik saja.

Prof Arief memberikan rujukan untuk konsultasi dengan dokter glaukoma. Saat ini juga kami lanjut bertemu dengan dr. Maula Rifada, SpM(K). Tekanan mata naik disebabkan penumpukan cairan yang bisa jadi akibat adanya silikon dalam mata. Beliau menyarankan tindakan operasi berupa pembuatan saluran untuk mengeluarkan cairan. Sebagai konsekuensinya, silikon harus dievakuasi terlebih dahulu. Kondisi ini menjadi simalakama bagi kami. Pembuatan saluran hanya bisa dilakukan apabila mata bersih dari silikon sedangkan kondisi retina yang telah lepas secara berulang akan rentan mengalami robekan kembali apabila silikon dilepas.

Karena diperlukan tindakan operasi, kami kembali ke klinik reguler via BPJS.

 

Bagaimana selanjutnya?

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 8....Ikhtiar Maksimal

10 Spot Cantik Kawah Rengganis, Ciwidey Bandung

October 15, 2020 0 Comments

HIjaunya sumber air panas kaya belerang

Mengisi liburan panjang di tengah pandemi Covid 19 bukanlah hal yang mudah. Karena kondisi masih belum aman untu bepergian jauh dan berkerumun, kami mencari alternatif lain untuk mengusir kejenuhan. Bandung Selatan menjadi pilihan kami karena jaraknya yang relatif dekat. Seperti biasa kami berangkat sedari pagi. Cuaca Bandung sedikit mendung pagi itu. Hari masih pagi saat kami sampai di alun-alun Ciwidey. Tak lupa sarapan terlebih dahulu untuk mengisi perut, kami berhenti di sebuah warung kecil yang penjual kupat tahu. Warung ini terletak di sebelah kiri persis sebelum belokan ke arah alun-alun Ciwidey.

Saat ini kawasan Kawah Putih dikelola pihak swasta 

Setelah perut terisi, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah kawasan kawah putih karena sebagai orang Bandung, saya sama sekali belum pernah berkunjung kesana. Namun karena tiket masuk dirasa cukup malah (Tiket masuk Rp.100rb dan ongkos angkutan untuk ke lokasi Rp.25rb), kami pun berbalik arah.

Karena tak mungkin langsung pulang kembali ke rumah, kami pun menepi saat melihat gerobak bakso tak jauh dari gerbang Kawah Putih. Penjual bakso mengarahkan ke tempat wisata yang lebih terjangkau, Kawah Rengganis.

Lahan parkir luas

Kami pun melanjutkan perjalanan di bawah langit mendung. Kurang lebih 30 menit kami sampai di lokasi (Kawah Rengganis terletak tak jauh dari Situ Patenggang, Ciwidey, salah satu kawasan wisata favorit di selatan kota Bandung). Kawah Rengganis ada di sebelah kiri jalan. Tak ada papan petunjuk besar yang menandai arah jalan menuju kawasan kawah Rengganis. Kawah Rengganis hanya bisa ditempuh dengan motor. Bagi bolangers yang membawa mobil, kendaraan berukuran besar hanya bisa di parkir di pinggir jalan. Tidak disarankan untuk membawa anak atau lansia karena meskipun jarak dari jalan raya ke kawasan kawah tidak terlalu jauh namun bolangers harus menempuh melalui jalan berbatu tidak terlalu lebar yang menanjak dan berkelok.

Jalan berbatu seperti inilah yang menghubungkan jalan raya Ciwidey dan kawasan Rengganis

Kawah Rengganis masih dikelola dengan sederhana. Tiba di parkiran motor yang cukup luas, kami turun melalui tangga berbatu yang tidak terlalu curam. Hanya berjarak beberapa meter kami tiba di tepian kawah. Tidak ada pos tiket masuk selayaknya tempat wisata, hanya ada meja dengan beberapa petugas yang mengatur antian agar pengunjung tetap menjaga jarak dan memakai masker. Tiket masuk adalah ‘saridona’ alias sukarela.

Papan peringatan ada dimana2

Meski seluruhnya belum tertata dengan baik, kawah Rengganis memiliki pemandangan yang indah dan masih asli. Sumber panas dari dalam tanah dan balik bebatuan dibatasi dengan pagar pengaman. Banyak pengunjung yang sudah berendam di beberapa kolam buatan. Sebagian pengunjung berendam lumpur yang diklaim dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Bagi bolangers yang akan mandi lumpur harus membayar lagi Rp.5000.

Belerang obat kulit

Mengambil lumpur untuk obat

Saatnya mandi lumpur


Pengunjung bisa menggelar tikar alias botram sambil menikmati makanan dan minuman. Kami hanya berkeliling sambil sesekali mengambil foto dan tak menghabiskan waktu disana karena menjelang jam 10.00 WIB sudah banyak pengunjung yang datang. 

Rasanya kawah Rengganis bisa menjadi alternatif bagi bolangers yang rindu dengan pemandian air panas namun tak perlu khawatir dengan kerumunan pengunjung.

Baca juga : Pengalaman One Day Trip ke Raja Ampat, Keindahan Menakjubkan di Papua Barat (1)

Foto : Dokumentasi justmenong

Pantai Ambal, Kebumen, Alternatif Wisata di Jalur Selatan Jawa

September 06, 2020 1 Comments

Beberapa saat yang lalu, kami berkesempatan menunaikan janji kami pada Ibunda Zauji untuk mengunjungi kerabat di kota kelahiran beliau, Purworejo, Jawa Tengah. Rencana ini memang sudah kami rancang jauh hari sebelumnya namun baru terwujud setahun kemudian karena qodarullah berentetan ujian sakit dalam keluarga.

Karena ini kunjungan silaturahim dadakan, alamat yang dituju beserta rute yang akan dilalui baru kami dapat satu hari sebelumnya. Meski Ibunda Zauji bersikeras masih ingat dengan daerah yang akan dikunjungi namun Zauji tetap menyempatkan mencari informasi melalui kerabat lain mengingat memori Ibunda Zauji terpaut jauh hampir 25 tahun yang lalu dan tentunya desa yang dituju sudah banyak berubah ;)

Mengingat perjalanan yang cukup jauh dan ini baru pertama kali kami bepergian jauh, termasuk saya tak pernah merasakan nikmatnya mudik, kami berangkat pada malam hari dengan mobil. Alhamdulillah kami mendapatkan supir baik dan membawa mobl dengan nyaman. Sesekali kami beristirahat di mesjid yang kami lalui. Perhitungan awal waktu akan ditempuh 5 – 6 jam namun karena sering berhenti, hingga jam 7 pagi kami baru sampai di daerah Kabupaten Kebumen.

Ada dua rute yang bisa kami tempuh, lewat kota atau menyusuri panjang sepanjang jalur selatan. Pemandangan cantik jalan pantai selatan Jawa menyambut kami. Tak sengaja melihat papan penunjuk jalan yang menunjukan bahwa ada pantai tak jauh dari jalan raya yang kami lalui. Tepat di sebelah kanan, tak jauh dari jalan raya, terletak di desa Ambalsari, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Pantai Ambal memesona kami semua untuk singgah. Dengan membayar uang parkir sebesar Rp. 10.000,00 saja, kami bisa menikmati keindahan hamparan pasir yang terbentang sepanjang 500 meter. 
Pantai Cantik dan Bersih

Pantai yang bersih dan cantik. Pengunjung yang tidak terlalu banyak sehingga kami bisa bebas berlarian di sepanjang pantai tanpa terganggu pengunjung lain. Deburan ombak Samudera Indonesia menyambut kami. Apabila dibandingkan dengan pantai lain yang pernah saya kunjungi, pantai Ambal sangat layak untuk dijadikan destinasi wisata. Rasa lelah dan penat hilang seketika terhapus oleh pecahan ombak yang menyentuh kaki kami.


Bila tak ingat perjalanan masih panjang untuk kami tempuh, rasanya kami masih ingin berlama-lama di pantai ini. Nah, bolangers, jangan lupa berkunjung ke Pantai Ambal ya untuk menikmati keindahan hakiki pantai selatan Jawa.



Foto : Dokumentasi pribadi

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 6...Hampir Satu Tahun Berlalu

August 28, 2020 0 Comments


Bukan hanya Covid 19 yang membuat semua orang beradaptasi dengan kebiasaan baru atau biasa disebut dengan New Normal, kami mulai beradaptasi dengan keadaan Zauji menjelang satu tahun ‘bersahabat’ dengan Ablasio Retina. Pasca operasi kali ini, kami lebih santai menanggapi karena sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Suasana Antrian Pendaftaran di Klinik Reguler

Pasca kontrol di klinik reguler, kami kembali menemui Prof. Arief S. Kartasasmita, dr., SpM (K), M.Kes.,M.M.,PHd, di klinik paviliun. Beliau dengan ramah menerangkan kondisi terakhir Zauji. Silikon oksana HD merupakan silikon campuran yang memiliki viskositas > silikon 5000 cSt. Silikon oksana HD biasa digunakan pada kasus ablasio retina yang sudah tidak bisa ditangani dengan silikon 5000 cSt. Pasien tidak bisa langsung menggunakan silikon jenis ini karena silikon jenis ini tetap memiliki kekurangan. Silikon oksana HD merupakan campuran polimer yang rentan pecah membentuk emulsi yang dapat menyumbat saluran di mata dan menimbulkan masalah baru yaitu glaukoma. Salah satu pemicu terbentuknya emulsi adalah benturan goncangan seperti terjatuh atau olah raga tertentu termasuk lari.

Selain retina yang baik-baik saja, tekanan mata normal dan hasil visus menunjukan minus mata kanan sudah berganti menjadi plus dan silindris, kondisi kanan Zauji masih mengalami peradangan sebagai efek operasi yang berulang. Kondisi ini harus ditangani dengan obat anti radang sebelum dirujuk ke subspesialis lain bila radangnya masih tetap ada pasca diobati.

Jauh lebih lega..itulah perasaan kami. Sesi konsultasi yang lebih tepat obrolan santai ini membuka wawasan kami. Seperti halnya, dr. Rova, Prof. Arief juga tidak membatasi aktivitas lain seperti mengendarai motor, mengangkat beban berat (alasannya kalau terlalu berat, Zauji juga pasti tidak akan mengangkatnya kan, lol), dan aktivitas lainnya. Alasan terpenting adalah pasien Ablasio Retina bukanlah orang cacat atau invalid sehingga tetaplah produktif seperti biasa.

Nasihat lain adalah jangan terlalu memikirkan penyakit yang diderita karena memikirkan penyakit sejatinya tugas dokter, pasien hanya mengikuti arahan sebagai bagian dari ikhtiar.

Pada umumnya, silikon oksana HD atau silikon jenis apapun tidak boleh terlalu lama berada di dalam mata atau harus dievakuasi dalam waktu tertentu ( 3 atau 6 bulan). Secara  normal dokter akan menjadwalkan silikon oksana HD 2 – 3 bulan pasca operasi namun hingga menjelang bulan ke-3, posisi retina masih belum pulih sepenuhnya, masih ada bagian yang basah sehingga dikhawatirkan retina akan lepas kembali bila silikon oksana HD dievakuasi dalam waktu dekat. Observasi akan dilakukan dalam waktu satu bulan.

Sudah hampir satu tahun, kami bolak balik ke Pusat Mata Nasional (PMN) RS Cicendo ini. Semoga kondisi mata Zauji segera membaik sehingga operasi terakhir bisa dilaksanakan sembari menunggu pemasangan lensa. Ikhtiar adalah keharusan namun tawakal dan ridho atas segala keputusan Allah di atas segalanya.

 

Baca kelanjutannya di : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 7...Sejauh Mana Kita Bersabar

Foto : Dokumentasi pribadi

Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 7...Hari-hari pasca kemoterapi

August 15, 2020 0 Comments

Proses kemoterapi sendiri tidak dirasakan terlalu berat. Pasien hanya berbaring sambil obat yang diberikan via infus selesai. Babak yang justru harus diperhatikan adalah pasca kemoterapi. Efek pasca kemoterapi akan muncul berbeda setiap pasien.

Ibunda baru merasakan 2 hari pasca kemoterapi diantaranya pusing, mual dan tidak berfungsinya indera perasa. Dokter sendiri tidak memberikan obat selain multivitamin dan penahan sakit.



Efek ini tidak tertahankan. Selain semangat untuk sembuh, daya tahan tubuh merupakan kunci untuk bisa kuat selama proses kemoterapi. Banyak kondisi pasien yang turun pasca kemoterapi karena umumnya kurangnya asupan makanan sehingga tubuh melemah. Meski tidak ada rasa sama sekali di lidah, Ibunda tetap memaksakan makan. Inilah yang kami syukuri, semangat Ibunda untuk kembali sehat tak diragukan lagi. Saya pun membatasi obat herbal karena khawatir akan bersifat kontradiktif dengan obat kemoterapi. Herbal yang masih kami teruskan hanya daun kelor, bawang putih tunggal, minyak zaitun, madu dan sari kurma.

Baca : Testimoni Obat Herbal untuk Kanker Payudara

Karena sama sekali tidak berselera makan, meski dibatasi untuk makanan tertentu seperti ayam broiler, makanan instan dan gula, saya mengijinkan Ibunda makan apapun yang beliau mau. Menu sarapan pilihan kami adalah lontong padang. Meski tak banyak, setidaknya masih ada makanan yang masuk ke perut. Sebagai gantinya persediaan buah-buahan dan sayuran kami tambah.

Meski terasa pusing, Ibunda tidak berhenti berativitas. Beberapa kegiatan ringan masih bisa dilakukan termasuk pergi ke warung :(

Efek lain adalah mual dan muntah. Alhamdulillah efek ini tidak terus menerus Ibunda rasakan. Kerontokan rambut mulai ada pasca kemoterapi ke-2, sedikit demi sedikit dan masih menyisakan sedikit rambut. Kerontokan ini berbeda setiap pasien. Salah seorang pasien kemoterapi bercerita, rambutnya tiba-tiba menggumpal dan jatuh saat disentuh saat belau bangun tidur. Hal ini menjadi salah satu trauma bagi pasien kanker payudara.

Hal lain yang Ibunda rasakan adalah tak bisa lagi menahan buang air kecil sehingga kerap kali wudhu Ibunda harus diulang, seprai dan baju yang lebih sering diganti. Beberapa kasus terjadi konstipasi (susah buang air besar) namun ada juga yang malah diare berkepanjangan. Terkadang gangguan terjadi pada mata menjadi belekan atau berair. Pada umumnya pasien kemoterapi juga mengeluhkan pengeroposan tulang (osteoporosis) sehingga tambahan kalsium sangat diperlukan.

Kondisi kritis ini berlangsung antara 7 – 10 hari. Hanya saja di sesi ke-6, masa kritis Ibunda berlangsung lebih lama hampir 2 minggu karena mungkin badan setelah lelah ‘digempur’ obat-obatan selama hampir 5 bulan lamanya. Lepas masa kritis kondisi akan membaik dan Ibunda menyiapkan diri untuk kemoterapi berikutnya. Hal-hal tadilah yang sangat berpengaruh pada kondisi pasien kanker payudara. Tentunya selain pertolongan Allah, dukungan dari keluarga juga sangat penting untuk melewati hari-hari berat melawan kanker ini.

Di berbagai kesempatan biasanya kami saling bertukar cerita, ada seorang ibu berumur lebih dari 65 tahun yang juga berjuang melawan kanker payudara harus berobat tanpa ditemani siapapun karena kedua putranya bekerja dan tinggal di luar kota. Beliau menjalani 2 paket kemoterapi (artinya 12 sesi) dan belasan kali opname sendirian. Dan dalam kondisi seperti ini tentunya banyak hal lain yang harus kita urus seperti bolak balik ke rumah sakit untuk daftar kontrol atau kemoterapi, antri di klinik bedah onkologi atau sekedar mencari tempat foto kopi di luar rumah sakit.

Semoga setiap langkah yang kami lakukan menjadi catatan kebaikan di akhirat nanti.

Bagaimana cerita selanjutnya? Baca : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 8....Setelah kemoterapi