Wisata Alam Jelajahi Negeri Kebanggaanku

August 12, 2021 2 Comments

Beautiful Green

Itulah sebutan yang diberikan teman saya, seorang konsultan berkebangsaan Jerman, beberapa tahun yang lalu. Tak salah bila julukan ini disematkan pada sebuah negeri yang teramat indah, Indonesia. Lahir dan tumbuh di kawasan padat penduduk, membuat saya kehilangan banyak momen seru bermain dengan alam semasa kecil. Dan tak heran, kini, saat diberi kesempatan bertemu pantai atau gunung, saya selalu menikmati keseruan setiap perjalanan yang saya lakukan. Ngabolang alias berwisata alam menjadi ritual tetap yang saya jalani bila ada waktu luang terutama saat mendapat kesempatan bersua dengan tempat baru. Menjelajah setiap sudut nusantara yang penuh dengan keanekaragaman selalu menjadi petualangan seru yang tak terlupakan.

 

Deburan ombak dan birunya laut bagai candu yang menarik saya untuk bercengkrama lebih lama. Dari sekian banyak destinasi pantai yang telah saya kunjungi, ada beberapa yang menjadi favorit saya diantaranya (tentu saja) Raja Ampat, Papua Barat dan Tanjung Bira, Sulawesi Selatan.


Raja Ampat, Sorong, Papua Barat

Raja Ampat menyuguhkan panorama alam menakjubkan yang akan membuat bolangers terpukau dengan segala keindahannya. Terletak di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat,  kepulauan Raja Ampat membentang sepanjang 4,6 juta hektar yang mencakup pulau-pulau batu dengan perairan bawah lautnya yang memukau. Selain pesona pantainya, Raja Ampat menjadi salah satu kawasan wisata yang menjaga dan melindungi fauna Indonesia dengan keunikan spesies ikan, moluska, terumbu karang dan biota laut seperti kuda laut dan ikan dugong sehingga tak heran bila dinobatkan menjadi destinasi diving terbaik di dunia.

Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat

Senyum saya merekah sepanjang perjalanan menuju Piaynemo Island dengan pulau batu yang ikonik, Telaga Bintang, Desa Sauwandarek, Pasir Timbul. Keindahan Raja Ampat bagaikan keindahan surgawi. Hal pertama yang memukau mata saya adalah jernihnya air biru yang bergradasi menggoda saya untuk berenang, snorkelling dan menyelam bersama yang lain. Namun, tentunya persiapan saya ke Sorong hanya sebatas bertugas tidak lebih sehingga tak ada peralatan khusus yang saya bawa, berbeda saat dulu kami berlibur ke Pulau Tidung.



Mampir yuks : Snorkling Di Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, Jakarta

 

Raja Ampat merupakan satu dari sekian banyak destinasi wisata alam yang masih terjaga keasliannya. Tidak ada hiruk pikuk keramaian, bolangers akan dimanjakan dengan wisata alam ramah lingkungan yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian. Inilah salah satu pilihan untuk berwisata tanpa merusak alam dan lingkungan. Di Homestay Piaynemo, saya terpesona dengan deretan penginapan berdinding kayu di area hutan bakau yang menyatu dengan keasrian alam. Semilir angin berdesir menemani siapa saja yang rehat sejenak melepaskan penat. 

Homestay di Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat

 

Mampir Yuks : Pengalaman One Day Trip ke Raja Ampat, Keindahan Menakjubkan di Papua Barat (1)

 

Berbekal sendal jepit ungu berhias bunga, baju yang sedikit fashionable agar tampak cantik di depan kamera, HP dan kamera saku berbaterai penuh, petualangan saya di "The Ultimate Pristine Paradise in West Papua" resmi dimulai. Meski sendiri tanpa teman dalam grup one day trip ini, saya selalu bersemangat melompat turun dari speedboat ke setiap dermaga yang kami kunjungi. Selagi yang lain asik menikmati keindahan bawah laut, saya berkeliling pulau menggoreskan setiap bait kenangan dengan menelusuri keindahan perahu berwarna warni yang bermandikan cahaya, derai tawa anak-anak yang sedang mencari umang-umang di pinggir pantai dan duduk terdiam di dermaga sembari mengamati wisatawan asing berlatih kayak.

 


Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Pantai lain yang menjadi destinasi favorit saya adalah pantai Tanjung Bira, Bulukumba, yang dapat  ditempuh dalam 6 jam perjalanan darat dari Makassar, ibukota provinsi Sulawsi Selatan. Rasa penat terbayar dengan deburan ombak dan lautan biru yang tenang. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama begitu menjejakan kaki di hamparan pasir putih berpadu dengan lembah yang membujur sepanjang pantai cantik ini.

Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan

Mampir yuks : Pesona Pantai Tanjung Bira…Pantai Cantik di Ujung Selatan Sulawesi

 

Tak hanya pantai, gunung pun menjadi pilihan saya untuk menikmati keindahan alam. Dibesarkan di cekungan Bandung yang notabene dikelilingi pegunungan alias diriung ku gunung, saya otomatis akrab dengan suasana udara sejuk dan aroma khas dataran tinggi.


Bromo, Jawa Timur

Bromo menjadi favorit saya sepanjang masa. Keindahan Bromo yang membujur bak lukisan membuat siapapun akan takjub dengan kebesaran Tuhan. Bromo adalah tempat yang akan membuka keindahan Indonesia di mata dunia. Paduan puncak gunung yang menjulang tinggi, awan kelabu dan lembah hijau bagai harmoni sempurna yang menelisik setiap jiwa yang rindu berpadu dengan alam. Bromo adalah sumber inspirasi yang tak ada habisnya.

Berpetualang di Bromo


Kawasan vulaknik terbesar di Jawa Timur ini terletak di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Selain menikmati matahari terbit di Love Hill yang harus dicapai dengan menaiki ratusan anak tangga, saya juga terpana dengan hamparan luas kaldera yang menjadi destinasi kedua sekaligus tempat kami menikmati sarapan. Pemandangan lautan pasir seluas 10 km yang tak berkesudahan saat perjalanan pulang hanya sebagian khazanah keindahan yang menggoda untuk singgah dan menjelajahi Bromo. Track khusus untuk wisatawan telah disediakan khusus sebagai bagian dari upaya untuk menjaga dan melindungi hutan di kawasan TNBTS.

Bromo


Kawasan Bromo dikenal sebagai Land of Edelweis, Anaphalis javanica. Demi menjaga dan melindungi flora Indonesia, larangan memetik sembarangan bunga Edelwise liar di alam sudah lama diberlakukan agar tidak terjadi kepunahan. Dan tentu saja bolangers wajb mematuhinya ya demi menjaga lingkungan hidup agar dapat berkontribusi dalam memelihara keanekaragaman yang ada di Indonesia salah satunya keanekaragaman flora. Namun jangan khawatir, kini sudah banyak budidaya Edelwies sehingga bolangers masih dapat menjadikan bunga perlambang keabadian ini sebagai buah tangan.

 

Sejak pandemi Covid 19, tentunya rencananya ngabolang semakin jauh dari angan-angan. Namun, saya dan Zauji tak kehilangan cara untuk menikmati liburan. Dengan berbekal mematuhi protokol kesehatan yang ketat, masih ada beberapa tempat wisata yang dapat kami tuju khususnya di daerah Bandung Raya, salah satunya Kawah Rengganis. 

Kawah Rengganis

Kawah Rengganis, Bandung, Jawa Barat

Kawah Rengganis atau yang juga dikenal sebagai Kawah Cibuni terletak di kawasan Ciwidey, ± 40 km arah selatan kota Bandung. Ditempuh dalam waktu ± 2 jam, Kawah Rengganis berada tak jauh dari Kawah Putih dan Situ Patengan. Kawah yang berasal dari letusan Gunung Patuha (Gunung Sunda Purba) ini bisa dijadikan alternatif wisata alam lain yang tak begitu ramai pengunjung, terutama di pagi hari. Hanya bisa dilalui dengan kendaraan beroda dua, kawasan Kawah Rengganis nyaris terkesan asli dan tanpa polesan, kecuali 2 kolam yang diperuntukan untuk berendam. Aroma bau belerang dan bebatuan yang mengeluarkan uap berwarna putih menambah keeksotisan tempat ini. Selain itu, Kawah Rengganis menawarkan spot menarik berlatar belakang telaga hijau kebiruan yang dikelilingi lembah hijau yang masih asri.

Kawasan Asri Kawah Rengganis


Tidak ada harga tiket masuk resmi alias bolangers bisa masuk dengan bebas haya membayar biaya sukarela sebagai pengganti biaya perawatan yang masih dikelola masyaarakat setempat. Saya dan Zauji menyengaja datang lebih pagi, selain untuk menghindari kerumunan dan berinteraksi dengan banyak orang, udara pagi masih cukup segar pagi kami yang memilih berkendara dengan sepeda motor kesayangan.

 

Meski tak semua destinasi wisata alam memberlakukan aturan secara ketat seyogyanya kita wajib menjaga lingkungan hidup agar keanekaragaman wisata alam tetap lestari keasliannya.  Surga alam bumi pertiwi merupakan karunia dan titipan Tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan. Buang sampah pada tempatnya, kurangi penggunaan sampah plastik, tidak melakukan vandalisme atau perusakan ekosistem menjadi hal yang mutlak saat ngabolang berwisata alam. Yuk, bikin Indonesia Bangga dengan berbuat sesuatu untukmu bumiku.



#IndonesiaBikinBangga #UntukmuBumiku

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber

Foto : Dokumentasi justmenong

 

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 14...Ikhtiar Langit

July 28, 2021 0 Comments

Kontrol Rutin di RS Cicendo

Sudah hampir dua bulan Zauji tidak melakukan kontrol ke RS Cicendo. Kontrol bulanan yang sedianya dilakukan di minggu keempat bulan Juni tertunda karena kami sekeluarga mendapat ‘giliran’ terkonfirmasi Covid 19 sehingga pemulihan pasca Covid menjadi pilihan utama.

 

Mampir yuks : Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Komorbid Diabetes dan Orang Yang Sudah Divaksin...Part 1

 

Setelah tak lagi mengalami gejala dan swab antigen dipastikan negatif, kami mulai menjadwal ulang kontrol rutin kami dengan sebelumnya memperpanjang rujukan di faskes 1 dan 2 terlebih dahulu. Karena sudah menjadi pasien tetap, perpanjangan rujukan di faskes 1 tidak perlu waktu lama. Hasil pemeriksaan di faskes 2, RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) menunjukan ada penurunan jarak pandang. Hal ini memang sesuai dengan apa yang Zauji rasakan sejak terpapar Covid 19, jarak pandang jauh berkurang namun Alhamdulillah tidak blank sama sekali.

 

Kontol rutin bulanan jatuh pada hari Rabu agar kami bisa bertemu dengan Prof. dr. Arief. S. Kartasasmita, Sp.M(K) di klinik pavilium. Qodarullah, hari itu kami bertemu kembali dengan dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K).


Pemeriksaan Visus

Hasil pemeriksaan visus menunjukan adanya kenaikan tekanan bola mata kanan yang mencapai 27 dan penurunan penglihatan yang signifikan sesuai yang disampaikan dokter Novi di RS MAL. Alhamdulillah mata kiri dalam kondisi baik.


Pemeriksaan kali ini dilakukan berbeda, dokter Indra menyatakan ada jejak diabetes di mata kanan Zauji sehingga dimungkinkan penurunan penglihatan disebabkan diabetes. Selama terpapar Covid 19, gula darah Zauji memang naik drastis meski asupan makanan hanya 3 - 4 sdm makan saja. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan darah (gula darah puasa, gula darah PP dan HbA1C) dan OCT.

 

Karena tidak bersiap (baik belum berpuasa 10 jam sebagai syarat pemeriksaan darah), kami juga tidak mempersiapkan dana lebih. Sebetulnya Zauji dijadwalkan kontrol di poli reguler BPJS minggu depan namun agar dapat berkonsultasi lebih banyak kami memutuskan untuk konsul di klinik paviliun dan tentunya segala biaya ditanggung secara mandiri. Biaya pemeriksaan darah mencapai 500rb an, sedangkan OCT sekitar 600rb. Dokter tidak memaksa untuk melakukan pemeriksaan segera karena tentunya biaya yang diperlukan tidak sedikit. Namun dengan pertimbangan, hasil akan langsung dapat dikonsultasikan dengan dokter konsulen seperti dr. Indra, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pemeriksaan keduanya di klinik paviliun.


Hasil Pemeriksaan Laboratorium dan OCT

Kami kembali keesokan harinya. Pemeriksaan darah dilakukan 2 kali, 1x gula darah puasa, setelahnya Zauji sarapan dengan bekal yang kami bawa lalu kembali melakukan pemeriksaan gula darah 2 jam PP (post prandial = setelah makan). Sementara menunggu hasil, Zauji melakukan pemeriksaan Optical Coherence Tomography (OCT).


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 9..OCT



Meski waktu masih menunjukan jam 8 kurang, ruang tunggu laboratorium dipenuhi pasien dan keluarga yang sedang menunggu antrian atau hasil pemeriksaan. Beberapa diantaranya melakukan swab antigen sebagai persyaratan pra operasi.

Pemeriksaan OCT dilakukan oleh perawat yang sudah mengenal kami selama hampir dua tahun ini. Sambil melakukan pemeriksaan, kami saling bertukar kabar. Pemeriksaan dilakuan berulang karena Zauji kesulitan memfokuskan mata kanan mata titik yang ada pada alat. Hal ini normal bagi pasien dengan penurunan penglihatan (kerusakan retina atau papil). Hasil pemeriksaan dicetak dalam berlembar-lembar kertas.

 

Karena sudah terdaftar di hari sebelumnya, kami hanya melaporkan kepada bagian pendaftaran saja. Dari hasil pemeriksaan lab, gula darah Zauji (10 jam puasa dan 2 jam PP) tidak terlalu tinggi untuk pasien diabetesi, <200. Nilai HbA1C pun ada di angka, cukup bagus bagi Zauji yang pernah mencapai nilai 12 3 tahun yang lalu. Saya pun menyampaikan selama pemulihan pasca terpapar Covid 19, Zauji belum melakukan diet diabetes lagi karena target kami memulihkan kondisi dulu sehingga asupan karbohidrat belum diganti kembali menjadi nasi merah. Selain itu olah raga dan shaum sunnah yang biasa nya dilakukan Zauji juga kami skip hampir 1 bulan.


Adapun hasil OCT menunjukan ada bagian retina yang belum menempel kembali meski silikon HD sudah terpasang lebih dari 1 tahun. Hal ini dimungkinkan karena syaraf mata sudah kaku. Evakuasi silikon bukan menjadi pilihan yang tepat karena dikhawatirkan retina yang sudah menempel dakan lepas kembali. Saat ini, meski mengalami penurunan penglihatan, kondisi Zauji dalam keadaan stabil sehingga bukanlah hal yang bijaksana ‘mengobrak-abrik’ kondisi yang sudah ada.


Menunda Evakuasi Silikon

Untuk sementara, kontrol rutin bulanan menjadi opsi terbaik untuk mengobservasi kondisi Zauji, terutama tekanan matanya. Saat ini dokter hanya memberikan resep Timol dan Glaupen untuk menurunkan mata serta mengingatkan Zauji agar selalu mengontrol gula darah.

 

Ikhitiar langit lah menjadi satu-satunya harapan. Apapun yang Allah berikan, insya Allah selau yang terbaik. Meski manusia beriktiar dengan jalan maksimal, dokter terbaik, rumah sakit terbaik, peralatan dan obat terbaik, namun bila Allah belum berkehendak...semoga menjadi jalan kebaikan dan dan amal sholeh.

 

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Bersyukur di segala keadaan.


Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Orang Yang Sudah Divaksin

July 09, 2021 0 Comments

Momentum Luar Biasa

Akhir bulan Juni, sepertinya menjadi momentum yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Saat itu, pemerintah mulai melakukan pembatasan kegiatan karena lonjakan kasus Covid 19. Kewaspadaan lebih meningkat dibanding biasanya. Berawal di minggu ketiga di bulan Juni, saya merasakan gejala flu seusai rentetan aktivitas di kantor. Satu yang saya ingat, di hari itu saya menikmati satu cup mocca float, favorit saya untuk meredakan haus di tenggorokan saya. Mendung seakan menggelayut di langit kota Bandung membuat udara menjadi lebih dingin dan berangin dari biasanya.


Keesokan harinya, badan saya mulai terasa tak enak dan kehilangan selera makan. Badan dan kepala terasa berat. Meski demikian saya masih bekerja seperti biasa karena ada hal yang tak bisa ditinggalkan. Hari berikutnya panas badan saya naik mencapai 38°C dan rasanya saya sudah tak kuat lagi untuk bergerak dan memilih untuk 'mengalah' meninggalkan pekerjaan yang seharusnya saya tuntaskan. Istirahat dengan tuntas adalah jalan saya untuk meredakan flu.


Mengira hanya terkena influenza karena tanda gejala Covid 19 seperti mual, diare, batuk dan sesak tidak muncul, saya masih menunda berobat sampai hari ke 4 dan hanya minum paracetamol untuk menurunkan demam. Biasanya, paracetamol bekerja efektif untuk menurunkan demam tinggi seperti gejala typhoid yang biasa saya idap. Saat berobat, dokter menyatakan saya tidak perlu diswab kecuali panas dan pilek tetap berlanjut beberapa hari ke depan. Selama sakit, tentu saja Zauji yang menemani saya, memastikan saya istirahat dan makan cukup. Kamipun berinisiatif menggunakan masker meski di dalam rumah karena khawatir Ibunda Zauji dan satu ponakan kami yang sedang School From Home tertular juga. Alhamdulillah di hari ke 5, suhu badan saya turun, kondisi badan membaik dan hidung saya tidak lagi 'meler'. Selera makan sudah kembali  sehingga saya bisa menambah asupan makanan lebih dari biasanya untuk memulihkan kondisi. 


Tak dinyana, di hari ke-6, Zauji tiba-tiba demam tinggi. Berbeda dengan saya yang mengalami pilek, tidak ada gejala lain yang dirasakan Zauji selain badan yang terasa sakit. Selain saya dan Zauji, ada 2 anggota keluarga kami yang sakit dalam waktu bersamaan dan sering berkunjung ke rumah kami. Saat itulah, saya menyadari indera penciuman menghilang. Minyak kayu putih dan balsem yang biasa kami pakai untuk menghangatkan badan tak lagi tercium aroma apapun. Meski terasa membaik namun terkadang rasa lelah dan pusing masih sering muncul.


Konfirmasi Positif Covid 19

Dokter umum menyatakan Zauji hanya terkena flu namun anehnya kondisi semakin memburuk. Di hari berikutnya Zauji muntah tak henti sehingga tepat tengah malam kami inisiatif langsung ke IGD RS terdekat. Karena gejala yang muncul mirip dengan gejala Covid 19, dokter menyarankan agar Zauji melakukan swab antigen. Sebetulnya saya sedikit takut untuk jujur bila saya pun seminggu ini mengalami gejala yang sama. Selama menunggu Zauji dan berbicara dengan dokter, saya sadar diri untuk duduk berjauhan dan menjaga jarak dengan dokter dan perawat yang sedang bertugas. Namun dokter menyakinkan, kalaupun hasil swab antigen positif, kami ‘tidak akan diapa-apakan’ alias dokter tidak akan marah atau menghakimi kami. Dan bila gejala masih terbilang ringan, kami hanya diwajibkan isolasi mandiri di rumah. Dokter pun menyatakan, banyak orang yang melakukan swan antigen dan terkonfirmasi positif sehingga kondisi yang 'mungkin' saja nanti kami alami bukan lagi menjadi hal tabu atau aib. Dan benar saja, saat mendaftar di laboratorium, saya bisa melihat list orang-oranng yang melakukan swab antigen dan terkonfirmasi positif. Bahkan meski saat itu dini hari, masih banyak orang yang datang untuk melakukan swab antigen secara sukarela.

 

Saya pun melakukan swab antigen terlebih dahulu. Hanya berselang 15 menit, perawat menunjukan hasilnya. Meski terlihat samar, namun perawat menyatakan saya terkonfirmasi positif. Saya menyampaikan bahwa sebetulnya gejala sudah saya rasakan dalam seminggu namun sudah jauh berkurang, mungkin juga karena beberapa hari saya fokus bergantian menjaga Zauji. Dokter menyatakan gejala yang saya alami bisa jadi lebih ringan disebabkan karena vaksinasi yang sudah saya dapatkan.

Setelah Zauji tenang, saya membujuk Zauji untuk melakukan swab antigen juga. Dan ternyata tak dalam hitungan detik, swab antigen Zauji menunjukan hasil yang sama. Tidak ada yang bisa kami lakukan, dokter hanya memberikan resep obat dan menyarankan kami untuk segera lapor ke puskesmas terdekat dan RT setempat serta melakukan isolasi mandiri di rumah.

  • Hasil swab antigen Zauji

Lapor!!!

Sebagai warna negara yang taat aturan, keesokan harinya kami segera lapor langsung ke puskesmas kelurahan dan RT. Ternyata, pasien Covid 19 tidak mendapat pelayanan di puskesmas langsung tapi lapor melalui whatsapp. Satgas Covid 19 mendata kami sekeluarga dengan melampirkan foto KTP, hasil swab antigen positif dan menyertakan data seperti usia, gejala dan riwayat komorbid. Setiap KK yang sedang isoman mendapat satu orang pengawas yang akan memonitor kesehatan kami setiap hari. Karena hanya 3 orang yang bersedia diswab, ponakan kami yang tinggal di rumah melakukan swab antigen susulan karena merasakn gejala pusing sehari sebelumnya dan ternyata terkonfirmasi positif pula, maka hanya 3 orang yang dilaporkan kepada Satgas. Sementara Ibunda yang dimaklumi menolak swab antigen karena lansia diikutkan dalam isoman selama 14 hari karena mulai merasakan pusing dan lemas.


Zauji pun melaporkan kondisi kami kepada pihak RT. Meski ada saja yang menyarankan kami untuk diam-diam saja dan beraktivitas seperti biasa, namun saya tetap bersikeras. Terpapar Covid 19, bukanlah aib, dengan melapor, lingkungan bisa lebih waspada dan tentunya bagi saya sekeluarga akan lebih mudah mendapat bantuan di saat darurat seperti bila harus dirujuk ke RS karena masuk dalam pendataan.


Saat itu juga, saya mengabari keluarga inti kami. Tak lupa, saya mengabari pimpinan di kantor dan teman-teman yang masih beraktivitas dan bertemu saya di saat awal saya terkena flu. Alhamdulillah, usai kegiatan kantor, semua teman saya melakukan swab antigen dan tidak ada yang terpapar.


Isolasi Mandiri

Karena kondisi saya lebih baik daripada yang lain, gejala seperti kepala terasa berat dan lemas yang sesekali muncul terutama saat saya kelelahan, saya lah yang lebih aktif berkomunikasi dengan banyak orang termasuk memastikan ada yang mensuplai kebutuhan kami selama isoman. Alhamdulillah kerabat dan teman sangat banyak membantu dan ‘gercep’ menyediakan kebutuhan harian dan lainnya. Di hari kedua terkonfirmasi, meski tak kemana-mana, makanan, obat, vitamin dan lainnya sudah tersedia di rumah dalam jumlah berlimpah, termasuk resep dokter yang ditebus teman-teman kantor. Saya pun menutup pintu bagi siapapun yang berkunjung termasuk pihak RT dan kelurahan yang memberikan bantuan ke rumah. Semua hanya diberi akses sampai teras saja, termasuk pengantar paket yang hampir setiap hari mengirimkan bala bantuan.

 


Saya pun berkonsultasi dengan seorang teman yang terlebih dahulu sembuh dari Covid 19 terutama memastikan pengalaman sebagai penyintas Covid 19 yang mempunyai komorbid. Ternyata gejala yang dirasakan plek ketiplek dengan Zauji, panas tinggi dan sekujur badan sakit. Saya juga berkonsultasi dengan teman penyintas Covid yang isoman dengan lansia.


Bidan Endah, nakes pengawas keluarga kami sangat baik dan bersedia dikontak kapan pun mengingat ada pasien komorbid dan lansia di rumah kami. Beliau juga menawarkan untuk melakukan PCR dan obat-obatan gratis yang harus kami bawa sendiri ke puskesmas. Karena tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan,  Bidan Endah menyampaikan bahwa obat dan vitamin seperti vitamin D, vitamin E, vitamin C, Zink, dan antivirus (hanya saya yang minum) yang ada di rumah sudah cukup untuk kami.


Meski di awal kami masih bisa bercanda, namun ternyata hari-hari berikutnya lebih ''mencekam''.

 

Bagaimana kisah kami selama isoman?


Mampir yuks di Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Komorbid Diabetes

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 13...FAQ

June 12, 2021 6 Comments

Rasanya kami berdua pantas dinobatkan sebagai pasien paling cerewet sedunia. Setiap akan melakukan kontrol rutin, saya selalu menyiapkan pertanyaan. Inilah salah satu alasan kami memilih untuk sesekali kontrol di klinik paviliun agar kami dapat leluasa berkonsultasi dengan dokter subspesialis.

 

Kali ini kami sudah membuat segudang pertanyaan yang akan kami ajukan kepada dokter. Alhamdulillah, dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K) menjawab semua pertanyaan kami dengan ramah dan jelas.

 

Hard lens atau Kacamata?

Hard lens atau Rigid Gas Permeable Contact Lenses (RGPs) merupakan jenis lensa kontak yang lebih keras dan kaku daripada soft lens (lensa kontak lunak). Hard lens dapat membiarkan oksigen masuk ke mata dan umumnya memberikan penglihatan yang lebih jernih dan tajam daripada lensa kontak lunak. Hard lens tidak berfungsi untuk menggantikan kacamata. Dalam kasus Zauji, kacamata mata kanan akan dibuat sama dengan kacamata mata kiri yang memiliki minus lebih rendah. Sisa minus mata kanan akan digenapi dengan menggunakan hard lens.

 

Secara umum, hard lens lebih awet, lebih berkualitas dan tahan lama, lebih nyaman dan tentu saja lebih mahal. Penggunaan hard lens tak jauh berbeda dengan soft lens, pasien harus telaten dan bersih karena hard lens dimasukan manual dengan bantuan tangan dan tentunya akan terasa lebih ribet bagi yang belum terbiasa. Berdasarkan pengalaman, hard lens dapat digunakan hingga 2 tahun. Harganya tentu lebih mahal, beberapa tahun lalu berkisar 3 – 4 juta per pasang. Setelah berdiskusi, kami sepakat menunda opsi ini karena Zauji masih nyaman menggunakan kacamata biasa dan rasanya akan lebih repot bila harus bongkar pasang hard lens setiap saat..

 

Amankah Glauseta Diminum Setiap Hari?

Glauseta atau merek dagang cendo glaucon merupakan obat mata yang mengandung acetazolamide 250 mg. Glauseta digunakan membantu menurunkan tekanan bola mata. Biasanya digunakan bagi pasien glaukoma. Salah satu efek pemasangan silikon HD untuk menempelkan retina adalah tekanan bola mata yang naik turun. Kondisi tekanan mata yang naik, batas tolerasi bagi pasien ablasio retina pasca operasi adalah maksimal 24, tentunya berbahaya karena dapat menimbulkan glaukoma.

 

Selain obat tetes timol dan glaupen, dokter memberikan resep glauseta yang harus Zauji minum setiap hari. Secara teori, penggunaan glauseta tidak disarankan lebih dari 2 minggu. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Zauji diperkenankan untuk meminum glauseta hanya bila timol dan glaupen sudah tidak dapat memberikan efek menurunkan tekanan mata. Bila perlu, glauseta dapat diminum dalam waktu yang berselang seling alias tidak terus menerus.


Glauseta sendiri memberikan efek kesemutan karena kekurangan kalium sehingga harus dibantu dengan obat lain, Aspar K. Dokter juga memberikan solusi, selama Zauji masih bisa menahan kesemutan yang kerap muncul, Zauji diperkenankan untuk tidak perlu minum Aspar K dan disarankan banyak makan pisang.

 

Kondisi Papil Semakin Pucat dan Mengecil

Papil adalah area ujung syaraf mata. Papil dapat mengecil yang disebut atrofi papil. Kondisi ini menyebabkan syaraf mata rusak dan tidak mampu menghantarkan impuls atau rangsangan seperti mata normal dan terjadi kebutaan. Kondisi ini bersifat terminal atau irreversibel yang berarti kerusakan bersifat permanen dan tidak bisa dikembalikan pada kondisi normal, berbeda halnya dengan ablasio retina yang dapat diperbaiki melalui operasi. 


Dalam kasus Zauji, kondisi mengecilnya papil disebabkan riwayat operasi yang berulang dan pemasangan silikon HD. Inilah yang sering kami sebut dengan buah simalakama, tanpa operasi tentunya retina tidak bisa diperbaiki sedangkan operasi (terutama yang berulang) akan menimbulkan kerusakan pada bagian lain termasuk papil. Dokter sendiri menerangkan bahwa kerusakan papil akan membutuh waktu yang lama. Ikhtiar dan tawakal menjadi senjata penuh bagi kami. Ikhtiar maksimal dan serahkan semuanya pada Yang Maha Memiliki Segalanya termasuk mata, papil, retina dan lainnya yaitu Allah SWT semata.

 

Treatment Menjaga Tekanan Mata Agar Tidak Naik.

Silikon bisa bergerak dengan gerakan tidak terduga dan menekan bola mata yang menyebabkan tekanan bola mata naik. Saat tidur, silikon mata kan menekan papil yang berada di bagian bawah, inilah yang menimbulkan kerusakan pada pail. Sesuai dengan gaya gravitasi, secara logika, posisi tidur sejajar dengan lantai akan menyebabkan silikon menekan papil sehingga posisi tidur yang disarankan kepala harus lebih tinggi. Selain itu, dokter juga menyarankan agar posisi sujud tidak terlalu lama karena silikon cenderung akan bergerak ke depan (menjauh dari retina yang semestinya ditekan oleh silikon karena tidak adanya lensa yang menghalangi).

 

Mengatasi Mata Bengkak Karena Alergi Obat Tetes Untuk Membesarkan Papil

Saat akan dilalukan pemeriksaan visus, semua pasien akan obat tetes mata terlebih dahulu untuk membesarkan papil akan lebih memudahkan pemeriksaan. Alergi obat tetes ini rasanya baru terjadi sejak 6 bulan lalu, biasanya efek alergi berupa mata merah dan bengkak terasa beberapa jam setelahnya. Dokter menyarankan agar pada saat kontrol berikutnya, kami menanyakan pada perawat obat tetes mata apa yang digunakan apakah mydriatil atau efrisel sehingga kami dapat mengecek reaksi setelahnya.

 

Sering Silau dan Kelilipan

Terkadang Zauji mengeluh sering merasa silau saat terpapar cahaya matahari. Dalam kondisi silau, mata akan otomatis menutup dan tentunya berbahaya karena sampai saat ini kami berdua masih bepergian menggunakan motor. 

Kami pun mulai bisa memprediksi kondisi yang membuat mata silau diantaranya sinar matahari pagi terutama saat kami melintasi jalan layang Pasopati saat Zauji mengantar saya bekerja atau sorotan lampu kendaraan yang kami antisipasi dengan memperlambat laju motor.

Dokter Indra menerangkan bahwa kondisi ini terjadi karena retina dalam keadaan tidak normal sehingga lebih mudah merasa silau. Solusi yang bisa dilakukan adalah menggunakan topi dan kacamata agak gelap.




Kondisi lain yang sering dirasakan Zauji adalah sering merasa kelilipan. Dokter memastikan kondisi bukan disebabkan oleh silikon yang pecah namun lebih ke faktor mata Zauji yang memang belum dalam kondisi normal.



Silikon HD atau Gas

Silikon oksana HD merupakan silikon campuran yang memiliki viskositas > silikon 5000 cSt. Silikon oksana HD biasa digunakan pada kasus ablasio retina yang sudah tidak bisa ditangani dengan silikon 5000 cSt. Operasi pemasangan silikon HD dilaksanakan setahun lalu. Umumnya silikon harus dievakuasi atau dikeluarkan dari mata sebelum 3 bulan. Namun dalam kasus Zauji yang telah mengalami robekan yang berulang, diputuskan silikon HD belum dievakuai hingga saat ini. Hal ini tentunya bukanlah hal yang tanpa resiko. Seperti yang sudah dijelaskan dokter berkali kali, kondisi ini bagai buah simalakama karena resiko retina yang terlepas kembali akan selalu ada apabila evakuasi silikon dilakukan, begitu pula resiko lain bila silikon tetap dipertahankan yakni adanya kerusakan di bagian lain mata.


Sayapun sempat mempertanyakan, apabila terjadi robekan kembali setelah silikon dilepas apakah dapat digantikan dengan gas CF6??


Apa itu gas CF6, mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Part 3...Operasi Berikutnya


Dalam kondisi mata Zauji, retina sebagian besar bagus kecuali bagian bawah yang tentunya akan sulit dilihat kecuali pada saat pembedahan. Silikon gas atau silikon biasa secara alami akan bergerak ke atas karena mempunya berat jenis (BJ) yang lebih kecil dari air sehingga bagian bawah retina tidak dapat ditekan secara maksimal.

 

Lain halnya dengan silikon HD yang memiliki BJ lebih berat dari air sehingga secara gravitasi akan menekan ke arah bagian bawah yang otomatis akan menekan retina. Inilah alasan mengapa evakuasi silikon belum dilakukan. Hasil kontrol bagus dan stabil sehingga bila diotak atik ditakutkan akan merusak kondisi yang stabil


Alhamdulillah hingga saat ini Zauji masih bisa beraktivitas normal kecuali mengurangi berkendara di malam hari. Ikhtiar maksimal insyaAllah akan terus kami lakukan. Apapun yang terjadi, itulah yang terbaik bagi kami.


Alhamdulillah ala kulli hal

Bersyukur di setiap keadaan.


Selanjutnya : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 14...Ikhtiar Langit

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 12...Menunggu

June 02, 2021 0 Comments

Menjelang satu tahun pasca operasi ke-7

Hampir satu tahun, kami ‘bersahabat’ dengan ablasio retina. Ablasio retina merupakan lepasnya retina sehingga terjadi gangguan penglihatan. Ablasio retina dapat muncul salah satunya karena faktor rabun jauh parah, minus tinggi untuk kasus Zauji. Qodarullah, beberapa hari sebelum munculnya gejala yaitu hilangnya penglihatan mata, kami berdua mengalami kecelakaan motor. Entahlah, apa yang memicu terjadinya robekan pada retina mata kanan, yang jelas hingga kini Zauji masih mengalami penurunan penglihatan meski tidak separah saat awal sebelum operasi.

 

Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina…Saat Nikmat Mata Berkurang


Bulan Juni tahun ini, tepat 1 tahun pasca operasi ke-7. Secara teori, seharusnya silikon oksana HD yang dipasangkan pada operasi ke-7 harus segera dievakuasi maksimal 3 bulan pasca operasi. Namun dengan riwayat robekan retina yang berulang, dokter memutuskan untuk menunda selama mungkin hingga kondisi retina dipastikan benar-benar menempel.

 

Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Saat Cinta Diuji

 

Tekanan Mata

Setiap bulan, kami secara rutin kontrol ke poli reguler RS Cicendo, selain itu memastikan kapan evakuasi silikon, kami pun perlu mengecek tekanan mata dan kondisi retina apakah ada robekan atau tidak. Alhamdulillah, hingga saat ini, kondisi retina masih menempel dan stabil meski papil memang terlihat memucat sebagai akibat lamanya pemasangan silikon sehingga terjadi penurunan penglihatan. Karena tekanan mata selalu naik turun, Zauji pun akhirnya memang secara rutin mengonsumsi Glaucon (Glauseta) untuk menjaga tekanan mata. Secara teori, Glaucon tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi untuk jangka panjang sehingga dokter menyarankan Glaucon diminum tidak setiap hari. Obat tetes timol menjadi obat tetes wajib setiap pagi dan malam, sedangkan glaupen hanya ditetes bila tekanan mata >24.


Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengontrol tekanan mata karena berbeda kadar gula darah atah tekanan darah yang bisa dideteksi dengan alat mandiri di rumah, tekanan mata hanya dapat diukur dengan alat di RS dan tentunya ini menjadi kendala bagi pasien yang hanya bisa mengetahui tekanan mata saat melaksanakan kontrol rutin.

 

Kontrol di Klinik Paviliun

Bulan Mei, kami berinisiatif menemui Prof. dr. Arief S. Kartasasmita, Sp.M (K) M.Kes Ph.D di klinik paviliun namun qodarullah beliau berhalangan dan digantikan oleh dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K). Beliau adalah salah satu dokter yang sering kami temui di poli reguler BPJS dan beberapa kali menggantikan Prof Arief atau dr.Rova Virgina, Sp.M (K) di klinik paviliun.

 

Beliau menerangkan meski secara teori, silikon HD seharusnya sudah dievakuasi namun dokter memutuskan untuk mempertahankan kondisi agar retina menempel sempurna. Dokter juga menenangkan khawatiran kami mengenai penglihatan yang menurun karena papil yang terus memucat. Kerusakan papil berbeda dengan kerusakan retina. Kerusakan papil bersifat irreversibel artinya kondisi tidak bisa dikembalikan ke semula namun proses penurunan penglihatan terjadi dalam jangka waktu yang panjang yang berbeda dengan ablasio retina yang terjadi dalam waktu singkat namun penglihatan bisa dikembalikan menjadi normal selama retina dapat menempel kembali.


Saat ini, mata kanan Zauji memiliki minus kecil karena mata kanan tidak memiliki lensa mata (sejak operasi ke-2) dan masih terpasang silikon HD sehingga saat menggunakan kacamata akan terlihat jelas perbedaan ketebalan diantara lensa mata kanan dan mata kiri. Beliau menyarankan agar Zauji menggunakan hard lens agar kacamata Zauji yang memiliki minus dengan selisih jauh berbeda antara kanan dan kiri, terlihat memiliki ketebalan yang sama. Kacamata minus kedua mata menggunakan ukuran minus kacamata kanan yang lebih kecil sedangkan pada mata kiri dipasang hard lens untuk menggenapkan kekurangan minus di mata kiri. Dokter Indra memberikan rujukan dokter spesialis yang dapat memberikan rujukan apakah Zauji dapat menggunakan hard lens atau tidak. 


Banyak pertanyaan yang kami ajukan dan Alhamdulillah dr. Indra menjelaskan semua pertanyaan yang kami ajukan dengan jelas. 


Pertanyaan apa saja yang kami ajukan???

Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 12...FAQ


Referensi dari berbagai sumber

Foto : Pixabay


BPJS di Era Digital, Layanan Cepat, Semangat Sehat

May 28, 2021 0 Comments

Hampir dua tahun lamanya, keluarga kami ditimpa ujian sakit. Awal tahun 2020 menjadi ujian kedua bagi kami setelah Zauji yang lebih dulu menghabiskan waktu dengan menjalani pengobatan mata di RS Mata Cicendo. Ibunda didiagnosa kanker payudara dan tentunya memerlukan pengobatan medis sesegera mungkin.




Berada jauh, saat keduanya sakit dan benar-benar membutuhkan kehadiran saya sebagai istri dan anak, sejatinya membuat hati saya berpasrah dan menerima apapun yang Allah berikan kepada saya. Alhamdulillah, kami tinggal di kota besar dengan segudang fasilitas dan kemudahan lain termasuk diantaranya layanan BPJS.

 

Lika Liku Menjadi Pasien BPJS

Sebagai orang yang diberi kemudahan mendapatkan fasilitas kesehatan secara gratis, jujur saja, saya termasuk orang yang malas menggunakan fasilitas (dahulu) Asuransi Kesehatan atau ASKES. Selama sekian tahun, saya hanya menggunakan fasilitas ASKES di saat kondisi darurat seperti saat menjalani operasi, rawat inap atau saat bolak balik ‘sowan’ ke IGD karena maag dan vertigo saya kumat. Selebihnya saya selalu menggunakan pembiayaan mandiri alias bayar pakai uang sendiri meski berobat ke dokter spesialis sekalipun. Alasan utamanya adalah karena saya malas mengurus rujukan di puskesmas Cianjur padahal saat sakit serius, saya selalu pulang dan berobat di Bandung. Antrian yang panjang cukup menambah daftar keengganan menggunakan ASKES.

 


Adanya tranformasi ASKES menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan membuat saya otomatis beralih menjadi peserta BPJS sesuai aturan. Sebenarnya adik dan Ibunda sudah terlebih dulu menjadi peserta BPJS jalur mandiri. Selain dari pendaftarannya yang bisa dilakukan secara online, BPJS juga memberikan layanan kesehatan untuk non pegawai seperti Ibunda tidak memiliki fasilitas kesehatan apapun. Alhamdulillah banyak kemudahan yang saya rasakan. Bagi sebagian orang, layanan BPJS terkesan ribet dan tidak memuaskan namun pengalaman saya ‘bergaul’ dengan BPJS cukup membuktikan bahwa BPJS mudah untuk digunakan selama kita memahami alurnya. Salah satu cerita seru dan memorable layanan BPJS adalah sewaktu saya harus berlebaran di 7 IGD RS beberapa tahun yang lalu.

 

Mampir yuks : Day 28 :Pengalaman Berlebaran di 7 IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 1

 

Layanan BPJS

Seiring dengan peralihan tersebut, atas saran adik, saya mengalihkan faskes 1 ke Bandung (sesuai KTP) dan memilih klinik pratama sebagai faskes 1 dengan pertimbangan pasien dan antrian di klinik akan lebih sedikit bila dibandingkan puskesmas. Selain itu jadwal dokter di klinik pratama bisa dipilih pagi atau sore hingga malam yang tentunya akan memudahkan saya berobat. Alhamdulillah, proses peralihan berjalan lancar, meski Kartu Indonesia Sehat (KIS) belum ada, saya masih masih bisa menggunakan nomor ASKES untuk menjalani operasi ganglion di RS Hermina Bandung. Petugas BPJS di RS Hermina melayani dengan baik. Sayapun tidak mengalami kesulitan melengkapi persyaratan administrasi karena semua bisa dilakukan via online dan telepon. Kondisi ini tentunya memudahkan saya yang masih harus wara-wiri karena masih tetap harus bekerja di luar kota Bandung.


Mampir yuks: Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1

 

Setelah menikah, saya dan Zauji memilih klinik dekat rumah sebagai faskes 1. Proses perpindahan faskes 1 dilakukan melalui online di kantor BPJS Kesehatan karena saya masih penasaran ingin berkonsultasi dengan petugas BPJS. Meski klinik yang saya pilih hanyalah klinik sederhana namun layanan bagi peserta BPJS tetap maksimal. Begitu pula bila saya memerlukan tindakan lanjutan yang tidak bisa ditangani di faskes 1, faskes 1 akan memberikan rujukan ke faskes 2. Biasanya kami memilih RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) yang tidak terlalu crowded



RS MAL terletak di kawasan industri dan sebetulnya bukan RS besar dan populer di daerah kami, namun karena pasien yang tidak terlalu banyak dan pengurusan administrasi BPJS yang lebih mudah membuat kami berdua lebih sering berobat kesana. Saya sendiri sudah dua kali rawat inap di RS MAL dengan menggunakan fasilitas BPJS. Dan tak terhitung kontrol rutin karena saya memiliki riwayat kristal di saluran kemih yang masih sering kambuh, irigasi telinga di bagian THT atau konsultasi promil di bagian ginekolog. Dan semuanya tanpa biaya sama sekali karena menggunakan fasilitas BPJS.


Pusat Mata Nasional, RS Cicendo

Selain saya, Zauji dan Ibunda pun menggunakan BPJS selama masa pengobatan. Alhamdulillah selama hampir 2 tahun menjadi ‘sahabat mata’ di Pusat Mata Nasional, RS Cicendo, segala fasilitas pengobatan dicover BPJS sepenuhnya.


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ablasio Retina di Pusat Mata Nasional : RS Cicendo

 

Sampai saat ini, kami masih ikhtiar bolak balik ke RS Cicendo. Terkadang, kami bertemu pasien lain yang datang dari luar kota Bandung. Menurut pengalaman saya, pelayanan bagi pasien BPJS, KIS atau umum di RS Cicendo bisa jadi terbaik apabila dibandingkan dengan rumah sakit lain yang pernah saya kunjungi. Hanya saja, bila antrian cukup panjang, harap bersabar yaa...karena tentunya semua ingin mendapat pelayanan terbaik.

Tempat tidur nyaman di ruangan Bougenvile


Cancer Center, RS Santosa 

Ibunda sendiri masih harus kontrol setiap bulan di bagian Bedah Onkologi, RS Santosa. Ada cerita menarik selama menjalani pengobatan kanker payudara dalam setahun ini.

Ada satu yang berbeda ketimbang prosedur di RS lain, RS Hermina meminta berkas rujukan asli setiap kali akan kontrol dan tentunya ini bisa menjadi hal yang sulit mengingat rujukan berlaku 3 bulan sekali dan hanya diberi 1 berkas asli saja. Alhamdulillah, saat kami kembali ke faskes 1, pihak puskesmas (dokter umum yang dulu memeriksa Ibunda dan memberikan rujukan) memudahkan dan memberikan foto kopi rujukan yang ditanda tangan dan dicap asli sehingga kami tidak perlu bolak balik meminta rujukan setiap minggu. Proses ini pun berlangsung cepat karena data Ibunda sudah masuk dan terintegrasikan ke dalam sistem sehingga pencarian data membutuhkan waktu nyaris kurang dari 5 menit saja.



Dan ada satu kejadian yang lucu, saat akan meminta berkas rujukan ini, saya berinisiatif untuk menggantikan Ibunda mengurus semuanya. Dengan pede, saya berangkat ke puskesmas kompleks, setelah menjelaskan sana sini, pihak puskesmas pun paham dan mulai mencoba mencarikan solusi. Langkah awal tentunya mencari data Ibunda di database BPJS puskesmas. Entah kenapa, datanya terus menerus tidak muncul padahal tanggal dan urutan kejadian sudah saya jelaskan dengan rinci. Bahkan nama dokter pemberi rujukan pun tidak ada, Dan setelah semua turun tangan, akhirnya terjawab sudah, ternyata saya salah puskesmas...mestinya saya pergi ke puskesmas kelurahan yang terletak di luar kompleks. Meski menahan malu, namun pihak puskesmas kompleks memaklumi ketidaktahuan saya😳.

 

Atas saran adik, saya memindahkan faskes 1 Ibunda ke klinik dekat rumah agar Ibunda bisa berobat di pagi atau sore hari. Proses pemindahan faskes 1 dilakukan online dan baru akan aktif di awal bulan. Saat itu, kami belum terpikir akan menjalani pengobatan panjang kanker. Namun, Alhamdulillah, meski faskes 1 baru belum bisa menerima Ibunda sebagai pasien, puskesmas terdahulu masih melayani keperluan Ibunda untuk mengurus persyaratan operasi masektomi dan lainnya.


Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi


Digitalisasi Layanan BPJS

Layanan BPJS sudah mulai dilakukan melalui sistem digital berbasis web service dan tidak lagi manual sehingga lebih cepat, runut dan terintergrasi. Banyak orang yang menyatakan bahawa berobat dengan BPJS itu ribet, saya pribadi sebagai pengguna BPJS, bersyukur tidak ada hal yang menjadi halangan. Selama iuran bulanan, prosedur dan aturan dijalankan, insya Allah layanan BPJS akan dapat dimanfaatkan. Terlebih di era digital ini, peserta dan petugas BPJS dapat melakukan banyak hal melalui sistem. Peserta BPJS dapat melakukan pembayaran bulanan melalui autodebit. Petugas atau dokter pun hanya cukup mengentrikan data untuk memberikan rujukan ataupun resep obat ke dalam sistem sehingga lebih praktis dan efisien.

JKN Mobile


Jangan lupa, pastikan surat rujukan dari faskes 1 atau faskes 2 masih berlaku saat kita berobat. Kemudahan ini dirasakan pula oleh teman-teman yang mendapatkan layanan BPJS melalui jalur KIS. Pada umumnya, ketidaktahuan bagaimana cara mendapatkan layanan terbaiklah yang membuat orang malas dan ragu menggunakan BPJS.


Salam sehat selalu😊


#DigitalisasiBPJSKesehatan