Mengapa Saya Memilih Menulis di Blog?

May 24, 2022 22 Comments

Cover cerpen
Cover Kumpulan Cerpen : Hatiku Merah Jambu

Selain membaca, saya sangat suka sekali menulis. Tahun ini menjadi tahun ke-10 bagi saya untuk menuliskan banyak hal di blog, entah blog pribadi, blog pekerjaan atau blog lain. Mengapa saya memilih menulis di blog? Ada sejuta alasan tentunya. Dan semua alasan itu berawal dari mimpi dan langkah seorang kanak-kanak yang menyukai buku, kertas dan sebatang pensil.


Bahasa Indonesia

Pelajaran Bahasa Indonesia selalu menjadi pelajaran favorit saya. Karangan bebas mengenai kegiatan liburan panjang yang biasanya menjadi tugas rutin setiap awal tahun ajaran baru selalu saya tunggu dengan gembira. ‘Liburan di rumah nenek’ yang biasa dijadikan topik utama sebagian besar anak-anak saat diminta menulis karangan, saya tulis panjang lebar kali tinggi dengan sudut pandang yang berbeda agar tak lagi berkesan ‘B’ aja.


Saya masih ingat, saat saya duduk di kelas 4 SD, saat itu saya baru saja pindah sekolah, saya sudah dapat menuliskan kerangka karangan dengan baik dalam setiap karangan yang saya buat. Semua cerita dibuat runut sesuai ‘time line’ dan tak ada kalimat yang diawali dengan kalimat yang sama di setiap awal paragrafnya. Bagi saya, sebuah karangan haruslah menjadi suatu mahakarya luar biasa meski penikmat nya hanya saya sendiri 😘

Menjelang abege, diari menjadi jalan bagi saya menulis. Diari yang penuh dengan kode rahasia dan dibuat dengan tulisan sekecil mungkin secara bertumpuk, saya simpan di bawah kasur dengan harapan tak ada orang yang akan membacanya. Dan kebiasaan ini berakhir saat saya punya teman dekat yang tinggal berbeda kota. Saling berkirim surat hingga berlembar-lembar lagi-lagi menjadi jalan berikutnya untuk menulis. Surat-surat ini masih saya simpan berbelas tahun dan akhirnya saya musnahkan dengan hanya mengingatnya saja sebagai kenangan indah di masa kanak-kanak.


Bu Ratni Bezriati

Beliau adalah guru Bahasa Indonesia SMA saya, yang namanya selalu saya sebut setiap saya diminta menceritakan seberapa dalam dan berharganya kecintaan saya menulis. Tiba-tiba saja, saya yang pendiam, nyaris tak terlihat dan biasanya hanya menjadi remahan di antara para siswa, mendadak populer karena cerpen saya dipilih Bu Ratni sebagai cerpen terbaik di antara siswa kelas 1 yang beliau ampu.


That was the best moment
.

Tanpa harus tampil, saya bisa menjadi diri sendiri yang hadir melalui tulisan-tulisan saya. Di masa kuliah, hobi saya menulis akhirnya mendapat jalan lewat mading di kampus yang kami kelola. Dengan nama samaran ‘Diva’ yang berarti perempuan hebat dalam bahasa latin (dulu istilah ini belum setenar sekarang sebagai kata ganti seorang penyanyi dengan bakat luar biasa), saya mengelola mading dengan sepenuh hati. Di sela kesibukan kuliah, praktikum dan menyusun laporan, menulis untuk mading adalah cara paling ampuh dan menenangkan untuk mengekspresikan hobi saya.


Kenangan akan Bu Ratni, membuat saya semakin percaya diri untuk terus mengembangkan diri. Salah satunya bergabung dengan Forum Lingkar Pena asuhan Helvy Tiana Rosa, yang menjadi persinggahan pertama saya belajar menulis. Berbagai cerpen saya mulai diterima di berbagai majalah bahkan sempat mendapatkan juara harapan lomba nasional.

Memilih Menulis di Blog

Hobi menulis tak lantas terhenti kendati saya mulai bekerja. Berubah haluan menjadi penulis materi untuk keperluan pekerjaan, cita-cita menjadi seorang penulis tak pernah hilang dari angan saya. Dan akhirnya kesempatan itu datang. Menyadari diri sebagai orang yang tak cakap teknologi alias gaptek.Tawaran untuk berlatih membuat blog tak saya sia-siakan. Blog pertama saya hadir meski dengan tampilan sederhana. Tertatih untuk selalu belajar memperbaiki blog yang saya asuh, rasanya saya kembali menemukan dunia yang dulu sempat saya tinggalkan. 


Dan akhirnya saya memilih menulis di blog, dengan harapan tulisan saya akan dinikmati dan bermanfaat bagi banyak orang tanpa perlu diterbitkan pihak manapun. Sejujurnya, di awal menulis blog, saya memilih menulis artikel berbagai kegiatan kantor yang saya ikuti atau tulisan mengenai keilmuan yang saya miliki. Tak terbersit sedikitpun untuk menulis blog pribadi. Rasanya “bukan gue banget” mengingat saya termasuk golongan anti-anti curhat club di media sosial. 


Seiring waktu, saya menemukan format tulisan di blog yang sesuai dengan yang saya inginkan. Ide ini bermula menumpuknya berbagai catatan perjalanan yang telah saya lakoni selama saya bertugas. Memotret menjadi hobi baru lainnya yang saya tekuni sehingga rasanya sayang bila foto-foto yang berhasil saya jepret hanya tersimpan begitu saja dalam laptop. Meski bukanlah sebuah karya yang luar biasa, sejatinya, foto dapat menyiratkan sebuah kisah. Dan mulailah saya merangkaikannya bersama tulisan di blog pribadi. 


Justmenong

Nama ini saya pilih sebagai penghargaan pada nama kanak-kanak saya. Menong adalah boneka khas Purwakarta, sebuah kota di Jawa Barat, yang memiliki arti ‘budak geulis’ atau anak perempuan cantik. Demi mewujudkan keseriusan menulis di blog, saya tak ragu memilih untuk membeli domain berbayar dan mempelajari berbagai tips dan trik blogging secara otodidak. Blog www.justmenong.com lahir 10 tahun yang lalu dengan berbagai harapan dan impian. 

Menong Asal Purwakarta
Menong

Berawal dari cerita seru saat ngabolang, akhirnya blog justmenong menjadi  tempat ’curhat’ saat Zauji divonis menderita ablasio retina dan Ibunda divonis kanker payudara. Di tengah kebingungan karena tidak mendapatkan referensi yang cukup mengenai keduanya, saya pun tergelitik untuk menuliskan pengalaman saya selama mendampingi Zauji dan Ibunda hampir 3 tahun ini. 

Pengobatan Kanker Payudara
Kemoterapi Ibunda


Tulisan saya mungkin didominasi mengenai Pengalaman Operasi Ablasio Retina…Saat Nikmat Mata Berkurang dan Pengalaman Menderita Kanker Payudara....Part 1...Cerita DimulaiAlhamdulillah, kisah ini menjadi pelipur lara bagi teman-teman yang sedang sama-sama berjuang. Tak ada yang lebih mengharukan saat teman-teman saling bercerita dan memberikan semangat untuk kembali sembuh.


Menulis dan Waktu Luang

Tak dapat dipungkiri, manajemen waktu saya tidak lah sebaik blogger lain (mungkin saya belum layak bila menyebut diri sendiri sebagai blogger) yang begitu konsisten untuk selalu menuangkan segala kisahnya dalam blog masing-masing. Seringkali berdebu, blog ini saya isi begitu waktu luang tersedia. Sejak Zauji dan Ibunda tak lagi intensif bolak balik ke rumah sakit, sesungguhnya waktu luang saya jauh bertambah. Namun apa daya, daya tarik kaum rebahan masih dominan ‘menjajah’ saya.


Kini, teman-teman yang saya temui di berbagai kursus online blogger menjadi penyemangat dan pengingat saya untuk selalu konsisten menulis kembali di blog. Caranya, pilihlah waktu khusus untuk menulis dan memposting tulisan di blog meski hanya 1x dalam seminggu atau bahkan 1x dalam sebulan. Konsitensi adalah kuntji. 


Dimana waktu luang itu berada?


Waktu luang selalu ada dalam niat kita untuk menulis di blog. Tak perlu berbagai alasan karena banyak blogger dengan segudang kegiatan dan urusan tetek bengek yang masih menyempatkan untuk konsisten menulis. 


Jadi, mulailah menulis walau hanya 1 paragraf setiap hari. Di sela istirahat kegiatan kantor, saya terkadang mengintip dashboard hanya untuk menuliskan secuil ide atau mengubah sedikit setingan dalam postingan lama sesuai arahan coach dalam salah satu kelas blogging. Saat saya harus menjalani LDR dengan Zauji karena harus menemani Ibunda, waktu menulis menjadi lebih fleksibel. Meski berjalan lamban, setidaknya satu langkah coba saya jejakkan setiap waktu.


Saya pun lebih bersemangat untuk berburu ide dan melengkapinya dengan foto-foto cantik jepretan saya sendiri. Kebiasaan ini sering diprotes Zauji karena saya lebih sibuk mengambil gambar daripada menikmati momen berdua😐


Bukankah menulis di blog menjadi cita-cita dan impian saya sejak lama? Menulis di blog adalah 'me time' versi saya, bagian dari cara saya untuk healing dan menjadi diri sendiri.


Seperti yang saya tulisan di halaman About Just Menong, Imam Al Ghazali, seorang pemikir muslim terkemuka, mengatakan :

Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis
.”



Yuks mampir di ig JustMenong

Foto : Dokumentasi JustMenong

Foto Menong : **Foto : @giantidp – Gianti Dewi Permatasari, thx,mba…sudah memberikan ijin

Pengalaman Jalan-jalan ke Turki dengan Biaya Rp. 5 Juta Saja

May 15, 2022 12 Comments
Sejak viralnya salah satu adegan salah satu serial web dengan dialognya yang sungguh epik: "Ït's my dream, not her!", saya kembali terkenang dengan trip istimewa lebih dari 8 tahun yang lalu, jalan-jalan ke Turki dengan biaya yang murah hanya 5 juta rupiah saja. Sungguh, tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiran saya bila saya dapat menginjakan kaki di daratan Eropa secepat itu. Lantas, bagaimana ya ceritanya? 

It's My Dream

Yeah, bisa terbang dan jalan-jalan Eropa menjadi impian saya sedari dulu. Terlebih sejak saya memiliki teman seorang konsultan Jerman yang kerap mengajak saya untuk berlibur ke negeri nya. Meski dijanjikan diberikan berbagai fasilitas gratis, namun tentunya saya sendiri harus mempunyai bekal sendiri. Apalah daya, sebagai seorang pegawai dengan gaji yang biasa-biasa saja, bepergian ke luar negeri tentunya hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Qodarullah, telah lama berniat melaksanakan umroh, saat pendaftaran, saya bertemu dengan sahabat uwa (bude), Bu Ros,  yang juga sedang mendaftar untuk keberangkatan umroh di bulan yang sama yaitu Januari 2014. Dan serunya, meski sendirian, beliau mengambil paket umroh plus Turki. Beliau pun dengan semangat mengajak saya yang saat itu masih ragu-ragu mengingat biaya umroh reguler pun masih baru saya setorkan untuk uang muka saja, sisa pembayaran masih saya upayakan untuk dicicil dan lunas tepat satu bulan sebelum hari-H.

Beliau meyakinkan saya, dengan selisih hanya 5 juta rupiah saja, saat itu $1 masih Rp. 9000, rasanya kesempatan ini sayang untuk saya lewatkan karena bila menyengaja tentunya takkan cukup dengan biaya 5 juta untuk memulai jalan-jalan ke Turki.

Jadilah impian saya untuk menghirup udara Eropa terwujud saat mendarat di Bandara Internasional Istanbul di kota Istanbul, satu-satunya kota di dunia yang berada di dua benua yaitu Asia dan Eropa yang dipisahkan oleh selat Bosphorus.


Umroh Plus

Alhamdulillah, saat ini pemerintah Saudi Arabia sudah membuka lagi kesempatan bagi umat muslim untuk menjalankan ibadah umroh dan haji di tengah pandemi Covid 19. Meski batas umroh hanya diperkenakan hingga 30 Syawal 1443 H atau 31 Mei 2022 karena pemerintah Saudi Arabia akan bersiap untuk fokus pada  penyelenggaran ibadah haji 2022, kita bisa mulai mempersiapkan rencana umroh plus yang akan kita pilih khususnya umroh plus Turki. 

Apakah salah bila niat kita umroh ini disandingkan dengan 'berjalan-jalan' ke Eropa yang seolah membelokan niat kita beribadah?
Pilihan umroh plus Turki bisa menjadi pilihan terbaik selain umroh ramadhan atau umroh plus Aqsa karena Turki sarat peninggalan peradaban Islam. Turki atau Konstatinopel merupakan tempat semua peninggalan jaya Utsmaniyah berada.


Wisata Sejarah

Sebagai bagian dari pusat peradaban Islam, Istanbul memiliki banyak tempat wisata sejarah yang bisa dikunjungi, salah satunya Aya Shopia atau Hagia Shopia. Saat berkunjung di tahun 2014, Hagia Shopia masih berfungsi sebagai sebuah Museum yang unik karena masih menampilkan ornamen mesjid dan gereja yang memang telah ada sedari dulu karena Hagia Shopia yang awalnya berfungsi sebagai mesjid dan sempat difungsikan menjadi gereja.

Mesjid Hagya Sophia
Mesjid Hagya Sophia



Sejak tahun 2020, Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali menetapkan Hagia Sophia menjadi mesjid yang disambut suka cita kaum muslimin di seluruh dunia. Semoga suatu saat nanti, saya dan Zauji berkesempatan sholat berjamaah di sana.

Yang terpenting tentunya, Istana Topkapi (Topkapi Sarayi) yang menjadi kediaman 24 khalifah Utsmaniyah selama 4 abad. Istana yang didirikan di atas tanah seluas hampir 700.000 m2 ini kini dijadikan museum yang menyimpan lambang kejayaan kekhilafahan Utsmaniyah dan benda-benda peninggalan Nabi Muhammad SAW. Inilah alasan mengapa Turki layak dijadikan destinasi sejarah bagi kaum muslimin. 

Selain Mesjid Hagya Sophia, Turki memiliki banyak mesjid megah dengan arsitektur  bergaya Ottoman dan Byzantium. Salah satu mesjid yang saya kunjungi adalah Mesjid Biru atau Blue Mosque yang terletak di seberang Hagya Sohpia yang menjadi salah satu destinasi utama wisatawan muslim. 


Wisata Belanja

Meski bukan tujuan utama saya saat merencanakan umroh plus Turki, berbelanja menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. Dengan bekal yang pas-pasan, saya tak melewatkan wisata belanja di setiap tempat yang kami kunjungi. Wisata belanja dapat dilakukan di Egyptian Bazaar yang dibangun pada tahun 1660. 

Penamaan tersebut dikarenakan banyaknya rempah-rempah asal Mesir meski banyak juga produk dan makanan khas Turki yang dijual di pasar ini. Manisan khas Turki dan gantungan kunci menjadi oleh-oleh murah meriah yang saya bawa nanti.

Egyptian Bazaar Turki
Egyptian Plaza



Selain itu Grand Bazaar dapat dijadikan tujuan wisata belanja lainnya. Di Grand Bazaar, saya membeli sebuah karpet cantik motif khas Turki dengan harga $50 dan pasmina cantik seharga $5.

Karpet Khas Turki
Karpet Khas Turki

Suvenir dari Turki
Suvenir Khas Turki


Tak pernah terbayangkan namun Alhamdulillah dengan modal hanya Rp. 5 juta saja, saya dapat berwisata ke Kontatinopel. Next trip, saya ingin sekali mengajak Zauji untuk menikmati tur lain di Turki seperti Cappadocia. It’s my dream!


Klik di sini untuk mampir di ig JustMenong

Foto : Dokumentasi JustMenong