Lemantun, Film Pendek Tentang Lemari dan Warisan Keluarga

2 comments
lemantun


Bioskop menjadi salah satu tempat yang sudah lama sekali tak pernah saya kunjungi. Era dunia maya memang membawa kita selangkah lebih dekat untuk menikmati sebuah film. Film pendek menjadi alternatif saya untuk mengikuti perkembangan dunia perfilman. Dan, Lemantun, film pendek tentang lemari dan warisan keluarga memikat hati saya bahkan saat pertama mengenalnya.

Acara TV

Bukan termasuk movie freak, jujur saja, saya tidak terlalu up-date soal film terbaru yang sedang tayang meski dulu membaca dan menonton televisi jadi ‘me time’ yang sempurna. Di era 90an, pertelevisian masih menyajikan banyak film dengan berbagai genre, menonton film menjadi cara saya menghabiskan waktu.

Serial detektif dan aneka sitkom jadi acara favorit saya. Mungkin teman Menong bisa menebak berapa kisaran umur saya bila film seri MacGyver, X-files, The Young Indiana Jones Chronicles menjadi teman saya saat beranjak remaja. Seiring waktu, saat adik-adik saya mulai memperkenalkan komik-komik jepang, saya pun jadi penggemar setia serial detektif Conan dan Samurai X.

Saat bekerja dan hidup sebagai anak kost, TV di rumah hanya dihidupkan menjelang magrib dan dipadamkan bada isya karena saya tak terlalu menyukai acara-acara TV yang mulai bergeser menjadi sinetron penuh drama atau pentas musik yang memakan waktu berjam-jam. Selain Preman Pensiun, tak ada lagi acara TV yang saya tonton sehingga saya memutuskan berlangganan TV kabel yang tentunya menyajikan lebih banyak pilihan acara.

Film detektif, film action (tapi bukan film baku hantam ya) dan drama komedia jadi teman di saat luang. Selain mengasah kembali kemampuan berbahasa inggris, banyak hal yang bisa didapat dari channel ilmu pengetahuan seperti nat geo, tech storm dan berita dari berbagai negara. Namun tentunya karena relatif tanpa sensor, adik-adik yang masih di bawah umur harus selalu dalam pengawasan saat menonton TV berlangganan.

Film Pendek

Setelah menikah, saya dan Zauji nyaris tak pernah menonton TV sama sekali. TV di kamar hanya sebagai pajangan dan lebih sering digunakan sebagai layar PC untuk mengerjakan banyak hal.

Channel Youtube dan layanan streaming Disney Hotstar jadi pengisi quality time saat kami males beranjak kemana-mana. Hanya dengan satu akun, kami bisa menjelajah fim-film hit mancanegara dan lokal yang sering kami tonton berdua.

Di lain waktu, saya juga lebih sering menghabiskan waktu dengan berpetualang di beranda instagram. Menu pencarian menjadi favorit saya karena saya bisa menemukan aneka berita termasuk gosip dan update apapun termasuk dari dunia entertainment.

Karena jarang meng-update film terbaru yang sedang tayang, cuplikan film di linimasa instagram jadi sumber referensi utama saya bila ingin menonton film layar lebar atau film seri lainnya termasuk film pendek.

Awalnya saya mengira film pendek hanya berkisar tema serius yang dikhususkan untuk mengikuti perhelatan perfilman di tingkat internasional. Film pendek atau short movie merupakan film dengan durasi pendek. Tidak ada standar durasi maksimal sebuah film pendek karenanya durasi setiap film pendek akan berbeda tergantung pada ajang yang akan diikuti seperti 40 menit untuk Academy Award, 60 menit International Film Festival Rotterdam, 15 menit untuk Festival De Cannes dan 59 menit untuk Festival Film Indonesia.

Konten film pendek tidak asal jadi namun harus dipersiapkan dengan maksimal tetap padat dan lugas meski tersaji dalam durasi yang singkat. Sineas Indonesia sendiri telah menorehkan berbagai prestasi di kancah penghargaan internasional. Salah satu, film pendek yang mendapatkan Official Selection  World Cinema Masterdam di tahun 2019 berjudul ‘Tilik’.

Film yang bercerita tentang obrolan serombongan perempuan desa di atas sebuah truk yang melaju menuju sebuah rumah sakit ini menjadi film pendek Indonesia pertama yang saya suka.

Menjalani LDM – Long Distance Marriage – selama bertahun-tahun membuat saya menyukai apapun yang mengingatkan saya pada rumah termasuk dialog film ‘Tilik’ yang dituturkan dalam bahasa jawa. Percakapan lucu antara Bu Tejo dan Yu Ning seolah menjadi penabuh rindu saya akan obrolan yang biasa dilantunkan Zauji dan Ibunda Zauji. Meski telah lama tinggal di Jawa Barat, Zauji masih menggunakan bahasa jawa dalam kesehariannya.

Tak dinyana, saya semakin jatuh cinta pada film pendek hasil karya anak bangsa yang mengusung tema yang mencuri perhatian dengan visual cantik yang sangat layak untuk diapresiasi. Teman Menong dapat menonton film pendek ini di platform Youtube dengan gratis. Banyak loh film pendek yang juga telah mendapatkan penghargaan seperti Prenjak dan Anak Lanang. Tak hanya itu, film pendek pun banyak yang mengusung tema yang siap membuat teman Menong panas dingin seperti halnya Grave Torture besutan Joko Anwar.

Lemantun

Lemantun menjadi film pendek kedua yang saya tonton dengan serius. Film pendek bertema klise dan sederhana ini bercerita tentang seorang ibu yang mewariskan sebuah lemari pada masing anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Film karya Wregas Bhanuteja yang berperan sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, digarap  di tahun 2014. Film produksi Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini telah meraih penghargaan film pendek terbaik di XXI Short Film Festival 2015, film pendek terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015 dan  Film Pendek terbaik Piala Maya 2015.

Film berdurasi 21 menit ini dibuka dengan precakapan dalam bahasa Jawa di sebuah ruang tamu yang sederhana antara seorang ibu (Tatik Wardiono) dengan kelima anaknya yaitu Eko (Den Baguse Ngarsa) , Dwi (Agoes Kencrot), Tri (Freddy Rotterdam), Yuni (Titik Renggani) dan Anto (Triyanto Hapsoro). Sang Ibu mengumpulkan semua buah hatinya untuk menyampaikan suatu maksud yaitu membagikan warisan dari harta benda yang dimiliki sang Ibu yaitu lemari. Lemari yang dibagikan bukanlah lemari sembarangan namun lemari yang memiliki makna dan sejarah mendalam karena setiap lemari dibeli sang ibu di saat kelahiran masing-masing anak.
Film Lemantun

Lewat undian yang terbuat dari potongan kertas kalender, setiap anak kebagian sebuah lemari sesuai nomor yang didapatnya. Cerita bergulir, pemilik baru mulai mencari dan menandai lemarinya masing-masing. Kecuali Tri, keempat anak memang telah berhasil dengan berbagai profesi yang digeluti seperti pejabat, pengusaha dan dokter. Setiap anak mengenang kembali memori masa kecil terkait dengan lemari.


Tak lama, sang Ibu memberikan titah bahwa lemari harus segera dikeluarkan oleh pemilik barunya sore itu juga. Sontak semua kaget terlebih sang Ibu memberikan ultimatum akan memberikan denda sebesar Rp. 100.000 per hari bila lemari masih belum juga diangkut.

Semua pun sibuk mencari angkutan demi menghindari denda seperti yang disampaikan sang Ibu. Satu per satu lemari beranjak pergi dibawa setiap anak. Tri sebagai satu-satunya anak yang tinggal menemani sang Ibu membantu kakak dan adiknya agar segera merampungkan tugas tanpa mempedulikan lemarinya sendiri yang masih tak beranjak ditempatnya. Tak hanya itu, Tri juga menyiapkan minum dan berniat memberikan bensin yang dijualnya untuk sang kakak.
lemantun lemari

Setelah selesai, keempatnya kembali ke kota dengan lemarinya masing-masing. Tinggallah Tri yang mulai mencoba memindahkan lemari. Layar Lemantun ditutup dengan  Tri yang masih setia menemani sang Ibu dan akhirnya Tri menggunakan lemari menjadi tempat untuk menyimpan bensin jualannya.

Kisah Sebuah Lemari

Dalam bahasa jawa, Lemantun berarti Lemari. Saya menyukai film yang terinspirasi kisah asli keluarga Wregas Bhanureja ini karena tampilannya yang natural dengan akting pemerannya yang terasa mengalir. Terlihat menitikberatkan Tri sebagai tokoh sentral, rasanya saya turut merasakan bagaimana menjadi satu-satunya anak yang tinggal dengan orang tua, mengurusi orang tua sekaligus menjamu kakak-adik yang datang berkunjung. 

"Tri, eling loh, ibu ki wis sepuh, ojo nambahin beban pikirane." 

"Tri, ingat loh, ibu itu sudah tua, jangan menambahi pikiran."

Dengan visualisasi sederhana, rasanya kita terbawa secara emosi apa yang disampaikan setiap karakter Lemantun. Lemari yang terkesan tak istimewa ternyata sarat makna. Meski tak paham sisi sinematografi yang ditampilkan, bagi saya Lemantun menjadi perwujudan simbolik tentang sebuah keluarga, orang tua, anak dan makna sebuah warisan. 
tri di film lemantun

Bagaimana seorang Ibu dengan anak-anak yang hampir semua mempunyai kehidpupan yang sukses? Bagaimana seorang anak yang secara duniawi belum sukses, tak memiliki rumah, masih menumpang di rumah Ibunya, belum menikah, hanya bekerja dengan berjualan bensin selalu memposisikan diri untuk duduk di bawah dan gayanya yang lebih sering meringis dan menunduk?

Lemari sebagai simbol kasih sayang sang Ibu pada anak-anaknya menjadi tak bermakna manakala sang anak lebih memilih memindahkan lemari daripada harus membayar denda yang diminta sang Ibu. Tak hanya itu, di kota, lemari warisan yang diberikan sang Ibu tak ada satupun yang dipergunakan bahkan hanya disimpan begitu saja atau dijual. Berbeda dengan Tri, meski tak memiliki pendidikan seperti saudara-saudaranya yang lain, ia lebih memilih mendahulukan mengurus keperluan kakak dan adiknya serta menjaga ibunya. Tri dengan bajunya yang bernoda ternyata memiliki keluasan hati.
lemantun rahim

Terpikat lebih dalam, saya memilih memberikan ulasan Lemantun, film pendek tentang lemari dan warisan keluarga ini. Dalam sebuah sesi wawancara, Wregas Bhanureja mengungkapkan lemari menjadi simbol rahim. Bagaimana rahim itu dijaga sepenuh hati sebagai bentuk kasih sayang dan tak disia-siakan saat kita beranjak dewasa.

Mampir di ig JustMenong
Referensi dari berbagai sumber

Related Posts

2 comments

  1. Ternyata lemari menyimpan makna yang mendalam. Saya belum nonton film ini, tetapi untuk cerita Bu Tejo sudah.

    ReplyDelete
  2. Aduuh ini filmnya pendek, tapi maknanya dalem banget emang.. Makasih ulasannya mbak

    ReplyDelete

Post a Comment