Pengalaman Menggunakan Canva For Education Untuk Blogging

6 comments
canva for edu


Dunia blogging mulai saya tekuni sejak tahun 2012. Saat itu saya menemukan kesempatan emas untuk belajar membuat blog yang akhirnya menyulap media menulis yang awalnya berupa file di laptop menjadi aplikasi sederhana website. Alhamdulillah, tahun 2020 saya berkenalan dengan Canva, sebuah aplikasi desain grafis. Pengalaman menggunakan Canva For Education untuk Blogging memberi warna tersendiri karena saya bisa menghiasi blog yang saya asuh agar nampak lebih elok.

Awal Blogging

Dulu, saya tertarik untuk membuat blog sebagai media berjualan. Kala itu saya sedang semangat memperkenalkan kain batik kepada teman-teman di kantor. Di awal tahun 2000an, kain batik belum booming seperti sekarang. Kain batik masih jarang dijumpai kecuali di pusat-pusat batik tradisional yang terpusat di beberapa kota seperti Garut, Pekalongan, Solo atau Cirebon.

Mayoritas batik dijual dalam bentuk baju yang dijadikan oleh-oleh khas daerah tertentu seperti batik Yogya yang bisa teman Menong temui di pasar Beringharjo atau Toko Hamzah di Malioboro.

Batik mendapat tempat tersendiri di hati saya. Warisan budaya asli Indonesia ini menjadi pilihan Outfit Of The Day (OOTD) saya sehari-hari. 

Bekerja di pinggiran yang nyaris jauh dari pusat kota, membuat kami tak punya banyak pilihan untuk membeli batik. Karena saya tak suka bila baju yang saya pakai 'seragam' dengan yang lain, jadilah saya berburu kain batik setiap waktu dan menjahitnya sendiri.

Tak hanya itu, saya pun mulai menawarkan kain batik yang saya beli kepada teman-teman dan mendapat tanggapan positif. Demi ekspansi usaha kain batik, saya berniat melakukan pemasaran lewat blog. Saat itu, web yang khusus berjualan tidak sebanyak sekarang. 

Hanya saja, saya sama sekali belum pernah membuat blog dan tentunya perlu waktu untuk mempelajari bagaimana membuat blog yang bagus dan melakukan pemasaran produk lewat blog.

Saya pun sempat mempelajari, bila nama blog kita di platform gratis (seperti blogspot atau worpress) sudah banyak dikenal orang, alangkah baiknya bila kita langsung daftarkan domain berbayar (seperti .com) agar nama domain blog dari brand yang sudah kita rintis tidak diambil alih orang lain. 

Saat itu, kita harus merogoh kocek agak dalam untuk membayar Top Level Domain (TLD) selama satu tahun. Ide ini tidak disetujui salah seorang teman saya karena biaya blog yang saya keluarkan belum tentu sebanding dengan pemasukan penjualan batik. Dan, karena saya sendiri belum belajar cara marketing online tentunya menjadi tanda tanya besar apakah niat saya berjualan online akan abadi atau hanya sekedar euforia semata. 

Berkenalan dengan Canva

Kendati baru bisa mengelola secara amatir namun semangat saya untuk terus belajar bagaimana mempercantik blog trus saya lakukan di sela waktu luang. Bermain di area dashboard blogger menjadi quality time untuk dijalani. Belajar secara otodidak menghantarkan saya bertemu dengan banyak master di berbagai blog. 

Tahun 2020, di awal pandemi, rebahan menjadi aktivitas utama selama menjalani Work Form Home (WFH). Mengintip linimasa Instagram menjadi pengisi waktu luang. Berhubung aktivitas daring alias online menjadi bintang selama pandemi, saya pun mulai ketagihan mengikuti berbagai kelas di dunia maya.

Telah lama saya tertarik untuk mengikuti kursus belajar Canva. Salah satunya yang diselenggarakan oleh SEAMEO atau South Asean Minister Education Organization. Sayang nya saya belum beruntung terpilih menjadi salah satu peserta.

Terpesona sekaligus  iri hati’ saat melihat teman-teman unjuk kabisa memamerkan kelihaian bermain Canva yang tampak luar biasa menakjubkan bagi saya. 

Apa sih Canva itu?

Canva merupakan aplikasi yang dapat membantu kita untuk merancang berbagai jenis desain yang dibuat secara online. Bila dahulu kita selalu membayangkan desain grafis sebagai sesuatu yang sulit dan rumit, uniknya rancangan desain dengan Canva ini mudah dilakukan siapa saja bahkan bagi teman Menong yang tak punya latar belakang ilmu mengenai desain grafis. Canva dapat pula kita akses dengan mudah melalui smartphone dan PC/laptop.

Dan akhirnya, saya bertemu Mba Mutiara, Owner Rumah Ra. Teman Menong yang berminat mempelajari desain dan menulis bisa bergabung di ‘Ruang Belajar Bersama Ra’. Mba Mutiara merupakan pengajar Canva tersertifikasi Canva Certified Creatve (CCC) dari Australia. Karena saya masih pemula saya mengambil kelas dasar yang harus diikuti selama satu minggu. Materi yang diberikan seputar pengenalan Canva, teks, warna, foto, ilustrasi dan lainnya.

Awalnya saya menggunakan Canva versi android untuk membuat desain namun karena versi desktop alias di laptop/PC lebih nyaman untuk jari dan mata, hingga kini saya lebih menyukai membuat desain saat membuka laptop

Fitur Canva

Akhrnya saya dapat menghiasi layar blog saya dengan tambahan infografis dengan sedikit sentuhan Canva meski masih sederhana dan minimalis. Mengakui diri sendiri yang tak pandai membuat desain. Mungkin juga ‘sense of art’ saya kurang sekali, saya mungkin bisa dibilang jarang mengotak atik segala macam fitur Canva sendiri. 

Masih mengandalkan fitur ‘template’, ‘elements’ dan ‘background’, saya menggunakan Canva sebagai ‘cover’ postingan yang baru saya buat.  Setingan awal saya buat dengan bahasa Inggris sehingga setiap keyword yang saya pilih harus menggunakan bahasa Inggirs.

Mengapa perlu dibuat 'cover' untuk setiap postingan?
'Cover postingan akan memudahkan orang lain mengenali poin yang akan kita sampaikan terutama bila kita bagikan di media sosial.

Teman Menong dapat membandingkan mana yang lebih baik dari kedua contoh postingan berikut ini!

contoh canva
Cover postingan tanpa teks

Cover postingan dengan teks menggunakan Canva

Menurut pendapat saya, tambahan teks memudahkan pembaca di media sosial mengenali poin yang ingin  disampaikan dalam postingan kita.

Gambar canva

Untuk memudahkan postingan di media sosial, saya selalu menggunakan ‘konten instagram’ agar  pas ukuran square (1080 x 1080 px) sehingga tidak terpotong pada saat diunggah ke Instagram. Sayangnya, karena gratisan, saya tidak bisa mengubah ukuran (resize) bila saya sudah terlanjur membuat suatu desain karena fitur ini khusus untuk Canva premium (Canva Pro).

Jadi teman Menong, harus lebih teliti menentukan ukuran pada saat mulai membuat desain.

ukuran canva konten instagram


Hal lain yang saya dapatkan dari Canva, kita bisa mengunduh dalam berbagai tipe file seperti PNG, JPEG, PDF, GIF atau lainnya. Saya sendiri menyukai GIF sehingga sering kali memilih element berbentuk video atau animasi karena bisa bergerak lucu.

tipe file canva



Cara mudah membuat desain menggunakan Canva adalah memilih fitur template yang sudah ada. Di awal belajar Canva, kami diinstruksikan membuat rangkaian cerita tentang apa saja. Minim ide akhirnya saya membuat cerita tentang kami berdua (lagi) sehingga template yang saya pilih bertema ‘love’.

template canva love

moslem couple


Artikel jalan-jalan menjadi artikel paling sering saya tulis, Karena bertema alam, fitur Canva yang paling sering saya pakai adalah fitur ‘Element’ dengan kata kunci ‘tree’, ‘leaves’, ‘flower’.

elemen canva


Hanya saja, karena akun Canva yang saya gunakan masih gratisan, template atau element yang bisa saya pilih, tanpa tanda mahkota, masih terbatas. Hal ini karena pengalaman menggunakan Canva For Education untuk blogging belum saya ketahui sebelumnya.

canva pro

Apakah fitur 'bermahkota' tidak bisa diunduh?
Tentu saja bisa, hanya saja dalam unduhan akan tertera watermark Canva yang membuat estetika dan etika terganggu.

Fitur bermahkota ini akan bisa kita akses bila kita menggunakan Canva Pro alias berbayar. Pastikan teman Menong menggunakan Canva Pro legal ya!

Canva 

For Education

Beberapa bulan lalu, saya berkesempatan bertemu dengan beberapa orang guru di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Hari itu kami sedang membahas mengenai infografis, salah satunya dengan menggunakan Canva. Salah seorang guru memberikan informasi agar saya menggunakan Canva for Education untuk mengakses fitur yang lebih lengkap lagi.  

klaim canva for education


Berhubung saya hanya seorang pengajar biasa, bukan seorang guru, beliau menyarankan saya mencoba melengkapi data dengan mengunggah sertifikat narasumber pelatihan yang pernah saya peroleh sebagai bukti saya berhak mendapat akses Canva for Education. Alhamdulillah, ternyata cara ini berhasil. Dan saya merasa 'surprise' dengan banyaknya fitur yang bisa saya akses.

Saya bahkan terkadang tak perlu repot lagi membuat suatu infografis, contohnya membuat infografis mengenai "Save Nature". Teman Menong dapat mencarinya langsung di fitur "template" dengan kata kunci 'nature'.

template canva


infografis canva

Teman Menong dapat mengganti teks sesuai tulisan yang kita inginkan.

template canva

Kita juga dapat mengubah pencarian kata kunci menjadi bahasa Indonesia dengan mengubah setingan bahasa.

Fitur Canva for Education ini serupa dengan fitur yang ada di Canva Pro termasuk resize atau template/elemen yang semula berlambang 'mahkota. Jadi dapat disesuaikan desain untuk postingan instagram, reel, blog, YouTube atau lainnya.

Berhubung niche blog JustMenong beragam, saya pun tidak membatasi elemen yang sering saya pakai. Elemen dengan kata kunci 'nature' untuk label 'bolang', 'moslem couple' untuk label 'separuh dien' masih menjadi pilihan favorit saya.

Canva


Ternyata menggunakan Canva untuk blogging mengasikkan ya? Terlebih dengan Pengalaman Menggunakan Canva For Education Untuk Blogging membawa saya bertemu dengan banyak teman-teman blogger. Semoga saya bisa menjadi blogger yang mahir seperti para Coach. Aamiin.

Mampir di ig JustMenong
Referensi dari berbagai sumber

Related Posts

6 comments

  1. Kereeen mba.. Saya juga masih tim gratisan... Dan blm pernah make canva for education.. Masih harus bnyk belajar

    ReplyDelete
  2. Bagus mba punya elemen khusus per label. Aku masih campur² sesuka hati.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah dapat canva yang education bearti bisa narik temen" mbak untuk gabung ke Canva edukasi juga

    ReplyDelete
  4. jujur saya baru tau ini canva for education.. menarik banget ya.. canva luar biasa dukungan nya untuk pendidikan.. saluutt

    ReplyDelete
  5. saya juga belum pernah coba canva education,, pengen sih nyobain

    ReplyDelete
  6. Menarik sekali pengalamannya, semakin rajin mengulik canva maka akan semakin mahir. Semoga makin kece ya blognya

    ReplyDelete

Post a Comment