Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon

Post a Comment
sejarah keraton kasepuhan cirebon

 
Jalan-jalan ke Cirebon menjadi agenda favorit saya dan Zauji. Setiap kembali ke kota udang ini, Zauji selalu membuat list tempat yang akan dikunjungi. Tahun lalu kami baru sadar belum mampir ke ikon destinasi budaya di Cirebon dan mengenal Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon.

Carbon

Sebagai orang Jawa Barat, saya memang tak banyak mengenal budaya di daerah pesisir utara. Keluarga saya sendiri berasal dari Bogor dan banyak bermukim di daerah Bandung Raya, Bogor, dan Cianjur saja. Biasanya orang mengenal Carbon atau Cirebon sebagai kota udang. Padahal oleh-oelh dari Cirebon tak pernah berbentuk udang hidup, hanya terasi rasa udang khas nya yang jadi favorit.

Cirebon juga dikenal dengan batiknya yang identik dengan motif mega mendung, motif berbentuk awan. Cirebon juga dikenal sebagai pusat kuliner yang ada dimana-mana termasuk di mall-mall terkenal. Tahu gejrot dan empal gentong jadi jajanan Cirebon yang wajib dicicipi.

Kunjungan kali ini kami fokus untuk mengenal budaya Cirebon dan mulai dari Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon. Enaknya jalan-jalan di Cirebon, jarak antar destinasi tidak terlalu jauh dan bisa dilaju dengan transportasi umum bila tak membawa kendaraan sendiri. Mengapa kami memilih Keraton Kasepuhan? Keraton ini merupakan keraton tertua dan termegah yang pastinya menjadi saksi perjalanan panjang Carbon. Kita bisa melihat tapak tilas kejayaan Kesultanan Islam hingga era modern Cirebon.

Karena kami masih menginap di Hotel Amaris Cirebon, kami bisa mengira-ira waktu yang akan kami tempuh. Kami mampir dulu di Pantai Kejawanan karena sudah lama tak bermain pasir di pantai. Dari pantai kami meluncur menuju keraton.

Sejarah Berdirinya Keraton

Sebetulnya saya pernah berkunjung ke Keraton Kasepuhan ini di jaman SMP saat studi tur. Ingatan saya memang tak terlalu jelas karena sudah ratusan purnama terlewati. Saat Zauji mengajak saya kesini, saya dengan semangat mengiyakan. Karena sudah lama sekali, saya agak kaget melihat suasana yang sangat ramai di sekitar keraton. 

Seperti umumnya tata kota jaman dahulu, keraton berada tepat di depan alun-alun dan dekat dengan mesjid. Banyak penjual di sekeliling lapangan alun-alun. Kami membeli tiket di loket resmi. Kami membeli tiket terusan (area keraton, museum dan dalem agung).

Usai membeli tiket, ada yang menawarkan jasa tour guide. Sebetulnya kami bisa saja berkeliling tanpa pemandu namun demi info shahih tingkat tinggi, akhirnya kami menyanggupi.

Kami mulai dari teras depan. Pintu masuk dengan ornamen kayu dan aksara tradisional menyambut kami. Nuansa masa lalu begitu terasa seolah kita berlari mundur ke abad 16.
pintu masuk keraton kasepuhan cirebon
Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, cucu dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Siapapun akan ingat Prabu Siliwangi karena merupakan tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Cirebon. Saya sendiri menyampaikan kepada pemandu kalau di makam keluarga kami di Bogor, ada nisan yang silsilahnya sampai ke Prabu Siliwangi 

Pangeran Cakrabuana menyerahkan kepemimpinan kepada putranya, Sunan Gunung Jati. Ya betul sekali, Sunan Gunung Jati adalah salah satu anggota Wali Songo yang menjadi penyebar dakwah Islam di tanah Jawa.

Tak heran bila Keraton Kasepuhan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon yang berlandaskan ajaran Islam. Dan tentu saja karena berdiri di tanah Sunda dan berdekatan dengan tanah Jawa, Keraton Kasepuhan Cirebon tetap kental dengan budaya Jawa dan Sunda. Perpaduan ini bisa teman Menong lihat dari arsitekturnya yang unik dengan ukiran, keramik, dan ornamen. Ada juga pengaruh Tiongkok dan Eropa yang menjadi mitra perdagangan Cirebon.

Keraton Kasepuhan

Kami berjalan berkeliling sambil menyimak penjelasan pemandu. Kompleks keraaton terbagi menjadi tiga bagian yaitu bangunan induk keraton sebagai tempat tinggal sultan dan keluarganya, Siti Inggil sebagai tempat sultan berpidato dan museum keraton.

Kami mulai dari Siti Inggil, bangunan yang didirikan pada tahun 1529 oleh Sunan Gunung Djati. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek Majapahit. 
siti inggil keraton kasepuhan cirebon
Teman Menong bisa melihat bangunan bata merah. Dalam kompleks ini ada 5 bangunan tanpa dinding dengan nama Malang Semirang, Mande Semar Tinandu, Mande Karesman, Pendawa Lima, dan Mande Pengiring. Pemandu memberikan penjelasan untuk setiap fungsi dan filosofi dari bangunan.

Dari Siti Inggil, kami melewati Pendopo Pengada, bangunan untuk pejabat Keraton Kasepuhan Cirebon yaitu Demang Dalem, Camat Dalem, Lurah Dalem, Laskar Dalem dan Kaum Dalem.

Kami menuju Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Museum ini menyimpan berbagai koleksi peninggalan kerajaan seperti keris, gamelan, pakaian adat, hingga dokumen sejarah. Salah satu koleksi terkenal adalah kereta kencana Singabarong yang berusia lebih dari 500 tahun.
museum pusaka keraton kasepuhan cirebon
Kereta ini disimpan dalam kotak kaca besar untuk melindungi keasliannya.
kereta singa barong

Bagian keraton yang dihuni sultan dapat dilihat namun dengan penjagaan khusus tentunya. Teman Menong bisa melihat tamu dari sultan yang datang berkunjung di hari-hari tertentu. Bentuknya khas arsitektur Jawa dengan pendopo luas dan ukiran kayu yang indah.
museum keraton kasepuhan cirebon
Meski sederhana namun nampak adem dan menenangkan. Saya terpukau dengan hiasan dinding keramik Cina seolah menegaskan hubungan dagang dan kekerabatan dari dua wilayah yang sangat berjauhan.

Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon seperti menyimpan daya pikat luar biasa dengan kisahnya yang tetap indah meski sudah ratusan tahun.


Related Posts

Post a Comment