Masjid Agung Cipta Rasa Cirebon

Post a Comment
Setelah puas berjalan-jalan di Keraton Kasepuhan Cirebon, kami mampir di masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di kompleks keraton. 

Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Karena sudah masuk ke waktu sholat dzuhur kami sholat di mesjid. Mesjid ini memang terkesan berumur sangat tua. Tentu saja karena mesjid ini dibangun di jaman pemerintahan Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam paling penting di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat. Terletak di kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kejayaan Islam dan pusat penyebaran dakwah pada masa Kesultanan Cirebon. Keberadaannya hingga kini menjadi bukti nyata perpaduan harmonis antara nilai religius, budaya lokal, dan sejarah panjang peradaban Nusantara.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan sekitar tahun 1480 Masehi pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat. Dalam proses pembangunannya, beliau dibantu oleh Sunan Kalijaga dan para wali lainnya. Kerja sama ini menunjukkan semangat kolektif para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya.

Nama Sang Cipta Rasa memiliki makna filosofis yang dalam. “Sang” merujuk pada keagungan atau kemuliaan, “Cipta” berarti pikiran atau karya, dan “Rasa” berarti perasaan atau spiritualitas. Secara keseluruhan, nama tersebut menggambarkan hasil perpaduan antara pemikiran, karya, dan kepekaan spiritual dalam membangun rumah ibadah yang bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga pusat pembinaan akhlak dan keimanan.

Pada masa Kesultanan Cirebon, masjid ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus tempat musyawarah pemerintahan. Di sinilah ajaran Islam diajarkan kepada masyarakat, strategi dakwah dirancang, serta keputusan-keputusan penting kerajaan dibahas. Peran masjid pada masa itu sangat vital karena menjadi pusat kehidupan sosial dan politik masyarakat.

Arsitektur Mesjid

Salah satu daya tarik utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah arsitekturnya yang khas dan sarat makna. Bangunan masjid ini mencerminkan akulturasi budaya antara Islam, Jawa, serta pengaruh Hindu-Buddha yang telah lebih dahulu berkembang di Nusantara.

Atap masjid berbentuk tumpang tiga tanpa kubah, berbeda dengan masjid-masjid bergaya Timur Tengah. Bentuk atap bertingkat ini merupakan ciri khas arsitektur tradisional Jawa. Tiga tingkatan tersebut melambangkan iman, Islam, dan ihsan—tiga pilar utama dalam ajaran Islam. Ketiadaan kubah menunjukkan bahwa arsitektur Islam di Nusantara berkembang dengan tetap menghargai budaya lokal.

Bangunan masjid disangga oleh tiang-tiang kayu jati yang kokoh. Beberapa tiang diyakini dibuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disatukan, atau dikenal sebagai “saka tatal.” Filosofi dari saka tatal ini adalah persatuan dan kebersamaan—bahwa kekuatan besar dapat terbentuk dari bagian-bagian kecil yang bersatu. Hal ini selaras dengan semangat dakwah para wali yang mengutamakan persatuan masyarakat.

Mihrab masjid dihiasi ornamen klasik dengan ukiran yang memperlihatkan pengaruh seni Majapahit. Hal ini menandakan bahwa proses Islamisasi di Cirebon berlangsung secara damai dan akomodatif terhadap budaya yang telah ada sebelumnya. Pintu-pintu kayu berukir dan dinding bata merah semakin mempertegas nuansa tradisional yang kental.

Setelah sholat, kami mencoba makanan khas Cirebon yaitu dokclang untuk makan siang.
Newest Older

Related Posts

Post a Comment