Cerita Sangkuriang, Falsafah Tangkuban Perahu

6 comments
cerita sangkuriang

Cerita Sangkuriang pastinya sangat dikenal anak-anak Indonesia yang menyukai legenda nusantara. Semakin beranjak dewasa, kita akan semakin mengamati alur cerita yang menjadi terkesan ‘ aneh dan absurb’ di sebagian besar kisah yang dituturkan turun menurun ini.

Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Berdasarkan catatan sejarah, cerita Sangkuriang dituturkan secara lisan merujuk pada naskah Bujangga Manik yang tertulis pada daun lontar dari awal abad 16 Masehi. Dirangkum dari Wikipedia, kisah ini bermula dari seorang dewi yang dikutuk menjadi seekor celeng dan diberi nama Wayungyang. Selain Wayungyang, seorang dewa juga dikutuk menjadi seekor anjing dan diberi nama Si Tumang.
gunung tangkuban perahu

Suatu waktu, seorang raja bernama Raja Sungging Perbangkara berburu ke hutan dan buang air kecil yang ditadah dalam sehelai daun. Tak sengaja, Wayungyang meminum air kencing raja ini dan mengakibatkan Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik bernama Dayang Sumbi yang kelak ditemukan Si Tumang yang menjadi anjing pengawal sang raja.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis jelita dan tinggal bersama raja. Dayang Sumbi banyak disukai lelaki namun tak satupun yang menawan hatinya. Saat dewasa, sering mengasingkan diri di sebuah bukit. Dalam kesehariannya, Dayang Sumbi mengisi waktu dengan menenun kain. Suatu hari, alat tenun (torak) yang sedang ia pegang terjatuh. Karena malas untuk mengambilnya, Dayang Sumbi berujar bila seseorang mengambilkan alat tenunnya, Dayang Sumbi berjanji akan menjadikannya menjadi saudari bila ia seorang perempuan dan bila ia seorang lelaki, Dayang Sumbi berjanji untuk menjadikannya seorang suami.

Tak disangka, Si Tumang lewat dan mengambilkan alat tenun yang dijatuhkan Dayang Sumbi. Dengan terpaksa Dayang Sumbi menikahi Si Tumang dan memiliki seorang anak yang dinamakan Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh besar bersama Si Tumang tanpa mengetahui bila anjing itu adalah ayahnya sendiri.

Suatu ketika, Dayang Sumbi memerintahkan Sangkuriang untuk berburu rusa ke hutan. Karena tak juga mendapatkan buruannya, saat Sangkuriang melihat seekor Celeng (yang tak lain Wayungyang), Sangkuriang menyuruh Si Tumang untuk memburu celeng itu sebagai gantinya. Tentu saja Si Tumang menolak. Karena marah, Sangkuriang menombak Si Tumang dan memberikan hati nya untuk diberikan kepada Dayang Sumbi.

Saat Dayang Sumbi mengetahui bila hati yang diberikan Sangkuriang sebenarnya adalah hati Si Tumang, Dayang Sumbi murka dan memukul kepala Sangkuriang dengan centong (sendok nasi) hingga menimbulkan bekas luka. Sangkuriang yang marah memutuskan untuk pergi jauh dan berkelana.

Dayang Sumbi sendiri menyesali perbuatannya dan berdoa semoga suatu saat nanti dipertemukan kembali dengan putranya. Doa itu dikabulkan sehingga Dayang Sumbi tak menua dengan kecantikannya yang abadi.
cerita sangkuriang

Singkat cerita, Sangkuriang dewasa bertemu dengan seorang wanita cantik dan jatuh hati padanya. Suatu waktu, wanita cantik itu melihat bekas luka di kepala Sangkuriang dan menanyakan bekas apa luka itu. Saat mendengar cerita Sangkuriang. Wanita itu menyadari lelaki yang menyatakan cinta tak lain adalah putranya. Ya, wanita cantik itu adalah Dayang Sumbi. Dayang Sumbi menolaknya tapi Sangkuriang tetap saja bersikukuh untuk menikahi Dayang Sumbi.

Untuk mencegahnya, Dayang Sumbi memberikan syarat tak masuk akal yaitu membuatkan sebuah perahu hanya dalam waktu satu malam saja. Bila perahu itu selesai pada waktunya maka Dayang Sumbi bersedia menerima cinta Sangkuriang.

Tak gentar, dengan kekuatannya, Sangkuriang meminta bantuan jin untuk mempercepat pembuatan perahu itu. Dayang Sumbi pun memanjatkan doa tak henti agar pembuatan perahu itu gagal. Doa itu terkabul karena pagi datang lebih awal saat perahu belum selesai dikerjakan. Begitu melihat fajar datang, Sangkuriang tak kuasa menahan amarah dan menendang perahu jatuh tertelungkup. 

Cerita Sangkuriang

Kini, kita akan terheran-heran dengan jalan cerita yang sama sekali tak masuk akal. Kajian mengenai asal mula cerita rakyat sudah banyak dibahas bahkan dalam jurnal penelitian.  Cerita rakyat biasanya dihubungkan dengan kejadian alam atau fenomena sosial. Seperti cerita Situ Bagendit atau hutan larangan di Kampung Naga.

Cerita rakyat sendiri sering ada dalam berbagai versi termasuk dalam cerita Sangkuriang. Meski secara garis besar tak berubah tapi ada beberapa detil yang berbeda dari setiap versinya.

Makna Secara Geologi Tatar

Dilansir dari web Universitas Padjadjaran, gunung Tangkuban Perahu secara geologi terbentuk dari pecahan gunung Sunda yang erupsi 200.000 tahun yang lalu. Gunung Tangkuban Perahu sendiri terbentuk dari lava yang muncul dari dasar kaldera pasca gunung Sunda erupsi membentuk cekungan besar yang kini menjadi kota Bandung. 

Lava tersebut perlahan membentuk gunung berapi baru yang juga terjadi erupsi sehingga puncaknya terpotong dan menjadi datar dengan dua kawah gunung yang terletak berdampingan ke arah barat dan timur menyerupai perahu terbalik. 
gunung sekitar bandung

Dalam cerita Sangkuriang, saat akan membuat perahu, Sangkuriang menebang pohon dan meninggalkan akar pohon atau tunggul kayu yang kemudian menjadi gunung Bukittunggul sedangkan sisa rantingnya berubah menjadi gunung Burangrang

Dayang Sumbi sendiri melarikan diri ke sebuah gunung dan berubah menjadi bunga. Gunung itu kelak dikenal dengan nama gunung Putri. Sangkuriang sendiri menghilang di suatu tempat yang kini dikenal dengan nama Ujungberung (nama daerah di kota Bandung).

Makna Secara Filosofi

Makna apa ya yang berada di balik cerita Sangkuriang ini?

Sebuah jurnal membahas mengenai cerita Sangkuriang ini yang menyebutkan hubungan kekerabatan antara Raja Sungging Perbangkara dan Dayang Sumbi (ayah dan anak) menggambarkan sindiran atau kritik sosial terhadap kebiasaan kaum bangsawan yang mencari cinta di daerah pedalaman wilayah kerajaan yang dilambangkan dengan buang air kecil sembarangan. 

Wayungyang (celeng, ibu dari Dayang Sumbi) merupakan rakyat jelata yang hidup di hutan sebagai lambang masyarakat kelas rendah.

Setiap penamaan tokoh dalam cerita Sangkuriang pun memiliki makna tertentu seperti Wayungyang yang berarti perasaan tidak tentram yang bermakna seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan namun mulai bimbang ingin menjadi manusia seutuhnya.

Tafsiran filosopi cerita Sangkuriang diterjemahkan dalam berbagai versi. Salah satu ulasan sebuah akun twitter yang menyatakan cerita Sangkuriang merupakan bentuk dari ekspresi orang masa lalu untuk mengkritik pemerintahan. Metafora digunakan untuk menggambarkan kondisi terbelenggunya kebebasan berekspresi. Celeng yang memiliki anak karena meminum urine raja menjadi perlambang perbedaan strata di masyarakat dahulu.

Apapun perbedaan maknanya, mitos dalam cerita Sangkuriang merupakan cara manusia di masa lalu untuk menarasikan tingkah laku manusia (kebajikan, pengetahuan, kejahatan dan lainnya) dalam pengalaman hidup manusia menjadi suatu tuntunan dan pelajaran moral bagi suatu masyarakat untuk menghormati alam.

Related Posts

6 comments

  1. Menarik sekali legenda Sangkuriang ini. Tangkuban Parahu aku udah pernah berwisata ke sana, tapi anak-anakku belum nih. Ceritanya tak lekang dimakan zaman ya. Beragam mitos terdapat dalam kisah ini. Ada pesan moral yang dapat diteladani. Semoga hal baik dilanjutkan dan hal buruk ditinggalkan (jangan diikuti).

    ReplyDelete
  2. Cerita legenda selalu menarik dan mungkin termasuk salah satu budaya rakyat. Walaupun saat ini generasi muda sering mengatakan bahwa legenda-legenda rakyat ceritanya tidak masuk akal. Namun legenda rakyat srlalu mengandung makna, hikmah dan nasehat yang baik.

    ReplyDelete
  3. Udah sering dengar cerita Sangkuriang tapi nggak pernah se-detail ini, pakai bagan/grafik pula lagi. Makasih yaa mbak udah re-tell cerita ini dengan lengkaap.

    ReplyDelete
  4. Ternyata cerita Sangkuriang maknanya lebih dalam dari yang kita ketahui selama ini ya bentuk kritik kepada pemerintah saat itu

    ReplyDelete
  5. Dari kecil kalo denger cerita sang kuriang tu bingung sendiri sama sekali ga make sense tapi ternyata maknanya cukup dalam ya mbak bahkan ada kritika jiga

    ReplyDelete
  6. Baru kali ini saya mendapatkan informasi bahwa dari cerita mitos pun sebenarnya ada kritik sosial yang bisa diungkapkan. Lagi-lagi karena kebebasan berpendapat tidak ada. Dinanti ulasan seperti ini lagi, ya, Mba.

    ReplyDelete

Post a Comment