Menong dan Kanker pada Lansia

4 comments
Kanker pada lansia


Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, kalau saya akan menceburkan diri ke dunia blogging lebih dalam. Seperti yang selalu saya katakan berulang kali, blogging sejatinya adalah ‘me time’, tempat saya mencurahkan ide, pengalaman seru, kegelisahan, impian yang tak pernah bisa saya tuangkan dalam media lain. Namun, tak diduga kini blog justmenong menjadi salah satu referensi terutama bagi penderita ablasio retina dan kanker pada lansia.

Menong dan Siapapun Yang Berkenan Singgah

Dahulu, seperti halnya blogger pemula lainnya, saya bercita-cita untuk membuat blog yang banyak dikunjungi orang. Betapa menyenangkannya berbagi banyak hal dengan dunia. Dengan berbagai postingan awal mengenai keindahan Indonesia, saya ingin banyak orang lebih dekat dengan setiap sudut Indonesia yang mungkin jarang orang lain kunjungi. 

Setiap pergi bertugas, karena inilah satu-satunya sarana yang bisa menghantarkan saya ke berbagai daerah, saya selalu menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan sejenak meski terkadang karena kegiatan yang sangat padat, hanya beberapa langkah saja yang dapat saya jejakkan.


Raja Ampat

Wisata menjelajahi negeri, aneka kuliner, seluk beluk tempat membeli oleh-oleh hingga fakta unik yang hanya terjadi di Indonesia menjadi hal yang selalu ingin saya bagi.  Yess…saya sangat mencintai negeri indah ini dengan segala detil dalam setiap guratannya. 

Dan tentunya banyak sekali blog dengan niche serupa sehingga saya menyadari dan tak pernah berharap agar postingan saya akan dibaca atau dikomentari banyak orang. Bagi saya cukuplah blog sebagai diari kecil yang menyimpan banyak momen berharga dalam hidup saya. 

Jujur saja, dulu saya tak pernah memetakan siapa saja ‘penggemar berat’ saya yang rajin menyambangi setiap postingan yang saya buat. Masih asyik dengan banyak topik dan bahasan, saya tak pernah memperhatikan siapakah yang rajin singgah di berbagai postingan yang saya tulis. 

Saya sendiri masih mengasuh blog dengan status single fighter artinya saya tidak pernah dan tidak tahu cara berinteraksi dengan blogger lain. SEO, blog walking, Google Analytic dan hal lainnya baru saya pelajari kemudian. Tak pernah beranjak dari bilangan puluhan, bagi saya, meski tak  ada yang  meninggalkan bayangan berupa komentar, dengan melihat beberapa viewer dalam satu postingan saja sudah membahagiakan.

Obat Hati

Namun, semuanya berubah sejak Zauji divonis dokter menderita ablasio retina dan tak lama setelahnya, Ibunda dinyatakan mengidap kanker payudara. Tak banyak referensi yang saya dapatkan menggerakkan saya menggoreskan pena sebagai bagian dari catatan perjalanan kami. Catatan saya mengenai Pengalaman Operasi Ablasio Retina dan Pengalaman Menderita Kanker Payudara dibaca ribuan orang dan direspon banyak orang yang sedang mencari sumber langsung dari orang yang mengalaminya.

Bahagia dan sedih, itulah yang saya rasakan. 

Bahagia karena ternyata postingan saya bermanfaat bagi banyak orang namun rasa sedih juga menyelinap di hati saya setiap kali ada interaksi dari pembaca, baik berupa komentar yang dituliskan atau email yang saya terima untuk sekedar menyapa, berbagi cerita atau meminta informasi.

Hampir 3 tahun, Pengalaman Operasi Ablasio Retina dan Pengalaman Menderita Kanker Payudara, telah saya tuliskan dalam rangkaian cerita yang berjilid-jliid. Setiap jilidnya tentu saja bagaikan goresan pena yang menyiratkan segala kebingungan, ketakutan, kesedihan yang bercampur menjadi satu. Memang perlu jeda waktu untuk membuatnya lengkap dan utuh hingga menjadi postingan yang mudah dibaca. 

Kini tak ada lagi air mata dalam setiap tetesan tintanya, yang ada adalah rasa syukur karena dengan segala kekuatan yang diberikan Sang Maha Pemberi Kekuatan, saya dapat merangkumnya dan membagikan segala jejak ini kepada semua teman-teman yang juga sedang berjuang.

Kanker pada Lansia

Cerita Pengalaman Menderita Kanker Payudara yang secara tak langsung mengisahkan kanker pada lansia, mulai mendapatkan banyak respon. Sebagian besar mendapatkan pencerahan yang mengenai pengurusan BJPS mengingat pembiayaan untuk pengobatan kanker tidaklah murah atau saran untuk memilih rumah sakit terbaik pada saat melakukan biopsi, masektomi dan kemoterapi khususnya di kota Bandung. 

Tak hanya saling berbagi informasi dan semangat di dunia virtual namun juga kami menyempatkan berkirim kabar atau ngobrol langsung lewat whatsapp atau bahkan telepon.

Sebut saja Mbak Anggita, putri dari seorang ayah penderita kanker plasma yang bertukar kabar via email. Atau Mba Rinda putri seorang Ibu yang divonis kanker payudara. Beliau menyampaikan ijin untuk menelpon saya langsung agar Ibunda Mba Rinda juga ikut tersemangati untuk menjalani pengobatan karena beliau kerap kali menangis. 

Penyintas kanker

What a surprise…saat kami berbincang, Mba Rinda mengungkapkan malah sang Ibu yang hapal di luar kepala isi blog saya. Hal lucu terjadi saat kami berbincang menceritakan pengalaman sang Ibu menjalani masektomi, ternyata Mba Rinda sendiri lupa harus menyediakan toples sebagai wadah potongan hasil masektomi, padahal sang Ibu sendiri yang mengingatkan Mba Rinda bahwa hal itu sudah dituliskan di blog.

Saya ingat pula, Aisa, seorang pejuang kanker payudara menelpon saya jauh dari Balikpapan, Kalimantan Timur.  Setelah mengobrol lama via telepon, akhirnya beliaupun memutuskan menuntaskan pengobatan di RS yang sama dengan Ibunda yaitu RS Santosa Bandung. Meski karena kesibukan kami belum sempat bertemu di Bandung, namun kami masih sering berkirim kabar lewat japri.

Dan yang membuat saya kagum luar biasa, semua bersemangat untuk sembuh dan sehat kembali setelah membaca tulisan saya di blog. Karena selalu saya ceritakan bagaimana Ibunda bangkit berjuang dan akhirnya sampai saat ini bisa kembali beraktivitas sepert biasa.

Qodarullah, saat ini ibu seorang sahabat saya sedang berjuang pula melawan kanker serviks. Semua kisah yang dulu hanya dibacanya lewat blog, kini teralami sendiri oleh sahabat saya. Alhamdulilah, segala yang saya tuliskan, memberikan sedikit rasa tenang bagi sahabat saya karena optimis perjalanan yang akan dilalui tidaklah terlalu berat. 

Terkadang kami bertemu di Cancer Center RS Santosa untuk saling menyemangati karena bagaimanapun juga tak mudah bagi seseorang yang harus menghabiskan usia senjanya bergelut dengan kemoterapi dan terapi radiasi. 

Teman Menong 

Saya memanggilnya Teman Menong, yang meski banyak diantaranya baru saja saya temui lewat kolom komentar atau surat elektronik berlabel justmenong@gmail.com, rasanya saya sudah mengenalnya dari jauh, merasakan rasa yang dulu pernah hinggap dan menghuni hati saya begitu dalam. 

Saya memanggilnya ‘teman’ karena mereka yang juga sama-sama sedang berjuang melawan kanker pada lansia yang sejatinya adalah teman saya dalam mengarungi perjalanan keikhlasan dalam menghadapi segala ujian ini. Dan semoga Allah SWT menganugerahkan jannah-Nya. 

Teman adalah orang yang mau mendengarkan kita dengan segala keluh kesah kita. Seorang teman tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian di saat kita sedang berjuang. Seorang teman yang sedang lemah, Insyaallah akan tetap bertahan dan kuat karena kita.

Alhamdulillah ala kulli hal. Segala puji atas Allah di setiap keadaan.


Tidak ada ujian yang datang tanpa Allah SWT menakarnya sesuai dengan kemampuan kita. Hadirnya blog justmenong semoga menjadi teman bagi siapapun yang sedang berjuang atau mendampingi orang yang kita kasihi melawan kanker.


Mampir di ig JustMenong

Foto : Dokumentasi JustMenong, Halal Bihalal Klinik Onkologi RS Santosa

Related Posts

4 comments

  1. MashaAllah, menginspirasi sekali. Terharu karena teman menong sangat setia menanti update ilmu dari justmenong. Semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  2. Peluuuuuk T_T Aku senang membaca tulisan yang ditulis dari hati.
    jazakillah khair mba atas ceritanya dan teman menong. it means a thing :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih...doakan semoga sehat selalu

      Delete

Post a Comment