BPJS di Era Digital, Layanan Cepat, Semangat Sehat

Hampir dua tahun lamanya, keluarga kami ditimpa ujian sakit. Awal tahun 2020 menjadi ujian kedua bagi kami setelah Zauji yang lebih dulu menghabiskan waktu dengan menjalani pengobatan mata di RS Mata Cicendo. Ibunda didiagnosa kanker payudara dan tentunya memerlukan pengobatan medis sesegera mungkin.




Berada jauh, saat keduanya sakit dan benar-benar membutuhkan kehadiran saya sebagai istri dan anak, sejatinya membuat hati saya berpasrah dan menerima apapun yang Allah berikan kepada saya. Alhamdulillah, kami tinggal di kota besar dengan segudang fasilitas dan kemudahan lain termasuk diantaranya layanan BPJS.

 

Lika Liku Menjadi Pasien BPJS

Sebagai orang yang diberi kemudahan mendapatkan fasilitas kesehatan secara gratis, jujur saja, saya termasuk orang yang malas menggunakan fasilitas (dahulu) Asuransi Kesehatan atau ASKES. Selama sekian tahun, saya hanya menggunakan fasilitas ASKES di saat kondisi darurat seperti saat menjalani operasi, rawat inap atau saat bolak balik ‘sowan’ ke IGD karena maag dan vertigo saya kumat. Selebihnya saya selalu menggunakan pembiayaan mandiri alias bayar pakai uang sendiri meski berobat ke dokter spesialis sekalipun. Alasan utamanya adalah karena saya malas mengurus rujukan di puskesmas Cianjur padahal saat sakit serius, saya selalu pulang dan berobat di Bandung. Antrian yang panjang cukup menambah daftar keengganan menggunakan ASKES.

 


Adanya tranformasi ASKES menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan membuat saya otomatis beralih menjadi peserta BPJS sesuai aturan. Sebenarnya adik dan Ibunda sudah terlebih dulu menjadi peserta BPJS jalur mandiri. Selain dari pendaftarannya yang bisa dilakukan secara online, BPJS juga memberikan layanan kesehatan untuk non pegawai seperti Ibunda tidak memiliki fasilitas kesehatan apapun. Alhamdulillah banyak kemudahan yang saya rasakan. Bagi sebagian orang, layanan BPJS terkesan ribet dan tidak memuaskan namun pengalaman saya ‘bergaul’ dengan BPJS cukup membuktikan bahwa BPJS mudah untuk digunakan selama kita memahami alurnya. Salah satu cerita seru dan memorable layanan BPJS adalah sewaktu saya harus berlebaran di 7 IGD RS beberapa tahun yang lalu.

 

Mampir yuks : Day 28 :Pengalaman Berlebaran di 7 IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 1

 

Layanan BPJS

Seiring dengan peralihan tersebut, atas saran adik, saya mengalihkan faskes 1 ke Bandung (sesuai KTP) dan memilih klinik pratama sebagai faskes 1 dengan pertimbangan pasien dan antrian di klinik akan lebih sedikit bila dibandingkan puskesmas. Selain itu jadwal dokter di klinik pratama bisa dipilih pagi atau sore hingga malam yang tentunya akan memudahkan saya berobat. Alhamdulillah, proses peralihan berjalan lancar, meski Kartu Indonesia Sehat (KIS) belum ada, saya masih masih bisa menggunakan nomor ASKES untuk menjalani operasi ganglion di RS Hermina Bandung. Petugas BPJS di RS Hermina melayani dengan baik. Sayapun tidak mengalami kesulitan melengkapi persyaratan administrasi karena semua bisa dilakukan via online dan telepon. Kondisi ini tentunya memudahkan saya yang masih harus wara-wiri karena masih tetap harus bekerja di luar kota Bandung.


Mampir yuks: Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1

 

Setelah menikah, saya dan Zauji memilih klinik dekat rumah sebagai faskes 1. Proses perpindahan faskes 1 dilakukan melalui online di kantor BPJS Kesehatan karena saya masih penasaran ingin berkonsultasi dengan petugas BPJS. Meski klinik yang saya pilih hanyalah klinik sederhana namun layanan bagi peserta BPJS tetap maksimal. Begitu pula bila saya memerlukan tindakan lanjutan yang tidak bisa ditangani di faskes 1, faskes 1 akan memberikan rujukan ke faskes 2. Biasanya kami memilih RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) yang tidak terlalu crowded



RS MAL terletak di kawasan industri dan sebetulnya bukan RS besar dan populer di daerah kami, namun karena pasien yang tidak terlalu banyak dan pengurusan administrasi BPJS yang lebih mudah membuat kami berdua lebih sering berobat kesana. Saya sendiri sudah dua kali rawat inap di RS MAL dengan menggunakan fasilitas BPJS. Dan tak terhitung kontrol rutin karena saya memiliki riwayat kristal di saluran kemih yang masih sering kambuh, irigasi telinga di bagian THT atau konsultasi promil di bagian ginekolog. Dan semuanya tanpa biaya sama sekali karena menggunakan fasilitas BPJS.


Pusat Mata Nasional, RS Cicendo

Selain saya, Zauji dan Ibunda pun menggunakan BPJS selama masa pengobatan. Alhamdulillah selama hampir 2 tahun menjadi ‘sahabat mata’ di Pusat Mata Nasional, RS Cicendo, segala fasilitas pengobatan dicover BPJS sepenuhnya.


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ablasio Retina di Pusat Mata Nasional : RS Cicendo

 

Sampai saat ini, kami masih ikhtiar bolak balik ke RS Cicendo. Terkadang, kami bertemu pasien lain yang datang dari luar kota Bandung. Menurut pengalaman saya, pelayanan bagi pasien BPJS, KIS atau umum di RS Cicendo bisa jadi terbaik apabila dibandingkan dengan rumah sakit lain yang pernah saya kunjungi. Hanya saja, bila antrian cukup panjang, harap bersabar yaa...karena tentunya semua ingin mendapat pelayanan terbaik.

Tempat tidur nyaman di ruangan Bougenvile


Cancer Center, RS Santosa 

Ibunda sendiri masih harus kontrol setiap bulan di bagian Bedah Onkologi, RS Santosa. Ada cerita menarik selama menjalani pengobatan kanker payudara dalam setahun ini.

Ada satu yang berbeda ketimbang prosedur di RS lain, RS Hermina meminta berkas rujukan asli setiap kali akan kontrol dan tentunya ini bisa menjadi hal yang sulit mengingat rujukan berlaku 3 bulan sekali dan hanya diberi 1 berkas asli saja. Alhamdulillah, saat kami kembali ke faskes 1, pihak puskesmas (dokter umum yang dulu memeriksa Ibunda dan memberikan rujukan) memudahkan dan memberikan foto kopi rujukan yang ditanda tangan dan dicap asli sehingga kami tidak perlu bolak balik meminta rujukan setiap minggu. Proses ini pun berlangsung cepat karena data Ibunda sudah masuk dan terintegrasikan ke dalam sistem sehingga pencarian data membutuhkan waktu nyaris kurang dari 5 menit saja.



Dan ada satu kejadian yang lucu, saat akan meminta berkas rujukan ini, saya berinisiatif untuk menggantikan Ibunda mengurus semuanya. Dengan pede, saya berangkat ke puskesmas kompleks, setelah menjelaskan sana sini, pihak puskesmas pun paham dan mulai mencoba mencarikan solusi. Langkah awal tentunya mencari data Ibunda di database BPJS puskesmas. Entah kenapa, datanya terus menerus tidak muncul padahal tanggal dan urutan kejadian sudah saya jelaskan dengan rinci. Bahkan nama dokter pemberi rujukan pun tidak ada, Dan setelah semua turun tangan, akhirnya terjawab sudah, ternyata saya salah puskesmas...mestinya saya pergi ke puskesmas kelurahan yang terletak di luar kompleks. Meski menahan malu, namun pihak puskesmas kompleks memaklumi ketidaktahuan saya😳.

 

Atas saran adik, saya memindahkan faskes 1 Ibunda ke klinik dekat rumah agar Ibunda bisa berobat di pagi atau sore hari. Proses pemindahan faskes 1 dilakukan online dan baru akan aktif di awal bulan. Saat itu, kami belum terpikir akan menjalani pengobatan panjang kanker. Namun, Alhamdulillah, meski faskes 1 baru belum bisa menerima Ibunda sebagai pasien, puskesmas terdahulu masih melayani keperluan Ibunda untuk mengurus persyaratan operasi masektomi dan lainnya.


Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi


Digitalisasi Layanan BPJS

Layanan BPJS sudah mulai dilakukan melalui sistem digital berbasis web service dan tidak lagi manual sehingga lebih cepat, runut dan terintergrasi. Banyak orang yang menyatakan bahawa berobat dengan BPJS itu ribet, saya pribadi sebagai pengguna BPJS, bersyukur tidak ada hal yang menjadi halangan. Selama iuran bulanan, prosedur dan aturan dijalankan, insya Allah layanan BPJS akan dapat dimanfaatkan. Terlebih di era digital ini, peserta dan petugas BPJS dapat melakukan banyak hal melalui sistem. Peserta BPJS dapat melakukan pembayaran bulanan melalui autodebit. Petugas atau dokter pun hanya cukup mengentrikan data untuk memberikan rujukan ataupun resep obat ke dalam sistem sehingga lebih praktis dan efisien.

JKN Mobile


Jangan lupa, pastikan surat rujukan dari faskes 1 atau faskes 2 masih berlaku saat kita berobat. Kemudahan ini dirasakan pula oleh teman-teman yang mendapatkan layanan BPJS melalui jalur KIS. Pada umumnya, ketidaktahuan bagaimana cara mendapatkan layanan terbaiklah yang membuat orang malas dan ragu menggunakan BPJS.


Salam sehat selalu😊


#DigitalisasiBPJSKesehatan

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa