Saya dan Zauji baru pertama kali ke Surabaya. Karena ada waktu luang kami sengaja jalan-jalan di seputar kota termasuk mampir di Alun-alun Surabaya yang terkenal.
Saya dan Zauji pergi terpisah karena kami punya jadwal kegiatan yang tak sama. Zauji menyusul saya beberapa kemudian dengan menggunakan kereta api. Karena bepergian sendirian, Zauji memang lebih suka menggunakan transportasi yang dapat ditempuh dengan santai seperti bis atau kereta api.
Dari stasiun kereta api Surabaya Kota, Zauji jalan kaki menuju hotel tempat saya menginap. Tujuan utamanya memang untuk menikmati suasana kota - btw, Zauji sangat hobi berjalan kaki-. Keesokan harinya, Zauji mengajak saya untuk 'berpetualangan' menikmati Surabaya. Tujuan utama kami Monumen Kapal Selam tapi kami akan mampir di Alun-alun Surabaya.
Kali ini kami jalan-jalan menggunakan Trans Surabaya. Sempat salah rute sehingga kami jalan lebih jauh lagi, akhirnya kami sampai di area Alun-alun Surabaya. Saya takjub dengan keresikan kota. Semua tampak bersih dan nyaman bagi pejalan kaki seperti saya dan Zauji. Tak ada pedagang kaki lima, pengemis atau apapun yang membuat kota terlihat semrawut. Lalu lintas juga terlihat lancar. Luar biasa!
Dari sejarahnya, Alun-alun Surabaya telah ada sejak dapat masa pemerintahan penjajahan Belanda. Konsep Alun-alun sendiri ada dalam tata kota tradisional kerajaan di Indonesia, termasuk dalam struktur kota di daerah Jawa. Alun-alun biasanya sebutan yang diberikan kepada daerah yang dijadikan pusat kota, tepat di depan keraton, kantor residen atau bupati.
Pada abad ke-18 dan 19, tata kota penjajahan Belanda banyak mengadopsi struktur kota tradisional Jawa. Alun-alun umumnya digunakan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, upacara atau kegiatan lain seperti tempat mengumumkan bewara atau eksekusi terpidana,
Alun-alun Surabaya pada masa itu berada di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Pahlawan, tepat di depan Gedung Negara Grahadi yang dulu merupakan rumah Residen Surabaya. Kawasan ini juga dikelilingi oleh bangunan penting lainnya seperti Kantor Gubernur, masjid, dan balai kota lama. Tata letak tersebut mengikuti pola kota tradisional Jawa yang dipadukan dengan sentuhan arsitektur kolonial Belanda.
Selama masa kolonial, Alun-Alun Surabaya menjadi pusat kekuasaan dan pemerintahan. Di sinilah upacara-upacara resmi pemerintahan kolonial dilakukan. Tak jarang pula, alun-alun digunakan untuk memperlihatkan kekuasaan Belanda atas rakyat pribumi. Fungsi simbolik ini menjadikan alun-alun sebagai titik penting dalam dinamika politik kota Surabaya.
Namun, alun-alun tidak hanya menjadi milik kekuasaan. Ia juga menjadi tempat berkumpul masyarakat, ruang sosial untuk pasar malam, pertunjukan seni tradisional, hingga tempat masyarakat menyampaikan aspirasi. Fungsinya yang inklusif membuat alun-alun menjadi ruang yang hidup dan terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, terjadi banyak perubahan dalam penataan kota Surabaya, termasuk nasib alun-alunnya. Perkembangan urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang pesat membuat ruang terbuka publik seperti alun-alun mulai tergeser oleh pembangunan gedung-gedung komersial dan infrastruktur modern.
Di masa Orde Baru, perhatian terhadap ruang publik cenderung berkurang. Banyak alun-alun di kota-kota besar mengalami degradasi fungsi, termasuk di Surabaya. Ruang terbuka yang dulu menjadi simbol pertemuan masyarakat mulai tergusur oleh kepentingan pembangunan dan kepadatan lalu lintas. Alun-Alun Surabaya pun perlahan kehilangan fungsinya sebagai pusat kota dan berubah menjadi area lalu lintas dan zona pemerintahan yang tertutup bagi publik.
Pada awal abad ke-21, muncul kesadaran baru tentang pentingnya ruang publik dalam kehidupan perkotaan. Pemerintah Kota Surabaya mulai melakukan berbagai inisiatif untuk mengembalikan ruh kota sebagai ruang hidup yang manusiawi. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini, Surabaya mulai menata kembali ruang-ruang publik yang sebelumnya terabaikan, termasuk merencanakan kembali keberadaan alun-alun.
Proyek revitalisasi Alun-Alun Surabaya dimulai dengan membangun Alun-Alun Surabaya baru yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di bawah kompleks Balai Pemuda. Yang membedakan alun-alun ini dari konsep tradisional adalah pendekatan desain modern yang menggabungkan elemen ruang bawah tanah dan ruang interaktif digital. Alun-alun ini disebut juga sebagai Alun-Alun Bawah Tanah Surabaya, dan menjadi salah satu ikon baru kota.
Diresmikan pada tahun 2020, alun-alun modern ini mengusung konsep multifungsi. Terdapat ruang pameran seni, ruang pertunjukan budaya, area olahraga, hingga taman interaktif yang ramah keluarga. Desainnya yang futuristik namun tetap menyisipkan nilai-nilai sejarah Surabaya, menjadikannya sebagai bentuk transformasi alun-alun dalam konteks kota metropolitan.

Post a Comment
Post a Comment