Salah satu kota di Jawa Barat yang jarang saya dan Zauji kunjungi adalah Indramayu. Alasan utama tentunya kami memang tak punya kerabat yang tinggal di sana. Sejarah Indramayu ternyata menarik untuk disimak karena menjadi bagian dari sejarah Jawa Barat yang kaya untuk dipelajari.
Kami berangkat ke Indramayu menggunakan travel. Karena baru pertama kali, kami memilih travel secara random. Ternyata travel yang kami pilih melewati jalur pantai utara (Pantura), Bandung - Purwakarta - Karawang - Subang - Indramayu). Tentu saja waktu tempuh menjadi lebih panjang, namun karena kami berniat untuk menikmati perjalanan jadi semua baik-baik saja.
Sebetulnya menjadi menyenangkan karena kami tak pernah melewati jalur ini sebelumnya. Meski berada di Jawa Barat sebagian besar warga Indramayu berbahasa Jawa khas Indramayu atau Dermayon.
Sejarah Indramayu
Menilik referensi, Indramayu merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki sejarah dan budaya yang menarik untuk disimak. Indramayu terletak di pesisir utara Pulau Jawa, berdekatan dengan Cirebon. Indramayu merupakan kota pelabuhan. Posisinya yang strategis menjadikan Indramayu masuk dalam jalur penting perdagangan antara Jawa bagian barat dengan wilayah lain.
Dari namanya, Indramayu berasal dari gabungan dua kata, yakni Indra, yang diasosiakan dengan nama salah satu dewa dan Mayu yang berarti harum atau wangi. Versi lain nama Indramayu berasal dari tokoh perempuan bernama Nyi Endang Dharma Ayu, seorang putri bangsawan (tidak diketahui dari kerajaan atau daerah mana) yang dikenal bijaksana, cantik, dan harum namanya di masyarakat. Dari nama Dharma Ayu inilah kemudian lahir sebutan Dermayu yang menjadi sebutan lain bagi Indramayu hingga saat ini.
Dari sejarah Indramayu, kita bisa pelajari bahwa dahulu, wilayah Indramayu termasuk dalam pengaruh Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda Pajajaran. Ekspansi Kesultanan Banten dan Cirebon pada abad ke-16 masuk ke Indramayu setelah kejatuhan Kerajaan Sunda Pajajaran.
Di masa Kesultanan Cirebon inilah Islam semakin berkembang pesat di Indramayu dan pastinya karena ada pengaruh dan peran para wali dan ulama yang menyebarkan ajaran agama melalui jalur perdagangan dan pelabuhan.
Di masa era penjajahan Belandan di abad ke-17 hingga 19, Indramayu menjadi salah satu wilayah penting bagi kolonial Belanda karena letaknya yang berada di pesisir dan memiliki pelabuhan. Selain itu, tanahnya yang subur menjadikan Indramayu sebagai daerah pertanian dan perkebunan yang diincar oleh pemerintah kolonial.
Seperti daerah lain, Indramayu juga tak lepas dari era tanam paksa atau cultuurstelsel di abad ke-19. Tebu, nila, dan padi dipaksakan untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa. Kondisi ini membuat beberapa tokoh lokal muncul termasuk para ulama dan kyai sebagai bentuk perlawanan masyarakat untuk melawan ketidakadilan kolonial.
Pasca kemerdekaan Indramayu terus berkembang sebagai daerah agraris dan pelabuhan. Hasil pertanian seperti padi dan buah-buahan, terutama mangga, menjadi komoditas unggulan. Bahkan, mangga harum manis Indramayu terkenal hingga ke mancanegara.
Selain pertanian, sektor perikanan juga menjadi mata pencaharian utama masyarakat. Letaknya di pesisir utara dengan garis pantai yang panjang menjadikan Indramayu sebagai salah satu sentra nelayan terbesar di Jawa Barat. Pelabuhan-pelabuhan tradisional berkembang pesat dan menjadi pusat ekonomi masyarakat.
Mangga Indramayu
Tak kenal maka tak sayang. Mendengar kata 'Indramayu', biasanya teman Menong akan teringat buah mangga karena Indramayu dikenal sebagai penghasil mangga dengan kualitas terbaik.
Mendengar kata Indramayu biasanya akan teringat buah favorit kami sekeluarga yaitu mangga. Dalam bahasa sunda, buah mangga disebut dengan nama 'buah'. Jadi, bila teman Menong main ke Jawa Barat dan ingin membeli mangga, cukup katakan ingin membeli 'buah'.
'Mangga' sendiri dalam bahasa sunda berarti 'silakan'.
Musim mangga biasanya di bulan Oktober hingga awal tahun. Saat mangga melimpah, harga di pasar bisa menynentuh hanya Rp. 15.000/kg. Mangga sendiri sangat disukai karena rasanya yang manis menyegarkan. Satu kilo biasa berisi 3 - 4 buah tergantung ukurannya.
Mangga paling populer adalah mangga arum manis yang disukai karena rasanya yang manis dan aromanya yang wangi. Varian mangga lain diantaranya mangga apel, mangga indramayu, mangga manalagi, mangga golek, mangga kweni, dan mangga gedong gincu.
Beberapa kota di Jawa Barat terkenal sebagai kota penghasil mangga terbaik, salah satunya Kabupaten Indramayu. Indramayu terletak di jalur pantai utara atau biasa disebut pantura. Sebagian wilayah Indramayu dilewati Sungai Cimanuk, yang mengalir dari Pegunungan Mandalagiri di Kabupaten Garut pada ketinggian sekitar 1700 meter di atas permukaan laut (mdpl) ke arah timur laut sepanjang 180 kilometer, dan bermuara di Laut Jawa di Kabupaten Indramayu.
Tanah yang subur dan lembap sangat sesuai dengan tanaman mangga, khususnya mangga gedong. Mangga gedonng dapat dikatakan sebagai mangga termahal karena memiliki rasa manis legit, aroma khas yang tajam dengan kandungan serat tinggi. Mangga gedong berbentuk agak bulat. Kulit buah mangga gedong berwarna kuning cerah merah keunguan dengan daging buahnya jingga cerah.
Tari Topeng
Indramayu juga dikenal sebagai daerah yang memiliki akar budaya yang kuat. Tari Topeng Dermayon, yang biasanya dipentaskan dalam acara adat, perayaan, hingga pertunjukan budaya merupakan salah satu contoh kesenian unik dari Indramayu.
Dari sejarah Indramayu terlihat, tari topeng ini sangat unik.

Post a Comment
Post a Comment