Teman Menong yang tinggal atau pernah berkunjung ke Cirebon akan sepakat bila kota pesisir ini yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah luar biasa. Keraton Kanoman merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah Kesultanan Cirebon.
Sejarah Keraton Kanoman
Awalnya saya dan Zauji berniat untuk menjelajah Cirebon karena kunjungan kami kali ini terbilang lama. Zauji membuat daftar kunjungan yang bisa kami sambangi dalam waktu satu hari saja.
Pertama, tentunya kami mampir di Pantai Kejawanan yang ternyata hanya berjarak 6 km dari hotel tempat kami menginap. Dari hotel kami meluncur menuju Keraton Kasepuhan, keraton ikonik Cirebon yang masih berjaya hingga kini.
Dari Keraton Kaspeuhan, kami mendapatkan cerita bila Cirebon memiliki 3 keraton berbeda, salah satunya adalah Keraton Kanoman. Karena berniat jalan-jalan, Zauji mengajak saya untuk jalan kaki saja dengan panduan google maps.
Jarak Keraton Kasepuhan ke Keraton Kanoman memang hanya 900 meter saja. Kami berjalan di teriknya matahari. Kami lewat gang dan muncul di bagian belakang Keraton. Ada 2 orang petugas di pintu masuk menuju keraton. Pintu ini nampak sederhana dengan pembatas besi yang nyaris membuat Zauji tersandung.
Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678 Masehi oleh Pangeran Kertawijaya, yang kemudian dikenal dengan gelar Sultan Anom I. Ia adalah cucu dari Sunan Gunung Jati, tokoh penyebar agama Islam di Cirebon sekaligus pendiri Kesultanan Cirebon. Pendirian keraton ini dilatarbelakangi oleh perpecahan politik dan kekuasaan di lingkungan internal keraton, sehingga melahirkan keraton baru yang berdiri berdampingan dengan keraton lainnya.
Nama Kanoman berasal dari kata "Anom" yang berarti muda. Hal ini merujuk pada generasi penerus yang lebih muda dari garis keturunan Sunan Gunung Jati. Keraton Kanoman kemudian berkembang sebagai pusat pemerintahan, budaya, sekaligus simbol eksistensi dinasti keturunan Sunan Gunung Jati.
Bangunan Keraton Kanoman
Berbeda dengan Keraton Kasepuhan yang ramai dengan pedagang, lengkap dengan loket tiket dan pemandu, Keraton Kanoman nampak sepi. Kesan pertama menampakan pelataran yang sepi dan bangunan yang dirawat seadanya di tengah riuhnya pasar. Kami duduk di bangku taman.
Keraton Kanoman memiliki keunikan arsitektur yang memadukan gaya lokal, Hindu-Buddha, Islam, dan pengaruh Tiongkok. Bangunannya masih mempertahankan ciri khas arsitektur Jawa klasik dengan sentuhan ornamen megah.
Di dalam kompleks keraton, terdapat gapura besar yang dihiasi ukiran khas Cirebon serta keramik dari Tiongkok. Keramik-keramik ini menjadi bukti adanya hubungan perdagangan dan kebudayaan antara Cirebon dengan bangsa asing pada masa lalu.
Selain itu, terdapat pula Bangsal Witana, bangunan yang konon merupakan tempat duduk Sunan Gunung Jati ketika menyebarkan agama Islam. Ada juga Bangsal Prabayaksa, ruang penting tempat Sultan menerima tamu-tamu penting dan menjalankan aktivitas kerajaan.
Keraton Kanoman menyimpan banyak koleksi bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Kesultanan Cirebon. Beberapa di antaranya adalah:
Kereta Singa Barong: kereta kencana yang sangat terkenal dan hanya digunakan dalam upacara penting. Bentuknya unik karena memadukan simbol naga, gajah, dan garuda sebagai lambang kekuatan.
Naskah kuno: berbagai manuskrip yang ditulis dengan huruf Arab Pegon maupun Jawa, berisi tentang sejarah, keagamaan, hingga hukum adat.
Senjata pusaka: seperti keris, tombak, dan meriam yang digunakan sebagai perlengkapan kerajaan maupun simbol kekuasaan.
Keramik kuno: peninggalan dari Tiongkok, Eropa, dan Timur Tengah yang menandakan adanya interaksi global di masa lalu.
Koleksi-koleksi ini tidak hanya menjadi benda bersejarah, tetapi juga mencerminkan akulturasi budaya yang kental di Cirebon.
Keraton Kanoman hingga kini masih berfungsi sebagai pusat budaya dan spiritual masyarakat Cirebon. Salah satu tradisi besar yang dilaksanakan adalah Upacara Panjang Jimat, yang biasanya digelar pada bulan Maulid untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam acara ini, berbagai pusaka kerajaan dikeluarkan dan ditampilkan kepada masyarakat luas.
Selain itu, keraton juga menjadi pusat pelestarian kesenian khas Cirebon, seperti tari topeng Cirebon, batik Trusmi, dan berbagai kesenian gamelan. Hal ini menjadikan Keraton Kanoman bukan hanya tempat wisata sejarah, tetapi juga pusat pendidikan budaya.
Kami memang tak terlalu banyak menjelajah Keraton Kanoman Cirebon karena hari sudah terlalu siang. Saat pulang kami melewati pasar tradisional yang ramai dan menunggu mobil online yang kami pesan di titik yang mudah untuk ditemukan dan membawa kami kembali ke Hotel Amaris Cirebon.



Post a Comment
Post a Comment