Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 11...Hasil OCT Kedua

Tibalah hari kontrol selanjutnya. Sengaja kami jadwalkan hari Selasa sehingga apabila ada hal yang perlu kami tanyakan kepada Prof Arief, kami bisa menemui hari berikutnya di klinik paviliun. Karena sudah mendaftar sejak 2 bulan sebelumnya, kami mendapat giliran dengan urutan pertama di klinik retina. Tahapan skrining Covid 19 pun dilakukan via online. Dengan urutan no 1, kami diperbolehkan memasuki ruangan tunggu tepat jam 07.00 WIB.


Begitu tiba di klinik retina kami langsung menyampaikan kepada dokter bahwa kami diharuskan melakukan pemeriksaan OCT yang kedua. Seperti halnya pemeriksaan OCT yang pertama, hasil OCT sudah bisa kami dapatkan hari itu juga. Dari hasil pindai OCT, sebagai orang awam saya dapat membaca bahwa terjadi penurunan kondisi papil. Dan benarnya saja, dokter membenarkan adanya perbedaan dari OCT pertama namun dokter kepala (biasanya dokter konsulen sub spesialis) menyatakan kami tidak perlu khawatir mengenai kondisi tersebut. Hal yang terpenting adalah posisi retina yang masih menempel.


Yang perlu kami waspadai tekanan mata yang kembali naik di posisi 40. Dokter kembali meresepkan obat penurun tekanan mata yaitu timol, yang kali ini dilengkapi dengan glaupen, glaucon, aspar K dan vitamin mata sekaligus. Tetiba saya ingat kalau beberapa hari sebelumnya Zauji mengeluhkan mata kanannya yang sakit luar biasa. Hal ini biasa nya menjadi pertanda adanya kenaikan tekanan mata. Dan seperti biasa, penggunaan glaucon dan aspar K akan menimbulkan kesemutan yang menjalar di beberapa bagian tubuh seperti tangan sehingga dokter menyarankan agar Zauji mengkonsumsi lebih banyak sumber kalium seperti pisang.

Secara eksplisit dokter menenangkan kami dan menyarankan agar dua minggu kedepan kami kembali untuk kontrol guna mengganti kaca mata Zauji agar lebih nyaman.

Jadilah kami kembali dua minggu kemudian. Alhamdulillah, tekanan mata kembali turun pada posisi 24. Kali ini tujuan kami ke klinik refraksi guna mengecek minus mata Zauji. Berbeda dengan klinik retina dan glaukoma, antrian di klinik refraksi tidak sebanyak klinik lain. Tak sampai satu jam, resep kaca mata baru sudah kami terima.

Karena masih dalam status observasi, tak banyak yang bisa kami diskusikan dengan dokter bagian retina. Hanya saja, sejak 2 bulan terakhir, mata Zauji bereaksi alergi apabila diberi obat tetes pembesar papil. Dokter sendiri tidak memberikan penjelasan karena hal ini jarang sekali terjadi. Sebetulnya obat tetes ini menjadi bagian dari prosedur pra pemeriksaan visus namun entahlah reaksi alergi ini terkadang baru menghilang selepas 4 hari.


Ada cerita apa lagi ya?

Tunggu kisahnya di “Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai..Part 12”


Foto : justmenong



No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa