Cara Lepas Dari Riba Bagian 1

2 comments
lepas dari riba
Bercerita tentang cara lepas dari riba bagaikan menceritakan kembali salah satu kisah menakjubkan yang pernah ada dalam hidup saya. Dahulu saya selalu berpikir akan sulit untuk lepas dari riba. Bagaimana ceritanya? Let’s check it out!

Apa Itu Riba?

Jujur saja, pemahaman agama saya tidaklah terlalu dalam. Sejauh yang saya ingat, pelajaran agama mengenai riba memang jarang dibahas. Dalam pengetahuan yang terbatas, rentenir dan bunga bank mungkin dua hal dari sedikitnya contoh riba dalam kehidupan kita. Saya pribadi tidak pernah mengenal atau berinteraksi dengan rentenir dalam kehidupan nyata.
Secara bahasa, riba memiliki arti tambahan atau kelebihan (ziyadah) dan secara istilah, riba berarti kelebihan atau tambahan pembayaran dalam utang piutang atau jual beli yang disyaratkan sebelumnya bagi salah satu dari dua orang/pihak lain yang membuat perjanjian.

Pahami Bentuk Riba

Kartu Kredit

Sejak bekerja, saya bercita-cita memiliki kartu kredit sebagai alat pembayaran. Sayangnya untuk memiliki kartu kredit tidak semudah yang saya bayangkan. Salah satu faktor (sepertinya) karena penghasilan saya yang memang tak seberapa besaršŸ˜‘

Tak disangka, suatu waktu saya mendapat kesempatan kemudahan membuat kartu kredit tanpa persyaratan yang berat. Selain belanja, kartu kredit bisa saya manfaatkan untuk pembiayaan dengan cara kredit dengan bunga nol %. Dengan sistem pembayaran autodebet, saya memang tak pernah terlambat membayar tagihan setiap bulannya sehingga tawaran ajuan kartu kredit lainnya berdatangan.

Kartu sakti ini memberikan fasilitas lain berupa potongan harga atau diskon. Biasanya kami menggunakannya untuk mencari resto tempat kami berkumpul arisan setiap bulan. Hmmm, menyenangkan, bukan?

Praktik Gadai

Setelah beberapa tahun menetap di perantauan, salah seorang teman memperkenalkan saya dengan salah satu kebiasaan di tanah Cianjur yang tidak saya jumpai di Bandung yaitu gadai sawah/kebun/rumah. 

Penggadai meminjam uang kepada seseorang dengan jaminan sawah/kebun/rumah. Selama uang pinjaman belum dibayar atau dikembalikan maka hasil sawah atau kebun menjadi hak peminjam uang. Demikian juga untuk rumah, peminjam uang berhak menempati rumah tersebut selama utang belum dibayarkan. Tenggang waktu pembayaran terbagi dua jenis. Ada yang menggunakan deadline misalnya dalam waktu lima tahun atau tak terhingga sampai pinjaman dibayar lunas.

Di awal tahun 2000an, jumlah uang yang dipinjam pun tak banyak berkisar 2 – 5 juta saja. Sekilas, praktik ini sangat menggiurkan, ya? Betapa tidak, hasil sawah dan kebun seperti padi, singkong, kacang, pepaya, pisang dan lainnya otomatis menjadi milik peminjam uang. Terkadang sang peminjam ‘berbaik hati’ membagi hasil tani tersebut dengan pemilik jaminan dalam persentase tertentu sesuai kesepakatan.

Praktik gadai rumah juga banyak dijalani dengan nominal 15 – 20 juta dengan lokasi rumah beragam, di pinggir jalan utama hingga masuk perkampungan. Ukuran rumah pun lumayan besar dengan 2 – 3 kamar tidur plus garasi.

Rumah Gadai

Pemilik kontrakan yang saya tempati memutuskan akan menghuni rumah tersebut sehingga otomatis saya harus mencari kontrakan baru. Qodarullah, di tengah kebingungan mencari rumah, saya menemukan rumah gadaian.

Konon, rumah itu sudah digadaikan hampir sepuluh tahun lamanya. Penghuni sebelumnya akan pindah ke Bandung sehingga pemilik rumah harus mengembalikan uang sebesar Rp. 12 juta. Namun karena beliau belum mempunyai uang akhirnya rumah itu ditawarkan untuk over gadai. Jadilah saya membayar sejumlah uang kepada pemilik rumah yang langsung diberikan kepada penghuni sebelumnya.

Saya jatuh cinta saat pertama kali melihat rumah ini. Cat berwarna putih, sinar matahari yang masuk hingga ke dalam rumah, dapur yang luas, kamar mandi yang bersih. Sayang nya kondisi rumah memang tak begitu bagus. 

Tembok yang lembab karena menempel pada dinding bangunan sebelah dan genteng bocor sehingga merusak langit-langit bilik hingga berlubang. Langit-langit bilik juga menjadi tempat favorit anabul beranak sehingga sering kali saya mendengar suara anabul yang membuat saya stres dan tak bisa tidur. Yap, saya takut dan tak suka suara kucingšŸ˜±

Perbaikan rumah sepenuhnya kewajiban saya. Biaya kontrakan setahun yang bisa mencapai 3 – 5 juta bisa saya pangkas dengan menempati rumah gadai ini. Meski berada di gang senggol, rumah ini terletak di dekat jalan utama dengan akses satu kali angkutan umum menuju kantor. Seperti banyak rumah di daerah pinggiran Cianjur, di dalam gang hanya ada dua rumah saja, rumah yang saya huni dan rumah orang tua pemilik rumah yang saya huni. Selebihnya adalah kebun dan sungai kecil.

Hanya berselang 2 tahun kemudian, pemilik rumah ‘memaksa’ saya untuk menaikan harga gadai dengan alasan butuh moal usaha. Bila saya tak menyanggupi, pemilik rumah akan meng-over gadai rumah kepada orang lain. Karena saya sudah tak lagi punya energi mencari kontrakan baru (plus terbayang harga kontrakan yang semakin mahal setiap tahunnya), akhirnya saya menyanggupi untuk menambah uang sebesar Rp. 8 juta.

Trik semacam ini terkadang dilontarkan pemilik rumah agar kita bersedia meminjamkan uang lebih banyak lagi. Trik ini juga sering ‘disambut’ penerima gadai karena semakin tinggi uang yang dipinjam, semakin sulit juga pemilik membayar pinjamannya dan berakhir dengan melepas jaminan kepada penerima gadai dengan harga yang lebih rendah dari pasaran.

Saya sendiri tak berniat ‘menguasai’ rumah gadai ini karena lokasinya yang berada di gang tanpa akses keluar masuk mobil. Selain itu, surat kepemilikan rumah masih berupa girik letter C. Bila pemilik rumah terus menerus menaikan harga gadai rumah, dengan terpaksa saya memilih ‘out’ saja.

Pembiayaan Perbankan Syariah

Saya dan Ibunda tinggal di rumah sederhana yang dibeli Ibunda dari jatah perumahan Embah sebagai janda purnawirawan tentara. Rumah ini terletak di pinggiran kota Bandung. Sejak lama saya bermimpi untuk merenovasi rumah agar lebih nyaman untuk ditempati. Karena membutuhkan dana yang lumayan besar, saya memberanikan diri untuk mengajukan pembiayaan kepada bank syariah untuk melengkapi tabungan yang telah lama saya kumpulkan.

Saat itu saya mulai belajar cara lepas dari riba sehingga saya meminimalkan bank konvensional untuk saya gunakan sehari-hari. Saya pikir, perbankan syariah menjadi alternatif untuk men’syariah’kan transaksi perbankan yang saya pilih. 

Ajuan pembiayaan di bank syariah relatif lebih sulit bila dibandingkan dengan bank konvensional. Tujuan pembiayaan yang harus detil misal untuk renovasi rumah (setahu saya berbeda dengan bank konvensional yang bisa mengajukan pembiayaan untuk apapun tanpa alasan yang jelas), biaya administrasi juga ditanggung nasabah terlebih dahulu (berbeda dengan bank konvensional yang akan memotong biaya administrasi dari dana pembiayaan sehingga kita tak memerlukan modal untuk membayar biaya administrasi).

Tahun berjalan, seiring banyaknya kajian islam yang saya ikuti, informasi mengenai riba -dasar hukum dan aplikasinya- mulai banyak saya dapatkan dari media sosial terutama instagram dan Youtube. Tak dinyana, pembahasan cara lepas dari riba seolah ditakdirkan untuk terus menerus ‘mampir’ di timeline saya seolah menegaskan inilah saatnya untuk mempraktikan cara lepas dari riba seperti yang saya pelajari

Related Posts

2 comments

  1. Dalam keseharian kita saat ini yahg bisa kita lakukan adalah meminimalisasi riba. Karena semua sekarahg sudah menjadi satu sistem. Tidak ada yang tidak riba dalam prosesnya.

    Memahg sudah berada pada kondisi sulit, yang bisa dilakukan meminimalisasi, banyak istigfar, mohon ampun. Itu aja.

    ReplyDelete
  2. aku suka ulasan seperti ini mba, soalnya di zaman sekarang riba ga terlalu diperhatikan dan banyak praktik riba di mana-mana. semoga kita semua bisa terhindar darinya supaya hidup jauh lebih tenang :)

    ReplyDelete

Post a Comment