Pengalaman Operasi Ablasio Retina Bagian 17

Post a Comment
Tahun 2022 merupakan tahun ketiga bagi kami berdua bersahabat dengan ablasio retina. Secara medis dokter telah menyatakan kondisi mata Zauji secara teoritis akan terus mengalami penurunan sebagai efek dari silikon. Insyaallah kami tak akan lelah untuk terus berikhtiar. Pengalaman operasi ablasio retina membuat kami belajar memahami indahnya dibalik skenario Allah ini.

Ablasio retina merupakan lepasnya retina sehingga menimbulkan gangguan penglihatan dengan tiba-tiba. Pemicu ablasio retina yang diderita Zauji kemungkinan karena minus tinggi, kebiasaan mengangkat beban berat (di rumah kami sering kesulitan air sehingga Zauji bertugas mengangkat jerigen air ke penampungan di rumah kami) dan goncangan hebat seperti halnya kecelakaan motor yang kami alami 2 minggu sebelum gejala ablasio retina muncul.

Ikhtiar Medis 

Rangkaian ikhtiar telah kami lakukan di RS Mata Cicendo Bandung dari mulai pemasangan silicon oil 1300 cSt, silicon dengan viskositas paling ringan, silicon oil 5000 cSt, penyuntikan gas CF6, sceral buckling dan silicon HD, silicon dengan viscositas terberat. 

Operasi pemasangan silicon HD terakhir dilakukan di bulan Juni 2020 menjadi tindakan ketujuh yang dijalani Zauji. Secara teori, silikon yang telah dipasang akan dievakuasi setelah 3 – 6 bulan pasca operasi namun dokter menyarankan untuk tetap mempertahankan silikon oksana HD selama mungkin agar retina menempel dengan sempurna. 

Evakuasi (pengangkatan) silikon oksana HD hanya akan dilakukan apabila sudah terbentuk emulsi atau hal lain yang mengganggu kondisi retina atau mata secara umum. Hingga akhir tahun 2021 kontrol dilakukan setiap bulan dengan berbagai kisah naik dan turun. Sebagian pemeriksaan dilakukan di klinik paviliun RS Cicendo Bandung untuk memudahkan kami bertanya dan berdiskusi dengan dokter. Aktivitas Zauji sendiri masih seperti biasa kecuali membatasi untuk mengendarai motor di malam hari dan menghindari pantangan dasar seperti terkena goncangan atau mengangkat barang terlalu berat.

Kontrol di Klinik Paviliun

Dengan kondisi mata kanan yang selalu stabil, Alhamdulillah di awal tahun 2022, dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K) memberi lampu hijau untuk kontrol rutin setiap 3 – 6 bulan sekali. Kami pun kembali ke klinik Cicendo 6 bulan kemudian dan kali ini kami bertemu kembali dengan dr. Rova Virgana, Sp.M(K) di klinik paviliun, tepat 2 hari sebelum jadwal kontrol di klinik BPJS.

Berdasarkan rekam  medis Zauji, dokter Rova melihat sesuatu yang tak biasa yaitu jarak pandang Zauji yang menurun drastis selama 6 bulan ini. Enam bulan lalu Zauji masih bisa melihat bayangnan dari jarak 1 meter. Kali ini, hanya bayangan samar dari jarak yang sangat dekat. Karena sudah lama tak bertemu, kami pun menerangkan kembali kondisi Zauji selama berkonsultasi dengan dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K) 6 bulan sebelumnya termasuk silikon HD yang belum dievakuasi.
ablasio retina



Dokter Rova kembali menerangkan situasi yang dialami Zauji. Bila silikon dievakuasi ada kemungkinan retina kembali robek sedangkan bila tak dievakuasi ada kemungkinan syaraf mata menjadi rusak yang berarti penurunan penglihatan secara perlahan. 

Dalam kondisi normal, beliau sendiri lebih memilih untuk melakukan evakuasi silikon HD dengan catatan bila terjadi robekan retina kembali, maka akan dimasukan kembali silikon yang baru yang tentunya dengan viskositas berat seperti silikon HD. Karena secara teori, silikon dengan viskositas rendah ( silicon oil 1300 cSt dan silicon oil 5000 cSt) seperti silikon kurang efektif untuk robekan retina di bagian bawah.

Silikon HD tidak akan dievakuasi bila pasien merasa sudah nyaman dengan kondisi stabil saat ini mengingat pemasangan silikon yang terus menerus karena robekan terjadi secara berulang tentunya akan berpengaruh pada psikis pasien. Zauji sendiri menyatakan keputusan dikembalikan pada dokter sebagai orang yang lebih memaham ilmunya.

Penurunan Penglihatan

Dalam kondisi Zauji, dengan adanya resiko retina yang kembali lepas secara berulang bila silikon HD dievakuasi maka selama kondisi stabil ini akan tetap dipertahankan alias tidak dilakukan evakuasi HD.

Penurunan kondisi mata kanan Zauji harus dilihat apakah karena silikon HD nya rusak atau ada faktor lain. Dokter Rova pun menerangkan papil secara teori akan rusak bila silikon tidak dievakuasi sehingga bila papil memucat menjadi hal yang wajar.

Setelah dilakukan pemeriksaan lagi, dokter Rova menyampaikan dua hal:
  • Silikon HD masih dalam kondisi bagus namun retina di bagian pinggir terlihat seperti adanya tarikan sehingga dikhawatirkan akan terjadi robekan saat silikon HD dievakuasi karena selama ini robekan tidak terjadi karena tertahan silikon. Meski bila memang ada robekan, ada silikon pun tetap akan robek dengan tersendirinya.
  • Penempelan di bagian depan, iris terhadap sudut (jujur saya tidak paham istilah ini), ada kemungkinan tekanan bola mata akan rendah sekali bila silikon HD dievakuasi yang mengakibatkan mata ‘kences’ atau volume mata berkurang akibat produksi carian mata tidak ada sehingga tidak membentuk bola mata lagi.

Pemeriksaan Lanjutan

Akhirnya dokter Rova menyarakan agar kami melakukan konsultasi ke bagian: 
Klinik glaukoma untuk memastikan apakah ada gangguan atau resiko turunnya tekanan bola mata bila silikon HD dievakuasi.

Klinik infeksi dan imunologi untuk memastikan apakah kekeruhan pada kornea ada hubungannya dengan adanya silikon HD atau memang adanya fungsi kornea yang menurun. Biasanya dengan adanya silikon, kornea akan rusak karena suplai pembuluh darah terganggu. Bila kekeruhan kornea dihubungkan dengan fungsi kornea yang menurun maka ada atau tidak ada silikon tidak akan berpengaruh sehingga diberi kebebasan apakah silikon HD akan tetap dipertahankan atau dievakuasi.

Silikon HD sendiri masih dalam kondisi bagus atau tidak pecah sehingga yang dilakukan hanyalah menghindari komplikasi dari pemasanan silikon HD. Fungsi mata sendiri tidak bisa diprediksi apakah bisa membaik atau tidak. Berulang kali Zauji sampaikan yang bisa kami lakukan hanya sebatas ikhtiar.

Akhirnya dokter Rova menyarankan kembali untuk pemeriksaan optical coherence tomography (OCT) dan Electroretinography (ERG). OCT merupakan teknik pencitraan diagnostik medis yang memanfaatkan fotonik (photonics) dan serat optik untuk mendapatkan gambar dan karakterisasi jaringan kedua mata. ERG atau Electroretinography (Elektroretinografi) merupakan pemeriksaan mata yang dapat mengukur respons listrik sel mata yang peka terhadap cahaya. 

Umumnya pemeriksaan ERG harus menunggu antrian karena pemeriksaan yang lama membutuhkan waktu yang lama pula, terutama bagi anak-anak yang memerlukan bius karena saat pemeriksaan ERG tidak diperkenankan bergerak.

Alhamdulillah, pertemuan kali ini mendapatkan ilmu baru. Dokter pun tidak memberikan obat termasuk timol karena tekanan bola mata yang sudah normal pada nilai 11 (angka normal 10 – 24 untuk pasien yang mengalami pengalaman operasi ablasio retina dengan pemasangan silikon).

Klinik BPJS

Kami pun kembali ke klinik BPJS di dua hari berikutnya. Seperti yang diinstruksikan dokter Rova, di poli retina klinik BPJS kami menyampaikan catatan beliau untuk melakukan pemeriksaan OCT, ERG, konsultasi di poli glaukoma dan poli infeksi dan imunologi.

Pemeriksaan OCT dilakukan lebih dulu. Tak banyak antrian sehingga waktu menunggu tidak terlalu lama.  Hasil OCT kami dapatkan tak lama setelah pemeriksaan selesai.  Di luar dugaan, pemeriksaan ERG dilakukan hari itu juga tanpa antrian berminggu-minggu. Saya bahkan menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan teknisi nya sambil menunggu pemeriksaan selesai. Hasil ERG pun diberikan tak begitu lama.

Menjelang siang, kami meluncur ke poli glaukoma. Antrian yang panjang memang membutuhkan kesabaran tinggi. Alhamdulillah, dokter glaukoma menyatakan tidak ada indikasi penurunan tekanan bola mata atau hipotomi sehingga keputusan evakuasi silikon atau tidak dikembalikan di poli retina.

Selanjutnya kami mengantri di poli infeksi dan imunologi untuk berkonsultasi mengenai kornea. Sama hal nya dengan poli glaukoma, dokter di bagian ini pun menyatakan bahwa kornea tidak dipengaruhi adanya silikon HD sehingga keputusan evakuasi silikon atau tidak dikembalikan di bagian retina.

Sore tiba. Alhamdulillah semua dapat kami selesaikan dalam waktu satu hari saja. Kamipun kembali ke poli retina setelah ashar dengan drama berkas dari bagian infeksi dan imunologi tercecer entah kemana sehingga tak masuk kembali ke bagian retina. Setelah menunggu lama, kami konfirmasi kembali ke bagian infeksi dan imunologi dan akhirnya berkas Zauji pun diterima di bagian retina.

Menjelang magrib, dokter di poli retina menuntaskan rekam medis Zauji yang sebetulnya akan kami konsultasikan kembali ke dokter Rova di klinik paviliun. Alhamdulillah ala kulli hal. Pengalaman operasi ablasio retina ini bagaimana pun merekatkan kami berdua untuk selalu mensyukuri setiap keadaan yang ada. Konsultasi selanjutnya di klinik paviliun tentunya membuka wawasan baru bagaimana menyikapi pengalaman operasi ablasio retina yang telah kami tempuh sejauh ini.


Related Posts

Post a Comment