Apa yang Dilakukan Setelah Kemoterapi Selesai?

2 comments
setelah kemoterapi selesai
Tak pernah saya bayangkan sebelumny bila suatu hari nanti kisah hidup kami dekat dengan penyakit mematikan, kanker payudara yang dialami Ibunda. Terlebih pada saat bersamaan Zauji masih dalam bulan-bulan awal operasi ablasio retina. Dulu, rasanya perjalanan yang akan kami tempuh sangat jauh, penuh liku dan seakan tak berujung. Alhamdulillah, tak terasa hampir 3 tahun Ibunda menjalani segala rangkaian pengobatan. Apa yang dilakukan setelah kemoterapi selesai? Yuks, check it out!

3 Tahun Lalu

Tepat 3 tahun yang lalu, November 2019, Ibunda merasakan benjolan di payudara sebelah kiri. Awalnya tidak terasa mengganggu atau sakit sehingga Ibunda tidak mengeluh dan mengabaikannya. Namun berselang dua bulan, Januari 2020, benjolan semakin membesar sehingga dapat diraba dengan tangan. Ibunda pun memberi tahu saya. Saat itu juga saya langsung inisiatif untuk memeriksakan Ibunda ke dokter bedah umum  di RS Hermina Arcamanik Bandung. 

Dan saya sengaja memilih Dr Richard SHL. Tobing karena beliau lah dokter yang melakukan tindakan operasi ganglion di tangan saya beberapa tahun sebelumnya. 
Pada wanita yang telah mengalami menopause, benjolan di payudara sangatlah tidak lazim karena secara teoritis hormon telah berubah sehingga ada indikasi serius yang perlu penanganan segera. Dokter Richard pun segera menginstruksikan untuk operasi pengangkatan benjolan atau biopsi.

Operasi biopsi dilakukan 10 hari kemudian yang menunjukan hasil adanya carsinoma atau sel kanker grade 3. Grade dalam kanker menunjukan seberapa cepat kanker akan menyebar. Kanker grade 1 tumbuh dan menyebar lebih lambat dibandingkan dengan kanker grade 3.

Grade dalam kanker berbeda dengan stadium kanker. Stadium dalam kanker menunkukan seberapa jauh sudah menyebar. Dokter Richard tidak menyebutkan stadium berapa yang diderita Ibunda. Kelak informasi ini saya dapatkan dari dokter bedah onkologi saat konsultasi kemoterapi. Ibunda mengalami kanker payudara stadium 2 menuju 3 berdasarkan besar benjolan (kurleb 5 cm).

Secara halus dokter Richard menerangkan perlunya tindakan selanjutnya sesegera mungkin, yaitu mastektomi. Saya pun sempat bertanya mengapa bukan kemoterapi yang dilakukan. Beliau menjawab, kanker sangat berhubungan dengan waktu, Ibunda lebih baik melakukan mastektomi di kala badan masih kuat dan sehat karena berdasarkan pengalaman kondisi pasien akan banyak mengalami penurunan pasca kemoterapi.

Dengan mengucapkan basmallah, saya dan adik menyetujui mastektomi 3 minggu kemudian di RSUD Ujungberung Bandung masih bersama dokter Richard. Sebetulnya, beliau sendiri bukan dokter bedah onkologi namun beliau sudah terbiasa melakukan mastektomi. Selain itu, saat itu masih awal pandemi, RS yang melayani fasilitas mastektomi hanya RS Hasan Sadikin yang notabene RS rujukan Covid 19 yang pastinya kami hindari.

Alhamdulillah mastektomi berjalan lancar, Ibunda pulang dengan luka pasca operasi dalam kondisi baik, hasil USG dan rontgen menunjukan tidak ada penyebaran ke limpa dan paru-paru. Langkah selanjutnya adalah kemoterapi yang dilakukan di RS Santosa Kopo Bandung. 


Pasca Kemoterapi
Di rumah sakit Santosa Kopo kami dirujuk untuk berkonsultasi dengan dokter bedah onkologi, Dr. dr. Yusuf Heryadi, SpB(K) on. Beliau menenangkan kami agar tidak khawatir menghadapi sesi kemoterapi yang dijalankan satu paket sebanyak 6 siklus. Setelah dilakukan pemeriksaan jantung dan darah, Ibunda mulai menjalani sesi kemoterapi dengan segala drama yang dihadapinya.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Ibunda seorang wanita yang kuat, selama sesi kemoterapi yang dilakukan per tiga minggu, segala keluhan seperti pusing, mual, muntah, tidak ada rasa di lidah, rambut rontok, sering buang air kecil tak terkontrol, diare dan rasa ngilu lainnya dapat dijalani dan dilewati.

4 Agustus 2020
Bulan Agustus menjadi siklus kemoterapi keenam sekaligus penutup. Meski di siklus terakhir ini, kondisi Ibunda relatif lebih memburuk namun lewat 2 minggu kembali membaik. Bulan September seakan menjadi babak baru bagi kami semua. Karena Ibunda masih bisa beraktivitas secara normal, dokter Yusuf tidak merekomendasikan tindakan lanjutan seperti radiasi. Dokter hanya menginstruksikan apa yang dilakukan setelah kemoterapi selesai, salah satunya Ibunda harus kontrol rutin setiap bulan.

Kontrol Bulanan

Kontrol pasca kemoterapi dilakukan setiap bulan pada hari Senin atau Kamis. Alhamdulillah pelayanan administrasi di RS Santosa Kopo sangat baik dan teratur hingga memudahkan pasien. Untuk melakukan kontrol, pasien cukup memberikan syarat administrasi seperti form rujukan dari dokter Yusuf, hasil patologi anatomi biospi dan mastektomi. Pendaftaran juga dapat dilakukan jauh hari sebelumnya dan secara online.

Pasien di klinik bedah onkologi sangat banyak sehingga perlu kesabaran ekstra untuk menunggu. Karena mendaftar kurleb satu bulan sebelumnya, Ibunda biasanya mendapatkan nomor kecil. Jam praktek biasanya dimulai pada pukul 16.00 WIB namun akan dimulai sesuai dengan kedatangan dokter. Terkadang kami baru diperiksa bada magrib.

Di kontrol pertama pasca kemoterapi, sesi konsultasi hanya diisi obrolan mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya termasuk menjaga hati dan mood tetap baik, makan makanan yang bergizi dan tetap dengan pola hidup yang sehat termasukapa yang dilakukan setelah kemoterapi selesai.

Obat yang diberikan hanya satu yaitu Sancoidan, Laminaria japonica (ekstrak rumput laut), herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita kanker. Sayangnya dalam satu bulan, hanya 4 kapsul yang di-cover BPJS sehingga kami membeli sisanya dengan harga kurleb 21rb per kapsul di apotek Kimia Farma tertentu. Tak banyak apotek yang menjual sehingga kami harus memesan terlebih dahulu.

Ibunda pun masih melanjukan herbal yang sudah sejak lama dikonsumsi seperti bawang putih tunggal, daun kelor dan madu.

Imunohistokimia

Di pertemuan kedua, dokter menyarankan agar kami melakukan imunohistokimia. Pemeriksaan imunohistokimia atau IHK merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai protein yang terkandung dalam sel berbagai penyakit termasuk tumor ganas atau kanker. Pemeriksaan IHK digunakan untuk membantu prognosis (prediksi perkembangan suatu penyakit), obat-obatan, terapi lanjutan. Sampel jaringan yang digunakan adalah sampel potongan mastektomi. 

Sebetulnya pemeriksaan imunohistokimia ini dicover BPJS namun hanya dapat dilakukan di RS Hasan Sadikin Bandung. Karena saya berpikir antrian pemeriksaan imunohistokimia di RS Hasan Sadikin akan sangat lama dan menyita waktu, akhirnya atas saran dokter Yusuf, saya memutuskan untuk menggunakan biaya mandiri kurleb 2 juta.

Dengan surat pengantar dari dokter Yusuf, saya menanyakan langsung ke laboratorium patologi anatomi. Karena untuk mengambil sampel jaringan atau sedimen mastektomi di RSUD Ujungberung Bandung harus menggunakan surat pengantar dari RS Santosa Kopo, petugas laboratorium menyuruh saya untuk menunggu.

Setelah surat pengantar selesai, kami pun kembali ke RSUD Ujungberung untuk meminta ijin membawa sedimen mastektomi. Potongan sedimen mastektomi ini dikemas dalam bentuk kotak-kotak kecil berukuran kurang dari 4 cm. Petugas berpesan agar saya menjaganya dengan baik.

Setibanya di RS Santosa Kopo, sedimen langsung kami serahkan pada petugas lab. Hasil pemeriksaan IHK akan diketahui dalam waktu satu bulan sehingga diharapkan hasilnya dapat kami serahkan pada waktu kontrol berikutnya. Dan tentunya apa yang dilakukan setelah kemoterapi selesai harus dikonsultasikan dengan dokter bedah onkologi.

Related Posts

2 comments

  1. ilmu baru bagi saya ini, mbak. ternyata prosesnya cukup banyak ya. dan tentu, suppport dari orang-orang tercinta lah yang paling penting. salam sehat dan semangat selalu, mbak

    ReplyDelete
  2. Makasih banyak infonya, Mba. Lewat cerita yang berasal dari pengalaman seperti ini semoga banyak dari kita yang mendapatkan banyak pengetahuan baru, ya, kan, Mba. Nggak hanya berdasarkan katanya karena sudah ada pengalaman orang sebelumnya.

    ReplyDelete

Post a Comment