Jumat, 18 Januari 2013

Ekspedisi Gunung Padang…Perjalanan Menapaki Masa Lampau

Januari 18, 2013 0 Comments
Ada wisata menarik di kawasan Cianjur, Jawa Barat yang layak bolangers kunjungi. Situs prasejarah megalitikum Gunung Padang sekitar 20 km dari arah Warung Kondang, Jalan Raya Cianjur – Sukabumi. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam karena jalanan yang sempit dan agak sedikit berbatu di beberapa bagian. Saat musim hujan jalan menjadi licin dan kabut turun sehingga jarak pandang menjadi berkurang. Kendati demikian, seperti banyak tempat di pedesaan, pemandangan indah di kedua sisi jalan tersaji untuk dinikmati.

sumur (2)
Pemandangan kebun teh sepanjang perjalanan

view2 (2)

Situs pra sejarah Gunung Padang ini merupakan kawasan khusu yang menjadi sorotan dunia akhir-akhir ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, usia situs Gunung Padang berkisar 109 abad -wow fantastik ya-. Dasar situs Gunung Padang sendiri terletak di ketinggian 894 m di atas permukaan laut (dpl).


Tarif masuk hanya Rp.3000


situs

Saat ini situs Gunung Padang dikelola oleh secara sinergi oleh pemerintah Kabupaten Cianjur, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada sepuluh staf yang bertindak sebagai Juru Pelihara. Pengelolaan situs ini dibantu pula oleh Forum Peduli Situs dan Kelompok Penggerak Pariwisata. Dengan harga tiket masuk yang relatif murah dan fasilitas yang lumayan seperti toilet umum yang bersih, mesjid, warung kecil dan tempat parkir yang lumayan luas. Situs yang disebutkan oleh beberapa sumber sebagai situs megalitik terbesar di Asia Tenggara layak untuk dikunjungi.


Mengunjungi Gunung Padang bolangers layaknya membuka kembali lembaran buku sejarah. Seperti umumnya struktur tertua buatan manusia lainnya, di situs Gunung Padang terdapat punden berundak. Pundek berundak Gunung Padang terdiri atas lima teras yang dibangun dalam ukuran berbeda dan terbuat dari ribuan balok batu. Punden berundak sendiri bukan sebuah bangunan akan tetapi merupakan undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu, menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak.

view3



Susunan balok batu di punden di situs Gunung Padang  diantaranya secara bervariasi dengan pola susunan melintang, membujur, berdiri dan dipasak dengan batu pengunci dan berterap. Jenis bebatuan di situs ini adalah batu andesit yang merupakan jenis batu beku vulkanik dengan komposisi antara dan tekstur spesifik yang umumnya ditemukan di daerah dengan aktivitas vulkanik yang tinggi seperti Indonesia. Batu andesit banyak digunakan dalam bangunan-bangunan megalitik, candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai material ini, misalnya: sarkofagus, punden berundak, lumpang batu, meja batu, arca dan lain-lain. Batu Alam Andesit merupakan jenis batu alam yang mempunyai tingkat kekerasan cukup tinggi dan pada umumnya berwarna gelap atau hitam.

Gunung Padang2

GunungPadang5

Kuat dugaan saat membangun punden ini para leluhur sudah sangat arif akan berbagai bentuk kebencanaan yang ada. Karena keadaan alam saat itu tidak jauh berbeda dengan keadaan alam Jawa Barat saat ini yang berada dalam jalur sesar rawan gempa, longsor dan gunung berapi.

Hal ini terbukti dengan dijumpainya lapisan pasir-kerakal Sungai (epiklastik) yang berbutir very well rounded setebal sekitar 1 meter. Rupanya bidang tegas yang terlihat melalui pada Ground Penetrating Radar (GPR) itu memiliki kedalaman 3 – 5 meter di semua teras merupakan batas dengan permukaan hamparan pasir diatasnya. Menurut salah satu anggota Tim Katastropik Purba, Dr Pon Purajatnika yang ahli arsitek, boleh jadi hamparan pasir ini dimaksudkan sebagai peredam guncangan gempa.

Punden berundak didirikan untuk menghormati makam leluhur. Sebelum menginjakan kaki di teras pertama para peziarah harus mensucikan diri di kolam batu yang terletak di kaki tangga menuju teras pertama peziarah harus mensucikan diri di kolam batu yang terletak di kaki sebelah selatan tangga. 



Tangga di rute kedua
Ada dua rute menuju puncak situs. Rute pertama dapat ditempuh dengan jarak 180 m melewati tangga terjal. Rute ini tidak direkomendasikan untuk bolangers yang memiliki fisik tidak prima atau kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Rute kedua berjarak 340 m dengan tangga yang tidak terlalu curam sehingga mudah untuk dilewati. Bila sedang tidak turun kabut, udara segar dan sejuknya angin serta pemandangan perkebunan sayuran di kanan dan kiri tangga yang hijau dan asri dapat menjadi obat penat yang mujarab.

GunungPadang6
Sumur dengan air jernih dan dingin


Urutan teras dan bentuk ruang yang terdapat di masing-masing teras Gunung Padang berorientasi ke gunung dan mengikuti perjalanan bulan dan matahari. Tampaknya puncak rangkaian upacara ritual dilakukan saat bulan purnama.


Gunung Padang dapat diartikan pula Gunung Pandangan. Situs Gunung Padang merupakan sebuah maqom atau tempat tinggal. Di situs ini banyak terdapat menhir dan batu dengan banyak simbolisasi diantaranya pelambangan lingga dan yoni, kujang (senjata khas Jawa Barat) dan Tapak Maung (macan). Setiap batu ada memiliki ceritanya masing-masing. Sebelumnya di teras keempat terdapat sebuah batu yang disebut dengan batu olah kanuragan. Akan tetapi karena sering di salahgunakan untuk kemusyrikan dan terjadi kecelakaan, batu tersebut diamankan ke tempat lain oleh pihak pengelola.


kujang
Kujang


Tapak Maung
Tapak Maung (Macan)

Menilik situs ini dan latar belakang yang coba dipahami setelah berabad-abad. Sungguh suatu hal luar biasa leluhur yang membangun situs ini  dengan filosofi sarat makna yang dipadu secara harmoni. Tugas kita untuk menjaganya dengan tidak membuang sampah sembarangan, mencorat coret situs atau bahkan mengambil bagian apapun dari situs.


Ingat ya bolangers, jaga selalu tempat yang kita kunjungi

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi 

Selasa, 15 Januari 2013

Menikmati Cinta Di Pulau Tidung

Januari 15, 2013 0 Comments


Buat bolangers yang menyukai wisata bahari, Pulau Tidung bisa dijadikan salah satu pilihan yang tepat. Pulau Tidung terletak di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sehingga relatif dekat untuk bolangers di sekitar Jawa Barat. Tak perlu waktu lama untuk menelusuri Pulau Tidung, minimal 1 malam 2 hari cukup untuk menjelajahi keindahan Pulau Tidung.


Ada dua alternatif menuju Pulau Tidung. Pilihan pertama adalah melalui Marina Ancol dengan menggunakan speed boat. Pilihan ini relatif lebih mahal karena memberikan fasilitas penyeberangan yang lebih nyaman. 

Pilihan kedua adalah pilihan yang kerap diambil oleh wisatawan dengan dana terbatas yakni melalui pelabuhan Muara Angke. Penyeberangan disediakan mulai jam 06.00 WIB. Mungkin agak kurang nyaman karena harus melewati pasar ikan beraroma tak sedap serta kondisi kapal yang penuh sesak oleh penumpang. Perjalanan dari pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung memakan waktu 2 jam. Perjalanan yang tidak terasa karena kita bisa menikmati perjalanan dengan mengobrol atau mendengarkan musik. Bila beruntung duduk di dekat pintu, penumpang bisa duduk di pinggir kapal sehingga dapat menikmati langsung suasana laut.


Saat sampai di Pulau Tidung, kita bisa menyewa sepeda atau becak motor untuk mengantarkan kita menuju tempat penginapan. Tidak usah khawatir dengan jarak yang melelahkan bila menggunakan sepeda karena kawasan Pulau Tidung tidaklah terlalu besar sehingga dapat dicapai hanya dengan bersepeda. (Tapi tetap siapkan tenaga ya...apalagi bagi bolangers yang tidak terbiasa bersepeda seperti saya😵)

Wisata Bahari Pulau Tidung berbasis masyarakat sehingga tidak ada hotel besar di Pulau Tidung. Penginapan sederhana tersebar di pemukiman penduduk. Jasa pemandu wisata dapat memudahkan kita untuk mengatur kegiatan selama di Pulau Tidung sehingga kita tidak perlu repot-repot mencari penginapan atau menyewa peralatan.

Penginapan sederhana cukuplah untuk bolangers seperti saya😉

Kegiatan yang dapat dilakukan di Pulau Tidung diantaranya bersepeda keliling pulau, snorkling, diving, permainan air (banana boat, kano, jetski), barbeque party, bersepeda ria keliling pulau dan jalan-jalan menyusuri jembatan sepanjang 100 m yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil yang dinamakan dengan Jembatan Cinta. Bila punya nyali, kita dapat melompat dari jembatan tersebut dengan ketinggian 5 – 7 meter tergantung pasang surut air.

Jembatan Cinta

diving


Pulau Tidung menawarkan keindahan alami yang sayang bila dilewatkan. Terlebih bila kita menyukai fotografi.  Pantai yang indah, laut yang biru, kawasan mangrove, biota laut yang memukau dan pemandangan eksotik  sangat layak untuk dinikmati. Bahkan dengan underwater camera, pengalaman snorkling dan diving dapat diabadikan. Bila beruntung kita dapat bertemu lumba-lumba.

biru laut



bulu babi

ikan

karang

kepiting
Jernihnya laut
Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi pribadi