Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Part 2...Operasi Pertama

Post a Comment
Ablasio retina adalah salah satu kondisi terlepasnya retina atau selaput jala dari posisi aslinya yang dapat menyebabkan kebutaan secara permanen karena retina kurang mendapat asupan oksigen dan nutrisi. Pengalaman operasi ablasio retina menghantarkan kami ke dalam kisah yang semoga akan menguatkan kami berdua.

Operasi Ablasio Retina Kedua

Karena pasca operasi ablasio retina pertama ditemukan sobekan baru, Zauji harus menjalani operasi kedua hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. 

Operasi kedua dilakukan dengan pemasangan silicon oil dengan viskositas (kekentalan) yang lebih tinggi, silicon oil 5000 cSt. Perawatan pasca operasi sedikit berbeda dengan operasi pertama (pemasangan silicon oil 1300 cSt). 

Kali ini pasien diharuskan telungkup minimal 8 - 10 jam per hari selama 2 minggu. Bantal berbentuk donut sengaja saya beli agar Zauji nyaman saat harus telungkup nanti. 

Bantal unik ini sebenarnya diperuntukan bagi penderita hemoroid atau ambeien yang saya beli di sebuah toko alat kesehatan, tak jauh dari RS Cicendo.

Meski terkesan tidak sulit ternyata telungkup berjam-jam tidak mudah untuk dilakukan. Baru saja beberapa menit, Zauji mulai mengeluh pusing dan mual. Posisi pun diganti menjadi sebatas menunduk saja namun kondisi ini tak juga kunjung berhenti sepanjang malam. Sesuai dengan arahan perawat, pagi berikutnya kami langsung ke IGD RS Cicendo.

Ablasio retina

IGD RS Cicendo

Dokter jaga IGD menyatakan pusing dan mual hebat disebabkan tekanan mata naik sebagai efek dari pemasangan silicon oil 5000 cSt. Tekanan mata kanan pasca operasi mencapai 50 mmHg. Salah satu cara cepat menurunkan tekanan mata adalah dengan pemberian gliserol secara oral (minum). 

Namun gliserol berbahaya bagi penderita diabetes karena akan menaikan gula darah dengan cepat. Sebagai gantinya, dokter memberikan resep lain penurun tekanan mata, hanya glaucon tanpa aspar K (berkaca pada pengalaman operasi ablasio retina pertama).

Setelah mendapatkan resep, kami kembali ke rumah namun pusing dan muntah hebat tidak juga berhenti hingga sore hari. Meski sudah ditambah obat anti mual, semakin lama kondisi semakin memprihatinkan karena isi perut yang kosong dipaksa dimuntahkan meski tak ada asupan makanan sedikitpun. 

Untuk kedua kalinya dalam waktu 8 jam, kami kembali ke IGD RS Cicendo. Sebenarnya secara SOP, pemberian obat penurun tekanan mata sudah cukup namun ada hal lain yang baru kami ketahui, obat penurun tekanan mata ternyata memberikan efek yang tidak baik terhadap lambung. 

Permintaan rawat inap pun tidak bisa dipenuhi karena standar rawat inap hanya bila tekanan mata >60 mmHg. Tak terbayang ya bagaimana rasanya…dengan tekanan mata 50 mmHg saja rasanya sudah jungkir balik

IGD RS Mitra Anugerah Lestari (MAL)

Dokter IGD memastikan mual dan muntah berasal dari lambung (efek dari obat antibiotik) sehingga dokter menyarankan kami ke RSU terdekat. Melajulah kami ke RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) yang berada tak jauh dari rumah. Alhamdulillah setelah mendengarkan kronologis cerita kami, dokter IGD RSU yang kami tuju segera memberikan pertolongan.  

Tak lama berselang, mual dan muntah reda. Dokter memberikan obat tambahan untuk lambung. Kondisi Zauji semakin membaik, penglihatan jauh lebih terang dan normal sehingga dokter menyatakan kontrol selanjutnya 2 bulan lagi.

Dua bulan pasca operasi dilewati dengan baik. Bila semua berjalan lancar, operasi berikutnya adalah operasi evakuasi silikon. Menginjak bulan ketiga kami kembali kontrol ke RS Cicendo. Namun hal yang tak terduga kembali terjadi. Dokter menemukan ada robekan baru di bagian bawah sehingga perlu ada tindakan operasi berikutnya. 

Berdasarkan pengalaman operasi ablasio retina pertama dan kedua yang rasanya baru saja kami jalani, operasi ketiga ini seolah membuat jalan kembali berliku. Bagaimana kisah selanjutnya? Yuks, kita simak di pengalaman operasi ablasio retina selanjutnya!


Mampir di ig JustMenong
Referensi dari berbagai sumber
Foto : Cicendoeyehospital.org

Related Posts

Post a Comment