Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 4...Mencari Rumah Sakit untuk Kemoterapi

Setelah 10 hari rawat inap pasca masektomi, dokter mempersilakan Ibunda pulang dengan catatan perban luka diganti per tiga hari. Alhamdulillah, kami bertetangga dengan ibu bidan yang biasa mengurus luka. Sebetulnya, saya sendiri tidak berkeberatan mengganti perban setiap 3 hari namun waktu saya berbagi untuk menjaga Zauji yang juga sedang pemulihan pasca operasi.

Luka masektomi Ibunda ternyata dalam kondisi baik. Setelah melihat hasil patologi anatomi (p.a) masektomi, Richard menyarankan kemoterapi dilaksanakan sesegera mungkin. Meski tidak ada lagi sel kanker dalam bagian yang diambil namun bibit kanker sudah mencapai kelenjar getah bening di ketiak.

Awal Maret 2020, pembatasan sosial sebagai efek dari Covid 19 mulai terasa. Awalnya dokter merujuk RS Umum Pusat Hasan Sadikin sebagai tempat kemoterapi. Namun mengingat RSHS merupakan rumah sakit rujukan Covid 19 untuk daerah Jawa Barat maka saran tersebut saya tolak. Dokter menyarankan saya mencari rumah sakit lain.


Berpacu dengan waktu karena saya tidak mau Ibunda menunggu pengobatan selanjutnya terlalu lama, saya mulai berkeliling mencari rumah sakit yang mempunyai fasilitas kemoterapi. Kali ini saya sendiri karena Zauji masih dalam pengobatan pasca operasi sehingga tidak bisa mengantar saya bepergian.

Baca : Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya

Rumah sakit pertama yang saya tuju adalah RS Santosa Kebon Jati. Informasi yang saya dapatkan kemoterapi bagi peserta BPJS hanya ditanggung sebanyak 30%. Sebetulnya saya dan Zauji berkomitmen akan melakukan apapun demi kesembuhan Ibunda namun kamipun harus realistis karena biaya yang diperlukan dalam 1x proses kemoterapi berkisar 10 juta sehingga total untuk 1 paket kemo yaitu 6x kemo berkisar 60juta.

Dibantu salah seorang kerabat, kami berkeliling mencari rumah sakit lain. Fasilitas kemoterapi memang tidak tersedia di banyak rumah sakit, selain Rumah Sakit Santosa Kebon Jati, RS Al Islam di Jalan Soekarno Hatta No 644, Bandung juga memiliki fasilitas kemoterapi bagi peserta BPJS namun dalam kondisi pandemi Covid 19, fasilitas kemoterapi tutup untuk batas waktu yang tidak ditentukan demikian pula dokter onkologi (dokter spesiliasi kanker).

Di tengah kegundahan saya mencari rumah sakit yang masih menerima kemoterapi, Allah menuntun saya untuk bertemu dengan seorang grab driver perempuan yang Qodarullah mempunya seorang teman pengidap kanker payudara seperti Ibunda yang saat itu sedang menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo Bandung, Jalan Raya Kopo No 461 - 463, Bandung. Teh Ratu, demikian beliau disapa kemudian memberikan arahan bagaimana saya bisa mendaftarkan Ibunda untuk menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo dan proses apa saja yang harus dijalani.

Tak menunggu lama setelah saya mendapatkan surat rujukan dari RS Ujungberung Bandung, saya melengkapi semua berkas yang diperlukan. Langkah awal adalah konfirmasi dari bagian BPJS apakah Ibunda dapat menggunakan fasilitas BPJS untuk menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 3 hari. Sebenarnya secara pribadi, pembiayaan BPJS setiap bulannya lancar tanpa tunggakan namun tetap saja saya dag dig dug menunggu kabar dari pihak BPJS.

Akhirnya proses ACC selesai juga dan pihak BPJS menyatakan ajuan Ibunda diterima serta BPJS menanggung penuh (100%) biaya kemoterapi. Tahapan selanjutnya adalah pendaftaran ke klinik bedah onkologi. Dan ternyata, klinik bedah onkologi baru akan dibuka minggu berikutnya setelah hampir 2 minggu libur selama awal masa PSBB di kota Bandung. Ibunda mendapat nomor antrian ke 104 dan disarankan datang setelah magrib karena klinik baru dibuka jam 16.00 WIB.

Selanjutnya : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 5...Persiapan Kemoterapi

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa