Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi


Bermula dari benjolan, Ibunda divonis kanker payudara. Dokter tidak menyatakan stadium yang diderita Ibunda hanya menyatakan stage 3 berdasarkan hasil biopsi artinya tingkat penyebaran sel kanker. Kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran dokter, yaitu melakukan masektomi. Masektomi adalah tindakan operasi pengangkatan payudara. Dalam hal ini, payudara sebelah kiri. Masektomi berfungsi untuk mencegah sel kanker menyebar ke organ tubuh lainnya.



Menggunakan fasilitas BPJS sejak awal berobat, dokter bedah kami menyatakan bahwa masektomi hanya bisa dijalankan di rumah sakit besar dan mengingat kondisi pandemi Covid 19, tindakan masektomi di RSUP Dr. Hasan Sadikin sebagai RS rujukan Covid 19 untuk tingkat Jawa Barat bukanlah menjadi pilihan kami. Dokter menyarankan untuk melakukan masektomi di RSUD Kota Bandung Ujungberung dengan catatan akan dikerjakan oleh dokter yang sama sehingga catatan medis pasien telah diketahui sebelumnya.


Kami pun dirujuk ke RSUD Ujungberung dan melakukan pendaftaran ulang. Seperti halnya rumah sakit negeri, untuk mendapatkan nomor antri kami harus datang lebih pagi untuk mendapatkan nomor kecil. Dr Richard SHL. Tobing, dokter bedah yang kami tuju ada setiap hari jumat jam 9 pagi. Dokter menjadwalkan ± seminggu setelah konsultasi pertama plus pemeriksaan pra operasi seperti pemeriksaan darah dan cek jantung. Berbeda dengan pelayanan di RS Hermina, saat kami akan masuk untuk rawat inap, pasien diarahkan melalui pendaftaran secara langsung. Pendaftaran dilakukan sore hari sehingga baru menjelang magrib, Ibunda bisa menempati ruang kelas I. Alhamdulillah  hanya kami saja yang rawat inap di ruangan ini sehingga lebih bebas untuk menginap dan menggunakan kamar mandi meski tak senyaman kamar inap di RS swasta.


Masektomi dijadwalkan jam 11.00 WIB keesokan harinya. Ibunda dicek suhu dan darah untuk memastikan dalam kondisi baik. Tepat jam 10.00 WIB, perawat menjemput Ibunda. Penunggu pasien diperbolehkan mengantar hingga ruang tunggu operasi, membantu pasien berganti baju dan menyiapkan diri sebelum masuk ke ruang OK.


Karena operasi memakan waktu ±3 jam, rasa bosan pun melanda sehingga saya menghabiskan waktu dengan berjalan bolak-balik ke kamar inap, ruang tunggu pasien, mini market dan makan siang. Ternyata jam 12an, perawat ruang operasi memanggil saya. Operasi sudah selesai dan keluarga pasien harus mencari wadah untuk menyimpan hasil masektomi yang nantinya akan diserahkan ke laboratorium patologi.


Tentunya saya melupakan satu hal, berbeda dengan RS swasta yang sudah terima beres, di RS negeri keluarga pasien turut menyiapkan keperluan pasien pasca operasi. Saya pun bergegas mencari pasar untuk mencari toples bertutup non transparan. Saya tahu, pasar tradisional Ujungberung berada tak jauh dari RS, meski belum pernah kesana, pasar dapat ditempuh dengan naik angkot atau jalan kaki. Dan ternyata semua toples bertutup yang saya temui tidak ada yang non tarnsparan. Setelah berkeliling akhirnya saya memutuskan untuk membeli toples plastik dengan bahan agak tebal dan menutupnya dengan stiker (hal ini yang pertama ada di bayangan saya). Beruntung toko alat tulis ada di pasar lantai 2, setelah disodori berbagai kertas stiker akhirnya saya memilih warna hitam dengan asumsi potongan hasil operasi tidak akan terlihat dari luar. Setelah kembali ke RSUD, barulah saya menyadari bahwa toples bisa saja ditutup dengan lakban hitam tanpa repot-repot mengukur dan menggunting :D


Ibunda keluar dari ruang operasi jam 14.00 WIB masih sudah dalam keadaan sadar. Tidak ada hal yang luar biasa kecuali ada selang panjang yang terpasang dari jahitan operasi dekat ketiak.

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 3...10 Hari di RSUD Ujungberung

Foto : https://www.mountelizabeth.com.sg/

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa