Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya

March 28, 2020 0 Comments
Operasi ketiga dijadwalkan 5 minggu berikutnya. Sambil menunggu waktu operasi, kami berkonsultasi dengan dokter di klinik Paviliun RS Cicendo agar lebih intensif untuk bertanya.

Ablasio retina karena minus tinggi paling sering terjadi. Hal ini bisa dilihat dari panjang bola mata. Bagi rabun jauh (minus tinggi) panjang bola mata kan lebih tinggi. Panjang bola mata normal < 24 mm. Panjang bola mata yang tinggi akan menyebabkan retina lebih tipis dan mudah robek. Lepasnya lapisan retina biasanya terjadi karena ada robekan pada retina sehingga cairan dapat masuk lewat robekan dan memisahkan retina dari lapisan di bawahnya.
Ablasio Retina

Retina merupakan lapisan syaraf mata yang bekerja seperti film. Cahaya akan masuk ke dalam mata melalui kornea, lensa mata dan akan difokuskan pada retina. Rangsangan cahaya pada retina kan diteruskan ke otak sehingga kita dapat melihat benda. Gangguan pada retina akan mengakibatkan gangguan penglihatan.

Kasus Zauji adalah kasus unik. Ablasio retina pada usia muda lebih menantang apabila dibadingkan dengan ablasio retina di usia muda. Pada lansia, cairan dalam mata lebih cair sehingga tarikan pada retina tidak terlalu kuat. Umumnya, setelah pemasangan silicon oil atau gas pada operasi pertama, retina akan menempel kembali pada posisi semula. Lain halnya dengan ablasio retina di usia muda, cairan dalam mata masih berbentuk gel yang menjadi tantangan karena masih mempunya daya tarik menarik terhadap retina sehingga meski sudah ditahan dengan silicon oil atau gas, retina akan mudah kembali lepas.

Operasi ketiga dilaksanakan dengan pemasangan sceral buckling yaitu pemasangan ikat silikon pada sklera (bagian luar putih mata) plus penambahan gas CF6 untuk menahan retina agar tetap ditempatnya. Operasi berjalan lebih lama dengan pembiusan total. Pantangan pasca operasi masih sama seperti halnya operasi kedua plus larangan naik pesawat terbang selama 1 bulan.

Meski sudah terbiasa dengan perawatan pasca operasi, kali ini ada perasaan yang berbeda saat harus memberikan obat tetes mata. Kondisi mata yang lebih bengkak terasa berbeda karena sceral buckle dipasang dengan cara dijahit sehingga otomatis mata akan lebih memerah.

Sudah bisa menyesuaikan diri pasca operasi namun penambahan gas tetap baru bagi kami. Di hari ke 3, terlihat ada semacam bubble di bagian hitam mata Zauji. Zauji sendiri bisa melihat gelembung-gelembung tersebut dari dalam matanya. Saat kontrol 1 minggu pasca operasi dokter menyatakan tidak apa-apa karena itu adalah hal wajar. Karena penasaran dua hari berikutnya kami kembali berkonsultasi di bagian paviliun. Dokter menyatakan gas CF6 pada operasi ketiga tidak cukup menahan retina sehingga khawatir ada robekan baru. Keputusan dokter untuk segera operasi (cito) hari itu juga. Dokter paviliun merujuk kami ke IGD agar bisa memanfaatkan layanan via BPJS.

Operasi keempat dilaksanakan pada hari itu juga dengan agenda penyuntikan gas CF6 agar cukup kuat menahan retina sebelum ada robekan baru. Operasi berlangsung singkat dengan bius lokal. Dokter melakukan observasi hingga keesokan harinya. Bila keadaan membaik observasi lanjutan dapat dilakukan di rumah saja.

Bagaimana selanjutnya, baca : “Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 4..Operasi di Tengah Pandemi Covid 19”

Foto : klikdokter.com

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi

March 26, 2020 0 Comments


Bermula dari benjolan, Ibunda divonis kanker payudara. Dokter tidak menyatakan stadium yang diderita Ibunda hanya menyatakan stage 3 berdasarkan hasil biopsi artinya tingkat penyebaran sel kanker. Kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran dokter, yaitu melakukan masektomi. Masektomi adalah tindakan operasi pengangkatan payudara. Dalam hal ini, payudara sebelah kiri. Masektomi berfungsi untuk mencegah sel kanker menyebar ke organ tubuh lainnya.



Menggunakan fasilitas BPJS sejak awal berobat, dokter bedah kami menyatakan bahwa masektomi hanya bisa dijalankan di rumah sakit besar dan mengingat kondisi pandemi Covid 19, tindakan masektomi di RSUP Dr. Hasan Sadikin sebagai RS rujukan Covid 19 untuk tingkat Jawa Barat bukanlah menjadi pilihan kami. Dokter menyarankan untuk melakukan masektomi di RSUD Kota Bandung Ujungberung dengan catatan akan dikerjakan oleh dokter yang sama sehingga catatan medis pasien telah diketahui sebelumnya.


Kami pun dirujuk ke RSUD Ujungberung dan melakukan pendaftaran ulang. Seperti halnya rumah sakit negeri, untuk mendapatkan nomor antri kami harus datang lebih pagi untuk mendapatkan nomor kecil. Dr Richard SHL. Tobing, dokter bedah yang kami tuju ada setiap hari jumat jam 9 pagi. Dokter menjadwalkan ± seminggu setelah konsultasi pertama plus pemeriksaan pra operasi seperti pemeriksaan darah dan cek jantung. Berbeda dengan pelayanan di RS Hermina, saat kami akan masuk untuk rawat inap, pasien diarahkan melalui pendaftaran secara langsung. Pendaftaran dilakukan sore hari sehingga baru menjelang magrib, Ibunda bisa menempati ruang kelas I. Alhamdulillah  hanya kami saja yang rawat inap di ruangan ini sehingga lebih bebas untuk menginap dan menggunakan kamar mandi meski tak senyaman kamar inap di RS swasta.


Masektomi dijadwalkan jam 11.00 WIB keesokan harinya. Ibunda dicek suhu dan darah untuk memastikan dalam kondisi baik. Tepat jam 10.00 WIB, perawat menjemput Ibunda. Penunggu pasien diperbolehkan mengantar hingga ruang tunggu operasi, membantu pasien berganti baju dan menyiapkan diri sebelum masuk ke ruang OK.


Karena operasi memakan waktu ±3 jam, rasa bosan pun melanda sehingga saya menghabiskan waktu dengan berjalan bolak-balik ke kamar inap, ruang tunggu pasien, mini market dan makan siang. Ternyata jam 12an, perawat ruang operasi memanggil saya. Operasi sudah selesai dan keluarga pasien harus mencari wadah untuk menyimpan hasil masektomi yang nantinya akan diserahkan ke laboratorium patologi.


Tentunya saya melupakan satu hal, berbeda dengan RS swasta yang sudah terima beres, di RS negeri keluarga pasien turut menyiapkan keperluan pasien pasca operasi. Saya pun bergegas mencari pasar untuk mencari toples bertutup non transparan. Saya tahu, pasar tradisional Ujungberung berada tak jauh dari RS, meski belum pernah kesana, pasar dapat ditempuh dengan naik angkot atau jalan kaki. Dan ternyata semua toples bertutup yang saya temui tidak ada yang non tarnsparan. Setelah berkeliling akhirnya saya memutuskan untuk membeli toples plastik dengan bahan agak tebal dan menutupnya dengan stiker (hal ini yang pertama ada di bayangan saya). Beruntung toko alat tulis ada di pasar lantai 2, setelah disodori berbagai kertas stiker akhirnya saya memilih warna hitam dengan asumsi potongan hasil operasi tidak akan terlihat dari luar. Setelah kembali ke RSUD, barulah saya menyadari bahwa toples bisa saja ditutup dengan lakban hitam tanpa repot-repot mengukur dan menggunting :D


Ibunda keluar dari ruang operasi jam 14.00 WIB masih sudah dalam keadaan sadar. Tidak ada hal yang luar biasa kecuali ada selang panjang yang terpasang dari jahitan operasi dekat ketiak.

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 3...10 Hari di RSUD Ujungberung

Foto : https://www.mountelizabeth.com.sg/

Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 2...Operasi Pertama

March 24, 2020 0 Comments
Operasi kedua dilakuan dengan pemasangan silicon oil dengan viskositas yang lebih tinggi, silicon oil 5000 cSt. Perawatan pasca operasi sedikit berbeda dengan operasi pertama (pemasangan silicon oil 1300 cSt). Kali ini pasien diharuskan telungkup minimal 8 - 10 jam per hari selama 2 minggu. Bantal berbentuk donut sengaja saya beli agar Zauji nyaman saat harus telungkup nanti. Bantal unik ini sebenarnya diperuntukan bagi penderita hemoroid atau ambeien yang saya beli di sebuah toko alat kesehatan, tak jauh dari RS Cicendo.

Meski terkesan tidak sulit ternyata telungkup berjam-jam tidak mudah untuk dilakukan. Baru saja beberapa menit, Zauji mulai mengeluh pusing dan mual. Posisi pun diganti menjadi sebatas menunduk saja namun kondisi ini tak juga kunjung berhenti sepanjang malam. Sesuai dengan arahan perawat, pagi berikutnya kami langsung ke IGD RS Cicendo.

Ablasio retina
Dokter jaga IGD menyatakan pusing dan mual hebat disebabkan tekanan mata naik sebagai efek dari pemasangan silicon oil 5000 cSt. Tekanan mata kanan pasca operasi mencapai 50 mmHg. Salah satu cara cepat menurunkan tekanan mata adalah dengan pemberian gliserol secara oral (minum). Namun gliserol berbahaya bagi penderita diabetes karena akan menaikan gula darah dengan cepat. Sebagai gantinya, dokter memberikan resep lain penurun tekanan mata, hanya glaucon tanpa aspar K (berkaca pada pengalaman operasi pertama).

Setelah mendapatkan resep, kami kembali ke rumah namun pusing dan muntah hebat tidak juga berhenti hingga sore hari. Meski sudah ditambah obat anti mual, semakin lama kondisi semakin memprihatinkan karena isi perut yang kosong dipaksa dimuntahkan meski tak ada asupan makanan sedikitpun. Untuk kedua kalinya dalam waktu 8 jam, kami kembali ke IGD RS Cicendo. Sebenarnya secara SOP, pemberian obat penurun tekanan mata sudah cukup namun ada hal lain yang baru kami ketahui, obat penurun tekanan mata ternyata memberikan efek yang tidak baik terhadap lambung. 

Permintaan rawat inap pun tidak bisa dipenuhi karena standar rawat inap hanya bila tekanan mata >60 mmHg. Tak terbayang ya bagaimana rasanya…dengan tekanan mata 50 mmHg saja rasanya sudah jungkir balik

Dokter IGD memastikan mual dan muntah berasal dari lambung (efek dari obat antibiotik) sehingga dokter menyarankan kami ke RSU terdekat. Melajulah kami ke RSU tak jauh dari rumah dan Alhamdulillah setelah mendengarkan kronologis cerita kami, dokter IGD RSU yang kami tuju segera memberikan pertolongan.  Tak lama berselang, mual dan muntah reda. Dokter memberikan obat tambahan untuk lambung. Kondisi Zauji semakin membaik, penglihatan jauh lebih terang dan normal sehingga dokter menyatakan kontrol selanjutnya 2 bulan lagi.

Dua bulan pasca operasi dilewati dengan baik. Bila semua berjalan lancar, operasi berikutnya adalah operasi evakuasi silikon. Menginjak bulan ketiga kami kembali kontrol ke RS Cicendo. Namun hal yang tak terduga kembali terjadi. Dokter menemukan ada robekan baru di bagian bawah sehingga perlu ada tindakan operasi berikutnya.

Apa tindakan berikutnya? Baca : “AblasioRetina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya”

Foto : Cicendoeyehospital.org

Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

March 23, 2020 0 Comments
Shock…itu pertama kali yang kami rasakan saat Zauji didiagnosa ablasio retina pada mata kanan. Rasanya tidak percaya karena satu hari sebelumnya kami masih melakukan aktivitas normal. Sebenarnya tanda-tandanya sudah dirasakan beberapa hari sebelumnya seperti adanya serabut yang beterbangan dalam mata.

Awalnya Zauji berniat mengganti kacamata dengan ukuran minus terbaru namun saat diperiksa ternyata dokter menyatakan ada syaraf mata yang putus sehingga harus dirujuk ke RS fasilitas kesehatan (faskes) yang lebih tinggi. Sempat menunda beberapa hari karena tak mengira akan seserius ini. Luas pandang mulai berkurang, seolah ada tirai menutupi pandangan, gelap sebagian bukan seluruh mata. Saat melihat suatu benda, bagian atas (misalnya kepala hingga pundak) tidak terlihat sedangkan bagian bawah (pundak hingga kaki) terlihat jelas atau mungkin benda bagian kiri terlihat sedangkan bagian kanan tidak terlihat. 

Qodarullah saat itu semua spesialis retina sedang mengikuti seminar di luar Jawa sehingga RS yang kami tuju akhirnya memberikan rujukan ke Pusat Mata Nasional (PMN) Cicendo via IGD karena harus ditangani segera. Barulah kami tahu, kondisi retina sudah terlanjur robek sehingga laser sudah tidak bisa lagi dijadikan aternatif penanganan, operasi adalah jalan satu-satunya. Karena ketidakadaan dokter spesialis retina, dokter IGD merujuk kami untuk berobat melalui poli regular hari berikutnya.

Ablasio Retina
Perjuangan itu dimulai. Akhirnya saya dan Zauji mencari tahu itu ablasio retina dan bagaimana penanganannya sembari saling menguatkan satu sama lain meyakinkan diri bahwa ujian ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Ablasio retina dapat muncul salah satunya karena faktor rabun jauh parah, minus tinggi untuk kasus Zauji, ditambah seringnya mengangkat benda berat (pantangan ini mungkin yang tidak disadari oleh banyak orang dengan minus tinggi), terjatuh (kecelakaan) atau benturan keras dapat pula memperparah keadaan. Bagi beberapa pasien, kasus ablasio retina bisa muncul tiba-tiba tanpa peringatan, tiba-tiba penglihatan gelap, bisa kedua mata, kanan dan kiri tanpa gelaja atau penyakit penyertanya seperti diabetes melitus atau tekanan darah tinggi, tua atau muda.  Ada kasus tertentu, robekan retina disebabkan trauma benturan saat dulu semasa muda sering ikut balapan namun baru terasa pada usia menjelang 50 tahunan. Kasus lain terjadi pada pasien usia awal 40 tahun, sehat tanpa sakit apapun. Kedua mata tiba-tiba blank tidak bisa melihat.

Alhamdulillah robekan pada kasus Zauji tidak sampai mengenai titik penglihatan sehingga penglihatan masih bisa diselamatkan.

Operasi pertama dilakukan 3 minggu berikutnya, sesuai antrian BPJS. Tindakan pertama adalah pemasangan silicon oil 1300 cSt. Silicon jenis ini termasuk silikon yang memiliki viskositas ringan. Salah satu kelebihan silicon oil adalah dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pasien yang akan melakukan operasi harus sudah berada di rumah sakit H-1 operasi dan apabila kondisi normal atau tidak ada kasus tertentu, pasien sudah bisa kembali ke rumah H+1 operasi. Seperti biasa pasien diharuskan puasa 6 jam sebelum operasi. Operasi berlangsung kurang dari 1 jam dengan bius lokal (hanya bagian mata saja yang dibius). Bila tak ada mual dan muntah hebat efek obat bius, pasien bisa langsung makan pasca operasi. Kontrol pasca operasi dilaksanakan seminggu pasca operasi.

Sebelum pulang, perawat memberikan beberapa aturan yang harus dipatuhi pasien selama perawatan di rumah diantaranya perban harus diganti sehari 2x dengan kapas yang harus disterilkan terlebih dahulu, obat tetes diberikan sesuai jadwal (ada 4 obat tetes mata minidose yang harus diberikan dalam jam yang berbeda : antibiotik, antiradang, dan lainnya), tidak boleh terkena air selama 2 minggu, tidak boleh dikucek, kena benturan, tidak boleh berhubungan suami istri (sementara ya), posisi harus telungkup atau terlentang untuk silicon atau gas tertentu dan segera ke RS atau IGD terdekat apabila penglihatan berkurang atau mual muntah hebat.

Tiga hari berada di rumah, luas pandang kembali berkurang. Kami kira karena masih efek operasi sehingga saat kontrol 1 minggu pasca operasi baru diketahui ternyata ada robekan baru. Tidak ada cara lain sehingga operasi berikutnya yang kembali dijadwalkan dalam waktu 3 minggu.

Sambil menunggu jadwal operasi kedua, kami konsultasi ke bagian paviliun dengan dokter yang sama dengan dokter yang memeriksa di poli reguler.

Baca : RS Cicendo...Pusat Mata Nasional

Sama halnya dengan analisa dokter di poli reguler, robekan baru muncul di tempat berbeda. Kali ini muncul masalah baru yaitu tekanan mata naik hingga 40 mmHg. efek dari pemasangan silicon oil. Tekanan mata tinggi ini dinamakan juga glaukoma sekunder yang dapat mengakibatkan kebutaan permanen apabila dibiarkan. Tekanan mata normal berkisar 14 - 20 mmHg. Tekanan mata > 20 mmHg patut dicurigai sebagai glaukoma dan biasanya disebabkan hipertensi, hipotensi, migren, gangguan vaskuler atau diabetes miletus. Dokter memberikan resep glaucon, aspar K dan obat tetes mata untuk menurunkan tekanan mata. Salah satu tanda tekanan mata yang tinggi adalah rasa mual dan pusing hebat meski pada beberapa pasien tidak merasakan gejala apa-apa. Tekanan mata baru turun beberapa hari kemudian namun tangan dan kaki Zauji berasa kesemutan sebagai efek dari aspar K.

Pada operasi kedua, dokter memutuskan untuk memasang silicon oil dengan vistositas yang lebih tinggi, 5000 cSt plus operasi katarak sehingga diperlukan bius total. Katarak merupakan hal yang wajar terjadi pada kasus operasi retina. Lensa mata akan dicopot dan diganti dengan lensa buatan bersamaan dengan operasi evakuasi silikon nanti. Dengan durasi yang lebih lama, kali ini Zauji sudah bisa beradaptasi dengan obat bius sehingga tidak ada drama mual muntah seperti operasi pertama. Dengan jenis silikon yang berbeda, kali ini ada aturan baru telungkup selama minimal 8 jam sehari. Posisi ini berfungsi untuk memaksimalkan fungsi silikon untuk menekan retina agar kembali pada posisinya.

H+2 pasca operasi..ada hal di luar dugaan yang terjadi. Apakah itu??



Foto : Cicendoeyehospital.org

Ablasio Retina…Saat Nikmat Mata Berkurang

March 18, 2020 0 Comments
Seperti halnya masyarakat awam pada umumnya, saya tidak pernah mengenal sama sekali apa itu Ablasio Retina. Bagi saya, penyakit mata yang dikenal hanyalah mata berair, mata merah, dan mata infeksi.

Retina merupakan lapisan tipis pada bagian terdalam bola mata yang berfungsi sebagai titik penglihatan. Ablasio retina adalah salah satu kondisi terlepasnya retina atau selaput jala dari posisi aslinya yang dapat menyebabkan kebutaan secara permanen karena retina kurang mendapat asupan oksigen dan nutrisi. Penyebab ablasio retina beragam dari trauma pada mata, radang, komplikasi pasca operasi katarak, minus tinggi dan glaukoma. Ablasio retina merupakan kondisi darurat medis yang harus segera ditangani agar tidak terjadi kebutaan permanen.



Tak ada rasa sakit seperti perih, nyeri, nyut-nyutan atau apapun. Gejala awal yang dirasakan hanya berupa adanya seperti serabut tipis bertebaran di mata kanan yang sesekali muncul namun tidak mengurangi pandangan. Gejala ini baru dirasakan setelah 2 minggu pasca terjatuh dari motor. Dengan niat awal mengganti kacamata dengan ukuran minus terbaru ternyata dokter mata menyatakan bahwa serabut tipis tersebut merupakan syaraf mata yang lepas. Tanda lain yang biasa terjadi adalah adanya kilat mata yang dirasakan pasien meski dalam kasus yang kami alami tidak ada keluhan tersebut.

Mata dengan Ablasio Retina
Tidak mengira ada yang serius, karena sesuatu hal, kami sempat menunda untuk langsung berobat ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Dan perlahan luas pandang pun mulai berkurang. Luas pandang mulai hanya sebatas setengah bagian mata, suatu obyek hanya terlihat sebelah bagian kanan saja sedangkan bagian kiri blank alias gelap sama sekali. Dokter spesialis retina merujuk kami untuk langsung ke IGD Pusat Mata Nasional, RS Mata Cicendo. Sebetulnya pada tahap awal ablasio retina masih dapat ditangani dengan terapi fotoagulasi laser sebagai bagian dari pencegahan namun dokter IGD menyatakan retina terlanjur robek dan satu-satunya opsi adalah operasi untuk menempelkan kembali retina.

Ablasio retina terbagi menjadi 3 jenis, ablasio retina regmatogen (penurunan kualitas tubuh vitreous karena faktor usia),  ablasio retina traksional (adanya jaringan parut yang tumbuh abnormal biasanya efek dari diabetes) dan ablasio retina eksudatif (adanya penendapan cairan di bawah bagian retina akibat peradangan, tekanan darah tinggi parah, tumor atau kanker).

Ablasio retina dapat ditangani salah satunya dengan vitrektomi, pengambilan gel vitreous (badan bening mata) dan menggantinya dengan menyuntikan gelembung gas atau silikon sebagai penahan retina agar tetap pada posisinya. Seiring waktu, gelembung gas akan hilang dan tergantikan oleh cairan mata alami, sedangkan bila silikon yang disuntikan akan tetap berada dalam bola mata dan diperlukan tindakan pengangkatan (evakuasi) silikon 3 – 6 bulan kemudian.

Metode lainnya adalah sceral buckling yaitu pemasangan ikat silikon pada sklera (bagian luar putih mata). Silikon akan mendekatkan dinding bola mata ke retina sehingga retina kembali ke posisi semula. Bila ablasio retina sudah sangat parah, silikon akan dipasang melingkari mata secara permanen namun tidak akan menghalangi penglihatan.

Penentuan metode didasarkan pada kasus yang dialami pasien. Terkadang dokter akan menerapkan lebih dari satu metode untuk menangani ablasio retina. Semakin cepat ditangani, ablasio retina akan semakin berpeluang untuk sembuh. Dan yang terpenting adalah pencegahan berupa pemeriksaan mata secara teratur bagi orang dengan resiko tinggi. Ablasio retina bisa jadi mengurangi nikmat mata yang diberikan Allah kepada hamba-Nya namun ikhtiar maksimal tentunya harus selalu kita lakukan.


Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Pixabay dan Cicendoeyehospital.org