Pantai Ambal, Kebumen, Alternatif Wisata di Jalur Selatan Jawa

September 06, 2020 0 Comments


Beberapa saat yang lalu, kami berkesempatan menunaikan janji kami pada Ibunda Zauji untuk mengunjungi kerabat di kota kelahiran beliau, Purworejo, Jawa Tengah. Rencana ini memang sudah kami rancang jauh hari sebelumnya namun baru terwujud setahun kemudian karena qodarullah berentetan ujian sakit dalam keluarga.


Karena ini kunjungan silaturahim dadakan, alamat yang dituju beserta rute yang akan dilalui baru kami dapat satu hari sebelumnya. Meski Ibunda Zauji bersikeras masih ingat dengan daerah yang akan dikunjungi namun Zauji tetap menyempatkan mencari informasi melalui kerabat lain mengingat memori Ibunda Zauji terpaut jauh hampir 25 tahun yang lalu dan tentunya desa yang dituju sudah banyak berubah ;)


Mengingat perjalanan yang cukup jauh dan ini baru pertama kali kami bepergian jauh, termasuk saya tak pernah merasakan nikmatnya mudik, kami berangkat pada malam hari dengan mobil. Alhamdulillah kami mendapatkan supir baik dan membawa mobl dengan nyaman. Sesekali kami beristirahat di mesjid yang kami lalui. Perhitungan awal waktu akan ditempuh 5 – 6 jam namun karena sering berhenti, hingga jam 7 pagi kami baru sampai di daerah Kabupaten Kebumen.

 



Ada dua rute yang bisa kami tempuh, lewat kota atau menyusuri panjang sepanjang jalur selatan. Pemandangan cantik jalan pantai selatan Jawa menyambut kami. Tak sengaja melihat papan penunjuk jalan yang menunjukan bahwa ada pantai tak jauh dari jalan raya yang kami lalui. Tepat di sebelah kanan, tak jauh dari jalan raya, terletak di desa Ambalsari, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Pantai Ambal memesona kami semua untuk singgah. Dengan membayar uang parkir sebesar Rp. 10.000,00 saja, kami bisa menikmati keindahan hamparan pasir yang terbentang sepanjang 500 meter.

 


Pantai yang bersih dan cantik. Pengunjung yang tidak terlalu banyak sehingga kami bisa bebas berlarian di sepanjang pantai tanpa terganggu pengunjung lain. Deburan ombak Samudera Indonesia menyambut kami. Apabila dibandingkan dengan pantai lain yang pernah saya kunjungi, pantai Ambal sangat layak untuk dijadikan destinasi wisata. Rasa lelah dan penat hilang seketika terhapus oleh pecahan ombak yang menyentuh kaki kami.



Bila tak ingat perjalanan masih panjang untuk kami tempuh, rasanya kami masih ingin berlama-lama di pantai ini. Nah, bolangers, jangan lupa berkunjung ke Pantai Ambal ya untuk menikmati keindahan hakiki pantai selatan Jawa.


Foto : Dokumentasi pribadi

Ablasio Retina..Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Hamba-Nya...Part 2...Hampir Satu Tahun Berlalu

August 28, 2020 0 Comments


Bukan hanya Covid 19 yang membuat semua orang beradaptasi dengan kebiasaan baru atau biasa disebut dengan New Normal, kami mulai beradaptasi dengan keadaan Zauji menjelang satu tahun ‘bersahabat’ dengan Ablasio Retina. Pasca operasi kali ini, kami lebih santai menanggapi karena sudah tahu apa yang harus dilakukan.



Pasca kontrol di klinik reguler, kami kembali menemui Prof. Arief di klinik paviliun. Beliau dengan ramah menerangkan kondisi terakhir Zauji. Silikon oksana HD merupakan silikon campuran yang memiliki viskositas > silikon 5000 cSt. Silikon oksana HD biasa digunakan pada kasus ablasio retina yang sudah tidak bisa ditangani dengan silikon 5000 cSt. Pasien tidak bisa langsung menggunakan silikon jenis ini karena silikon jenis ini tetap memiliki kekurangan. Silikon oksana HD merupakan campuran polimer yang rentan pecah membentuk emulsi yang dapat menyumbat saluran di mata dan menimbulkan masalah baru yaitu glaukoma. Salah satu pemicu terbentuknya emulsi adalah benturan goncangan seperti terjatuh atau olah raga tertentu termasuk lari.

Selain retina yang baik-baik saja, tekanan mata normal dan hasil visus menunjukan minus mata kanan sudah berganti menjadi plus dan silindris, kondisi kanan Zauji masih mengalami peradangan sebagai efek operasi yang berulang. Kondisi ini harus ditangani dengan obat anti radang sebelum dirujuk ke subspesialis lain bila radangnya masih tetap ada pasca diobati.

 

Jauh lebih lega..itulah perasaan kami. Sesi konsultasi yang lebih tepat obrolan santai ini membuka wawasan kami. Seperti halnya, dr. Rova, Prof. Arief juga tidak membatasi aktivitas lain seperti mengendarai motor, mengangkat beban berat (alasannya kalau terlalu berat, Zauji juga pasti tidak akan mengangkatnya kan, lol), dan aktivitas lainnya. Alasan terpenting adalah pasien Ablasio Retina bukanlah orang cacat atau invalid sehingga tetaplah produktif seperti biasa.


Nasihat lain adalah jangan terlalu memikirkan penyakit yang diderita karena memikirkan penyakit sejatinya tugas dokter, pasien hanya mengikuti arahan sebagai bagian dari ikhtiar.

 

Pada umumnya, silikon oksana HD atau silikon jenis apapun tidak boleh terlalu lama berada di dalam mata atau harus dievakuasi dalam waktu tertentu ( 3 atau 6 bulan). Secara  normal dokter akan menjadwalkan silikon oksana HD 2 – 3 bulan pasca operasi namun hingga menjelang bulan ke-3, posisi retina masih belum pulih sepenuhnya, masih ada bagian yang basah sehingga dikhawatirkan retina akan lepas kembali bila silikon oksana HD dievakuasi dalam waktu dekat. Observasi akan dilakukan dalam waktu satu bulan.

 

Sudah hampir satu tahun, kami bolak balik ke Pusat Mata Nasional (PMN) RS Cicendo ini. Semoga kondisi mata Zauji segera membaik sehingga operasi terakhir bisa dilaksanakan sembari menunggu pemasangan lensa. Ikhtiar adalah keharusan namun tawakal dan ridho atas segala keputusan Allah di atas segalanya.

 

Baca kelanjutannya di : “Ablasio Retina..Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Hamba-Nya...Part 3”

Foto : Dokumentasi pribadi

Ablasio Retina..Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Hamba-Nya...Part 1...Saat Cinta Diuji

June 25, 2020 0 Comments


Pandemi Covid 19 membuat semua lini kehidupan berubah termasuk tata cara untuk melakukan pemeriksaan di dokter dan rumah sakit. Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota Bandung otomatis gerak kami terbatas. Pemeriksaan dokter di klinik reguler dibatasi dan semua tindakan operasi ditiadakan, sedangkan klinik paviliun sama sekali tidak dibuka. Kami baru meneruskan rutinitas kontrol pasca PSBB dihentikan. Benar saja, melihat lamanya silikon oil 5000cSt pasca operasi ke-6 dan adanya indikasi robekan retina kembali membuat dokter menyarankan operasi semi cito (cito = segera).


Ada yang berbeda saat kami akan mengantri di klinik reguler, skrining Covid 19 dilakukan sebelum pasien dan pengantar masuk ke ruang pendaftaran. Pasien dan pengantar harus dicek suhu dan mengisi formulir skrining. Hanya satu orang pengantar yang diperkenankan mengantar ke dalam. Semua barang yang akan dibawa masuk ke  dalam rumah sakit disemprot desinfektan terlebih dahulu. Wawancara dilakukan oleh tim rumah sakit untuk mengetahui riwayat penyakit dan perjalanan kami. Menurut informasi, kuota pasien dalam satu hari hanya dibatasi 40 pasien per sub klinik. Jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kondisi normal. Bagi kami ini lebih melegakan karena antrian menjadi lebih pendek. Hanya saja, dokter yang memeriksa menjadi lebih sedikit karena dokter residen (dokter umum yang sedang mengambil spesialis mata) dan dokter fellow (dokter mata yang sedang mengambil subspesialis retina/glaukoma dll) yang biasa membantu pemeriksaan tidak begitu banyak.


Berbekal obat dan catatan dokter di klinik paviliun, dokter di klinik reguler merekomendasikan operasi ke-7 paling lambat 2 minggu. Alhamdulillah, meski jadwal tindakan operasi sangat ketat karena penundaan selama masa PSBB, Zauji mendapat jadwal 10 hari kemudian. Pemeriksaan pra operasi, termasuk rapid test dan HIV, diselesaikan dalam satu hari.


Meski sudah berulang kali menghadap meja operasi, rasa deg-degan tetap saja ada. Berpasrah adalah kunci karena sedari awal Zauji dan saya sudah menyerahkan segalanya kepada para dokter dan perawat sebagai perantara ikhtiar kami.


Seperti biasa, pasien masuk ke ruang rawat inap H-1 setelah melewati serangkaian pemeriksaan di klinik reguler. Entah apa yang salah, kali ini tekanan mata kanan Zauji kembali naik drastis mencapai 46, red alert untuk glaukoma. Meski tidak mengeluh pusing atau mual hebat seperti kasus sebelum nya, tentunya hal ini bukan hal yang normal dan baik bagi Zauji. Dokter retina merujuk kembali ke bagian glaukoma dan ditangani segera. Kondisi ini tentunya berbahaya dan dokter subspesialis glaukoma merekomendasikan operasi penyerta, yaitu pembuatan saluran untuk membuang cairan bila tekanan mata belum juga normal keesokan harinya. Just another stress for us :(


Berkaca dari pengalaman sebelumnya, semua jenis obat-obat turut saya bawa kali ini termasuk obat penurun tekanan mata : timol, glaucon dan aspar K sehingga dapat langsung Zauji minum. Kami melewati malam menjelang operasi dengan lebih banyak mengobrol, bercanda, saling menguatkan dan berharap ini akan menjadi operasi terakhir. Karena pasien masih tak diperkenankan untuk dikunjungi siapapun, selama 3 hari 2 malam hanya saya yang berjaga. Suasana cukup sepi dan rileks. Beberapa perawat sudah kami kenal dengan baik. Rasanya setiap ruangan bougenvile (kelas I) sudah pernah kami isi :D.



Pagi hari menjelang operasi seperti biasa Zauji bersiap. Mandi dan mencuci rambut yang mulai gondrong (saya belum memperbolehkan Zauji cukur rambut di barber shop langganan), berganti dengan baju masuk ruang operasi, atas mata kanan ditandai spidol dan menunggu panggilan pemeriksaan visus. Biasanya Zauji akan dipanggil untuk pemeriksaan visus sekitar jam 7 pagi dan mulai diantar ke ruangan OK (ruangan operasi) jam 8 pagi untuk jadwal operasi jam 10 pagi. Namun kali ini hingga jam 10 pagi masih belum ada panggilan. Ternyata dr.Andika, dokter subspesialis glaukoma yang akan melakukan operasi pembuatan saluran baru datang jam 10 pagi. Berdasarkan pemeriksaan visus tekanan mata Zauji <20 sehingga operasi penyerta tidak lagi diperlukan. Alhamdulillah.


Operasi rasanya berlangsung cepat. Saat kembali ke kamar, kondisi Zauji dalam keadaan sadar, artinya tidak bius total seperti yang direncanakan sebelumnya. Qodarullah, ternyata dokter yang melakukan operasi kali ini bukanlah dr. Rova Virgana, Sp.M(K) melainkan Prof. dr. Arief. S. Kartasasmita, Sp.M(K), dokter senior di RS PMN Cicendo.


Kali ini dokter memasang silikon oksana HD, silikon campuran dengan viskositas terberat untuk mengatasi ablasio retina. Segala sesuatu akan berjalan sesuai waktu yang telah Allah tetapkan. Demikian pula siapa yang akan melakukan operasi kali ini.

 

Apa itu silikon oksana HD?

Baca : “Ablasio Retina..Bentuk Kasih SayangAllah kepada Hamba-Nya...Part 2...Hampir Satu Tahun Berlalu”

Foto : Dokumen Pribadi

Ikhtiar Pengobatan Kanker Payudara dengan Herbal

May 20, 2020 0 Comments

 

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, rasanya seperti bermimpi begitu mendengar dokter memvonis Ibunda menderita kanker payudara. Meski ada beberapa kenalan dan saudara yang juga mengidap kanker namun rasanya tak pernah ada dibenak saya kalau kami akan diuji dengan penyakit ‘luar biasa’ ini, terlebih pada saat bersamaan Zauji masih menjalani pengobatan Ablasio Retina.


Baca : "Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat"


Benjolan di payudara sebetulnya sebagian besar bersifat jinak, adik dan beberapa teman saya pernah mengalami hal serupa dengan berbagai penyebab tapi dapat disembuhkan segera dengan operasi. Namun dalam kasus Ibunda tentunya berbeda karena pada lansia,  pasca menopause, kasus ini bisa menjadi inidikasi kanker payudara sehingga perlu penanganan segera.


Sempat abai pada awalnya namun begitu Ibunda mengatakan kepada saya bahwa ada benjolan yang semakin membesar di payudara kiri, saya tidak membuang waktu untuk segera memeriksakan ke dokter bedah. Mengapa dokter bedah yang saya pilih bukan dokter penyakit dalam? Jinak atau tidak, tentunya benjolan tersebut harus segera dikeluarkan dari tubuh sehingga dokter spesialis bedah menjadi pilihan utama.


Meski saya tergolong orang yang rajin membaca literatur pengobatan alternatif menggunakan herbal dan terbiasa mengkonsumsinya sehari-hari namun tindakan medis is a must, tidak bisa ditunda atau ditawar. Beberapa kasus yang saya temui di rumah sakit, pasien umumnya takut untuk diperiksakan ke dokter dengan alasan menghindari operasi sehingga memilih mengobati dengan herbal terlebih dahulu. Kanker bersifat cepat menyebar sehingga kondisi pasien bertambah parah, benjolan semakin besar dan sebaran semakin luas sehingga penanganan lebih sulit karena stadium semakin tinggi. Tujuan penggunaan herbal adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga kondisi pasien dalam keadaan prima saat menjalani berbagai pengobatan baik operasi maupun kemoterapi. 


Sebelum pengobatan medis berjalan, saya juga mencari informasi mengenai pengobatan herbal yang tepat untuk kanker payudara. Sudah lebih dari satu tahun saya tertarik dengan Jurus Sehat Rasulullah yang diusung dr. Zaidul Akbar, dokter yang beralih menjadi inspirator dan mendakwahkan sehat ala Rasulullah. Alhamdulillah, salah seorang teman mengenalkan saya kepada Ambu, teman diskusi yang juga menerapkan pola #jsr #jurussehatrasulullah di https://www.instagram.com/ambuherbal/

Daun Kelor

Ambu merekomendasikan beberapa herbal yang dapat digunakan untuk pengobatan kanker payudara sebagai bagian ikhtiar kami, tentunya dengan tidak menafikan ikhtiar medis yang sedang kami jalani. Ambu juga membantu kami mendapatkan herbal yang dimaksud dan memilah mana yang perlu dikonsumsi segera atau tidak. Hal yang terpenting dalam menghadapi kanker adalah pola pikir yang tetap optimis untuk mendapatkan kesembuhan, daya tahan tubuh yang kuat, dorongan keluarga dan tentunya yang terpenting doa dan tawakal kepada Allah SWT.


Ambu merekomendasikan beberapa herbal (dengan harga terjangkau) serta jadwal pemakaiannya setiap hari. Alhamdulillah Ibunda dengan semangat 45 untuk kembali sembuh dengan kemauan keras mematuhi setiap arahan kami.


Pagi :

Bangun tidur, Ibunda langsung membuat air nano dengan 3 days rules nya #jsr : Hari ke-1 rempah, hari ke-2 buah dan hari ke-3 sayuran dengan tambahan madu. Alhamdulillah sejak rutin minum air nano, kualitas tidur Ibunda membaik dan tak lagi terkena insomnia yang lazim diderita lansia.



Air Nano Made in Ibunda


Seduh daun kelor dengan air panas tanpa penambahan gula sebagai pengganti teh di pagi hari. Daun kelor merupakan antioksidan luar biasa yang dapat memperlambat laju perkembangan sel kanker.

Satu sendok makan minyak zaitun sebagai antioksidan plus sumber lemak baik.

 

Siang :

Ibunda juga mengonsumsi beberapa herbal pemberian kerabat atau tetangga seperti kunyit putih atau kayu bajakah kalimantan yang dikenal sebagai obat kanker.

 

Sore :

Bawang putih tunggal diiris tipis atau digeprek dan seduh dengan air panas. Air rendaman diminum plus sisa bawang putih bisa dimakan bila tahan dengan rasanya yang sedikit tidak menyenangkan di lidah. Bawang putih tunggal atau bawang putih lanang memang digadang sebagai obat anti kanker.

 

Saya sengaja memilih herbal yang memang sehari-hari aman dikonsumsi seperi daun kelor (ini sama dengan makan sayur kelor), bawang putih yang biasa dipakai bumbu, minyak zaitun dan madu agar tidak kontradiktif dengan obat medis yang Ibunda konsumsi sehingga tidak begitu membebani ginjal.


Pola makan sehat, tidur cukup, olah raga ringan, dan berjemur di pagi hari serta menghindari makanan yang menjadi sahabat baik kanker seperti gula putih, ayam broiler, tepung-tepungan, dan makanan dengan pengawet. Secara fisik, banyak orang yang tak menyangka Ibunda seorang penderita kanker.


Sebetulnya masih banyak herbal yang teman-teman rekomendasikan namun kami pending terlebih dahulu selama kemoterapi.


Bagaimana ceritanya?

Baca :  “ Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 4...Persiapan Kemoterapi”

Kelas Belajar Canva di Tengah Pandemi Covid 19

May 13, 2020 1 Comments

Imbas dari Covid 19, hampir 2 bulan saya #bekerjadirumahsaja. Selain menyelesaikan banyak tagihan kantor, mengajar via daring dan menuntaska pekerjaan rumah yag tak kunjung usai, saya mencari kesibukan lain untuk menghilangkan kejenuhan. 

Sejak lama saya memang pengagum Canva karena sering melihat teman-teman di grup whatsapp ‘pamer’ keahlian mereka ber-Canva ria. Meski sering menggunakan canva, namun desain yang saya gunakan hanya sebatas template yang sudah tersedia di aplikasi Canva yang saya ganti teks nya saja. Sering kali saya terpesona dengan desain teman-teman yang unik dan ciamik namun apa daya kemampuan saya belum semahir mereka.

Berawal dari informasi teman, akhirnya saya mampir ke facebook "Cara Mudah Belajar Canva", grup ini diasuh Mutiara Hidayati, pengasuh sekaligus pengajar kelas desain dan menulis "Ruang Belajar Bersama Ra."

Mba Tiara sendiri telah tersertifikasi sebagai Canva Certified Creative (CCC) langsung dari salah satu manajemen Canva di Australia, semacam program duta Canva. Berbayar hanya Rp.75.000 saja, ‘Kelas Jago Desain’ via online dibuka setiap minggu. Di kelas yang saya ini berjudul “Cara Mudah Belajar Canva”, diikuti 15 peserta dari berbagai kota dengan latar belakang beragam. Kelasnya sangat seru dengan 10 materi berbeda selama seminggu dari pengenalan Canva, teks, warna, foto, ilustrasi dan sebagainya. Setiap hari dari mulai jam 10.00 – 12.00 WIB kami stand by di depan HP masing-masing (laptop juga bisa) untuk bersiap menerima instruksi dan serangkaian latihan yang harus disetorkan di grup whatsapp. 

Desain Sederhana Ilustrasi

Setiap peserta wajib mengunggah desainnya dan Mba Tiara akan memberikan komentar atau saran sehingga peserta dapat langsung memperbaiki desainnya sesuai tema yang diberikan. Di akhir sesi, kami akan diberi tugas yang harus dikerjakan plus diunggah di medsos masing-masing dengan tagar khusus #kelasjagodesain #caramudahbelajarcanva.
Hasil akhir yang kami peroleh : biodata yang cantik tentunya, double pages yang biasa digunakan

Salah Satu Materi, Double Pages, By IB

Sebetulnya saya pernah ikut kelas online belajar Canva sebelumnya di sebuah institusi regional. Jujur saja, untuk tipe orang yang tidak bisa belajar tanpa dengan pendamping, Kelas Jago Desain ini lebih mudah dipahami karena trainer secara intensif membimbing peserta dengan sistematika sederhana namun hasilnya tak kalah keren.  Di akhir sesi, sebagian peserta sudah jago menggunakan Canva dengan desain keren. Belajar online kali ini meski tidak sempurna, dapatlah dibilang salah satu belajar online yang tidak ‘gagal’ saya ikuti karena bisa saya ikuti hingga tuntas. 

Cover Buku, Desain By Wina Priyanti

Dengan hasil yang lumayan memuaskan karena sense of art saya mungkin tidak setajam teman-teman lain yang jauh lebih jago bermain dengan Canva, tak dapat dipungkiri kelas ini salah satu kelas yang saya sukai. Banyak ilmu yang saya dapat dari teman-teman yang super semangat dan super hebat di tengah keriuhan pekerjaan di rumah. Sembari menunggu sertifikat yang akan dibagikan (asiik…ini salah satu poin yang saya garisbawahi), grup whatsapp masih diramaikan dengan serba serbi Canva tingkat lanjut. Kelas Jago Desain Ra menjadi level selanjutnya untuk lebih serius belajar Canva.

Kini saya pun semakin asik otak atik Canva yang bisa saya terapkan untuk postingan Instagram atau sekedar membuat kartu lebaran versi sendiri. Seru yaaa

#belajardirumah

Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 4...Operasi di Tengah Pandemi Covid 19

April 29, 2020 0 Comments
Keesokan harinya, dokter melakukan observasi kembali. Saat observasi inilah akhirnya pertanyaan kami terjawab. Bubble yang kami lihat sebelumnya ternyata gas CF6 yang mustinya tidak bergerak ke arah depan. Seharusnya gas berada di bagian belakang mata dan menekan retina agar kembali ke posisinya. Karenanya, pasien harus telungkup dengan posisi ekstrim. Kepala menggantung di pinggir bed sehingga diharapkan gas akan bergerak ke belakang menekan retina. Dokter menginstruksikan agar observasi dilakukan di rumah sakit dan bila keadaan tidak membaik operasi berikutnya akan dilakukan 2 hari kemudian.
Ablasio Retina
Berpasrah kepada keputusan dokter, kami melanjutkan observasi di rumah sakit. Ada hal tak diduga saat menjelang operasi. Tekanan mata kiri (bukan mata yang akan dioperasi) Zauji tiba-tiba saja tinggi, 26 mmHg. Sebuah tanda bahaya pertanda glaukoma sekunder. Alhamdulillah, RS Cicendo sebagai Pusat Mata Nasional memang menjadi tempat terbaik bagi kami berikhtiar. Satu jam menjelang masuk ruang persiapan operasi, Zauji dirujuk ke klinik glaukoma dan diperiksa dokter subspesialis glaukoma. Alhamdulillah tekanan mata kiri Zauji kembali normal meski tanpa diberi perawatan apapun sehingga Zauji dapat dioperasi sesuai jadwal.

Operasi keenam dilakukan dengan bius total dengan pemasangan silicon oil 5000 cSt yang ditambahkan. Berkaca dari operasi sebelumnya, kami meminta dokter meresepkan obat penurun tekanan mata, obat lambung dan anti mual untuk Zauji.

Tak dapat dipungkiri, 3 operasi dalam waktu 2 minggu membuat kami lelah baik secara fisik maupun psikis namun ikhtiar maksimal sembari bertawakal kepada Allah adalah satu-satunya jalan yang kami lalui karena sejatinya Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kami.

Karena seluruh rumah sakit mulai melaksanakan protokol pencegahan penyebaran Covid 19 dan daerah Bandung Raya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di akhir bulan April 2020, selama pasien tidak dalam kondisi darurat disarankan untuk berobat atau kontrol dalam rentang waktu yang lama. Kami pun berinisiatif kembali kontrol ke dokter sebelum masa PSBB dimulai. Setelah memastikan kondisi cukup baik meski ada indikasi silikon yang sedikit terangkat, dokter hanya memberikan obat tetes dan vitamin hingga batas waktu aman.

Menjelang bulan keempat pasca operasi, kami kembali melakukan kontrol karena sesuai jadwal, evakuasi silikon harus dilaksanakan dalam waktu 3 – 6 bulan pasca operasi pemasangan silikon.

Bagaimana selanjutnya?

Baca : “Ablasio Retina..Bentuk Kasih SayangAllah kepada Hamba-Nya...Saat Cinta Diuji”


Foto : klikdokter.com

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 3...10 Hari di RSUD Ujungberung

April 01, 2020 0 Comments

 

Pasca masektomi, tindakan operasi pengangkatan payudara kiri, Ibunda harus tetap dirawat selama 10 hari untuk dilakukan observasi guna memastikan kondisi pasien stabil. Perawat rutin melakukan pengecekan suhu dan tekanan darah. Dokter Richard memeriksa setiap pagi untuk memastikan Ibunda dalam kondisi baik. Selama 3 hari Ibunda tidak diperkenankan turun dari tempat tidur karena kondisi masih lemas dan sering pusing. Selang kateter tetap terpasang dan menggunakan pampers di malam hari. Selain selang infus, selang yang terpasang dalam jahitan juga menghambat aktivitas. Selang ini berfungsi mengeluarkan darah kotor dari bekas operasi. Hingga hari ke 4, tabung penampung darah kotor masih bersih namun di hari ke-5 darah kotor mulai mengalir turun karena Ibunda sudah diperkenankan untuk bolak-balik ke kamar mandi.


Setiap pagi perawat menaruh baskom kecil aluminium dan lap basah untuk mandi pasien. Karena sudah diperkenankan ke kamar mandi, Ibunda lebih memilih mandi sendiri karena kondisi badan akan terasa gerah tidak terkena air seharian. Yang terpenting, selang penampung dijaga agar tidak lepas. Ibunda juga tidak dipantang untuk makan apa saja yang disukai meskipun ahli gizi rumah sakit menyarankan untuk makan dari rumah sakit saja agar terjaga higienitasnya.



Meskipun perawat selalu memastikan kondisi pasien namun hendaknya pihak keluarga juga turut memperhatikan. Beberapa hari pasca operasi, suhu tubuh Ibunda saya rasakan agak sedikit naik sehingga saya berinisiatif untuk melaporkan ke perawat agar segera disampaikan kepada dokter. Dr. Richard pun memberikan obat penurun panas dan mewanti-wanti apabila panas tidak turun lepas dari 3 hari, harus segera dilaporkan kepada perawat. Alhamdulillah suhu kembali normal setelah 2 hari minum obat.


Hasil patologi masektomi baru bisa diketahui 2 minggu pasca operasi, namun dokter menjadwalkan rontgen dan USG abdomen untuk memastikan sel kanker apakah sudah menyebar ke paru-paru dam limpa atau tidak. Dokter menyatakan pada umumnya, kanker payudara akan menyebar terlebih dahulu ke organ terdekat yaitu paru-paru dan berikutnya limpa sebelum menyebar ke organ lain. Alhamdulillah kedua hasil pemeriksaan bagus dan tidak ada tanda penyebaran.


Melihat kondisi Ibunda yang tetap sehat dan segar pasca masektomi membuat banyak orang tak percaya bila Ibunda menderita kanker. Inilah salah satu yang kami syukuri karena sejauh ini kondisi masih prima. Selain berobat medis, kami juga berikhtiar melalui pengobatan herbal.

 

Baca : Ikhtiar Pengobatan Kanker Payudara dengan Herbal

 

Tak terasa, sudah hampir 10 hari kami berada di RSUD Ujungberung. Hari ke-8 dokter sudah mengijinkan selang penampung darah kotor dicabut. Meski penampung berisi banyak namun dilihat secara kasat mata dianggap normal dan tidak ada hal yang diluar kewajaran. Perban sudah diganti sebanyak dua kali dan perawat menyatakan luka bersih dan kering. Waktu luang kami gunakan untuk bercerita karena menjelang kepulangan, RS sudah mulai menerapkan kunjungan pasien ditiadakan untuk mencegah penyebaran Covid 19

 

Bagaimana hari-hari selanjutnya pasca masektomi?

Baca : “ Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 4...Persiapan Kemoterapi”


Foto : https://www.mountelizabeth.com.sg/

Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya

March 28, 2020 0 Comments
Operasi ketiga dijadwalkan 5 minggu berikutnya. Sambil menunggu waktu operasi, kami berkonsultasi dengan dokter di klinik Paviliun RS Cicendo agar lebih intensif untuk bertanya.

Ablasio retina karena minus tinggi paling sering terjadi. Hal ini bisa dilihat dari panjang bola mata. Bagi rabun jauh (minus tinggi) panjang bola mata kan lebih tinggi. Panjang bola mata normal < 24 mm. Panjang bola mata yang tinggi akan menyebabkan retina lebih tipis dan mudah robek. Lepasnya lapisan retina biasanya terjadi karena ada robekan pada retina sehingga cairan dapat masuk lewat robekan dan memisahkan retina dari lapisan di bawahnya.
Ablasio Retina

Retina merupakan lapisan syaraf mata yang bekerja seperti film. Cahaya akan masuk ke dalam mata melalui kornea, lensa mata dan akan difokuskan pada retina. Rangsangan cahaya pada retina kan diteruskan ke otak sehingga kita dapat melihat benda. Gangguan pada retina akan mengakibatkan gangguan penglihatan.

Kasus Zauji adalah kasus unik. Ablasio retina pada usia muda lebih menantang apabila dibadingkan dengan ablasio retina di usia muda. Pada lansia, cairan dalam mata lebih cair sehingga tarikan pada retina tidak terlalu kuat. Umumnya, setelah pemasangan silicon oil atau gas pada operasi pertama, retina akan menempel kembali pada posisi semula. Lain halnya dengan ablasio retina di usia muda, cairan dalam mata masih berbentuk gel yang menjadi tantangan karena masih mempunya daya tarik menarik terhadap retina sehingga meski sudah ditahan dengan silicon oil atau gas, retina akan mudah kembali lepas.

Operasi ketiga dilaksanakan dengan pemasangan sceral buckling yaitu pemasangan ikat silikon pada sklera (bagian luar putih mata) plus penambahan gas CF6 untuk menahan retina agar tetap ditempatnya. Operasi berjalan lebih lama dengan pembiusan total. Pantangan pasca operasi masih sama seperti halnya operasi kedua plus larangan naik pesawat terbang selama 1 bulan.

Meski sudah terbiasa dengan perawatan pasca operasi, kali ini ada perasaan yang berbeda saat harus memberikan obat tetes mata. Kondisi mata yang lebih bengkak terasa berbeda karena sceral buckle dipasang dengan cara dijahit sehingga otomatis mata akan lebih memerah.

Sudah bisa menyesuaikan diri pasca operasi namun penambahan gas tetap baru bagi kami. Di hari ke 3, terlihat ada semacam bubble di bagian hitam mata Zauji. Zauji sendiri bisa melihat gelembung-gelembung tersebut dari dalam matanya. Saat kontrol 1 minggu pasca operasi dokter menyatakan tidak apa-apa karena itu adalah hal wajar. Karena penasaran dua hari berikutnya kami kembali berkonsultasi di bagian paviliun. Dokter menyatakan gas CF6 pada operasi ketiga tidak cukup menahan retina sehingga khawatir ada robekan baru. Keputusan dokter untuk segera operasi (cito) hari itu juga. Dokter paviliun merujuk kami ke IGD agar bisa memanfaatkan layanan via BPJS.

Operasi keempat dilaksanakan pada hari itu juga dengan agenda penyuntikan gas CF6 agar cukup kuat menahan retina sebelum ada robekan baru. Operasi berlangsung singkat dengan bius lokal. Dokter melakukan observasi hingga keesokan harinya. Bila keadaan membaik observasi lanjutan dapat dilakukan di rumah saja.

Bagaimana selanjutnya, baca : “Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 4..Operasi di Tengah Pandemi Covid 19”

Foto : klikdokter.com

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi

March 26, 2020 0 Comments


Bermula dari benjolan, Ibunda divonis kanker payudara. Dokter tidak menyatakan stadium yang diderita Ibunda hanya menyatakan stage 3 berdasarkan hasil biopsi artinya tingkat penyebaran sel kanker. Kami sekeluarga akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran dokter, yaitu melakukan masektomi. Masektomi adalah tindakan operasi pengangkatan payudara. Dalam hal ini, payudara sebelah kiri. Masektomi berfungsi untuk mencegah sel kanker menyebar ke organ tubuh lainnya.



Menggunakan fasilitas BPJS sejak awal berobat, dokter bedah kami menyatakan bahwa masektomi hanya bisa dijalankan di rumah sakit besar dan mengingat kondisi pandemi Covid 19, tindakan masektomi di RSUP Dr. Hasan Sadikin sebagai RS rujukan Covid 19 untuk tingkat Jawa Barat bukanlah menjadi pilihan kami. Dokter menyarankan untuk melakukan masektomi di RSUD Kota Bandung Ujungberung dengan catatan akan dikerjakan oleh dokter yang sama sehingga catatan medis pasien telah diketahui sebelumnya.


Kami pun dirujuk ke RSUD Ujungberung dan melakukan pendaftaran ulang. Seperti halnya rumah sakit negeri, untuk mendapatkan nomor antri kami harus datang lebih pagi untuk mendapatkan nomor kecil. Dr Richard SHL. Tobing, dokter bedah yang kami tuju ada setiap hari jumat jam 9 pagi. Dokter menjadwalkan ± seminggu setelah konsultasi pertama plus pemeriksaan pra operasi seperti pemeriksaan darah dan cek jantung. Berbeda dengan pelayanan di RS Hermina, saat kami akan masuk untuk rawat inap, pasien diarahkan melalui pendaftaran secara langsung. Pendaftaran dilakukan sore hari sehingga baru menjelang magrib, Ibunda bisa menempati ruang kelas I. Alhamdulillah  hanya kami saja yang rawat inap di ruangan ini sehingga lebih bebas untuk menginap dan menggunakan kamar mandi meski tak senyaman kamar inap di RS swasta.


Masektomi dijadwalkan jam 11.00 WIB keesokan harinya. Ibunda dicek suhu dan darah untuk memastikan dalam kondisi baik. Tepat jam 10.00 WIB, perawat menjemput Ibunda. Penunggu pasien diperbolehkan mengantar hingga ruang tunggu operasi, membantu pasien berganti baju dan menyiapkan diri sebelum masuk ke ruang OK.


Karena operasi memakan waktu ±3 jam, rasa bosan pun melanda sehingga saya menghabiskan waktu dengan berjalan bolak-balik ke kamar inap, ruang tunggu pasien, mini market dan makan siang. Ternyata jam 12an, perawat ruang operasi memanggil saya. Operasi sudah selesai dan keluarga pasien harus mencari wadah untuk menyimpan hasil masektomi yang nantinya akan diserahkan ke laboratorium patologi.


Tentunya saya melupakan satu hal, berbeda dengan RS swasta yang sudah terima beres, di RS negeri keluarga pasien turut menyiapkan keperluan pasien pasca operasi. Saya pun bergegas mencari pasar untuk mencari toples bertutup non transparan. Saya tahu, pasar tradisional Ujungberung berada tak jauh dari RS, meski belum pernah kesana, pasar dapat ditempuh dengan naik angkot atau jalan kaki. Dan ternyata semua toples bertutup yang saya temui tidak ada yang non tarnsparan. Setelah berkeliling akhirnya saya memutuskan untuk membeli toples plastik dengan bahan agak tebal dan menutupnya dengan stiker (hal ini yang pertama ada di bayangan saya). Beruntung toko alat tulis ada di pasar lantai 2, setelah disodori berbagai kertas stiker akhirnya saya memilih warna hitam dengan asumsi potongan hasil operasi tidak akan terlihat dari luar. Setelah kembali ke RSUD, barulah saya menyadari bahwa toples bisa saja ditutup dengan lakban hitam tanpa repot-repot mengukur dan menggunting :D


Ibunda keluar dari ruang operasi jam 14.00 WIB masih sudah dalam keadaan sadar. Tidak ada hal yang luar biasa kecuali ada selang panjang yang terpasang dari jahitan operasi dekat ketiak.

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 3...10 Hari di RSUD Ujungberung

Foto : https://www.mountelizabeth.com.sg/

Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 2...Operasi Pertama

March 24, 2020 0 Comments
Operasi kedua dilakuan dengan pemasangan silicon oil dengan viskositas yang lebih tinggi, silicon oil 5000 cSt. Perawatan pasca operasi sedikit berbeda dengan operasi pertama (pemasangan silicon oil 1300 cSt). Kali ini pasien diharuskan telungkup minimal 8 - 10 jam per hari selama 2 minggu. Bantal berbentuk donut sengaja saya beli agar Zauji nyaman saat harus telungkup nanti. Bantal unik ini sebenarnya diperuntukan bagi penderita hemoroid atau ambeien yang saya beli di sebuah toko alat kesehatan, tak jauh dari RS Cicendo.

Meski terkesan tidak sulit ternyata telungkup berjam-jam tidak mudah untuk dilakukan. Baru saja beberapa menit, Zauji mulai mengeluh pusing dan mual. Posisi pun diganti menjadi sebatas menunduk saja namun kondisi ini tak juga kunjung berhenti sepanjang malam. Sesuai dengan arahan perawat, pagi berikutnya kami langsung ke IGD RS Cicendo.

Ablasio retina
Dokter jaga IGD menyatakan pusing dan mual hebat disebabkan tekanan mata naik sebagai efek dari pemasangan silicon oil 5000 cSt. Tekanan mata kanan pasca operasi mencapai 50 mmHg. Salah satu cara cepat menurunkan tekanan mata adalah dengan pemberian gliserol secara oral (minum). Namun gliserol berbahaya bagi penderita diabetes karena akan menaikan gula darah dengan cepat. Sebagai gantinya, dokter memberikan resep lain penurun tekanan mata, hanya glaucon tanpa aspar K (berkaca pada pengalaman operasi pertama).

Setelah mendapatkan resep, kami kembali ke rumah namun pusing dan muntah hebat tidak juga berhenti hingga sore hari. Meski sudah ditambah obat anti mual, semakin lama kondisi semakin memprihatinkan karena isi perut yang kosong dipaksa dimuntahkan meski tak ada asupan makanan sedikitpun. Untuk kedua kalinya dalam waktu 8 jam, kami kembali ke IGD RS Cicendo. Sebenarnya secara SOP, pemberian obat penurun tekanan mata sudah cukup namun ada hal lain yang baru kami ketahui, obat penurun tekanan mata ternyata memberikan efek yang tidak baik terhadap lambung. 

Permintaan rawat inap pun tidak bisa dipenuhi karena standar rawat inap hanya bila tekanan mata >60 mmHg. Tak terbayang ya bagaimana rasanya…dengan tekanan mata 50 mmHg saja rasanya sudah jungkir balik

Dokter IGD memastikan mual dan muntah berasal dari lambung (efek dari obat antibiotik) sehingga dokter menyarankan kami ke RSU terdekat. Melajulah kami ke RSU tak jauh dari rumah dan Alhamdulillah setelah mendengarkan kronologis cerita kami, dokter IGD RSU yang kami tuju segera memberikan pertolongan.  Tak lama berselang, mual dan muntah reda. Dokter memberikan obat tambahan untuk lambung. Kondisi Zauji semakin membaik, penglihatan jauh lebih terang dan normal sehingga dokter menyatakan kontrol selanjutnya 2 bulan lagi.

Dua bulan pasca operasi dilewati dengan baik. Bila semua berjalan lancar, operasi berikutnya adalah operasi evakuasi silikon. Menginjak bulan ketiga kami kembali kontrol ke RS Cicendo. Namun hal yang tak terduga kembali terjadi. Dokter menemukan ada robekan baru di bagian bawah sehingga perlu ada tindakan operasi berikutnya.

Apa tindakan berikutnya? Baca : “AblasioRetina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya”

Foto : Cicendoeyehospital.org

Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

March 23, 2020 0 Comments
Shock…itu pertama kali yang kami rasakan saat Zauji didiagnosa ablasio retina pada mata kanan. Rasanya tidak percaya karena satu hari sebelumnya kami masih melakukan aktivitas normal. Sebenarnya tanda-tandanya sudah dirasakan beberapa hari sebelumnya seperti adanya serabut yang beterbangan dalam mata.

Awalnya Zauji berniat mengganti kacamata dengan ukuran minus terbaru namun saat diperiksa ternyata dokter menyatakan ada syaraf mata yang putus sehingga harus dirujuk ke RS fasilitas kesehatan (faskes) yang lebih tinggi. Sempat menunda beberapa hari karena tak mengira akan seserius ini. Luas pandang mulai berkurang, seolah ada tirai menutupi pandangan, gelap sebagian bukan seluruh mata. Saat melihat suatu benda, bagian atas (misalnya kepala hingga pundak) tidak terlihat sedangkan bagian bawah (pundak hingga kaki) terlihat jelas atau mungkin benda bagian kiri terlihat sedangkan bagian kanan tidak terlihat. 

Qodarullah saat itu semua spesialis retina sedang mengikuti seminar di luar Jawa sehingga RS yang kami tuju akhirnya memberikan rujukan ke Pusat Mata Nasional (PMN) Cicendo via IGD karena harus ditangani segera. Barulah kami tahu, kondisi retina sudah terlanjur robek sehingga laser sudah tidak bisa lagi dijadikan aternatif penanganan, operasi adalah jalan satu-satunya. Karena ketidakadaan dokter spesialis retina, dokter IGD merujuk kami untuk berobat melalui poli regular hari berikutnya.

Ablasio Retina
Perjuangan itu dimulai. Akhirnya saya dan Zauji mencari tahu itu ablasio retina dan bagaimana penanganannya sembari saling menguatkan satu sama lain meyakinkan diri bahwa ujian ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Ablasio retina dapat muncul salah satunya karena faktor rabun jauh parah, minus tinggi untuk kasus Zauji, ditambah seringnya mengangkat benda berat (pantangan ini mungkin yang tidak disadari oleh banyak orang dengan minus tinggi), terjatuh (kecelakaan) atau benturan keras dapat pula memperparah keadaan. Bagi beberapa pasien, kasus ablasio retina bisa muncul tiba-tiba tanpa peringatan, tiba-tiba penglihatan gelap, bisa kedua mata, kanan dan kiri tanpa gelaja atau penyakit penyertanya seperti diabetes melitus atau tekanan darah tinggi, tua atau muda.  Ada kasus tertentu, robekan retina disebabkan trauma benturan saat dulu semasa muda sering ikut balapan namun baru terasa pada usia menjelang 50 tahunan. Kasus lain terjadi pada pasien usia awal 40 tahun, sehat tanpa sakit apapun. Kedua mata tiba-tiba blank tidak bisa melihat.

Alhamdulillah robekan pada kasus Zauji tidak sampai mengenai titik penglihatan sehingga penglihatan masih bisa diselamatkan.

Operasi pertama dilakukan 3 minggu berikutnya, sesuai antrian BPJS. Tindakan pertama adalah pemasangan silicon oil 1300 cSt. Silicon jenis ini termasuk silikon yang memiliki viskositas ringan. Salah satu kelebihan silicon oil adalah dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pasien yang akan melakukan operasi harus sudah berada di rumah sakit H-1 operasi dan apabila kondisi normal atau tidak ada kasus tertentu, pasien sudah bisa kembali ke rumah H+1 operasi. Seperti biasa pasien diharuskan puasa 6 jam sebelum operasi. Operasi berlangsung kurang dari 1 jam dengan bius lokal (hanya bagian mata saja yang dibius). Bila tak ada mual dan muntah hebat efek obat bius, pasien bisa langsung makan pasca operasi. Kontrol pasca operasi dilaksanakan seminggu pasca operasi.

Sebelum pulang, perawat memberikan beberapa aturan yang harus dipatuhi pasien selama perawatan di rumah diantaranya perban harus diganti sehari 2x dengan kapas yang harus disterilkan terlebih dahulu, obat tetes diberikan sesuai jadwal (ada 4 obat tetes mata minidose yang harus diberikan dalam jam yang berbeda : antibiotik, antiradang, dan lainnya), tidak boleh terkena air selama 2 minggu, tidak boleh dikucek, kena benturan, tidak boleh berhubungan suami istri (sementara ya), posisi harus telungkup atau terlentang untuk silicon atau gas tertentu dan segera ke RS atau IGD terdekat apabila penglihatan berkurang atau mual muntah hebat.

Tiga hari berada di rumah, luas pandang kembali berkurang. Kami kira karena masih efek operasi sehingga saat kontrol 1 minggu pasca operasi baru diketahui ternyata ada robekan baru. Tidak ada cara lain sehingga operasi berikutnya yang kembali dijadwalkan dalam waktu 3 minggu.

Sambil menunggu jadwal operasi kedua, kami konsultasi ke bagian paviliun dengan dokter yang sama dengan dokter yang memeriksa di poli reguler.

Baca : RS Cicendo...Pusat Mata Nasional

Sama halnya dengan analisa dokter di poli reguler, robekan baru muncul di tempat berbeda. Kali ini muncul masalah baru yaitu tekanan mata naik hingga 40 mmHg. efek dari pemasangan silicon oil. Tekanan mata tinggi ini dinamakan juga glaukoma sekunder yang dapat mengakibatkan kebutaan permanen apabila dibiarkan. Tekanan mata normal berkisar 14 - 20 mmHg. Tekanan mata > 20 mmHg patut dicurigai sebagai glaukoma dan biasanya disebabkan hipertensi, hipotensi, migren, gangguan vaskuler atau diabetes miletus. Dokter memberikan resep glaucon, aspar K dan obat tetes mata untuk menurunkan tekanan mata. Salah satu tanda tekanan mata yang tinggi adalah rasa mual dan pusing hebat meski pada beberapa pasien tidak merasakan gejala apa-apa. Tekanan mata baru turun beberapa hari kemudian namun tangan dan kaki Zauji berasa kesemutan sebagai efek dari aspar K.

Pada operasi kedua, dokter memutuskan untuk memasang silicon oil dengan vistositas yang lebih tinggi, 5000 cSt plus operasi katarak sehingga diperlukan bius total. Katarak merupakan hal yang wajar terjadi pada kasus operasi retina. Lensa mata akan dicopot dan diganti dengan lensa buatan bersamaan dengan operasi evakuasi silikon nanti. Dengan durasi yang lebih lama, kali ini Zauji sudah bisa beradaptasi dengan obat bius sehingga tidak ada drama mual muntah seperti operasi pertama. Dengan jenis silikon yang berbeda, kali ini ada aturan baru telungkup selama minimal 8 jam sehari. Posisi ini berfungsi untuk memaksimalkan fungsi silikon untuk menekan retina agar kembali pada posisinya.

H+2 pasca operasi..ada hal di luar dugaan yang terjadi. Apakah itu??



Foto : Cicendoeyehospital.org

Ablasio Retina…Saat Nikmat Mata Berkurang

March 18, 2020 0 Comments
Seperti halnya masyarakat awam pada umumnya, saya tidak pernah mengenal sama sekali apa itu Ablasio Retina. Bagi saya, penyakit mata yang dikenal hanyalah mata berair, mata merah, dan mata infeksi.

Retina merupakan lapisan tipis pada bagian terdalam bola mata yang berfungsi sebagai titik penglihatan. Ablasio retina adalah salah satu kondisi terlepasnya retina atau selaput jala dari posisi aslinya yang dapat menyebabkan kebutaan secara permanen karena retina kurang mendapat asupan oksigen dan nutrisi. Penyebab ablasio retina beragam dari trauma pada mata, radang, komplikasi pasca operasi katarak, minus tinggi dan glaukoma. Ablasio retina merupakan kondisi darurat medis yang harus segera ditangani agar tidak terjadi kebutaan permanen.



Tak ada rasa sakit seperti perih, nyeri, nyut-nyutan atau apapun. Gejala awal yang dirasakan hanya berupa adanya seperti serabut tipis bertebaran di mata kanan yang sesekali muncul namun tidak mengurangi pandangan. Gejala ini baru dirasakan setelah 2 minggu pasca terjatuh dari motor. Dengan niat awal mengganti kacamata dengan ukuran minus terbaru ternyata dokter mata menyatakan bahwa serabut tipis tersebut merupakan syaraf mata yang lepas. Tanda lain yang biasa terjadi adalah adanya kilat mata yang dirasakan pasien meski dalam kasus yang kami alami tidak ada keluhan tersebut.

Mata dengan Ablasio Retina
Tidak mengira ada yang serius, karena sesuatu hal, kami sempat menunda untuk langsung berobat ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Dan perlahan luas pandang pun mulai berkurang. Luas pandang mulai hanya sebatas setengah bagian mata, suatu obyek hanya terlihat sebelah bagian kanan saja sedangkan bagian kiri blank alias gelap sama sekali. Dokter spesialis retina merujuk kami untuk langsung ke IGD Pusat Mata Nasional, RS Mata Cicendo. Sebetulnya pada tahap awal ablasio retina masih dapat ditangani dengan terapi fotoagulasi laser sebagai bagian dari pencegahan namun dokter IGD menyatakan retina terlanjur robek dan satu-satunya opsi adalah operasi untuk menempelkan kembali retina.

Ablasio retina terbagi menjadi 3 jenis, ablasio retina regmatogen (penurunan kualitas tubuh vitreous karena faktor usia),  ablasio retina traksional (adanya jaringan parut yang tumbuh abnormal biasanya efek dari diabetes) dan ablasio retina eksudatif (adanya penendapan cairan di bawah bagian retina akibat peradangan, tekanan darah tinggi parah, tumor atau kanker).

Ablasio retina dapat ditangani salah satunya dengan vitrektomi, pengambilan gel vitreous (badan bening mata) dan menggantinya dengan menyuntikan gelembung gas atau silikon sebagai penahan retina agar tetap pada posisinya. Seiring waktu, gelembung gas akan hilang dan tergantikan oleh cairan mata alami, sedangkan bila silikon yang disuntikan akan tetap berada dalam bola mata dan diperlukan tindakan pengangkatan (evakuasi) silikon 3 – 6 bulan kemudian.

Metode lainnya adalah sceral buckling yaitu pemasangan ikat silikon pada sklera (bagian luar putih mata). Silikon akan mendekatkan dinding bola mata ke retina sehingga retina kembali ke posisi semula. Bila ablasio retina sudah sangat parah, silikon akan dipasang melingkari mata secara permanen namun tidak akan menghalangi penglihatan.

Penentuan metode didasarkan pada kasus yang dialami pasien. Terkadang dokter akan menerapkan lebih dari satu metode untuk menangani ablasio retina. Semakin cepat ditangani, ablasio retina akan semakin berpeluang untuk sembuh. Dan yang terpenting adalah pencegahan berupa pemeriksaan mata secara teratur bagi orang dengan resiko tinggi. Ablasio retina bisa jadi mengurangi nikmat mata yang diberikan Allah kepada hamba-Nya namun ikhtiar maksimal tentunya harus selalu kita lakukan.


Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Pixabay dan Cicendoeyehospital.org

Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 1...Cerita Dimulai

February 27, 2020 0 Comments


Rasanya ‘kanker atau cancer’ menjadi salah satu kata yang tak pernah saya bayangkan akan hadir dalam hidup saya dan Ibunda. Namun awal tahun ini, kami mendapat kejutan dengan hasil diagnosa dokter.


Berawal terasa ada benjolan di payudara sebelah kiri, mungkin karena dirasa tidak mengganggu dan tidak terasa sakit sehingga Ibunda tidak mengeluh dan mengabaikannya. Namun berselang dua bulan benjolan semakin membesar sehingga dapat diraba dengan tangan sehingga langsung inisiatif untuk memeriksakan ke dokter bedah (bukan dokter umum atau internis).


Meski saya termasuk orang yang lebih memilih pengobatan secara alami seperti herbal namun dalam kasus seperti ini, lebih bijak untuk menjadikan medis sebagai pengobatan utama. Namun sebagai penopang daya tahan tubuh, sayapun mulai rajin mencari informasi mengenai pengobatan alami untuk benjolan di payudara.


Baca : Ikhtiar Pengobatan Kanker Payudara dengan Herbal


Tanpa banyak pertimbangan dokter bedah segera menginstruksikan untuk operasi pengangkatan benjolan atau biopsi. Pada wanita yang telah mengalami menopause, benjolan di payudara sangatlah tidak lazim karena secara teoritis hormon telah berubah sehingga ada indikasi serius yang perlu penanganan segera.


Setelah melengkapi berbagai administrasi dan pemeriksaan pra operasi, biopsi dilaksanakan segera. H-1 operasi, Ibunda sudah siap di rumah sakit. Ini pertama kali saya menunggui beliau menginap di rumah sakit. Tak ada riwayat penyakit berat yang beliau idap seperti hipertensi atau diabetes sehingga kondisi Ibunda relatif aman.



RS Hermina Arcamanik menjadi pilihan karena beliau pernah menjalani pengobatan syaraf kejepit di rumah sakit ini beberapa tahun yang lalu. Manajemen dan penanganan yang efisien menjadi alasan saya memilih rumah sakit ini meski berada agak jauh dari rumah.


Operasi berjalan lancar selama ± 2 jam. Kondisi yang fit membuat Ibunda bisa langsung sadar tanpa keluhan bahkan makan dengan lahap karena rentang puasa pra operasi yang lumayan lama. Meski demikian, gelang identitas warna kuning ( pasien dengan resiko jatuh) membuat Ibunda tak diperkenankan turun dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi. Penggunaan pampers menjadi satu-satunya opsi. Tentunya tak nyaman namun seperti yang disampaikan perawat, apabila pasien atau keluarga pasien tidak mematuhi aturan maka segala resiko di luar tanggung jawab rumah sakit. Secara keseluruhan kondisi cukup baik terutama bagi lansia yang baru saja menjalani biopsi sehingga Ibunda sudah diperkenankan pulang di hari berikutnya.


Hasil biopsi kami peroleh 2 minggu kemudian dan langsung kami konsultasikan dengan dokter bedah yang melakukan tindakan operasi. Sesuai dengan dugaan saya karena saya sempat mengintip hasil biopsi sebelumnya, Ibunda divonis menderita kanker payudara.


Lazimnya, kemoterapi menjadi pengobatan pertama kanker payudara namun dokter menyarankan untuk masektomi atau pengangkatan payudara untuk mencegah penyebaran sedari dini.


Belum reda rasa kaget, dokter memberi kami waktu kurang dari 24 jam untuk memutuskan apakah bersedia menjalani masektomi dalam waktu dekat atau tidak. Tak banyak pengalaman kanker di sekitar kami namun Alhamdulillah, Ibunda adalah wanita yang super kuat. Dalam perjalanan pulang, kami saling berjanji dan menguatkan untuk menghadapi dan menjalani salah satu nikmat ujian ini bersama-sama.

 

Tidak ada ujian kecuali Allah yakin kita akan mampu melewati dan ujian sakit merupakan salah satu kasih sayang Allah bagi hamba-Nya.

 

Bagaimana masektomi dilakukan. Baca : "Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi"

Foto : pixabay