Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 2

Benjolan di pergelangan tangan saya semakin lama semakin membesar dan mulai mengganggu aktivitas karena nyeri yang menjalar hingga pundak. Saya melewati bulan ramadhan dengan mengamati seberapa cepat benjolan itu membesar. Sebelum operasi, ada beberapa hal yang harus diperiksa termasuk konsultasi ke bagian penyakit dalam dan anestesi serta pemeriksaan rekam jantung, darah dan rontgen.



Konsultasi Pra Operasi

Karena aturan BPJS, pasien tidak diperkenankan kontrol/konsultasi dalam waktu < 1 minggu, saya pun disarankan untuk konsultasi di bagian penyakit dalam dengan biaya sendiri sehingga waktu lebih efektif. Setelah melihat hasil pemeriksaan rekam jantung, darah dan rontgen, dokter penyakit dalam menyatakan saya dalam kondisi prima dan siap operasi. Selanjutnya dokter anestesi yang juga menyatakan saya siap operasi. Dokter pun menyatakan bahwa bius yang diberikan adalah bius total (padahal operasi kecil ya).


Alhamdulillah, tak lama kemudian kartu BPJS sudah jadi dan pihak kepegawaian menyatakan kartu itu sudah bisa dipakai. Saya sendiri tidak memberitahukan pada siapapun tentang rencana operasi saya kecuali kepada pimpinan HRD karena aturan yang menyatakan pegawai dilarang mengambil cuti lebaran sehingga mau tak mau saya jujur akan operasi dan harus istirahat setelahnya. Bahkan saat silaturahim lebaran, tak satu orang pun keluarga yang saya beritahu.

 

Ruang OK

Hari itu tiba, karena jadwal oeprasi jam 9 pagi, bada subuh adik saya dan suaminya mengantarkan saya ke RS Hermina. Pertama, saya mendaftarkan diri di Unit Gawat Darurat (UGD), pihak RS sekali lagi mengkonfirmasi pembiayaan yang akan saya gunakan. Setelah berkas masuk, proses pendaftaran di proses. Alhamdulillah, setelah saya tanyakan, biaya operasi dan perawatan seluruhnya ditanggung BPJS. Saya sempat mengintip, biaya operasi saja mencapai Rp 16 juta


Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1


Saya masuk ruang operasi jam 6 pagi, ditunggui adik saya dan suami nya yang tidur kelelahan di lantai ruang tunggu. Karena ini pertama kali, saya harus dipandu perawat yang menginstruksikan untuk berganti baju dengan baju operasi dan menitipkan barang berharga saya (termasuk sendal) kepada adik saya yang menunggu di luar. Jam 7 pagi, saya masuk ruang operasi dan langsung terlelap begitu dokter anestesi menyuntikan obat bius ke dalam selang infus.

 

Rasanya baru sekejap, saya terbangun dengan rasa sakit luar biasa di pergelangan tangan saya. Demi menghilangkan saya nyeri, saya memutuskan kembali memejamkan mata dan memilih kembali tertidur meski samar-samar saya masih bisa mendengar percakapan di sekeliling saya termasuk saat adik saya dipanggil dokter untuk menyampaikan hasil operasi. Saya juga menyadari kalau saya sudah tidak berada di ruang operasi lagi.

 

Saya benar-benar terbangun selepas adzan dzuhur. Masih dengan rasa nyeri, perawat memindahkan saya ke ruang inap ditemani sepupu yang menggantikan adik saya. Karena kondisi mulai membaik, saya sudah bisa langsung makan dan minum. Selain tangan yang masih diperban dan berdenyut sakit setiap kali bergerak, selebihnya saya baik-baik saja. Dokter menyatakan cairan ganglion sudah dikeluarkan namun selaputnya tidak bisa diambil karena menempel di nadi saya sehingga terlalu riskan untuk dilepaskan. Hasil patologi anatomi (PA) yang akan memberikan indikasi tumor ganas atau bukan.


Kembali Sehat

Sesuai SOP BPJS, saya hanya menginap satu malam saja. Di hari kedua, dokter mengijinkan saya pulang dengan catatan kembali kontrol seminggu kemudian. Administrasi BPJS diselesaikan oleh pihak RS, sehingga sepupu saya tidak harus wara wiri kesana kemari dan hanya duduk manis sembari menemani saya. Setelah menerima kuitansi dan berkas lainnya, saya diperbolehkan pulang.

 

Perban plester diganti setiap 3 hari sekali dan karena saya masih tak berani membuka perban sendiri, adik saya membantu saya mengganti perban setiap kali diperlukan. Luka masih merah, basah dan menempel pada perban hingga lebih seminggu. Di hari kontrol, dokter mengganti perban plester dengan dermafix plester. Namun karena takut tersenggol, saya memutuskan tetap menggunakan perban elastis selama hampir 1 bulan.


Hasil pemeriksaan PA menunjukan tidak ada keganasan. Luka sayatan semakin lama semakin mengecil bahkan terlihat samar (well, ini menunjukan tangan dokter yang mengerjakan benar-benar apik dan terampil) meski tangan kanan saya tidak lagi senormal dahulu, rasa pegal dan nyeri terkadang muncul saat digunakan berlebihan. Alhamdulillah ala kulli haal, bersyukur di segala keadaan. Saya masih bisa berobat, kembali sehat dan nyaris tanpa biaya kecuali untuk ongkos dan berjaga selama di RS. Nikmat sehat tak terkira.


Foto : digstraksi.com

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa