Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 5...Saat Cinta Diuji

Post a Comment
Sebagai orang awam, kami masih terbata mempelajari tentang pengalaman operasi ablasio retina yang dialami Zauji. Ablasio retina merupakan kondisi terlepasnya retina atau selaput jala dari posisi aslinya yang dapat menyebabkan kebutaan secara permanen karena retina kurang mendapat asupan oksigen dan nutrisi. Ablasio retina termasuk dalam darurat medis yang harus segera ditangani agar tidak terjadi kebutaan permanen.

Menjelang bulan keempat pasca operasi ablasio retina keenam, kami kembali melakukan kontrol di RS Cicendo sesuai dengan jadwal. Kami berharap evakuasi silikon akan segera dilaksanakan karena secara teori silikon harus dievakuasi dalam waktu 3 – 6 bulan pasca operasi.

Operasi di Masa Pandemi

Pandemi Covid 19 membuat semua lini kehidupan berubah termasuk tata cara untuk melakukan pemeriksaan di dokter dan rumah sakit. Selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota Bandung otomatis gerak kami terbatas. 

Pemeriksaan dokter di klinik reguler RS Cicendo Bandung dibatasi dan semua tindakan operasi ditiadakan, sedangkan klinik paviliun sama sekali tidak dibuka. Kami baru meneruskan rutinitas kontrol pasca PSBB dihentikan. Benar saja, pasca operasi ke-6 pemasangan silikon oil 5000cSt, dokter menemukan adanya indikasi robekan retina kembali sehingga dokter menyarankan operasi semi cito (cito = segera).

Ada yang berbeda saat kami akan mengantri di klinik reguler, skrining Covid 19 dilakukan sebelum pasien dan pengantar masuk ke ruang pendaftaran. Pasien dan pengantar harus dicek suhu dan mengisi formulir skrining. Hanya satu orang pengantar yang diperkenankan mengantar ke dalam. Semua barang yang akan dibawa masuk ke  dalam rumah sakit disemprot desinfektan terlebih dahulu. 

Wawancara dilakukan oleh tim rumah sakit untuk mengetahui riwayat penyakit dan perjalanan kami. Menurut informasi, kuota pasien dalam satu hari hanya dibatasi 40 pasien per sub klinik. Jauh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kondisi normal. 

Bagi kami ini lebih melegakan karena antrian menjadi lebih pendek. Hanya saja, dokter yang memeriksa menjadi lebih sedikit karena dokter residen (dokter umum yang sedang mengambil spesialis mata) dan dokter fellow (dokter mata yang sedang mengambil subspesialis retina/glaukoma dll) yang biasa membantu pemeriksaan tidak begitu banyak.


Operasi Ablasio Retina ke-7

Berbekal obat dan catatan dokter di klinik paviliun RS Cicendo, dokter di klinik reguler merekomendasikan operasi ke-7 paling lambat 2 minggu. Alhamdulillah, meski jadwal tindakan operasi sangat ketat karena penundaan selama masa PSBB, Zauji mendapat jadwal 10 hari kemudian. Pemeriksaan pra operasi, termasuk rapid test dan HIV, diselesaikan dalam satu hari.

Meski sudah berulang kali menghadap meja operasi, rasa deg-degan tetap saja ada. Berpasrah adalah kunci karena sedari awal Zauji dan saya sudah menyerahkan segalanya kepada para dokter dan perawat sebagai perantara ikhtiar kami.

Seperti biasa, pasien masuk ke ruang rawat inap H-1 setelah melewati serangkaian pemeriksaan di klinik reguler. Entah apa yang salah, kali ini tekanan mata kanan Zauji kembali naik drastis mencapai 46, red alert untuk glaukoma. Meski tidak mengeluh pusing atau mual hebat seperti kasus sebelum nya, tentunya hal ini bukan hal yang normal dan baik bagi Zauji. 

Dokter retina merujuk kembali ke bagian glaukoma dan ditangani segera. Kondisi ini tentunya berbahaya dan dokter subspesialis glaukoma merekomendasikan operasi penyerta, yaitu pembuatan saluran untuk membuang cairan bila tekanan mata belum juga normal keesokan harinya. Just another stress for us :(

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, semua jenis obat-obat turut saya bawa kali ini termasuk obat penurun tekanan mata : timol, glaucon dan aspar K sehingga dapat langsung Zauji minum. Kami melewati malam menjelang operasi dengan lebih banyak mengobrol, bercanda, saling menguatkan dan berharap ini akan menjadi operasi terakhir. 

Karena pasien masih tak diperkenankan untuk dikunjungi siapapun, selama 3 hari 2 malam hanya saya yang berjaga. Suasana cukup sepi dan rileks. Beberapa perawat sudah kami kenal dengan baik. Rasanya setiap ruangan bougenvile (kelas I) sudah pernah kami isi 😊.

Bagian Pendaftaran Klinik Reguler

Pagi hari menjelang operasi seperti biasa Zauji bersiap. Mandi dan mencuci rambut yang mulai gondrong (saya belum memperbolehkan Zauji cukur rambut di barber shop langganan), berganti dengan baju masuk ruang operasi, atas mata kanan ditandai spidol dan menunggu panggilan pemeriksaan visus. 

Biasanya Zauji akan dipanggil untuk pemeriksaan visus sekitar jam 7 pagi dan mulai diantar ke ruangan OK (ruangan operasi) jam 8 pagi untuk jadwal operasi jam 10 pagi. 

Namun kali ini hingga jam 10 pagi masih belum ada panggilan. Ternyata dr.Andika, dokter subspesialis glaukoma yang akan melakukan operasi pembuatan saluran baru datang jam 10 pagi. Berdasarkan pemeriksaan visus tekanan bola mata Zauji <20 sehingga operasi penyerta tidak lagi diperlukan. Alhamdulillah.

Silikon Oksana HD

Operasi rasanya berlangsung cepat. Saat kembali ke kamar, kondisi Zauji dalam keadaan sadar, artinya tidak bius total seperti yang direncanakan sebelumnya. Qodarullah, ternyata dokter yang melakukan operasi kali ini bukanlah dr. Rova Virgana, Sp.M(K) melainkan Prof. dr. Arief. S. Kartasasmita, Sp.M(K), dokter senior di RS PMN Cicendo.

Kali ini dokter memasang silikon oksana HD, silikon campuran dengan viskositas terberat untuk mengatasi ablasio retina. Segala sesuatu akan berjalan sesuai waktu yang telah Allah tetapkan. Demikian pula siapa yang akan melakukan operasi kali ini.

 

Apa itu silikon oksana HD? Pengalaman operasi ablasio retina sebanyak tujuh kali membuat kami belajar mengenai kosa kata baru termasuk jenis silikon yang digunakan untuk menekan retina agar kembali menempel pada tempatnya.

Mampir di ig JustMenong
Foto : Dokumentasi Justmenong

Related Posts

Post a Comment