Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 14...Ikhtiar Langit

Kontrol Rutin di RS Cicendo

Sudah hampir dua bulan Zauji tidak melakukan kontrol ke RS Cicendo. Kontrol bulanan yang sedianya dilakukan di minggu keempat bulan Juni tertunda karena kami sekeluarga mendapat ‘giliran’ terkonfirmasi Covid 19 sehingga pemulihan pasca Covid menjadi pilihan utama.

 

Mampir yuks : Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Komorbid Diabetes dan Orang Yang Sudah Divaksin...Part 1

 

Setelah tak lagi mengalami gejala dan swab antigen dipastikan negatif, kami mulai menjadwal ulang kontrol rutin kami dengan sebelumnya memperpanjang rujukan di faskes 1 dan 2 terlebih dahulu. Karena sudah menjadi pasien tetap, perpanjangan rujukan di faskes 1 tidak perlu waktu lama. Hasil pemeriksaan di faskes 2, RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) menunjukan ada penurunan jarak pandang. Hal ini memang sesuai dengan apa yang Zauji rasakan sejak terpapar Covid 19, jarak pandang jauh berkurang namun Alhamdulillah tidak blank sama sekali.

 

Kontol rutin bulanan jatuh pada hari Rabu agar kami bisa bertemu dengan Prof. dr. Arief. S. Kartasasmita, Sp.M(K) di klinik pavilium. Qodarullah, hari itu kami bertemu kembali dengan dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K).


Pemeriksaan Visus

Hasil pemeriksaan visus menunjukan adanya kenaikan tekanan bola mata kanan yang mencapai 27 dan penurunan penglihatan yang signifikan sesuai yang disampaikan dokter Novi di RS MAL. Alhamdulillah mata kiri dalam kondisi baik.


Pemeriksaan kali ini dilakukan berbeda, dokter Indra menyatakan ada jejak diabetes di mata kanan Zauji sehingga dimungkinkan penurunan penglihatan disebabkan diabetes. Selama terpapar Covid 19, gula darah Zauji memang naik drastis meski asupan makanan hanya 3 - 4 sdm makan saja. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan darah (gula darah puasa, gula darah PP dan HbA1C) dan OCT.

 

Karena tidak bersiap (baik belum berpuasa 10 jam sebagai syarat pemeriksaan darah), kami juga tidak mempersiapkan dana lebih. Sebetulnya Zauji dijadwalkan kontrol di poli reguler BPJS minggu depan namun agar dapat berkonsultasi lebih banyak kami memutuskan untuk konsul di klinik paviliun dan tentunya segala biaya ditanggung secara mandiri. Biaya pemeriksaan darah mencapai 500rb an, sedangkan OCT sekitar 600rb. Dokter tidak memaksa untuk melakukan pemeriksaan segera karena tentunya biaya yang diperlukan tidak sedikit. Namun dengan pertimbangan, hasil akan langsung dapat dikonsultasikan dengan dokter konsulen seperti dr. Indra, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pemeriksaan keduanya di klinik paviliun.


Hasil Pemeriksaan Laboratorium dan OCT

Kami kembali keesokan harinya. Pemeriksaan darah dilakukan 2 kali, 1x gula darah puasa, setelahnya Zauji sarapan dengan bekal yang kami bawa lalu kembali melakukan pemeriksaan gula darah 2 jam PP (post prandial = setelah makan). Sementara menunggu hasil, Zauji melakukan pemeriksaan Optical Coherence Tomography (OCT).


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 9..OCT



Meski waktu masih menunjukan jam 8 kurang, ruang tunggu laboratorium dipenuhi pasien dan keluarga yang sedang menunggu antrian atau hasil pemeriksaan. Beberapa diantaranya melakukan swab antigen sebagai persyaratan pra operasi.

Pemeriksaan OCT dilakukan oleh perawat yang sudah mengenal kami selama hampir dua tahun ini. Sambil melakukan pemeriksaan, kami saling bertukar kabar. Pemeriksaan dilakuan berulang karena Zauji kesulitan memfokuskan mata kanan mata titik yang ada pada alat. Hal ini normal bagi pasien dengan penurunan penglihatan (kerusakan retina atau papil). Hasil pemeriksaan dicetak dalam berlembar-lembar kertas.

 

Karena sudah terdaftar di hari sebelumnya, kami hanya melaporkan kepada bagian pendaftaran saja. Dari hasil pemeriksaan lab, gula darah Zauji (10 jam puasa dan 2 jam PP) tidak terlalu tinggi untuk pasien diabetesi, <200. Nilai HbA1C pun ada di angka, cukup bagus bagi Zauji yang pernah mencapai nilai 12 3 tahun yang lalu. Saya pun menyampaikan selama pemulihan pasca terpapar Covid 19, Zauji belum melakukan diet diabetes lagi karena target kami memulihkan kondisi dulu sehingga asupan karbohidrat belum diganti kembali menjadi nasi merah. Selain itu olah raga dan shaum sunnah yang biasa nya dilakukan Zauji juga kami skip hampir 1 bulan.


Adapun hasil OCT menunjukan ada bagian retina yang belum menempel kembali meski silikon HD sudah terpasang lebih dari 1 tahun. Hal ini dimungkinkan karena syaraf mata sudah kaku. Evakuasi silikon bukan menjadi pilihan yang tepat karena dikhawatirkan retina yang sudah menempel dakan lepas kembali. Saat ini, meski mengalami penurunan penglihatan, kondisi Zauji dalam keadaan stabil sehingga bukanlah hal yang bijaksana ‘mengobrak-abrik’ kondisi yang sudah ada.


Menunda Evakuasi Silikon

Untuk sementara, kontrol rutin bulanan menjadi opsi terbaik untuk mengobservasi kondisi Zauji, terutama tekanan matanya. Saat ini dokter hanya memberikan resep Timol dan Glaupen untuk menurunkan mata serta mengingatkan Zauji agar selalu mengontrol gula darah.

 

Ikhitiar langit lah menjadi satu-satunya harapan. Apapun yang Allah berikan, insya Allah selau yang terbaik. Meski manusia beriktiar dengan jalan maksimal, dokter terbaik, rumah sakit terbaik, peralatan dan obat terbaik, namun bila Allah belum berkehendak...semoga menjadi jalan kebaikan dan dan amal sholeh.

 

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Bersyukur di segala keadaan.


No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa