Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 14...Ikhtiar Langit

July 28, 2021 0 Comments

Kontrol Rutin di RS Cicendo

Sudah hampir dua bulan Zauji tidak melakukan kontrol ke RS Cicendo. Kontrol bulanan yang sedianya dilakukan di minggu keempat bulan Juni tertunda karena kami sekeluarga mendapat ‘giliran’ terkonfirmasi Covid 19 sehingga pemulihan pasca Covid menjadi pilihan utama.

 

Mampir yuks : Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Komorbid Diabetes dan Orang Yang Sudah Divaksin...Part 1

 

Setelah tak lagi mengalami gejala dan swab antigen dipastikan negatif, kami mulai menjadwal ulang kontrol rutin kami dengan sebelumnya memperpanjang rujukan di faskes 1 dan 2 terlebih dahulu. Karena sudah menjadi pasien tetap, perpanjangan rujukan di faskes 1 tidak perlu waktu lama. Hasil pemeriksaan di faskes 2, RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) menunjukan ada penurunan jarak pandang. Hal ini memang sesuai dengan apa yang Zauji rasakan sejak terpapar Covid 19, jarak pandang jauh berkurang namun Alhamdulillah tidak blank sama sekali.

 

Kontol rutin bulanan jatuh pada hari Rabu agar kami bisa bertemu dengan Prof. dr. Arief. S. Kartasasmita, Sp.M(K) di klinik pavilium. Qodarullah, hari itu kami bertemu kembali dengan dr. Made Indra Widyanatha, SpM (K).


Pemeriksaan Visus

Hasil pemeriksaan visus menunjukan adanya kenaikan tekanan bola mata kanan yang mencapai 27 dan penurunan penglihatan yang signifikan sesuai yang disampaikan dokter Novi di RS MAL. Alhamdulillah mata kiri dalam kondisi baik.


Pemeriksaan kali ini dilakukan berbeda, dokter Indra menyatakan ada jejak diabetes di mata kanan Zauji sehingga dimungkinkan penurunan penglihatan disebabkan diabetes. Selama terpapar Covid 19, gula darah Zauji memang naik drastis meski asupan makanan hanya 3 - 4 sdm makan saja. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan darah (gula darah puasa, gula darah PP dan HbA1C) dan OCT.

 

Karena tidak bersiap (baik belum berpuasa 10 jam sebagai syarat pemeriksaan darah), kami juga tidak mempersiapkan dana lebih. Sebetulnya Zauji dijadwalkan kontrol di poli reguler BPJS minggu depan namun agar dapat berkonsultasi lebih banyak kami memutuskan untuk konsul di klinik paviliun dan tentunya segala biaya ditanggung secara mandiri. Biaya pemeriksaan darah mencapai 500rb an, sedangkan OCT sekitar 600rb. Dokter tidak memaksa untuk melakukan pemeriksaan segera karena tentunya biaya yang diperlukan tidak sedikit. Namun dengan pertimbangan, hasil akan langsung dapat dikonsultasikan dengan dokter konsulen seperti dr. Indra, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pemeriksaan keduanya di klinik paviliun.


Hasil Pemeriksaan Laboratorium dan OCT

Kami kembali keesokan harinya. Pemeriksaan darah dilakukan 2 kali, 1x gula darah puasa, setelahnya Zauji sarapan dengan bekal yang kami bawa lalu kembali melakukan pemeriksaan gula darah 2 jam PP (post prandial = setelah makan). Sementara menunggu hasil, Zauji melakukan pemeriksaan Optical Coherence Tomography (OCT).


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 9..OCT



Meski waktu masih menunjukan jam 8 kurang, ruang tunggu laboratorium dipenuhi pasien dan keluarga yang sedang menunggu antrian atau hasil pemeriksaan. Beberapa diantaranya melakukan swab antigen sebagai persyaratan pra operasi.

Pemeriksaan OCT dilakukan oleh perawat yang sudah mengenal kami selama hampir dua tahun ini. Sambil melakukan pemeriksaan, kami saling bertukar kabar. Pemeriksaan dilakukan berulang karena Zauji kesulitan memfokuskan mata kanan mata titik yang ada pada alat. Hal ini normal bagi pasien dengan penurunan penglihatan (kerusakan retina atau papil). Hasil pemeriksaan dicetak dalam berlembar-lembar kertas.

 

Karena sudah terdaftar di hari sebelumnya, kami hanya melaporkan kepada bagian pendaftaran saja. Dari hasil pemeriksaan lab, gula darah Zauji (10 jam puasa dan 2 jam PP) tidak terlalu tinggi untuk pasien diabetesi, <200. Nilai HbA1C pun ada di angka, cukup bagus bagi Zauji yang pernah mencapai nilai 12 3 tahun yang lalu. Saya pun menyampaikan selama pemulihan pasca terpapar Covid 19, Zauji belum melakukan diet diabetes lagi karena target kami memulihkan kondisi dulu sehingga asupan karbohidrat belum diganti kembali menjadi nasi merah. Selain itu olah raga dan shaum sunnah yang biasa nya dilakukan Zauji juga kami skip hampir 1 bulan.


Adapun hasil OCT menunjukan ada bagian retina yang belum menempel kembali meski silikon HD sudah terpasang lebih dari 1 tahun. Hal ini dimungkinkan karena syaraf mata sudah kaku. Evakuasi silikon bukan menjadi pilihan yang tepat karena dikhawatirkan retina yang sudah menempel akan lepas kembali. Saat ini, meski mengalami penurunan penglihatan, kondisi Zauji dalam keadaan stabil sehingga bukanlah hal yang bijaksana ‘mengobrak-abrik’ kondisi yang sudah ada.


Menunda Evakuasi Silikon

Untuk sementara, kontrol rutin bulanan menjadi opsi terbaik untuk mengobservasi kondisi Zauji, terutama tekanan matanya. Saat ini dokter hanya memberikan resep Timol dan Glaupen untuk menurunkan mata serta mengingatkan Zauji agar selalu mengontrol gula darah.

 

Ikhitiar langit lah menjadi satu-satunya harapan. Apapun yang Allah berikan, insya Allah selau yang terbaik. Meski manusia beriktiar dengan jalan maksimal, dokter terbaik, rumah sakit terbaik, peralatan dan obat terbaik, namun bila Allah belum berkehendak...semoga menjadi jalan kebaikan dan dan amal sholeh.

 

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Bersyukur di segala keadaan.


Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Orang Yang Sudah Divaksin

July 09, 2021 0 Comments

Momentum Luar Biasa

Akhir bulan Juni, sepertinya menjadi momentum yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Saat itu, pemerintah mulai melakukan pembatasan kegiatan karena lonjakan kasus Covid 19. Kewaspadaan lebih meningkat dibanding biasanya. Berawal di minggu ketiga di bulan Juni, saya merasakan gejala flu seusai rentetan aktivitas di kantor. Satu yang saya ingat, di hari itu saya menikmati satu cup mocca float, favorit saya untuk meredakan haus di tenggorokan saya. Mendung seakan menggelayut di langit kota Bandung membuat udara menjadi lebih dingin dan berangin dari biasanya.


Keesokan harinya, badan saya mulai terasa tak enak dan kehilangan selera makan. Badan dan kepala terasa berat. Meski demikian saya masih bekerja seperti biasa karena ada hal yang tak bisa ditinggalkan. Hari berikutnya panas badan saya naik mencapai 38°C dan rasanya saya sudah tak kuat lagi untuk bergerak dan memilih untuk 'mengalah' meninggalkan pekerjaan yang seharusnya saya tuntaskan. Istirahat dengan tuntas adalah jalan saya untuk meredakan flu.


Mengira hanya terkena influenza karena tanda gejala Covid 19 seperti mual, diare, batuk dan sesak tidak muncul, saya masih menunda berobat sampai hari ke 4 dan hanya minum paracetamol untuk menurunkan demam. Biasanya, paracetamol bekerja efektif untuk menurunkan demam tinggi seperti gejala typhoid yang biasa saya idap. Saat berobat, dokter menyatakan saya tidak perlu diswab kecuali panas dan pilek tetap berlanjut beberapa hari ke depan. Selama sakit, tentu saja Zauji yang menemani saya, memastikan saya istirahat dan makan cukup. Kamipun berinisiatif menggunakan masker meski di dalam rumah karena khawatir Ibunda Zauji dan satu ponakan kami yang sedang School From Home tertular juga. Alhamdulillah di hari ke 5, suhu badan saya turun, kondisi badan membaik dan hidung saya tidak lagi 'meler'. Selera makan sudah kembali  sehingga saya bisa menambah asupan makanan lebih dari biasanya untuk memulihkan kondisi. 


Tak dinyana, di hari ke-6, Zauji tiba-tiba demam tinggi. Berbeda dengan saya yang mengalami pilek, tidak ada gejala lain yang dirasakan Zauji selain badan yang terasa sakit. Selain saya dan Zauji, ada 2 anggota keluarga kami yang sakit dalam waktu bersamaan dan sering berkunjung ke rumah kami. Saat itulah, saya menyadari indera penciuman menghilang. Minyak kayu putih dan balsem yang biasa kami pakai untuk menghangatkan badan tak lagi tercium aroma apapun. Meski terasa membaik namun terkadang rasa lelah dan pusing masih sering muncul.


Konfirmasi Positif Covid 19

Dokter umum menyatakan Zauji hanya terkena flu namun anehnya kondisi semakin memburuk. Di hari berikutnya Zauji muntah tak henti sehingga tepat tengah malam kami inisiatif langsung ke IGD RS terdekat. Karena gejala yang muncul mirip dengan gejala Covid 19, dokter menyarankan agar Zauji melakukan swab antigen. Sebetulnya saya sedikit takut untuk jujur bila saya pun seminggu ini mengalami gejala yang sama. Selama menunggu Zauji dan berbicara dengan dokter, saya sadar diri untuk duduk berjauhan dan menjaga jarak dengan dokter dan perawat yang sedang bertugas. Namun dokter menyakinkan, kalaupun hasil swab antigen positif, kami ‘tidak akan diapa-apakan’ alias dokter tidak akan marah atau menghakimi kami. Dan bila gejala masih terbilang ringan, kami hanya diwajibkan isolasi mandiri di rumah. Dokter pun menyatakan, banyak orang yang melakukan swan antigen dan terkonfirmasi positif sehingga kondisi yang 'mungkin' saja nanti kami alami bukan lagi menjadi hal tabu atau aib. Dan benar saja, saat mendaftar di laboratorium, saya bisa melihat list orang-oranng yang melakukan swab antigen dan terkonfirmasi positif. Bahkan meski saat itu dini hari, masih banyak orang yang datang untuk melakukan swab antigen secara sukarela.

 

Saya pun melakukan swab antigen terlebih dahulu. Hanya berselang 15 menit, perawat menunjukan hasilnya. Meski terlihat samar, namun perawat menyatakan saya terkonfirmasi positif. Saya menyampaikan bahwa sebetulnya gejala sudah saya rasakan dalam seminggu namun sudah jauh berkurang, mungkin juga karena beberapa hari saya fokus bergantian menjaga Zauji. Dokter menyatakan gejala yang saya alami bisa jadi lebih ringan disebabkan karena vaksinasi yang sudah saya dapatkan.

Setelah Zauji tenang, saya membujuk Zauji untuk melakukan swab antigen juga. Dan ternyata tak dalam hitungan detik, swab antigen Zauji menunjukan hasil yang sama. Tidak ada yang bisa kami lakukan, dokter hanya memberikan resep obat dan menyarankan kami untuk segera lapor ke puskesmas terdekat dan RT setempat serta melakukan isolasi mandiri di rumah.

  • Hasil swab antigen Zauji

Lapor!!!

Sebagai warna negara yang taat aturan, keesokan harinya kami segera lapor langsung ke puskesmas kelurahan dan RT. Ternyata, pasien Covid 19 tidak mendapat pelayanan di puskesmas langsung tapi lapor melalui whatsapp. Satgas Covid 19 mendata kami sekeluarga dengan melampirkan foto KTP, hasil swab antigen positif dan menyertakan data seperti usia, gejala dan riwayat komorbid. Setiap KK yang sedang isoman mendapat satu orang pengawas yang akan memonitor kesehatan kami setiap hari. Karena hanya 3 orang yang bersedia diswab, ponakan kami yang tinggal di rumah melakukan swab antigen susulan karena merasakan gejala pusing sehari sebelumnya dan ternyata terkonfirmasi positif pula, maka hanya 3 orang yang dilaporkan kepada Satgas. Sementara Ibunda yang dimaklumi menolak swab antigen karena lansia diikutkan dalam isoman selama 14 hari karena mulai merasakan pusing dan lemas.






Zauji pun melaporkan kondisi kami kepada pihak RT. Meski ada saja yang menyarankan kami untuk diam-diam saja dan beraktivitas seperti biasa, namun saya tetap bersikeras. Terpapar Covid 19, bukanlah aib, dengan melapor, lingkungan bisa lebih waspada dan tentunya bagi saya sekeluarga akan lebih mudah mendapat bantuan di saat darurat seperti bila harus dirujuk ke RS karena masuk dalam pendataan.


Saat itu juga, saya mengabari keluarga inti kami. Tak lupa, saya mengabari pimpinan di kantor dan teman-teman yang masih beraktivitas dan bertemu saya di saat awal saya terkena flu. Alhamdulillah, usai kegiatan kantor, semua teman saya melakukan swab antigen dan tidak ada yang terpapar.


Isolasi Mandiri

Karena kondisi saya lebih baik daripada yang lain, gejala seperti kepala terasa berat dan lemas yang sesekali muncul terutama saat saya kelelahan, saya lah yang lebih aktif berkomunikasi dengan banyak orang termasuk memastikan ada yang mensuplai kebutuhan kami selama isoman. Alhamdulillah kerabat dan teman sangat banyak membantu dan ‘gercep’ menyediakan kebutuhan harian dan lainnya. Di hari kedua terkonfirmasi, meski tak kemana-mana, makanan, obat, vitamin dan lainnya sudah tersedia di rumah dalam jumlah berlimpah, termasuk resep dokter yang ditebus teman-teman kantor. Saya pun menutup pintu bagi siapapun yang berkunjung termasuk pihak RT dan kelurahan yang memberikan bantuan ke rumah. Semua hanya diberi akses sampai teras saja, termasuk pengantar paket yang hampir setiap hari mengirimkan bala bantuan.

 


Saya pun berkonsultasi dengan seorang teman yang terlebih dahulu sembuh dari Covid 19 terutama memastikan pengalaman sebagai penyintas Covid 19 yang mempunyai komorbid. Ternyata gejala yang dirasakan plek ketiplek dengan Zauji, panas tinggi dan sekujur badan sakit. Saya juga berkonsultasi dengan teman penyintas Covid yang isoman dengan lansia.


Bidan Endah, nakes pengawas keluarga kami sangat baik dan bersedia dikontak kapan pun mengingat ada pasien komorbid dan lansia di rumah kami. Beliau juga menawarkan untuk melakukan PCR dan obat-obatan gratis yang harus kami bawa sendiri ke puskesmas. Karena tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan,  Bidan Endah menyampaikan bahwa obat dan vitamin seperti vitamin D, vitamin E, vitamin C, Zink, dan antivirus (hanya saya yang minum) yang ada di rumah sudah cukup untuk kami.


Meski di awal kami masih bisa bercanda, namun ternyata hari-hari berikutnya lebih ''mencekam''.

 

Bagaimana kisah kami selama isoman?


Mampir yuks di Pengalaman Terpapar Covid 19 bagi Komorbid Diabetes