Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ablasio Retina di Pusat Mata Nasional : RS Cicendo

March 31, 2021 2 Comments

Alhamdulillah ala kulli hal.

Bersyukur di setiap keadaan.

Itulah yang saya rasakan saat Zauji didiagnosa ablasio retina hampir dua tahun silam. Selama itu pula lah, kami berdua saling menguatkan komitmen niat kami berumah tangga hanya karena Allah semata.

 

Ablasio Retina

Ablasio retina adalah kondisi lepasnya retina yang menyebabkan hilangnya penglihatan. Kondisi ini berawal dari munculnya serabut halus yang hanya bisa Zauji lihat dan rasakan. Awalnya Zauji hanya berniat memanfaatkan layanan BPJS untuk mengganti kacamata minusnya. Pemeriksaan ini tentunya tidak bisa dilakukan di faskes (fasilitas kesehatan tingkat 1) sehingga klinik faskes 1 memberikan rujukan untuk pemeriksaan di faskes 2 yaitu RS Mitra Anugerah Lestari (MAL). RS MAL sebetulnya bukan RS besar dan populer di daerah kami, namun karena pasien yang tidak terlalu banyak dan pengurusan administrasi BPJS yang lebih mudah membuat kami berdua lebih sering berobat kesana.


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

 

Awalnya dokter spesialis mata memberikan rujukan untuk konsultasi di RS Cicendo, saat itu ablasio retina belum terjadi, namun karena pengalaman masa kecil saya saat berobat di RS Cicendo tidak mengesankan, rujukan itu diubah menjadi Bandung Eye Center (BEC) yang ternyata bisa dipilih sebagai faskes 2. BEC sendiri merupakan RS swasta yang menerima pasien BPJS. Pendaftaran pasien BPJS terpisah dari pasien umum namun pasien BEC tetap dilayani dengan pelayanan prima. Qodarullah, retina Zauji terlanjur lepas sehingga BEC langsung memberikan rujukan ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) RS Cicendo.


Pusat Mata Nasional, RS Cicendo

Pusat Mata Nasional, RS Cicendo merupakan RS terakreditasi internasional dan menjadi rumah sakit pendidikan dengan akreditasi paripurna. Di luar dugaan, pelayanan BPJS di RS Cicendo saya nilai sebagai pelayanan terbaik apabila dibandingkan dengan rumah sakit lain yang pernah saya kunjungi. Pelayanan di IGD di RS Cicendo jauh lebih cepat ditangani dengan minim pengurusan persyaratan yang biasanya memusingkan. Karena status darurat, hanya kartu BPJS yang menjadi pegangan saya dan pihak RS memperbolehkan persyaratan lain menyusul saat kami berobat di poli reguler.


Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Kanker Payudara : Masektomi dan Kemoterapi

Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1


Cara Pendaftaran Pasien BPJS

Umumnya, pasien BPJS yang tidak dapat ditangani di RS tipe C dan B di daerah masing-masing harus masuk lewat jalur pasien baru. Pada tahap ini, pasien diharuskan mengambil antrian secara manual karena data pasien belum tercatat dalam sistem RS. Namun, untuk kontrol selanjutnya pasien cukup mendaftar lewat whatsapp, aplikasi android atau entri data secara manual di mesin yang ada di lobi RS dengan bantuan petugas bagi pasien yang tidak memiliki telepon genggam berbasis android.

 

Alhamdulillah, Allah memudahkan ikhtiar kami selama melakukan pengobatan mata di Cicendo. Alur pelayanan yang mudah dan sistemik benar-benar membantu pasien agar lebih nyaman tak terkecuali pasien BPJS. Yang harus diperhatikan adalah rujukan yang masih berlaku (3 bulan) dan biasanya bagian administrasi  akan selalu mengingatkan tanggal terakhir rujukan.

 

Tahapan pertama, adalah melakukan pendaftaran yang disesuaikan dengan nomor loket, nomor pendaftaran dan jam yang telah diberitahukan saat mendaftar online. Jadi tidak ada pasien yang menumpuk, nomor kecil akan mendapat giliran mendaftar lebih awal. Karena Zauji merupakan pasien retina, kami selalu stand by di depan loket E. Saat pandemi Covid 19 sendiri, jumlah pasien dibatasi dan pasien hanya diperkenankan didampingi satu orang saja.


Pemeriksaan di Poli Retina

Selain pasien BPJS, pasien umum juga dapat berobat dengan alur yang sama namun pasien umum dikenakan biaya sebesar Rp.25.000. dari pendaftaran, kami langsung ‘meluncur’ ke poli yang dituju. Poli retina ada di lantai 3. Pasien akan dipanggil menuju ruang 2 untuk pemeriksaan visus (pemeriksaan gangguna refraksi mata seperti tekanan mata dll yang mengindikasikan katarak, glaukoma, ablasio retina dll). Selanjutnya pasien akan diperiksa oleh dokter di ruang 3. Biasanya dokter yang memeriksa adalah residen (calon dokter spesialis) atau fellow (calon dokter subspesialis, misalnya subspesialis retina). Apabila ada kondisi di luar normal, biasanya pasien dapat berkonsultasi dengan dokter kepala. Kami biasa menghabiskan waktu hampir seharian. Bila mendapat nomor antri <10, jam 12 kami sudah mengantri di apotek untuk mendapat obat.

 

Antrian di apotek memang lebih panjang karena pasien dari semua poli akan mengambil obat di apotek yang sama. Verifikasi data bagi pasien pengguna BPJS dilakukan terlebih dahulu. Obat yang tidak tersedia tentunya harus dibeli di luar apotek RS.

 

Apabila perlu tindakan lain (pemeriksaan lanjutan, rujukan ke poli lain seperti poli glaukoma/katarak atau persiapan pra operasi) dokter akan memberikan rujukan atau surat kontrol apabila pemeriksaan sudah selesai. Di tahap ini, pasien harus bersabar dengan yang antrian cukup lama karena perawat dan dokter tentunya tidak sebanding dengan jumlah pasien.

 

Seperti halnya prosedur sebelum operasi, pasien diharuskan melakukan pemeriksaan darah dan rontgen untuk dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam dan anestesi. Pendaftaran operasi baik untuk pasien BPJS atau pasien umum dilakukan di admission center. Bagi pasien BPJS, cukup menyerahkan kartu pasien dan surat pengantar operasi dari poli. Proses verifikasi BPJS tidak memakan waktu lama, petugas akan melakukan verifikasi dan mengisi formulir serta memberikan jadwal dan ketentuan operasi. Tentunya harus sabar ya karena (sekali lagi) fasilitas yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pasien sehingga dibuat antrian. Insyaallah, pasien kategori darurat baik BPJS atau umum akan mendapat prioritas. Biaya operasi ablasio retina bisa mencapai belasan juta di luar ruangan rawat inap dan lainnya.


Ruang Rawat Inap

Pasien harus kembali ke RS H-1 operasi, mendaftar di loket D, konsultasi di poli yang dituju (Zauji di poli retina) dan kembali ruang admission center untuk entri data lalu diantar ke ruang rawat inap sesuai kelas BPJS untuk beristirahat. Biasanya pasien harus menginap H-1 dan H+1 sehingga total 3 hari untuk lama rawat inap pasien operasi. Jangan khawatir dengan fasilitas kamar di RS Cicendo, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, RS Cicendo menjadi salah satu rumah sakit dengan pelayanan terbaik. Zauji sendiri menempati ruang Bougenvile untuk kelas 1 yang berada di lantai 3. Dalam satu ruangan, ada 2 bed yang terpisah tidak berdampingan dengan satu kamar mandi. Ada sofa yang bisa digunakan pendamping untuk istirahat, lemari dan kursi.

Rasanya semua kamar sudah kami tempati😑
 

Sampai saat ini, rujukan pengobatan mata Zauji terus diperpanjang setiap 3 bulan sekali. Di faskes 1, kami tak perlu lagi mengantri karena sistem sudah tercatat sehingga pihak klinik bisa langsung memberikan surat rujukan. Di faskes 2, RS MAL, biasanya kami menyempatkan diri untuk konsultasi dan diskusi dengan dr. Novi yang telah mendampingi Zauji selama hampir 2 tahun.


Alhamdulillah ala kulli hal.

Bersyukur di setiap keadaan.

Foto : Dokumentasi justmenong

Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Part 10

March 18, 2021 0 Comments

Papil Yang Pucat

Pemeriksaan dokter glaukoma menyebutkan bahwa dalam kasus Zauji, sebab memucatnya papil tidak bisa diketahui secara spesifik. Meski demikian dokter memberikan acc apabila bagian retina berencana melakukan evakuasi silikon. Kami pun kembali kebagian retina, dokter kepala bagian retina menyatakan silikon akan tetap dipertahankan karena kekhawatiran retina belum cukup kuat untuk menempel meski pada kenyataannya berdasarkan hasil OCT, kondisi papil mulai memburuk.


Untuk konsultasi lebih jelas, keesokan harinya kami kembali menemui Prof Arief. Beliau menyatakan kondisi menurunnya papil belum dapat dipastikan apakah dari silikon atau hal lain. Karena itu, dokter akan melalukan observasi selalu dua bulan untuk membandingkan hasil OCT bulan ini dan dua bulan berikut. Apabila ada perubahan penurunan yang signifikan maka dipastikan silikon oksana berpengaruh negatif terhadap kondisi papil.


Secara umum, kondisi ini jarang ditemui sehingga kasus Zauji bisa jadi menjadi kasus pertama yang menjadi rujukan kasus lain yang serupa. Menurut beliau, tidak banyak jurnal penelitian terkait dengan pengaruh silikon oksana terhadap papil karena secara teori silikon oksana akan dievakuasi setelah 3 bulan terpasang. Namun mengingat kasus Zauji yang sudah 7 kali operasi karena posisi retina yang terus menerus lepas pasca operasi, dokter mengambil keputusan di antara dua pilihan : retina menempel dengan bantuan silikon oksana namun kondisi papil menurun atau silikon oksana dievakuasi untuk menyelamatkan papil namun selalu ada kemungkinan retina lepas kembali.


Bagai Buah Simalakama

Keduanya bagai buah simalakama. Yang membedakan adalah kerusakan retina dapat diperbaharui selama retina dapat ditempatkan kembali ke tempat semula namun kerusakan papil bersifat irreversible artinya bila sudah mengalami kerusakan, tidak ada opsi untuk memulihkan kembali.

Kondisi papil yang menurun ditandai dengan mata kanan yang semakin buram, meski demikian Zauji tidak merasakan perbedaan yang signifikan karena sejak operasi ketiga, mata kanan memang sudah tidak berfungsi dengan baik.


Skenario Allah itulah selalu yang terbaik.


Itu yang selalu Zauji tanamkan kepada saya.


Apabila menurun atau bahkan menghilangnya penglihatan menjadi jalan Zauji lebih dekat dengan Allah, biarlah seperti itu karena apapun yang Allah berikan akan selalu menjadi yang terbaik bagi hamba-Nya.


Dua bulan berikutnya kami menjalani hari-hari dengan rutinitas biasa. Zauji masih setia mengantarkan saya beraktivitas. Tidak ada yang dibatasi kecuali kami menghindari bepergian dengan motor di malam hari. Dahulu kami punya jadwal touring mengunjungi  sanak saudara di berbagai kota, kini saya sendiri yang merasa lebih khawatir dan over protektif bila Zauji bepergian jauh meski sekedar antar jemput saya di kantor.


Bagaimana hasil kontrol selanjutnya?


Baca “Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Part 11...Hasil OCT Kedua"


Foto : justmenong