Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 4...Mencari Rumah Sakit untuk Kemoterapi

April 30, 2020 0 Comments
Setelah 10 hari rawat inap pasca masektomi, dokter mempersilakan Ibunda pulang dengan catatan perban luka diganti per tiga hari. Alhamdulillah, kami bertetangga dengan ibu bidan yang biasa mengurus luka. Sebetulnya, saya sendiri tidak berkeberatan mengganti perban setiap 3 hari namun waktu saya berbagi untuk menjaga Zauji yang juga sedang pemulihan pasca operasi.

Luka masektomi Ibunda ternyata dalam kondisi baik. Setelah melihat hasil patologi anatomi (p.a) masektomi, Richard menyarankan kemoterapi dilaksanakan sesegera mungkin. Meski tidak ada lagi sel kanker dalam bagian yang diambil namun bibit kanker sudah mencapai kelenjar getah bening di ketiak.

Awal Maret 2020, pembatasan sosial sebagai efek dari Covid 19 mulai terasa. Awalnya dokter merujuk RS Umum Pusat Hasan Sadikin sebagai tempat kemoterapi. Namun mengingat RSHS merupakan rumah sakit rujukan Covid 19 untuk daerah Jawa Barat maka saran tersebut saya tolak. Dokter menyarankan saya mencari rumah sakit lain.


Berpacu dengan waktu karena saya tidak mau Ibunda menunggu pengobatan selanjutnya terlalu lama, saya mulai berkeliling mencari rumah sakit yang mempunyai fasilitas kemoterapi. Kali ini saya sendiri karena Zauji masih dalam pengobatan pasca operasi sehingga tidak bisa mengantar saya bepergian.

Baca : Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 3...Operasi Berikutnya

Rumah sakit pertama yang saya tuju adalah RS Santosa Kebon Jati. Informasi yang saya dapatkan kemoterapi bagi peserta BPJS hanya ditanggung sebanyak 30%. Sebetulnya saya dan Zauji berkomitmen akan melakukan apapun demi kesembuhan Ibunda namun kamipun harus realistis karena biaya yang diperlukan dalam 1x proses kemoterapi berkisar 10 juta sehingga total untuk 1 paket kemo yaitu 6x kemo berkisar 60juta.

Dibantu salah seorang kerabat, kami berkeliling mencari rumah sakit lain. Fasilitas kemoterapi memang tidak tersedia di banyak rumah sakit, selain Rumah Sakit Santosa Kebon Jati, RS Al Islam di Jalan Soekarno Hatta No 644, Bandung juga memiliki fasilitas kemoterapi bagi peserta BPJS namun dalam kondisi pandemi Covid 19, fasilitas kemoterapi tutup untuk batas waktu yang tidak ditentukan demikian pula dokter onkologi (dokter spesiliasi kanker).

Di tengah kegundahan saya mencari rumah sakit yang masih menerima kemoterapi, Allah menuntun saya untuk bertemu dengan seorang grab driver perempuan yang Qodarullah mempunya seorang teman pengidap kanker payudara seperti Ibunda yang saat itu sedang menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo Bandung, Jalan Raya Kopo No 461 - 463, Bandung. Teh Ratu, demikian beliau disapa kemudian memberikan arahan bagaimana saya bisa mendaftarkan Ibunda untuk menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo dan proses apa saja yang harus dijalani.

Tak menunggu lama setelah saya mendapatkan surat rujukan dari RS Ujungberung Bandung, saya melengkapi semua berkas yang diperlukan. Langkah awal adalah konfirmasi dari bagian BPJS apakah Ibunda dapat menggunakan fasilitas BPJS untuk menjalani kemoterapi di RS Santosa Kopo. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 3 hari. Sebenarnya secara pribadi, pembiayaan BPJS setiap bulannya lancar tanpa tunggakan namun tetap saja saya dag dig dug menunggu kabar dari pihak BPJS.

Akhirnya proses ACC selesai juga dan pihak BPJS menyatakan ajuan Ibunda diterima serta BPJS menanggung penuh (100%) biaya kemoterapi. Tahapan selanjutnya adalah pendaftaran ke klinik bedah onkologi. Dan ternyata, klinik bedah onkologi baru akan dibuka minggu berikutnya setelah hampir 2 minggu libur selama awal masa PSBB di kota Bandung. Ibunda mendapat nomor antrian ke 104 dan disarankan datang setelah magrib karena klinik baru dibuka jam 16.00 WIB.

Selanjutnya : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 5...Persiapan Kemoterapi

Pengalaman Operasi Ablasio Retina..Perjuangan itu Dimulai..Part 4...Operasi di Tengah Pandemi Covid 19

April 29, 2020 0 Comments
Keesokan harinya, dokter melakukan observasi kembali. Saat observasi inilah akhirnya pertanyaan kami terjawab. Bubble yang kami lihat sebelumnya ternyata gas CF6 yang mustinya tidak bergerak ke arah depan. Seharusnya gas berada di bagian belakang mata dan menekan retina agar kembali ke posisinya. Karenanya, pasien harus telungkup dengan posisi ekstrim. Kepala menggantung di pinggir bed sehingga diharapkan gas akan bergerak ke belakang menekan retina. Dokter menginstruksikan agar observasi dilakukan di rumah sakit dan bila keadaan tidak membaik operasi berikutnya akan dilakukan 2 hari kemudian.
Ablasio Retina
Berpasrah kepada keputusan dokter, kami melanjutkan observasi di rumah sakit. Ada hal tak diduga saat menjelang operasi. Tekanan mata kiri (bukan mata yang akan dioperasi) Zauji tiba-tiba saja tinggi, 26 mmHg. Sebuah tanda bahaya pertanda glaukoma sekunder. Alhamdulillah, RS Cicendo sebagai Pusat Mata Nasional memang menjadi tempat terbaik bagi kami berikhtiar. Satu jam menjelang masuk ruang persiapan operasi, Zauji dirujuk ke klinik glaukoma dan diperiksa dokter subspesialis glaukoma. Alhamdulillah tekanan mata kiri Zauji kembali normal meski tanpa diberi perawatan apapun sehingga Zauji dapat dioperasi sesuai jadwal.

Operasi keenam dilakukan dengan bius total dengan pemasangan silicon oil 5000 cSt yang ditambahkan. Berkaca dari operasi sebelumnya, kami meminta dokter meresepkan obat penurun tekanan mata, obat lambung dan anti mual untuk Zauji.

Tak dapat dipungkiri, 3 operasi dalam waktu 2 minggu membuat kami lelah baik secara fisik maupun psikis namun ikhtiar maksimal sembari bertawakal kepada Allah adalah satu-satunya jalan yang kami lalui karena sejatinya Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan kami.

Karena seluruh rumah sakit mulai melaksanakan protokol pencegahan penyebaran Covid 19 dan daerah Bandung Raya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di akhir bulan April 2020, selama pasien tidak dalam kondisi darurat disarankan untuk berobat atau kontrol dalam rentang waktu yang lama. Kami pun berinisiatif kembali kontrol ke dokter sebelum masa PSBB dimulai. Setelah memastikan kondisi cukup baik meski ada indikasi silikon yang sedikit terangkat, dokter hanya memberikan obat tetes dan vitamin hingga batas waktu aman.

Menjelang bulan keempat pasca operasi, kami kembali melakukan kontrol karena sesuai jadwal, evakuasi silikon harus dilaksanakan dalam waktu 3 – 6 bulan pasca operasi pemasangan silikon.

Bagaimana selanjutnya?

Baca : “Ablasio Retina..Bentuk Kasih SayangAllah kepada Hamba-Nya...Saat Cinta Diuji”


Foto : klikdokter.com

Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 3...10 Hari di RSUD Ujungberung

April 01, 2020 0 Comments

Pasca masektomi, tindakan operasi pengangkatan payudara kiri, Ibunda harus tetap dirawat selama 10 hari untuk dilakukan observasi guna memastikan kondisi pasien stabil. Perawat rutin melakukan pengecekan suhu dan tekanan darah. Dokter Richard memeriksa setiap pagi untuk memastikan Ibunda dalam kondisi baik. Selama 3 hari Ibunda tidak diperkenankan turun dari tempat tidur karena kondisi masih lemas dan sering pusing. Selang kateter tetap terpasang dan menggunakan pampers di malam hari. Selain selang infus, selang yang terpasang dalam jahitan juga menghambat aktivitas. Selang ini berfungsi mengeluarkan darah kotor dari bekas operasi. Hingga hari ke 4, tabung penampung darah kotor masih bersih namun di hari ke-5 darah kotor mulai mengalir turun karena Ibunda sudah diperkenankan untuk bolak-balik ke kamar mandi.

Setiap pagi perawat menaruh baskom kecil aluminium dan lap basah untuk mandi pasien. Karena sudah diperkenankan ke kamar mandi, Ibunda lebih memilih mandi sendiri karena kondisi badan akan terasa gerah tidak terkena air seharian. Yang terpenting, selang penampung dijaga agar tidak lepas. Ibunda juga tidak dipantang untuk makan apa saja yang disukai meskipun ahli gizi rumah sakit menyarankan untuk makan dari rumah sakit saja agar terjaga higienitasnya.

Gambaran Kanker Payudara

Meskipun perawat selalu memastikan kondisi pasien namun hendaknya pihak keluarga juga turut memperhatikan. Beberapa hari pasca operasi, suhu tubuh Ibunda saya rasakan agak sedikit naik sehingga saya berinisiatif untuk melaporkan ke perawat agar segera disampaikan kepada dokter. Dr. Richard pun memberikan obat penurun panas dan mewanti-wanti apabila panas tidak turun lepas dari 3 hari, harus segera dilaporkan kepada perawat. Alhamdulillah suhu kembali normal setelah 2 hari minum obat.


Hasil patologi masektomi baru bisa diketahui 2 minggu pasca operasi, namun dokter menjadwalkan rontgen dan USG abdomen untuk memastikan sel kanker apakah sudah menyebar ke paru-paru dam limpa atau tidak. Dokter menyatakan pada umumnya, kanker payudara akan menyebar terlebih dahulu ke organ terdekat yaitu paru-paru dan berikutnya limpa sebelum menyebar ke organ lain. Alhamdulillah kedua hasil pemeriksaan bagus dan tidak ada tanda penyebaran.

Melihat kondisi Ibunda yang tetap sehat dan segar pasca masektomi membuat banyak orang tak percaya bila Ibunda menderita kanker. Inilah salah satu yang kami syukuri karena sejauh ini kondisi masih prima. Selain berobat medis, kami juga berikhtiar melalui pengobatan herbal.

Baca : Testimoni Obat Herbal untuk Kanker Payudara 

Tak terasa, sudah hampir 10 hari kami berada di RSUD Ujungberung. Hari ke-8 dokter sudah mengijinkan selang penampung darah kotor dicabut. Meski penampung berisi banyak namun dilihat secara kasat mata dianggap normal dan tidak ada hal yang diluar kewajaran. Perban sudah diganti sebanyak dua kali dan perawat menyatakan luka bersih dan kering. Waktu luang kami gunakan untuk bercerita karena menjelang kepulangan, RS sudah mulai menerapkan kunjungan pasien ditiadakan untuk mencegah penyebaran Covid 19

 

Bagaimana hari-hari selanjutnya pasca masektomi?

Baca : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 4...Mencari Rumah Sakit untuk Kemoterapi


Foto : https://www.mountelizabeth.com.sg/