Selasa, 20 Februari 2018

Menikmati Sejuknya Hutan Kota, Babakan Siliwangi

Februari 20, 2018 0 Comments

Rasanya sudah lama sekali saya memendam keinginan untuk menikmati hutan kota Taman Babakan Siliwangi atau lebih dikenal dengan sebutan Baksil. Meski 2 tahun lebih menghabiskan banyak waktu di daerah Jalan Ganesha, tak pernah sekalipun saya mampir di salah satu ruang terbuka hijau (Green Area Public) di kota Bandung yang sejak tahun 2011 dicanangkan sebagai hutan kota dunia oleh PBB.




Baksil sendiri merupakan kawasan lembah yang dibentuk sungai Cikapundung dan menjadi kawasan sabuk hijau kota Bandung sejak jaman Belanda. Sempat dilanda pro dan kontra beberapa tahun silam, kawasan yang akhirnya pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab pemerintah kota Bandung ini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata jalan-jalan sekaligus olah raga yang populer di kota Bandung.


Di kawasan seluas 8 hektar ini, bolangers dapat menyelusuri wahana khusus pejalan kaki sepanjang 2 kilometer sambil menikmati merdunya suara burung dan tupai yang melompat dari dahan ke dahan. Forest walk ini membentang dari Jalan Siliwangi hingga kawasan Jalan Tamansari dengan suasana hutan yang segar. Dilengkapi dengan bangku taman untuk sekedar tempat rehat dan bercengkrama bersama keluarga atau teman.

Istirahat sejenak
Pintu gerbang utama Baksil terletak di Jalan Siliwangi. Bila belum sempat sarapan, bolangers dapat menikmati jajanan di warung-warung yang berderet rapi dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tidak ada tiket masuk, bolangers hanya perlu menyiapkan uang parkir. Tempat parkir yang cukup luas tersedia untuk mobil dan motor.
Jajanan serba ada😋


Lokasi Baksil berdekatan dengan Teras Cikapundung, Kebun Binatang Bandung, dan bolangers dapat melanjutkan jalan-jalan seru ke Punclut atau Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda dalam waktu setengah jam saja. Baksil juga berdampingan dengan sarana olah raga Ganesha (Saraga) yang dilengkapi dengan track atletik, lapangan sepak bola dan futsal, lapagan basket, voli dan tenis, fitnes center dan kolam renang.



Rindangnya pepohonan akan membuat bolangers terlupa kalau masih berada di tengah kota. Selamat jalan-jalan seru di jantung kota Bandung.


Referensi disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi pribadi

Sabtu, 10 Februari 2018

Lahang, Minuman Isotonik Khas Sunda

Februari 10, 2018 0 Comments
Saat jalan-jalan di car free day Dago, Bandung, bila beruntung bolangers bisa bertemu dengan penjual lahang, minuman khas sunda. Lahang terbuat dari nira atau air sadapan sari aren. Pohon aren atau enau atau Arenga pinnata banyak tumbuh di lereng gunung dan tebing sungai. 

Pohon ini berbatang tinggi tumbuh sampai 25 m dengan dengan batang kokoh berdiameter 65 cm. Pohon aren atau enau merupakan pohon palma yang memiliki banyak manfaat dari mulai daun, buah hingga batangnya. Secara alami, pohon aren mengeluarkan air manis dan banyak diolah menjadi gula aren. 

Bagian bunga jantan pohon aren disadap di pagi hari untuk dijadikan lahang. Lahang merupakan isotonik  tradisional yang mengandung sukrosa, protein, serat, asam amino dan vitamin. Lahang memiliki pH 8 – 9 dan akan semakin menurun atau menjadi asam saat didiamkan. 

Penjual lahang di Dago car free day
Lahang berwana agak keruh dan dijual dengan menggunakan bambu panjang atau lodong yang disangga di bahu sang penjual. Penjual lahang kini jarang ditemui, selain di Dago car free day, lahang juga dapat ditemui di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H.Juanda atau biasa disebut Dago Pakar.

Segelas lahang, penghilang dahaga

Nenek penjual lahang di Dago Pakar

Harga satu gelas lahang Rp.5.000….lumayan bisa menghilangkan dahaga karena airnya segar dan terasa manis. Namun bolangers harus berhati-hati, lahang yang didiamkan akan mengalami fermentasi dan menjadi khamr karena mengandung alkohol. Khasiat lahang diantaranya mengatasi sembelit, menurunkan demam, kesehatan tulang, melancarkan ASI, menyegarkan tubuh, menghangatkan badan.

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber.
foto : Dokumentasi Pribadi



Kamis, 01 Februari 2018

Gerhana Bulan Total, 31 Januari 2018

Februari 01, 2018 1 Comments
Di penghujung Januari 2018, langit Indonesia disapa gerhana bulan total. Gerhana bulan terjadi pada saat bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama sehingga cahaya matahari tidak sampai ke bumi. Hal ini disebabkan dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi dan bulan. Gerhana bulan hanya terjadi pada fase bulan purnama.

Gerhana Bulan (Sumber : bmkg.go.id)

Namun ada yang berbeda dengan gerhana bulan kali ini karena ada tiga fenomena alam yang terjadi sekaligus yaitu bluemoon, supermoon dan gerhana bulan total sehingga disebut pula Super Blue Blood Moon. Fenomena kombinasi gerhana bulan total dan bluemoon ini terjadi 152 tahun yang lalu tepatnya 31 Maret 1866.

Supermoon merupakan suatu fenomena bulan berada pada posisi terdekat dengan bumi sehingga nampak lebih besar (±14%) dan lebih terang (30%). Orbit bulan yang mengelilingi bumi tidak melingkar sempurna sehingga pada titik tertentu bulan akan berada dalam posisi terdekat dengan bumi.

Orbit bulan (Sumber : http://grup.infoastronomy.org)



Bluemoon merupakan istilah purnama terjadi dua kali dalam satu bulan kalender. Purnama pertama terjadi pada tanggal 1 Januari 2018 dan purnama kedua terjadi pada 31 Januari 2018 sehingga dinamakan bluemoon.

Umbra Gerhana Bulan (Sumber : arrahmah.com)


Bloodmoon merupakan penampakan bulan berwarna merah pada saat bulan ditutupi bayangan bumi akibat bulan lewat sepenuhnya ke umbra bumi. Umbra adalah bayangan yang terbentuk pada saat terjadi gerhana bulan. Warna merah sendiri berasal dari sinar matahari yang masuk ke atmosfer bumi dan berinteraksi dengan partikel sehingga memantulkan warna tertentu.

Gerhana bulan pada tanggal 31 Januari 2018 dimulai pada pukul 18.48 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 20.20 WIB dan berlangsung selama 4 jam. Gerhana bulan total yang terjadi kemarin merupakan gerhana bulan total terlama abad ini. Masyaallah



Red Moon


Jepretan gerhana bulan di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 31 Januari 2018, Canon SX530 HS

Gerhana bulan mengakibatkan pasang air laut mencapai maksimum dan bila cuaca buruk dapat menumbulkan gelombang tinggi dan banjir rob yang meluas semakin jauh ke daratan dan surut lebih lama.

Sebagai umat muslim tentunya menyakini fenomena ini merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan menyambutnya dengan menggelar shalat sunnah khusuf, berdzikir, memohon ampun kepada Allah dan bersedekah.

Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya bulan dan matahari adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakan shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari No 1044)


Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi by Donie, thx buat foto-foto cantiknya yaa