Menikmati Semilir Angin dengan Berkuda di Alam Bebas

November 15, 2019 0 Comments
Minggu lalu, saya dan Zauji berkesempatan ikut dalam pelatihan berkuda bersama Rabbanian Horse Adventure. Sebenarnya event ini dikhususkan untuk grup anak-anak sekolah yang sedang mengisi liburan dengan pesantren plus. Namun, masyarakat umum diperkenankan untuk turut serta dengan membayar harga tiket seharga Rp. 75.000 per orang. Peserta dapat berlatih sepuasnya didampingi instruktur dan pemandu berpengalaman.

Berlatih berkuda obsesi saya sejak dulu dan baru ada kesempatan tahun ini. Awalnya tempat berkuda akan digelar di Lapangan Jenderal Cikole, Lembang namun karena ada acara lain, tempat latihan berkuda dipindah ke daerah wisata alam Katumiri masih di daerah Cisarua.

Untuk mencapai lokasi, kami sengaja memilih jalur alternatif agar tidak terjebak macet di jalur utama Bandung – Lembang. Jalur yang kami pilih dari arah Bandung adalah jalur Taman Hutan Raya (Tahura) atau lebih dikenal Dago Pakar. Bersyukur kami melaju dengan menggunakan sepeda motor karena destinasi yang kami tuju ternyata tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Tak rugi pula karena sepanjang jalan kami disambut pepohonan yang rindang atau hamparan kebun di perbukitan yang menyejukan mata. Lokasi berkuda tak jauh dari gerbang masuk dan tempat parkir. Hanya perlu energi ekstra karena harus berjalan menanjak beberapa meter saja.




Berlatih berkuda tentu beda dengan wisata berkuda yang biasa bolangers temui. Jadi jangan membayangkan bolangers akan berkuda di lapangan berumput bersih tanpa ada terjalan apalagi jalanan beraspal. Sesuai dengan lokasinya, kami berkuda di area hutan. Kuda yang kami tunggangi adalah jenis kuda adventure yang gagah peranakan Arab dan Sumbawa. Jenis kuda ini dapat ditunggangi di segala kondisi, jalan setapak, hutan dan bahkan sungai sekalipun.

Jam 08.00 WIB, kami sudah stand by di lokasi dan disambut Tim Rabbanian Horse Adventure yang sedang memandu santri pesantren kilat yang mencoba terlebih dahulu. And what a surprise, sebagian besar tim ternyata akhwat, awesome!

Sebelum dimulai, owner Rabbanian Horse Adventure, Ustadz Dian Akhdian, terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai sunnah berkuda, manfaat dan teknik berkuda. Seperti saya yang belum pernah naik kuda dalam kondisi medan terjal, beberapa anak juga nampak ketakutan saat pertama kali mencoba. Kami pun diperkenan memilih kuda yang kami sukai.

Pertama kami diajari bagaimana cara naik, belok kanan, belok kiri, menambah kecepatan dan berhenti. Lalu kami mencoba nya di track lurus selama beberapa kali dengan didampingi pemandu. Setelah dirasa cukup berani, peserta mulai dipandu menuju track yang berliku setelah itu baru dilepas untuk mencoba berkuda tanpa didampingi pemandu menikmati semilir angin di antara pepohonan.

Satu hal yang saya sadari kemudian, ternyata berkuda itu menyenangkan. Sensasi berkuda di alam bebas tentunya berbeda dengan berkuda di jalanan atau lapangan terbuka. Ustadz Dian Akhdian pun sempat menjelaskan salah satu hikmah berkuda adalah sangat baik untuk kesehatan reproduksi wanita karena saat duduk di atas pelana, panggul akan ikut bergerak seiring dengan gerakan langkah kaki kuda.

Bagaimana dengan kekhawatiran terjatuh dan terguling? Dari penjelasan, ternyata kuda memiliki mekanisme untuk menahan tubuh agar tetap seimbang meski medan berkelok dan terjal. Hal ini lah yang menerangkan bahwa jalanan beraspal sebenarnya tidak baik bagi kuda karena tidak ada gaya gesek yang bisa mencengkeram saat kaki kuda terpeleset.

Pelatihan berkuda ini memiliki level yang dapat diikuti peserta untuk mencapai tingkat mahir. Salah satu kegiatan di level tertinggi adalah kegiatan adventure menyusuri lembah, hutan dan sungai tentunya tanpa pemandu.
Awalnya Ustadz Dian Akhdian memiliki kuda sendiri namun saat ini kuda untuk pelatihan dipinjam dari pemilik per orangan.

Tak terasa sudah menjelang adzan dzuhur. Badan saya juga sudah mulai terasa pegal karena naik turun pelana. Namun tak dapat dipungkiri, saya suka berkuda, selain bisa menjadi salah satu sarana berolah raga dan memacu andrenalin saat melintasi medan yang penuh tantangan, berkuda juga penuh manfaat. Alhamdulillah, rasanya tak sabar menunggu waktu berikutnya.


Foto : Dokumentasi pribadi

Curug Seribu Tangga...Curug Cimahi

September 23, 2019 0 Comments
Meski saya sering bepergian, saya bukanlah pecinta kegiatan outdoor. Beberapa spot outdoor yang saya kunjungi selain karena urusan pekerjaan juga karena rasa penasaran akan hal baru. Namun kali ini, saya dan suami tak sengaja menjajal spot outdoor yang bisa dijangkau hanya dengan sepeda motor. Terletak di Jalan Raya Kolonel Masturi (Kolmas), kota iImahi, bolangers tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi tempat ini karena tepat di pinggir jalan raya.

Dalam bahasa sunda, curug berarti air terjun. Air terjun ini berada di ketinggian 1050 m dpl (di atas permukaan laut) dengan ketinggian 87 meter. Curug Cimahi memiliki keunikan tersendiri karena diapit oleh jalan raya yang menjadi jalur alternatif antara Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung (Lembang).

Curug CImahi


Bolangers hanya perlu petunjuk arah sampai Terminal CIsarua karena pintu masuk Curug Cimahi berada tepat di sebelah terminal. Cukup merogoh kocek Rp. 20.000 per orang, keindahan Curug Cimahi tak jauh dari mata.

Meski diapit jalan raya yang banyak dilalui orang, spot air terjun harus ditempuh dengan ekstra. Bila destinasi alam pada umumnya ditempuh dengan jalan kaki berkilo-kilo meter, Curug Cimahi cukup dituju dengan menuruni anak tangga dengan pemandangan yang asik dan instagramable. Karena datang di pagi hari, dingin khas pegunungan ±15°C dan sinar matahari yang menerobos pepohonan menyapa kami.
Spot istirahat dan berfoto


Sedikit saltum karena tidak berencana mengunjungi wisata alam, Curug Cimahi pasca renovasi di tahun 2014 ini memang layak menjadi tempat wisata baru favorit baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Meski lelah karena menuruni anak tangga tak berujung, beberapa spot pemberhentian bisa bolangers pakai sebagai area istirahat sambil berfoto dengan latar belakang alam yang eksotis. Curug yang dikelola Perhutani Divre Jawa Barat ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana dan terjaga kebersihan dan kenyamananya.

Bila bolangers ingin melihat pertujukan air terjun pelangi (rainbow waterfall), bolangers disarankan berkunjung menjelang sore dan malam hari. Dan jangan lupa bila bolangers mengendarai motor, jangan menggantungkan makanan di motor karena Curug Cimahi masih menjadi habitat monyet yang bebas berkeliaran.


Habitat Monyet

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi pribadi

Menilik Jejak Majapahit di Tulungagung, Jawa Timur

January 13, 2019 0 Comments
Menjelang akhir tahun 2018, saya berkesempatan mengunjungi kota Tulungagung, kota di pesisir Jawa Timur, ±150 km dari Surabaya. Tiba di Bandara Juanda, Surabaya hampir jam 11 malam, kami meluncur langsung melalui Kota Kediri dengan perkiraan kami akan tiba di Tulungagung dini hari.

Tengah malam, kami mampir di Ayam Lodho Pak Yusuf. Rumah makan ini terletak di daerah Pogalan, jalan raya yang menghubungkan Trenggalek dan Tulungagung. Ditemani segelas teh yang super manis (untuk saya yang tidak terbiasa), kami tak bisa menahan diri dari ayam lodho yang menggoda selera. Bukan sembarang ayam, ayam lodho dibuat dari ayam kampung muda yang direbus, dibakar dan dikukus kembali sebelum diungkep lengkap dengan bumbunya. Kuah ayam lodho terbuat dari santan kanil (santan kental) dan sisa minyak ayam serta ditambah cabai rawit domba utuh. Rasanya…hmmmm…yummy….


Di sudut malam 


Meski hanya berkesempatan berkeliling dalam satu hari saja, kota penghasil marmer terbesar di Indonesia ini layak menjadi tujuan berlibur. Suasana Tulungagung tidak terlalu ramai dan suasana pedesaan masih terasa. Bolangers bisa menjadikan Tulungagung menjadi alternatif wisata karena banyaknya destinasi yang bisa dikunjungi dari mulai peninggalan bersejarah, agrowisata, air terjun di pegunungan hingga pantai.


Candi Sanggrahan
Keesokan harinya, saya diajak mampir ke Candi Sanggrahan (Candi Cungkup atau Candi Proetoeng), candi yang dibangun pada jaman Majapahit masa pemerintahan Hayam Wuruk (1359 – 1389 M). Candi Sanggrahan dibangun sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa jenazah pendeta wanita Budha kerajaan Majapahit bernama Gayatri yang bergelar Rajapadmi yang akan dibawa dari keraton Majapahit untuk dibakar di sekitar Boyolangu, ± 3 km ke arah barat.

Candi ini berbentuk bujursangkar dan terdiri dari bangunan kaki, tubuh dan atap. Bagian atap candi telah runtuh dan yang tersisa bagian kaki candi dan sedikit badan candi. Bangunan induk candi berukuran Panjang 12,60 m, lebar 9,05 m dan tinggi 5,86 m. Secara umum kompleks Candi Sanggrahan terdiri dari sebuah bangunan induk dan 2 buah sisa bangunan perwara (candi pelengkap kompleks percandian). Ada hal unik mengenai candi ini karena disusun atas 2 batu yang berbeda. Bangunan induk menggunakan batu andesit dengan isian batubata. Bangunan ini terdiri dari 4 tingkat yang masing-masing berdenah bujursangkar dengan arah menghadap barat. Bagian perwara yang berada di sebelah timur terbuat dari bata merah. Bangunan Candi Sanggrahan pada teras/undakan setinggi tidak kurang dari 2 meter.
Bangunan Candi Sanggrahan

Di timur bangun induk dulu terdapat 5 buah arca Budha  yang masing-masing posisi mudra (sikap tangan simbolis Budha) yang berbeda. Kini kelima mudra tersebut disimpan di Museum Wajakensis (Museum Daerah Tulungagung).

Tidak seperti candi pada umumnya, candi ini tidak memiliki hiasan relief pada bagian tubuh candi. Hiasan relief hewan seperti singa dan serigala dapat ditemukan pada dinding candi bagian bawah atau kaki candi yang berada dalam kotak persegi panjang.

Relief Candi

Suasana di sekitar candi cukup sepi karena terletak persis di pedesaan , tepatnya desa Sanggrahan, yang mudah dicapai dengan kendaraan beroda dua atau empat. Bolangers dapat memasuki area candi tanpa adanya pintu masuk atau membeli tiket terlebih dahulu karena areal candi hanya dibatasi dengan pagar kawat sederhana. Bolangers juga dapat naik ke undakan batubata merah untuk memasuki areal candi. Meski, tidak terlalu tinggi, jangan lupa perhatikan saat bolangers menaiki undakan karena tidak ada pegangan di samping undakan.
Undakan menuju areal candi


Candi Boyolangu
Destinasi kedua adalah Candi Boyolangu atau Pendarmaan Gayatri. Pendarmaan merupakan ibadah umat Hindu atau Budha sebagai penghormatan terhadap yang diagungkan. Candi Boyolangu merupakan pendarmaan terhadap Gayatri atau Rajapatni merupakan salah satu istri Raden Wijaya, raja Majapahit pertama. Candi Boyolangu sendiri merupakan penyimpanan abu jenazah Gayatri.

Petunjuk Arah Menuju Candi Boyolangu

Seperti halnya, Candi Sanggrahan, Candi Boyolangu juga terletak di pedesaan dan diapit pemukiman masyarakat Dusun Dadapan, Desa Boyolangu. Tak ada petunjuk yang mencolok kecuali gapura masuk menuju lokasi candi. Saat tiba disana, pintu gerbang candi terkunci sehingga saya hanya bisa mengintip dari luar saja.

Candi Boyolangu

Candi yang ditemukan pada tahun 1914 ini terdiri dari 3 bangunan perwara yang masing-masing menghadap ke barat. Bangunan paling besar merupakan bangunan induk perwara dan berada di tengah. Bangunan induk perwara terdiri dari 2 teras berundak yang kini hanya tinggal bagian kakinya saja. Bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan Panjang dan lebar 11,40 m dengan sisa ketinggian ± 2,3 m. dalam bangunan utama ini terdapat sebuah penggalan arca wanita Budha, yaitu Gayatri, yang sudah rusak (bagian tangan dan kaki sudah hilang) meski masih terlihat baik. 

Tak terasa, sudah tiba waktunya kembali ke rumah. Sebelum pulang, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh rambak, kerupuk kulit kerbau, khas Tulungagung.


Referensi : Disarikan dari berbagai sumber

Foto : Dokumentasi pribadi

Foto : Dokumentasi pribadi