Minggu, 05 Februari 2017

Jejak Kaki di Ketapang, Tepi Sungai Pawan

Februari 05, 2017 0 Comments
Destinasi kedua di awal tahun 2017 adalah kota Ketapang, kota kedua terbesar di Kalimantan Barat setelah Pontianak. Meski bernama sama, jangan sampai tertukar dengan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. 

Ketapang, Kalimantan Barat dapat ditempuh ± 45 menit dengan penerbangan Garuda dari kota Pontianak. Seperti banyak kota di Indonesia, Ketapang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Terletak di tepi sungai Pawan dan memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara, Ketapang menjadi salah satu contoh indahnya keberagaman. Ada multi etnis di Ketapang, kita bisa dengan mudah menjumpai suku Dayak, Melayu dan Tionghoa berinteraksi dalam keseharian. Selain itu ada juga suku Jawa dan Madura.


Tugu Ale-ale ikon kota Ketapang

Ketapang menyimpan banyak wisata seni budaya dan sejarah karena sejarah Ketapang tak akan pernah lepas dari kerajaan yang pernah berdiri megah di masa lampau. Kerajaan Tanjungpura – Matan yang merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat terletak di Ketapang. Kerajaan dengan nuansa kuning dan beratap kayu ini memiliki banyak cerita. Salah satunya kisah Raja Gusti Muhammad Saunan yang dijemput pasukan Jepang dan tak pernah kembali.












Obyek wisata lainnya adalah rumah adat melayu yang didirikan pada tahun 2009 untuk menjaga nilai-nilai adat melayu. Rumah bercorak melayu ini terletak persis di tepi sungai di kecamatan Delta Pelawan. Dikelilingi lingkungan yang asri, pengunjung dapat menikmati kemegahan rumah adat sekaligus sepoi-sepoi angin yang berhembus dari arah sungai.


Rumah adat melayu


Tepi sungai 

Setiap sudut rumah adat melayu menawarkan keindahan untuk dibingkai menjadi spot istimewa untuk berfoto. 

Selain napak tilas di kerajaan Matan, masih banyak obyek wisata yang layak dikunjungi plus destinasi kuliner khas pantai. Buat saya yang termasuk golongan 'seafood freak' rasanya tak cukup waktu untuk menjelajahi semua meskipun harus rela dibayar dengan kolesterol yang beranjak naik :D

Salah satu tempat yang jadi spot unik adalah Pantai Tanjung Belandang. Deretan saung kayu di atas pantai menambah sensasi berkuliner. Bolangers dapat memesan kepah dan kelapa muda sambil menikmati sepoian angin.

Saung di Pantai Tanjung Belandang, sensasi yang berbeda saat maksi

Makan siang dengan menu kepah dan kelapa muda

Rasanya semua hidangan yang tersaji saat di Ketapang cocok di lidah saya. Enak dan tidak mampu saya tolak, termasuk durian -padahal saya bukanlah durian maniak.

Tumis Ale-ale

Tumis Pakis

Duriaaaan

Ketemu cempedak di Ketapang😊

Jalan-jalan lagi ke Ketapang yuk 😗

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi

Melintas Garis Khatulistiwa di Kota Pontianak

Februari 05, 2017 0 Comments
Awal tahun 2017 menjadi pengalaman yang mengesankan karena saya berkesempatan mengunjungi kota Pontianak, Kalimantan Barat dan melintas di garis khatulistiwa. Pontianak, ibukota Provinsi Kalimatan Barat, kota yang dilintasi sungai Kapuas dan sungai Landak ini dibangun pada tahun 1771 M oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie. Terletak di garis imajiner 0° 02’ 24” LU – 0° 01’ 37” LS 109° 16’ 25” – 109° 23’ 04” BT, kota ini mempunyai banyak tempat wisata yang dibanggakan.

Tugu Khatulistiwa



Tak lengkap rasanya bila tak menyempatkan mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Berjarak ± 30 menit perjalanan menggunakan motor dari pusat kota Pontianak --yaap...betul...motor--, tugu khatulistiwa jadi destinasi pertama untuk dikunjungi. Ada 12 negara yang dilewati garis khatulistiwa namun hanya ada 1 kota yang persis memisahkan belahan bumi utara dan selatan yaitu kota Pontianak, sungguh membanggakan ,bukan??

Tugu kebanggaan warga Pontianak ini didirikan pada tahun 1928. Awalnya berupa hanya tonggak namun disempurnakan pada tahun 1930. Kini selain tugu, di lokasi ini juga terdapat museum dan toko suvenir.










Titik Nol


Istana Kadriah
Istana Kadriah merupakan istana yang dibangun oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie di pinggir sungai Kapuas. Konstruksi istana kadriyah terbuat dari kayu ulin yang sudah berumur 245 tahun. Jenis kayu ini sangat kokoh dan kuat serta tahan air. Istana ini terdiri dari 4 lantai dengan serambi luas mengelilingi bangunan yang nuansa kuning dan hijau.





Meski terkesan tidak begitu terpelihara dengan baik, istana ini masih tetap mengguratkan kemegahan masa lampau.

Rumah Radank
Rumah Radank merupakan replika rumah betang –rumah panjang suku dayak Kanayatn-. Rumah ini digunakan sebagai tempat berbagai kegiatan diantaranya kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Adat Dayak (DAD). Rumah ini pula mendapat rekor sebagai rumah adat terpanjang oleh MURI dengan panjang 138 meter, lebar 5 meter dan tinggi 7 meter.





Sebagai catatan, tidak ada angkutan umum yang bisa mengantarkan bolangers mengelilingi kota Pontianak selain taksi. Salah satu alternatif adalah menyewa jasa ojeg (kebetulan mahasiswa Universitas Tarumanagara mempunyai aplikasi sejenis ojeg online). Dan jangan lupa kenakan sunblock, kacamata dan masker untuk mengatasi panas yang menyengat.

Selamat melintasi khatulistiwa!!

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi