Puspa IPTEK Bandung

Post a Comment
Puspa IPTEK Bandung

Dahulu saat masih bolak balik Bandung - Cianjur, kami selalu melewati Puspa IPTEK Bandung yang ada di Kota Baru Parahyangan. Saking seringnya, kami bercita-cita untuk mampir bila ada waktu luang.

Jam Matahari

Biasanya teman Menong akan mengenal Bandung sebagai destinasi wisata kuliner, fashion dan alam. Setiap akhir pekan atau libur panjang, jalanan Kota Bandung akan penuh dengan kendaraan dari luar kota yang datang untuk melancong.

Tujuan utamanya mencari hidden germ yang viral di media sosial, yang bagi wargi Bandung kadang (malah) tak menarik. Beberapa spot menjadi favorit wisatawan sehingga layak untuk mengantri.

Di balik pesonanya yang sudah terkenal dari sejak dulu, ada beberapa destinasi yang nampak biasa namun sebetulnya seru untuk dijelajah. Selain museum yang banyak di berbagai titik kota seperti Museum Geologi dan Museum Asia Afrika, teman Menong bisa mampir di Puspa IPTEK Sundial.

Puspa IPTEK merupakan singkatan dari Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sundial sendiri berarti jam matahari. Teman Menong melihatnya di bunderan Puspa IPTEK dari arah Tol Padalarang menuju Kota Baru Parahyangan - arah Cianjur.

Jam matahari ini merupakan jam matahari horizontal terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Teman Menong jangan membayangkan jam sungguhan seperti halnya jam dinding atau Big Ben di London ya.

Jam matahari ini merupakan area kosong menyerupai kipas besar (setengah lingkaran) berdiameter sekitar 22 meter dengan beberapa garis pembatas berangka yang berfungsi untuk menunjukan waktu. Jarum jamnya (gnomon) sendiri akan ditunjukan  dari bayangan besi yang berada di ketinggian 17 meter, yang ada di bangunan Puspa IPTEK lantai 3.

Jam matahari ini bekerja berdasarkan pergerakan bayangan matahari. Hal luar biasa yang bisa teman Menong amati, saat cahaya matahari mengenai jarum penunjuk, bayangan yang dihasilkan akan jatuh pada angka tertentu di permukaan jam, menunjukkan waktu lokal.

Ajaib bukan. Teknologi ini sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu sebagai penanda waktu yang mudah sebelum ditemukannya jam mekanik. Tanpa mengenal banyak teori teknologi, peradaban kuno sudah menerapkannya dengan mudah.

Sejarah Puspa IPTEK

Karena penasaran, akhirnya kami meluangkan waktu untuk main ke sana. Puspa Iptek Sundial berdiri pada tahun 2002 di kawasan Kota Baru Parahyangan, tepatnya diJalan Raya Padalarang No.427, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Kawasan Kota Baru Parahyangan sendiri dibangun pada tahun 2000 dan menjadi kawasan terpadu pertama di Bandung Raya. Kawasan ini ditandai dengan deretan pohon palm dan jalan utama yang super lebar.

Teman Menong tak perlu khawatir karena Puspa IPTEK Bandung terletak di luar jalur masuk menuju Kota Baru Parahyangan sehingga mudah dijangkau. Bagi teman Menong yang menggunakan kendaraan mobil atau motor, teman Menong harus memutar terlebih dahulu karena area Puspa IPTEK berada dalam satu jalur. Bagi teman Menong yang menggunakan angkutan umum, dapat berhenti di depan Gerbang Kota Baru Parahyangan dan meneruskan dengan berjalan kaki. Jaraknya tak terlalu jauh,kok!

Area parkir berada di seberang pintu masuk Puspa IPTEK sehingga teman Menong perlu menyeberang jalan dari area parkiran menuju pintu masuk. Petugas akan sigap membantu karena jalanan sangat ramai terutama di akhir pekan.

Puspa IPTEK beroperasi dari jam 08.30 - 16.00 WIB. Tiket Puspa IPTEK memang terhitung tinggi, Rp. 35.000 per orang sehingga akan terasa berat bila anggota keluarga nya semakin banyak.

Harga ini akan terbayar dengan 150 alat peraga ilmu pengetahuan dan teknologi yang didesain agar pengunjung dapat berinteraksi langsung. Teman Menong dapat membaca paparan teorinya sehingga pengalaman belajar menjadi lebih seru. Alat peraga ini tak hanya cocok untuk orang dewasa namun juga bagi anak-anak.

Wahana Puspa IPTEK

Teman Menong akan terpukau sejak pertama masuk ke area Puspa IPTEK. Dan Gedung Puspa Iptek Sundial selaras dengan Gerbang Utama Kota Baru Parahyangan membentuk tatanan terpadu Matahari, Bumi, dan Bulan. Kedua bangunan tersebut merupakan refleksi konfigurasi Matahari, Bumi, dan Bulan. Keren ya!

Di dekat loket tiket, Zauji mencoba teropong matahari. Kami juga mencoba hampir semua alat peraga termasuk kursi paku. Yang paling epik adalah sepeda yang tergantung dalam katrol yang membentang dari satu dinding ke dinding lainnya. Dan tentunya ada berat badan yang dipersyaratkan, maksimal 50 kg. Walau sambil sibuk berteriak, akhirnya saya bisa mengayuh sepeda hingga ujung dinding dan kembali ke awal😎

Meski terlihat mengerikan, ilmu fisika akan menjaga teman Menong melaju dengan aman.

Wahana menarik apa saja yang bisa teman Menong coba?
Ilusi optik: teman Menong bisa merasakan berbagai trik visual yang menjelaskan prinsip cahaya dan penglihatan. Ilusi optik ini biasa digunakan oleh pesulap.
Fisik dasar: alat peraga untuk memahami hukum Newton, gaya gravitasi, tekanan udara, dan prinsip kerja katrol termasuk sepeda gantung yang saya coba.
Astronomi: Jam matahari termasuk dalam contoh penerapan astronomi. Teman Menong dapat mencoba peraga tentang tata surya, rotasi bumi, dan fenomena luar angkasa.
Gelombang suara dan bunyi: teman Menong dapat mencoba berbagai alat musik sederhana hingga eksperimen akustik, salah satunya mangkok berisi air yang akan berbunyi saat diusap bagian pinggirnya.
Kelistrikan dan magnet: peraga interaktif yang memperlihatkan bagaimana listrik dan magnet bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Pengunjung bisa belajar sains dengan cara menyenangkan melalui permainan dan percobaan langsung dalam konsep edutainment, edukasi yang menghibur. Selain itu, Puspa Iptek juga mengadakan workshop, lomba sains, hingga pameran yang boleh diikuti siswa atau umum.

Kami berkeliling di dalam ruang pameran dibuat luas dan ramah untuk segala usia. Meski desainnya sederhana, taat ruangnya membuat pengunjung semangat untuk terus belajar. Area sekitar Puspa Iptek juga dikelilingi oleh taman dan ruang terbuka hijau sehingga tetap nyaman. 

Kami naik hingga lantai 3 dan mengamati pergerakan jarum penunjuk jam matahari dari atas menara.

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk sholat terlebih dahulu di mushola. Sayangnya memang tak terlalu besar. Toilet tersedia cukup untuk pengunjung. Kantin juga tersedia dengan aneka camilan yang cukup untuk mengganjal perut.

Rasanya seru berkeliling Puspa IPTEK Bandung. Walau hanya beberapa jam, banyak alat peraga yang mengingatkan kami akan mata pelajaran IPA di sekolah dulu.
Newest Older

Related Posts

Post a Comment