BPJS di Era Digital, Layanan Cepat, Semangat Sehat

May 28, 2021 0 Comments

Hampir dua tahun lamanya, keluarga kami ditimpa ujian sakit. Awal tahun 2020 menjadi ujian kedua bagi kami setelah Zauji yang lebih dulu menghabiskan waktu dengan menjalani pengobatan mata di RS Mata Cicendo. Ibunda didiagnosa kanker payudara dan tentunya memerlukan pengobatan medis sesegera mungkin.




Berada jauh, saat keduanya sakit dan benar-benar membutuhkan kehadiran saya sebagai istri dan anak, sejatinya membuat hati saya berpasrah dan menerima apapun yang Allah berikan kepada saya. Alhamdulillah, kami tinggal di kota besar dengan segudang fasilitas dan kemudahan lain termasuk diantaranya layanan BPJS.

 

Lika Liku Menjadi Pasien BPJS

Sebagai orang yang diberi kemudahan mendapatkan fasilitas kesehatan secara gratis, jujur saja, saya termasuk orang yang malas menggunakan fasilitas (dahulu) Asuransi Kesehatan atau ASKES. Selama sekian tahun, saya hanya menggunakan fasilitas ASKES di saat kondisi darurat seperti saat menjalani operasi, rawat inap atau saat bolak balik ‘sowan’ ke IGD karena maag dan vertigo saya kumat. Selebihnya saya selalu menggunakan pembiayaan mandiri alias bayar pakai uang sendiri meski berobat ke dokter spesialis sekalipun. Alasan utamanya adalah karena saya malas mengurus rujukan di puskesmas Cianjur padahal saat sakit serius, saya selalu pulang dan berobat di Bandung. Antrian yang panjang cukup menambah daftar keengganan menggunakan ASKES.

 


Adanya tranformasi ASKES menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan membuat saya otomatis beralih menjadi peserta BPJS sesuai aturan. Sebenarnya adik dan Ibunda sudah terlebih dulu menjadi peserta BPJS jalur mandiri. Selain dari pendaftarannya yang bisa dilakukan secara online, BPJS juga memberikan layanan kesehatan untuk non pegawai seperti Ibunda tidak memiliki fasilitas kesehatan apapun. Alhamdulillah banyak kemudahan yang saya rasakan. Bagi sebagian orang, layanan BPJS terkesan ribet dan tidak memuaskan namun pengalaman saya ‘bergaul’ dengan BPJS cukup membuktikan bahwa BPJS mudah untuk digunakan selama kita memahami alurnya. Salah satu cerita seru dan memorable layanan BPJS adalah sewaktu saya harus berlebaran di 7 IGD RS beberapa tahun yang lalu.

 

Mampir yuks : Day 28 :Pengalaman Berlebaran di 7 IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 1

 

Layanan BPJS

Seiring dengan peralihan tersebut, atas saran adik, saya mengalihkan faskes 1 ke Bandung (sesuai KTP) dan memilih klinik pratama sebagai faskes 1 dengan pertimbangan pasien dan antrian di klinik akan lebih sedikit bila dibandingkan puskesmas. Selain itu jadwal dokter di klinik pratama bisa dipilih pagi atau sore hingga malam yang tentunya akan memudahkan saya berobat. Alhamdulillah, proses peralihan berjalan lancar, meski Kartu Indonesia Sehat (KIS) belum ada, saya masih masih bisa menggunakan nomor ASKES untuk menjalani operasi ganglion di RS Hermina Bandung. Petugas BPJS di RS Hermina melayani dengan baik. Sayapun tidak mengalami kesulitan melengkapi persyaratan administrasi karena semua bisa dilakukan via online dan telepon. Kondisi ini tentunya memudahkan saya yang masih harus wara-wiri karena masih tetap harus bekerja di luar kota Bandung.


Mampir yuks: Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1

 

Setelah menikah, saya dan Zauji memilih klinik dekat rumah sebagai faskes 1. Proses perpindahan faskes 1 dilakukan melalui online di kantor BPJS Kesehatan karena saya masih penasaran ingin berkonsultasi dengan petugas BPJS. Meski klinik yang saya pilih hanyalah klinik sederhana namun layanan bagi peserta BPJS tetap maksimal. Begitu pula bila saya memerlukan tindakan lanjutan yang tidak bisa ditangani di faskes 1, faskes 1 akan memberikan rujukan ke faskes 2. Biasanya kami memilih RS Mitra Anugerah Lestari (MAL) yang tidak terlalu crowded



RS MAL terletak di kawasan industri dan sebetulnya bukan RS besar dan populer di daerah kami, namun karena pasien yang tidak terlalu banyak dan pengurusan administrasi BPJS yang lebih mudah membuat kami berdua lebih sering berobat kesana. Saya sendiri sudah dua kali rawat inap di RS MAL dengan menggunakan fasilitas BPJS. Dan tak terhitung kontrol rutin karena saya memiliki riwayat kristal di saluran kemih yang masih sering kambuh, irigasi telinga di bagian THT atau konsultasi promil di bagian ginekolog. Dan semuanya tanpa biaya sama sekali karena menggunakan fasilitas BPJS.


Pusat Mata Nasional, RS Cicendo

Selain saya, Zauji dan Ibunda pun menggunakan BPJS selama masa pengobatan. Alhamdulillah selama hampir 2 tahun menjadi ‘sahabat mata’ di Pusat Mata Nasional, RS Cicendo, segala fasilitas pengobatan dicover BPJS sepenuhnya.


Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak Bisa Lagi Melihat

Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ablasio Retina di Pusat Mata Nasional : RS Cicendo

 

Sampai saat ini, kami masih ikhtiar bolak balik ke RS Cicendo. Terkadang, kami bertemu pasien lain yang datang dari luar kota Bandung. Menurut pengalaman saya, pelayanan bagi pasien BPJS, KIS atau umum di RS Cicendo bisa jadi terbaik apabila dibandingkan dengan rumah sakit lain yang pernah saya kunjungi. Hanya saja, bila antrian cukup panjang, harap bersabar yaa...karena tentunya semua ingin mendapat pelayanan terbaik.

Tempat tidur nyaman di ruangan Bougenvile


Cancer Center, RS Santosa 

Ibunda sendiri masih harus kontrol setiap bulan di bagian Bedah Onkologi, RS Santosa. Ada cerita menarik selama menjalani pengobatan kanker payudara dalam setahun ini.

Ada satu yang berbeda ketimbang prosedur di RS lain, RS Hermina meminta berkas rujukan asli setiap kali akan kontrol dan tentunya ini bisa menjadi hal yang sulit mengingat rujukan berlaku 3 bulan sekali dan hanya diberi 1 berkas asli saja. Alhamdulillah, saat kami kembali ke faskes 1, pihak puskesmas (dokter umum yang dulu memeriksa Ibunda dan memberikan rujukan) memudahkan dan memberikan foto kopi rujukan yang ditanda tangan dan dicap asli sehingga kami tidak perlu bolak balik meminta rujukan setiap minggu. Proses ini pun berlangsung cepat karena data Ibunda sudah masuk dan terintegrasikan ke dalam sistem sehingga pencarian data membutuhkan waktu nyaris kurang dari 5 menit saja.



Dan ada satu kejadian yang lucu, saat akan meminta berkas rujukan ini, saya berinisiatif untuk menggantikan Ibunda mengurus semuanya. Dengan pede, saya berangkat ke puskesmas kompleks, setelah menjelaskan sana sini, pihak puskesmas pun paham dan mulai mencoba mencarikan solusi. Langkah awal tentunya mencari data Ibunda di database BPJS puskesmas. Entah kenapa, datanya terus menerus tidak muncul padahal tanggal dan urutan kejadian sudah saya jelaskan dengan rinci. Bahkan nama dokter pemberi rujukan pun tidak ada, Dan setelah semua turun tangan, akhirnya terjawab sudah, ternyata saya salah puskesmas...mestinya saya pergi ke puskesmas kelurahan yang terletak di luar kompleks. Meski menahan malu, namun pihak puskesmas kompleks memaklumi ketidaktahuan saya😳.

 

Atas saran adik, saya memindahkan faskes 1 Ibunda ke klinik dekat rumah agar Ibunda bisa berobat di pagi atau sore hari. Proses pemindahan faskes 1 dilakukan online dan baru akan aktif di awal bulan. Saat itu, kami belum terpikir akan menjalani pengobatan panjang kanker. Namun, Alhamdulillah, meski faskes 1 baru belum bisa menerima Ibunda sebagai pasien, puskesmas terdahulu masih melayani keperluan Ibunda untuk mengurus persyaratan operasi masektomi dan lainnya.


Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi


Digitalisasi Layanan BPJS

Layanan BPJS sudah mulai dilakukan melalui sistem digital berbasis web service dan tidak lagi manual sehingga lebih cepat, runut dan terintergrasi. Banyak orang yang menyatakan bahawa berobat dengan BPJS itu ribet, saya pribadi sebagai pengguna BPJS, bersyukur tidak ada hal yang menjadi halangan. Selama iuran bulanan, prosedur dan aturan dijalankan, insya Allah layanan BPJS akan dapat dimanfaatkan. Terlebih di era digital ini, peserta dan petugas BPJS dapat melakukan banyak hal melalui sistem. Peserta BPJS dapat melakukan pembayaran bulanan melalui autodebit. Petugas atau dokter pun hanya cukup mengentrikan data untuk memberikan rujukan ataupun resep obat ke dalam sistem sehingga lebih praktis dan efisien.

JKN Mobile


Jangan lupa, pastikan surat rujukan dari faskes 1 atau faskes 2 masih berlaku saat kita berobat. Kemudahan ini dirasakan pula oleh teman-teman yang mendapatkan layanan BPJS melalui jalur KIS. Pada umumnya, ketidaktahuan bagaimana cara mendapatkan layanan terbaiklah yang membuat orang malas dan ragu menggunakan BPJS.


Salam sehat selalu😊


#DigitalisasiBPJSKesehatan

Pengalaman Syaraf Kejepit dan Pengobatan Alternatifnya

May 18, 2021 0 Comments

Beberapa tahun yang lalu, Ibunda merasakan nyeri yang luar biasa menjalar dari bagian pinggang hingga panggul sebelah kanan yang membuat beliau tidak bisa beraktivitas bahkan untuk duduk atau berdiri dengan normal. Setelah dilakukan pemeriksaan di dokter spesialis syaraf di RS Hermina Arcamanik Bandung, Dr. Herman, SpS, dokter menyatakan beliau menderita syaraf kejepit. 

 

Syaraf Kejepit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP) 

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau yang lebih dikenal dengan sebutan syaraf kejepit merupakan suatu kondisi yang terjadi akibat bantalan antar tulang belakang menonjol sehingga menekan syaraf di sekitarnya. Bantalan ini sangat lembut dan berbentuk seperti agar-agar. HNP biasanya terjadi di bagian punggung dan leher.

 


Dokter juga menelusuri kebiasaan Ibunda selama bertahun-tahun untuk memastikan sebab HNP. Dan ternyata, rutinitas Ibunda yang menjahit lah yang menyebabkan terjadi pergeseran bantalan di bagian pinggul. Selama puluhan tahun, aktivitas Ibunda yang lebih banyak dalam posisi duduk dengan kaki menekan dinamo mesin menjadi sumber HNP. Dari hasil rontgen, posisi pergeseran tulang terlihat jelas namun dokter memberikan saran untuk diobati dengan obat-obatan terlebih dahulu sebelum diperlukan tindakan operasi. Dan sebagai syarat utama, otomatis Ibunda dari berhenti total dari aktivitas jahit menjahit dan berbagai posisi yang akan semakin memperburuk HNP yang diderita.

 

Sebelum kami memutuskan untuk berobat ke dokter, sebenarnya saya berinisiatif untuk mencoba pengobatan alternatif dengan akupuntur. Saat itu saya masih belum yakin dengan diagnosa sebenarnya meski akupunturis menyakinkan saya bahwa nyeri luar biasa itu disebabkan syaraf kejepit. Karena rasa nyeri yang tidak berkurang bahkan semakin parah, asalnya Ibunda masih bisa beraktivitas kini hanya bisa berbaring, saya pun mencari informasi mengenai syaraf kejepit ini.

 

Dengan menggunakan fasilitas BPJS, kami memilih RS Hermina Arcamanik dengan pertimbangan reputasinya yang lumayan bagus dan jarak dari rumah yang tidak terlalu jauh. Pada konsultasi pertama, dokter hanya memberikan obat anti nyeri dan kalsium serta mewanti-wanti aktivitas yang benar-benar terlarang bagi Ibunda termasuk menyapu dan mengepel yang notabene termasuk aktivitas ringan. Namun dari segi medis, posisi menyapu dan mengepel tidak ergonomis dan berbahaya bagi posisi pinggul yang memang sudah mengalami pergeseran.


Mampir yuks : Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Kanker Payudara : Masektomi dan Kemoterapi


Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 1...Cerita Dimulai

Belum sampai waktu kontrol di bulan berikutnya, Ibunda sudah meminta saya kembali ke RS sakit karena nyeri yang semakin menjadi-jadi. Satu-satunya posisi yang nyaman hanya terlentang, Ibunda bahkan harus berjongkok saat menaiki lift karena tidak tersedia kursi roda. Akhirnya atas ijin dokter, perawat memberikan suntikan anti nyeri yang efeknya langsung terasa tak lama kemudian. 


Fisioterapi

Setelah rasa sakit mereda, dokter spesialis syaraf memberikan rekomendasi untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medik, dr Rina  Puspasari Suryana, SpKFR. Pada pertemuan pertama, saya tidak menemani Ibunda karena ada pekerjaan.

Dokter Rina memberikan rujukan untuk rutin melakukan fisioterapi. Setelah mengurus administrasi dan kelengkapan BPJS untuk fisioterapi. Fisioterapi awalnya dijadwalkan setiap hari Kamis namun saya meminta jadwal ulang menjadi hari Sabtu agar saya bisa menemani Ibunda dan tidak perlu bolos bekerja. 


Hari Sabtu, jam 08.00 pagi menjadi jadwal tetap mengantar Ibunda, klinik Fisioterapi terletak di lantai 5 berdekatan dengan klinik lainnya. Setelah mendaftar, kami biasa menunggu kurleb 30 menit - 1 jam tergantung nomor yang ditentukan. Karena Ibunda masih belum bisa duduk lama, perawat memberikan informasi bahwa ada tempat khusus bagi pasien yang hanya bisa berbaring. Ruangan khusus itu biasanya tidak terkunci, terletak di bilik kecil yang dilengkapi bed dan kursi. Biasanya Ibunda akan tiduran di sana sementara saya menunggu panggilan.


Fisioterapi hanya dilaksanakan sekitar 15 menit saja. Biasanya bagian tubuh yang nyeri diberi penghangat. Entah bagaimana prosesnya karena saya tiak diperkenankan turut masuk ke dalam ruang fisioterapi.


Hampir 3 bulan Ibunda menjalani fisioterapi, dan tentunya semakin lama banyak berkenalan dengan sesama pasien yang didominasi penderita stroke. Ternyata sebagian pasien berobat alternatif di suatu tempat tak jauh dari RS Hermina dan banyak diantaranya yang mengalami kemajuan yang signifikan. Tempat ini juga direkomendasikan oleh teman dekat saya.


Pengobatan alternatif apa ya?


Mampir yuks : Pengobatan Alternatif Stroke dan Syaraf Kejepit di Pak Asep Setrum



Day 30 : LDR-an Saat Lebaran

May 12, 2021 0 Comments

Alhamdulillah, hari yang dinanti seluruh umat muslim sudah ada di depan mata. Tahun ini menjadi tahun kedua bagi kita semua berlebaran di tengah suasana pandmei Covid 19. Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini banyak daerah yang sudah diperkenankan menggelar sholat ied dan tentunya dengan protokol kesehatan ketat yang harus dilaksanakan.



 

Tradisi Lebaran

Seperti halnya tradisi berlebaran di setiap rumah, keluarga kami mempunyai kebiasaan rutin meski kebiasaan Ibunda dan Ibunda Zauji tentunya tak akan sama. Setiap tahun Ibunda selalu menyiapkan menu khusus khas lebaran seperti ketupat lengkap dengan opor, rendang, sambal goreng ati (pete), dan ase cabe. Jangan lupa rujak asinan segar sebagai pelengkap. Tahun ini, meski sudah dinyatakan sehat oleh dokter, Ibunda memasak dengan bantuan Bibi saya yang biasa menemani beliau saat kontrol ke dokter.

 

Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 1...CeritaDimulai

 

Ibunda Zauji sendiri tak pernah mengkhususkan memasak menu khas lebaran. Beliau lebih memilih menu-menu favorit anak dan cucu yang biasanya datang berkunjung seperti bihun dan lemper. 

Mampir yuks : Day 17 : Masak...Masaaaak


Seperti dahulu di rumah Embah, H-1 lebaran biasanya dijalani dengan ritual ‘berburu’ bunga sedap malam dan bunga hias lainnya. Biasanya saya menemani Ibunda Zauji memilih bunga di pasar dekat rumah. Yang tak kalah heran, rasanya setiap tahun kami harus selalu membeli vas bunga yang entah tersimpan dimana setiap diperlukan. Karena membatasi bepergian, tahun ini kami cukup memetik bunga mawar dari sepetak kebun di depan rumah.



LDR

Tahun ini menjadi tahun kedua pula bagi saya dan Zauji untuk menjalani ramadhan tanpa terpisah jarak. Rasanya tentu berbeda karena kami berkesempatan menikmati indahnya ramadhan berdua. Namun sayang, tahun ini menjadi lebaran kedua yang kami jalani berjauhan.

Terpisah hanya 45 – 60 menit perjalanan antar rumah Ibunda Zauji dan Ibunda, kami bersepakat untuk lebaran di tempat berbeda. Seperti halnya Ibunda yang tinggal sendiri, bila lebaran tiba, Ibunda Zauji pun hanya ditemani Zauji karena anak dan cucu beliau lebih sering berlebaran di rumah besan. Biasanya Zauji akan menyusul ke rumah Ibunda selepas sholat ied dan sarapan.


Tak ada seremoni khusus seperti sungkeman atau apapun bagi kami berdua. Saya dan Zauji terbiasa saling meminta maaf kapanpun saat kami berdua merasa harus untuk meminta maaf.


Terkesan tak lazim karena tidak bersama di hari istimewa, inilah cara kami berdua untuk tetap birrul walidain meski kami sudah menikah. Atas ijin dan ridho Zauji, saya tetap bisa mengunjungi Ibunda setiap minggu atau mengantar beliau untuk kontrol setiap bulan. Bagi Zauji, seorang anak perempuan tetap memiliki kewajiban berbakti kepada orang tuanya meskipun sudah menikah. Dan kebaikan sang istri, Insya Allah akan menjadi ladang pahala bagi suami.


Yang terpenting kedua ibunda kami sehat dan bahagia di hari raya💗



#BPNRamadhan2021

#BPNDay30

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 29 : Malam Takbiran...Malam Kehilangan

May 11, 2021 0 Comments

 Ayahanda

Malam takbiran menjadi momen kehilangan bagi saya. Delapan tahun yang lalu, di saat semua orang bersuka cita menyambut lebaran. Ayahanda kembali masuk ICU karena serangan stroke untuk kesekian kalinya.

It was the worst moment ever.

Ayahanda mengidap stroke selama hampir 7 tahun lamanya. Sempat pulih dan kembali beraktivitas namun Allah SWT menggariskan 6 Syawal yang semestinya menjadi perayaan ulang tahun beliau yang ke 65 pada penanggalan hijriyah menjadi tanggal berpulangnya beliau kepada Sang Khalik.

Jauh dan tak pernah tinggal bersama Ayahanda sejak orang tua kami berpisah, sesungguhnya saya tidak mengenal beliau secara dekat dan personal. Qodarullah, Allah memberikan saya rezeki pekerjaan tak jauh dari tempat Ayahanda tinggal sehingga saya bisa mengunjungi beliau di sela waktu luang. Tak banyak hal yang yang bisa saya kenang namun di sisa hayatnya, saya lebih sering berkunjung dan berbagi cerita dengan beliau. Meski cita-cita saya untuk menikah, wisuda dan menunaikan umroh selama Ayahanda masih ada tidak terkabul namun Alhamdulillah, kenangan baik tentang beliaulah yang kini tersemat dalam hati saya. 

 


Mampir yuks : Sebuah Catatan Perjalanan Umroh di Makkah : Memahat Rindu di Bumi-Mu


Uwa

Malam takbiran 2 tahun lalu juga menjadi duka bagi keluarga kami. Salah satu uwa (bude) berpulang karena kecelakaan bada iti’kaf di salah satu mesjid. Tidak ada tanda-tanda bahwa di hari terakhir ramadhan, di saat sebulan penuh memohon ampunan dan rahmat Allah, beliau berpulang. Uwa adalah orang tua kedua bagi saya.sejak kecil, karena terpisah dari kedua orang tua, saya lebih sering bersama Embah dan Uwa. Beliau berdua memberikan pengaruh yang luar biasa bagi hidup saya.


Mampir yuks : Day 13 : 7 Hal yang Paling Membuat Bahagia

 

Segala sesuatu di bumi ini adalah milik Allah dan kepada-Nya lah semua akan kembali. Sejatinya, kita hanya menunggu giliran untuk bertemu dengan-Nya. Semoga Allah menakdirkan kita untuk husnul khotimah. Dan semua orang yang kita cintai yang telah kembali kepada-Nya, semoga diampuni dosa-dosanya, diberi tempat yang terbaik di sisi Allah SWT yang penuh dengan ampunan dan ridho-Nya. Semoga kelak, kita semua dikumpulkan dalam jannah-Nya bersama Rasulullah, para sahabat, ayah bunda, keluarga, teman dan semua orang-orang yang kita cintai.

 

Aamiin💗


#BPNRamadhan2021

#BPNDay29

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 28 : Pengalaman Berlebaran di IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 3

May 10, 2021 0 Comments

Seperti halnya rumah sakit lain, layanan USG di RS Al Islam libur di akhir pekan sehinngga RS Al Islam melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan apakah saya harus operasi segara atau bisa ditunda. Ternyata hasil leukosit (sel darah putih) saya normal. Entah apa yang terjadi, padahal di RS Hermina dan RS Hasan Sadikin, leukosit saya tinggi menunjukan adanya infeksi. Dokter jaga memutuskan saya opname malam itu. Bibi saya yang menemani hampir dua malam saya persilakan pulang untuk istirahat dan meninggalkan saya sendiri. Alhamdulillah saya tidak lupa membawa kartu BPJS. Berbeda dengan RS Hasan Sadikin, selama mendapat perawatan, saya diijinkan untuk tidak terus menerus ditunggui apabila pihak keluarga ada halangan.




Mampir yuks : BPJS di Era Digital, Layanan Cepat, Semangat Sehat 

 

Rawat Inap di RS Al Islam

Tak lama menunggu, saya masuk ke ruangan rawat inap dan alhamdulillah dapat beristirahat tanpa rasa sakit. Dokter bedah yang sedianya akan memeriksa saya belum melakukan visit karena akan lebih efektif apabila hasil USG sudah ada. Alhamdulillah pemeriksaan USG dan rontgen dilakukan bada dzuhur. Dan ternyata saya baru mengetahui bahwa USG yang dilakukan berbeda dengan USG biasa di dokter spesialis kandungan atau ginelokog.

 

Ultrasonografi (USG) abdomen merupakan USG yang dilakukan untuk mendiagnosa penyakit dalam seperti batu empedu, bat ginjal, pankreas dan lainnya. USG abdomen dilakukan seperti halnya USG kandungan namun dengan area yang tentunya lebih luas. Karena keluhan saya berada di area perut bagian kanan, kini menjalar hingga pinggang dan punggung, pemeriksaan USG organ intraabdomen atas dan bawah dilakukan meliputi area limpa, pankreas, ginjal, RLQ (Right Lower Quadrant). Pemeriksaan hanya dilakukan berkisar 30 menit saja.

 

Ternyata, meski hasil USG abdomen belum ada, dr. Catur Setyo Damarianto, SP. B. tetap melakukan visit di sore hari. Alhamdulillah dokter sangat ramah dan menyakinkan saya bahwa sakit yang saya derita bukan usus buntu. Jujur saja, saya mulai membaik meski rasa panas dan sakit kerap muncul namun tidak seekstrim 2 hari sebelumnya. dokter juga menanyakan kebiasaan saya seperti jadwal minum atau BAK karena bisa jadi indikasi ada batu ginjal atau hal semacamnya. Saya juga tak lupa menyampaikan riwayat penyakit lain yang sempat saya idap beberapa tahun sebelumnya.

 


Ini adalah kali kedua saya opname di RS Al Islam. Kali ini pengalaman saya selama di rawat tidak ‘sehoror’ dahulu yang berdampingan dengan 2 pasien kanker dan salah satunya kritis dan meninggal dunia tepat di sebelah saya. Karena punya pengalaman menunggui Embah, saya sengaja memilih bed di dekat kamar mandi agar saya bisa leluasa bergerak. Saya juga tidak meminta Ibunda atau siapapun menemani saya karena tidak ada keluhan berat yang saya rasakan.


Kristal Kecil di Saluran Kemih

Keesokan harinya, hasil USG abdomen sudah ada. Dari hasil USG tersebut ternyata nyeri hebat kemungkinan disebabkan ada batuan kecil dalam saluran kemih yang letaknya di bagian kanan. Karena masih berukuran sangat kecil, batu-batu ini tidak terdeteksi USG sehingga diagnosa sementara ada kristal kecil di saluran kemih yang disebabkan kurang minum dan malas BAK yang saya akui dengan jujur.


Setelah merenung dan berpikir, akhirnya teka teki mengapa saat berada di 6 IGD sebelumnya, perut saya selalu nyeri hebat pasca makan dan minum, dokter menerangkan kemungkinan karena pergerakan lambung 'menyenggol' saluran kemih yang memang terdapat kristal runcing yang menyebabkan saluran 'tersayat' sehingga menimbulkan rasa nyeri. 

 

Dokter pun menyarankan saya agar lebih memperhatikan gaya hidup ‘salah’ ini agar nantinya tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih serius. Saya hanya ‘mondok’ selama 2 malam. Dokter mengijinkan saya pulang karena secara fisik saya sudah mulai membaik dan hanya diberi obat anti nyeri dan catatan untuk kembali kontrol seminggu kemudian.

 

Jadilah saya menghabiskan sisa cuti lebaran dengan diam di rumah saja. Kakak sepupu saya yang juga seorang dokter mengingatkan agar saya tidak lagi mengkonsumsi minuman instan termasuk teh. Pilihannya hanya air putih saja. Beberapa bulan berikutnya, saya benar-benar tidak menyentuh berbagai makanan dan minuman instan termasuk junk food sehingga berat badan saya turun beberapa kilogram. Well, ternyata dengan pola makan yang sehat, saya tidak perlu bersusah payah berdiet untuk menurunkan berat badan.


Sampai hari ini, Zauji selalu sigap mengingatkan saya untuk minum dengan cukup karena setiap kali saya kekurangan minum, perut saya otomatis akan terasa sakit dan panas. Pengalaman berlebaran di IGD ini menjadi alarm bagi saya untuk tak lupa minum dan tak malas ke toilet.


Mampir yuks : Day 28 : Pengalaman Berlebaran di UGD...Momen Berkesan Lebaran Part 2


#BPNRamadhan2021

#BPNDay28

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 28 : Pengalaman Berlebaran di 7 IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 2

May 10, 2021 2 Comments

Lebaran beberapa tahun yang lalu bisa jadi lebaran paling berkesan. Saya terbangun karena rasa sakit yang luar biasa di perut kanan sebelah bawah. Momen 'silaturahim' di hari kedua lebaran diawali dengan 'sowan' dengan para dokter di ruang IGD. 

Sambil menunggu hasil pemeriksaan urine dan USG, saya beristirahat di IGD ditemani adik sepupu dan Ibunda. Menjelang ashar, rasa sakit mulai menghilang sehingga saat dokter meminta saya melakukan rontgen. Karena badan sudah membaik, saya berjalan sendiri sambil melihat-lihat keadaan seputar IGD. Di suasana hari fitri ini, IGD penuh dengan pasien. Setelah dirontgen, saya pindah ruangan. Di sebelah saya, seorang ibu korban kecelakaan yang tadi pagi saya jumpai di RS Al Islam. Jam 5 sore, dokter yang tadi pagi memeriksa saya membisikan hasil pemeriksaan USG dan urine. Meski hasil pemeriksaan USG menyatakan usus buntu saya masih dalam keadaan baik, hasil cek urine lah yang memberikan hasil tidak terduga. Saya dirujuk ke bagian genikolog karena seperti nya ada hal yang tak beres di bagian rahim saya.



Setelah beradu argumen panjang lebar dengan dokter jaga di bagian Ginekologi (beradu teori tentang kehamilan, cek lewat dubur (lagi dan lagi😥) karena saya menolak pengecekan lewat ‘depan’, memantengi USG berkali-kali untuk melihat tanda-tanda abnormal seperti tumor, kehamilan anggur atau lainnya termasuk siklus haid dan riwayat gangguan hormonal yang pernah saya alami), saya meminta dokter memeriksa dengan seksama dan kembali menelaah teori-teori yang mungkin terjadi. Pemeriksaan urine diulang dan hasilnya ternyata memang berbeda dengan hasil sebelumnya. Dan saya bersyukur, Ibunda yang sudah kelelahan tidak saya libatkan dalam diagnosa yang menurut saya ‘aneh’ ini. Dari sisi dokter, saya juga paham mereka mendiagnosa berdasarkan data dan fakta bahwa wanita berhijab tidak selama nya dapat menjaga diri dengan baik.


Kelak saat saya menceritakan pengalaman saya ini kepada saudara dan teman, semua sepakat bahwa saat kita didiagnosa kondisi tertentu, sebagai pasien, selain bersikap tenang, tidak malu bertanya, kita juga harus cerdas untuk memilah informasi.


Jam 9 malam, setelah hasil urine kedua keluar. Saya kembali ke UGD. Dokter memberikan pilihan apakah saya akan melakukan USG ulang di hari Senin dan berkonsultasi dengan dokter spesialis. Saya pun mengiyakan karena meski diagnosa sebenarnya belum diketahui, setidaknya perut saya sudah tidak terasa sakit sama sekali sehingga saya sudah bisa duduk dan bercanda dengan Bibi yang menggantikan Ibunda menjaga saya. Saya diperkenankan pulang. Sambil menunggu jemputan, Bibi membelikan saya bubur ayam karena seharian perut saya kosong tidak diisi.


Jam 12 malam, begitu sampai di parkiran RS, perut saya terasa sakit luar biasa lagi. Alhamdulillah saya masih sempat menyalakan HP dan menelepon seorang teman yang menyarankan saya untuk langsung menuju RS Borromeus.

 

RS Santo Borromeus

RS Santo Borromeus menjadi RS kelima yang saya masuki kurang dari 24 jam. Saya memberikan penjelasan kepada dokter jaga bahwa diagnosa sementara adalah usus buntu dan harus ditangani segera alias cito. Tak menunggu lama, dokter memberikan saya suntikan yang membuat rasa sakit menghilang tak berapa lama sehingga saya bisa tertidur pulas di ruang IGD😑.


Seperti RS lainnya, keputusan tindakan operasi harus didasari USG dan layanan USG tutup di hari libur sehingga harus dilakukan di hari kerja. Karena ruangan kelas 1 penuh, RS menawari saya untuk upgrade ke VIP yang masih kosong. Well, bukan berarti saya mengabaikan kesehatan, namun dengan kondisi saya yang membaik, rasanya saya memilih untuk pulang dan kembali di hari Senin. RS Borromeus memberikan saya surat rujukan yang menyatakan diagnosa usus buntu dan harus ditangani segera bila sewaktu-waktu perut saya kembali sakit.

 

RS Hermina

Sampai di rumah, saya tidak otomatis dapat tidur. Meski rasa sakit sudah hilang (mungkin efek penghilang nyeri yang tadi disuntikan). Saya masih berpikir ke RS mana lagi yang bisa menjadi pilihan. Setelah bertanya dan menimbang, akhirnya saya memutuskan kembali ke RS Hermina.


Sebetulnya penanganan RS Hermina sangat baik dan cepat (karena saya sudah berkali-kali berobat di RS ini) namun karena berdasarkan catatan BPJS, saya sudah dirujuk di RS tingkat tertinggi yakni, RS Hasan Sadikin jadi pihak RS Hermina menolak saya meski saya membawa surat rujukan dari RS Borromeus. Dengan perasaan bingung, saya kembali pulang dan memutuskan untuk berisirahat di rumah.


Hingga sore hari, tidak ada rasa sakit yang timbul dan saya dapat beraktivitas seperti biasa. Namun karena saya masih penasaran dengan diagnosa sebenarnya, akhirnya saya kembali ke RS Al Islam.


Mampir Yuks : Day 28 : Pengalaman Berlebaran di UGD...Momen Berkesan Lebaran Part 1

 

RS Al Islam (lagi)

Alhamdulillah, dengan berbekal surat rujukan dengan keterangan cito, IGD RS Al Islam menerima saya dan segera melakukan pemeriksaan darah dan urine. Setelah hasil keluar, ternyata nilai leukosit saya yang semula 15.000 menjadi 5000 yang berarti tidak ada infeksi dalam tubuh saya dan tidak mungkin saya menderita infeksi usus buntu.


Karena tidak bisa melakukan USG di hari libur, dokter menyarankan saya untuk menjalani rawat inap agar keesokan harinya saya dapat melakukan USG plus berkonsultasi dengan dokter bedah. Alhamdulillah Ala Kulli Hal, bersyukur di setiap keadaan. Saya meminta bibi yang mengantarkan saya untuk kembali pulang karena saya sudah bisa beristirahat tanpa diganggu rasa sakit.

 

Bagaimana selanjutnya?

Mampir Yuks : Day 28: Pengalaman Berlebaran di UGD...Momen Berkesan Lebaran Part 3


#BPNRamadhan2021

#BPNDay28

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 28 : Pengalaman Berlebaran di 7 IGD...Momen Berkesan Lebaran Part 1

May 10, 2021 0 Comments

Lebaran beberapa tahun lalu menjadi momen paling berkesan selama diberi nikmat menjalani lebaran. Bagaimana tidak, di saat semua orang bersuka cita saling bersilaturahim dengan sanak saudara, saya sibuk bersilaturahim dengan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di 7 (tujuh) rumah sakit di kota Bandung.


Bermula di hari kedua lebaran menjelang subuh, saya terbangun karena rasa sakit yang luar biasa di perut kanan sebelah bawah. Masih punya tenaga untuk melompat, saya mengetuk pintu kamar Ibunda sambil menangis histeris. Rasa sakit yang tak tertahankan itulah membuat seisi rumah panik dan bergegas membawa saya ke rumah sakit terdekat. Meski RS hanya ditempuh dalam waktu 10 menit, rasanya saya tersiksa berjam-jam dengan perut serasa ditusuk ujung pedang. Usus buntu, itulah yang muncul di benak saya, terlebih sehari sebelumnya saya mengalami diare ringan.


RS Al Islam

IGD di pagi hari pada hari kedua bulan syawal, meski suasana nampak sepi, namun IGD RS Al Islam Bandung ramai dengan keriuhan pasien. Di dekat saya, seorang bapak setengah baya menjerit-jerit karena konon katanya tidak bisa buang air kecil berhari-hari. Hampir 15 menit menunggu, rasa sakit di perut saya menghilang. Dokter yang memeriksa hanya memberikan obat lambung meski saya bersikeras bukan lambung yang saya rasakan tadi pagi. Karena kondisi saya segar bugar, dokter mengijinkan saya kembali pulang setelah menyelesaikan administrasi BPJS. Dan di tengah perjalanan, adik saya menyodorkan pisang goreng agar perut saya yang kosong terisi lagi.


RS Hermina

Kembali ke rumah, semua kembali beraktivitas. Namun tak lama berselang, perut saya kembali sakit bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Rasanya sakit tak tertahankan plus muntah hebat. Adik saya kembali mengantarkan saya ke rumah sakit, kali ini RS Hermina. Saya diterima di IGD dalam kondisi muntah terus menerus. Dokter jaga menginstruksikan untuk dilakukan pemasangan infus, pemeriksaan darah dan urine dan hasilnya menunjukan ada kenaikan eritrosit (15.000 dari nilai maksimal 11000 yang menunjukan adanya infeksi dalam tubuh saya) dengan kondisi urine yang keruh. Diagnosa awal adalah usus buntu namun kepastian diagnosa hanya bisa dibuktikan dengan USG. Inilah yang menjadi masalah karena layanan klinik dalam posisi cuti lebaran dan akhir pekan. Dokter jaga memberikan rujukan ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung namun dengan berbagai pertimbangan, saya dan keluarga memilih RS Santosa.


RS Santosa

Berbekal surat rujukan, kamipun melaju ke IGD RS Santosa, di perjalanan rasa sakit mulai berkurang dan hanya terasa saat jalanan tidak rata saja. Setiba disana, RS Santosa menolak karena layanan USG pun cuti lebaran saat itu. Tak ada pilihan lain, kami pun meluncur ke RSHS dengan pertimbangan, USG di RS pusat akan tetap ada meski kondisi libur lebaran.


RS Hasan Sadikin 

Jam 8 kurang, kami tiba di IGD RSHS Bandung, petugas satpam mengarahkan saya untuk langsung masuk di IGD. Baru saya ketahui, kebijakan RSHS berbeda dengan RS lain. Bila saya bersikeras ingin dirawat di IGD maka saya harus menandatangani persetujuan tindakan (operasi) dalam hal ini operasi usus buntu sebelum saya memasuki ruangan. Bila tidak setuju, dokter jaga mengarahkan saya untuk kembali mencari rumah sakit lain atau pulang. Tak ada pilihan lain, meski tanpa USG, saya memberikan persetujuan. Satu hal yang saya pahami, tentunya pasien yang tidak akan melakukan tindakan tidak diperkenankan memasuki ruang IGD karena keterbatasan fasilitas.

 

Di ruangan IGD, saya hanya ditunggui Ibunda. Seperti RS umum lainnya, suasana IGD ramai. Hampir semua tempat tidur terisi pasien. Di sebelah kanan saya, seorang wanita mengeluhkan lengannya yang sakit (saya lupa alasannya) dan di sebelah kiri saya, seorang laki-laki korban kecelakaan yang tak sadarkan diri. Seperti umumnya RS umum, saya lumayan lama menunggu untuk diperiksa. Sambil menunggu dan menikmati rasa sakit yang sedikit berkurang. Telinga saya menguping percakapan di sekitar saya. Entah koas (calon dokter) atau residen (calon dokter spesialis), hilir mudik memeriksa dan bertanya kepada pasien. Karena pemeriksaan itu berulang hampir setiap 15 menit sekali, saya hapal jenis pertanyaan dokter dan jawaban pasien. Bahkan, saat dokter bertanya pada asal daerah pasien kecelakaan di sebelah kiri saya, rasanya saya ingin berteriak menjawab: “Dari NTT, dok...bukan dari Papua.”😀





Tak lama kemudian, dokter mulai memeriksa saya dan menanyakan keluhan yang saya rasakan. Seperti yang saya jelaskan di dua RS sebelumnya, saya memberitahukan kepada dokter, perut kanan sakit luar biasa, tidak panas atau demam, tidak pusing dan lainnya. Saya juga menyampaikan hasil lab RS Hermina dan diagnosa awal usus buntu yang harus diperkuat dengan USG. Seorang perawat memasangkan selang infus (infus ke-2 di hari itu) yang mungkin berisi obat anti nyeri dan saya menanyakan kondisi RS kepada beliau. Banyaknya pasien yang tidak seimbang membuat tenaga kesehatan baik dokter atau perawat harus bekerja lebih keras. Two thumbs up👍👍


Rasanya waktu berjalan lambat. Beberapa lama kemudian, dokter (yang menurut dugaan saya seorang residen) kembali memeriksa dan menanyakan kondisi saya. Mungkin ada 2 atau 3 kelompok yang berbeda yang akhirnya membuat saya jengkel karena terus menerus ditanya dengan pertanyaan yang sama di saat saya masih meringis kesakitan (Maaf ya,dok😷). Dan akhirnya saya berhenti ditanya-tanya dan dibiarkan istirahat sambil menunggu pemeriksaan selanjutnya.


Selanjutnya, dokter yang sama mulai memeriksa saya dengan seksama, mengecek apakah perut kanan saya sakit saat kaki ditekuk (sepertinya ini pemeriksaan standar dugaan usus buntu ya), menepuk punggung tepat di area ginjal dan memeriksa perut saya berkali-kali (Awkward moment, rasanya tentu tak nyaman diperiksa dokter laki-laki ya tapi saya sudah pasrah). Tak ada keluhan yang berarti dan akhirnya dokter meminta ijin untuk pemeriksaan lewat dubur


Awalnya saya menolak karena saya hanya mau diperiksa dokter perempuan dan menandatangi berkas penolakan saya (setelah berdebat pendek). Namun melihat kondisi dan saya paham prosedur pemeriksaan tentunya harus seperti itu, akhirnya saya mengijinkan dokter jaga untuk memeriksa saya dengan catatan dilakukan secara tertutup.


Jam 12 siang, dokter meminta saya untuk memberikan sampel urine. Dalam kondisi yang sudah mulai membaik tanpa rasa sakit, saya pergi ke toilet yang terletak di ruangan lain dan memberikan sampel urine tersebut kepada Ibunda untuk diserahkan ke laboratorium. Inilah proses di RS umum, tidak boleh berkomentar untuk menginginkan fasilitas lebih.


Jam 1 siang, dokter jaga mengarahkan saya untuk melakukan USG abdomen di gedung yang berbeda. Dokter mengantarkan saya kesana. Ada satu hal yang tampaknya terlupakan, tentunya saya gagal diUSG karena kondisi kemih saya yang kosong pasca pemeriksaan urine. Dokter USG menyuruh saya minum agar kemih terisi sehingga USG dapat dilaksanakan. Alhamdulillah, ada bala bantuan dari adik-adik sepupu saya sehingga Ibunda tak perlu repot mencari air minum.


Dokter USG menyatakan bahwa usus buntu saya masih berdenyut...artinya secara teori masih baik-baik saja. Namun hal itu tidak memecahkan masalah mengapa perut saya sakit luar biasa. Dokter USG menyuruh saya kembali ke IGD dan di tengah perjalanan, perut saya kembali seperti ditusuk ujung pedang. Kembali di ruangan IGD, tak ada yang bisa dilakukan karena dokter harus menunggu hasil pemeriksaan urine dan USG terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan selanjutnya.

 

Apa yang terjadi selanjutnya??

Mampir Yuuks : Day 28: Pengalaman di IGD di Hari Lebaran...Momen Berkesan Lebaran Part 2


#BPNRamadhan2021

#BPNDay28

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 27 : Kastengel...Satu Tahun Sekali

May 09, 2021 0 Comments

Kastengel

Bila ada orang yang bertanya, apa kue favorit saat lebaran?

Saya akan menjawab dengan mantap “Kastengel”

Entahlah, saya penggemar nomor 1 kue keju yang konon berasal dari Belanda ini. Aroma khas campuran terigu dan keju benar-benar membuat saya meleleh. Seperti kue lainnya seperti nastar dan putri salju. Kastengel selalu hadir di hari raya. Jujur saja, bila tak ingat dengan kandungan gula dan kalori di dalamnya, saya sanggup menghabiskan satu toples kastengel sendirian.

 


Kastengel atau kaasstengel berasal dari kata kaas yang berarti keju dan stengels yang berarti batangan karena bentuknya serupa dengan batangan yang dipanggang keemasan. Kue ini berbahan dasar tepung terigu, telur, margarin dan parutan keju.

 

Di Indonesia, kastengel biasa disebut kue keju karena memang bahannya lebih didominasi dengan taburan keju. Kue keju bisa jadi dianggap sebagai makanan khas lebaran yang cukup bergengsi. Saya teringat saat kecil dulu, di saat keju menjadi barang mewah, kue keju tak bisa sembarangan disimpan di atas meja bila tak mau diserbu bocah-bocah. Maklumlah, dulu saya seringkali berlebaran di rumah nenek yang notabene mempunyai banyak cucu dengan kelincahan masing-masing termasuk lincah dalam menghabiskan berbagai jenis makanan dalam sekejap.


Sudah beberapa tahun ini saya berlangganan kastengel murah meriah namun rasanya lumayan enak. Kastengel produksi Cirebon ini biasa sold out bahkan saat ramadhan baru menginjak di pekan kedua.


Kue Satu

Kue lebaran favorit kedua adalah kue satu. Kue yang terbuat dari campuran tepung kacang hijau, tepung beras dan gula ini jarang sekali saya temui. Suatu hari, seorang teman kembali mudik dan membawa setoples kue dan memberikannya untuk saya. 


Kue satu merupakan kue khas Betawi namun banyak juga dijumpai sebagai bagian dari tradisi lebaran di tanah Sunda. Kue satu berasa manis dan gurih. Bentuknya padat dan bulat namun bertekstur seperti pasir dan mudah hancur. Meski keberadaanya sudah tergeser oleh kue kering kekinian namun bagi saya, seperti rasanya, kue ini mempunyai memori manis. Dahulu, kue satu menjadi jajanan legendaris generasi 90an.


#BPNRamadhan2021

#BPNDay27

Foto : Dokumentasi Justmenong

Referensi dari bebagari sumber

Day 26 : Ngabuburit Asik

May 08, 2021 0 Comments

Berbicara tentang ramadhan berarti pula membicarakan tradisi yang kerap ditunggu sebagian besar umat muslim. Ngabuburit, kata yang berasal dari bahasa sunda ini memiliki arti ngalantung ngadagoan burit alias santai menunggu waktu sore hari. Kata 'ngabuburit' kini digunakan secara luas untuk menyebutkan kegiatan rutinitas istimewa bagi siapapun yang bersuka cita menunggu waktu berbuka.



Ngabuburit Jaman Baheula

Ngabuburit tak hanya lekat bagi masa kanak-kanak yang dulu sering diramaikan dengan menyulut petasan atau sekedar jjs (jalan-jalan sore) sembari membeli aneka camilan teman berbuka. Seringkali, orang tua mengajak anak-anak ngabuburit dengan naik kuda atau delman di dekat rumah. Dahulu, sewaktu kami tinggal di rumah Embah yang terletak di dekat pusat pemerintahan, salah satu aktivitas ngabuburit adalah menonton balapan motor yang digelar di sirkuit dadakan dekat rumah. Meski berbahaya, atraksi ini sukses menarik minat banyak orang sebelum akhirnya dibubarkan petugas.



Ngabuburit Emak-Emak

Rasanya ngabuburit tak lagi bermakna bersantai namun juga sering diisi dengan kegiatan bermanfaat. Ngabuburit bagi emak-emak tentunya lebih banyak diisi dengan menyiapkan hidangan untuk berbuka meski sebenarnya saya hanya menemani Ibunda Zauji alias merangkap sebagai asisten. Biasanya acara masak memasak dimulai jam 3 sore dan berakhir jam 5 sore. Selebihnya, saya kembali ke aktivitas membuka laptop atau HP atau sekedar mengobrol dengan Zauji😎

 

Ngabuburit Jaman Now

Sebelum pandemi ngabuburit sering diisi dengan kegiatan sosial seperti berbagi ifhtor atau donasi lain seperti keperluan perlengkapan mesjid, mushaf al quran dan lainnya. Alhamdulillah antusiasme teman-teman untuk berbagi di bulan suci ini berlipat-lipat lebih besar. Bersama salah satu komunitas yang kami ikuti, terkadang kami mengunjungi rumah yatim atau dhuafa langsung.


Kini, kami tak lagi meluangkan waktu untuk ngabuburit di jalan seperti dulu. Selain menghindari kerumunan, rumah kami terletak di tepi jalan ramai sehingga cukuplah menonton deretan jajanan yang digelar sepanjang jalan dan tak pernah sepi pembeli. 


Dan ngabuburit tentunya harus tetap diisi kegiatan produktif meski dilakukan melalui online. Sejak ada kurir online, kegiatan donasi ifthor dapat dilakukan melalui kurir baik saat memesan makanan atau mengirimkannya hingga tujuan. Kegiatan kajian dapat pula dilakukan melalui zoom meeting. 


Mampir yuks : Day 23 : Tips Meningkatkan Produktivitas Saat Puasa



#BPNRamadhan2021

#BPNDay26

Foto : Dokumentasi Justmenong

Day 25 : Resep Telur Dadar Istimewa...Menu Makanan Favorit Saat Sahur

May 07, 2021 0 Comments

Sahur tak sekedar ritual bersantap di pagi hari. Sejatinya bersantap sahur layaknya mengambil keberkahan seperti yang terungkap dalam hadist “Bersantap sahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan.”

Sahur dilaksanakan dini hari hingga menjelang subuh. Tahun ini adzan subuh berkumandang sekitar jam setengah 5 pagi. Saya biasa bangun jam 2.30 agar lebih leluasa mengatur waktu antara menyiapkan hidangan dan pekerjaan lain yang biasanya dikerjakan berbarengan.


Mampir yuks : Day 17 : Masak...Masaaaak


Sebetulnya tak berbeda dengan sahur saat shaum sunnah di hari biasa, hidangan sahur lebih didominasi sayuran berkuah dan lebih sedikit gorengan. Menu favorit saat sahur sepertinya tak jauh dari sayur sop atau sayur asem khas sunda. Karena Ibunda Zauji tak pernah mengonsumsi ayam negeri, telur dadar sering menjadi pilihan sebagai sumber protein yang paling mudah.


Telur Dadar Istimewa

2 butir telur

Daun bawang secukupnya, kurleb iris 1 cm

Kaldu jamur

Garam himalaya secukupnya.

Minyak secukupnya

 

2 butir telur dikocok dengan garpu hingga mengembang

Tambahkan daun bawang, garam dan kaldu jamur

Panaskan minyak hingga panas benar

Tuangkan kocokan telur dengan posisi agak tinggi agar terbentuk renda

Masak hingga kecoklatan dan balikan telur agar matang di kedua sisinya

Angkat dan tiriskan

Kelebihan minyak bisa diserap dengan tisu terlebih dahulu sebelum dihidangkan

 

Tahu Tepung

Terkadang, demi kepraktisan, saya menyiapkan stok tahu di kulkas yang saya buat tahu tepung plus sambal kecap. Tahu yang cocok untuk tahu tepung adalah tahu putih. Bandung sendiri terkenal dengan tahu cibuntu yang mempunyai rasa lebih enak daripada tahu di daerah lain.

 

Resep tahu tepung

5 buah tahu putih atau tahu kuning, potong memanjang atau potong dadu

Daun bawang secukupnya, iris tipis

Tepung terigu, secukupnya

Tepung tapioka, secukupnya

Bawang putih bubuk, secukupnya

Kaldu jamur, secukupnya

Garam himalaya secukupnya

Air secukupnya

Minyak secukupnya

 

Campur tepung terigu dan tepung tapioka

Tambahkan air dan aduk rata

Tambahkan garam, kaldu jamur, dan bawang putih bubuk

Koreksi rasa

Tambahkan daun bawang

Masukan tahu

Biarkan beberapa saat agar bumbu meresep

Angkat tahu dengan tepung yang berlebih baru masukan ke dalam wajan

Goreng tahu satu persatu hingga setengah matang

 

Sambal kecap

2 siung bawang merah atau bawang putih, iris tipis

1 buah tomat kecil, potong

Cabe rawit secukupnya, gerus di pinggir wadah dengan menggunakan sendok agar biji cabe rawit keluar

Tambahkan kecap sesuai selera

Aduk dan siap dihidangkan

 

Saya sendiri selalu memilih makan dalam porsi kecil plus segelas susu sebagai bekal berpuasa sehari penuh. Jangan lupa, cukup minum air putih agar terhindar dari dehidrasi.


Mampir yuks : Resep Ikan Asam Pedas Khas Ketapang, Kalimantan Barat


#BPNRamadhan2021

#BPNDay25

Foto : Dokumentasi Justmenong