Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Kanker Payudara : Masektomi dan Kemoterapi

February 10, 2021 0 Comments

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bila suatu hari kami akan dihadapkan dengan vonis berat seperti itu. Rasanya seperti mimpi saat dokter menyampaikan hasil laboratorium operasi pertama ternyata menunjukan ada sel kanker yang bersemayam di tubuh Ibunda.

 

Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 1...CeritaDimulai

 

Rujukan di Faskes 1

Berpasrah dan menerima takdir Allah, ikhtiar tetap kami jalankan baik melalui pengobatan medis maupun pengobatan herbal sebagai pendukung. Ibunda adalah wanita tegar yang penuh semangat untuk kembali sehat. Dari mula muncul gejala benjolan di bulan pertama, saya dan Ibunda berbagi tugas untuk segera mendapatkan pengobatan terbaik. Alhamdulillah, di usia menjelang 70 tahun, Ibunda masih bisa beraktivitas mandiri sehingga beliau langsung bergerak cepat mengurus rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat 1 (faskes 1) yakni di puskesmas terdekat dan selesai di hari yang sama.

 

Sebenarnya adik saya sejak lama berkeinginan memindahkan faskes 1 beliau ke klinik seperti halnya kami berdua yang memilih klinik pratama sebagai faskes 1, namun karena di area rumah belum ada klinik yang memberikan layanan faskes 1 BPJS, niat itu tertunda hingga beberapa lama. Tak ada halangan karena pihak puskesmas tentunya memahami kondisi Ibunda yang memerlukan perawatan lebih di faskes 2 yang lebih baik.

 

Kami memilih RS Hermina sebagai faskes 2. Dan ternyata, meski lebih dekat, RS Al Islam Bandung tidak bisa otomatis menjadi faskes 2 karena RS Al Islam memiliki tipe yang berbeda. RS Hermina sendiri merupakan RS tipe C sedangkan RS Al Islam merupakan RS tipe B sehingga pasien akan dirujuk terlebih dahulu ke RS tipe C yaitu RS Hermina.

 

Kami pun segera mengurus ke bagian BPJS. Karena ini pertama kali Ibunda berobat setelah sekian lama, kami harus kembali mengurus pendaftaran BPJS di lantai dasar meski sudah mendapatkan antrian nomor berobat melalui online. Antrian lumayan lama karena semua pasien BPJS mengantri di tempat yang sama. Setelah proses verifikasi selesai (pengecekan status BPJS dan berkas yang dipersyaratkan), kami bisa melakukan pendaftaran ulang dan pemeriksaan awal seperti tensi dan keluhan umum di klinik bedah.


 

Operasi Pertama dan Masektomi

Kami sengaja kembali memilih dr Richard SHTL, SpB sebagai dengan pertimbangan, saya sendiri pernah menjadi pasien beliau dan merasakan kebaikan beliau sewaktu menjalani operasi ganglion beberapa tahun yang lalu. Saat memeriksa kondisi Ibunda, Benar saja, dr Richard langsung memutuskan untuk operasi segera mungkin namun karena dalam waktu dekat Zauji harus menjalani operasi juga, saya meminta dokter untuk menjadwalkan pasca operasi Zauji.

 

Mampir yuks: Pengalaman BPJS untuk Pengobatan Ganglion...Part 1

Mampir yuks : Pengalaman Operasi Ablasio Retina...Perjuangan itu Dimulai...Part 1...Saat Mata Tak BisaLagi Melihat

 

Selama proses pengobatan, kami difasilitasi BPJS. Alhamdulillah sejak awal adanya BPJS mandiri, kami mendaftarkan Ibunda untuk menjadi peserta BPJS mandiri sehingga saat memerlukan pengobatan, beban biaya dapat berkurang. Tentunya kewajiban sebagai peserta yaitu iuran bulanan tidak boleh diabaikan. 


Seperti biasa, petugas BPJS di RS akan melakukan verifikasi data dan administrasi untuk kelengkapan tindakan operasi. Jadwal sudah disepakati dan petugas memberikan penjelasan apa yang harus Ibunda dan keluarga lakukan menjelang operasi. Konsultasi ke bagian penyakit dalam dan anestesi dan melakukan pemeriksaan darah dan rontgen dilakukan sesegera mungkin asal masih berada dalam rentang waktu yang diperkenankan.

 

Tak disangka, hanya berselang lebih dari seminggu, benjolan yang sedianya berukuran kecil mulai membesar dengan cepat dan terasa nyeri. Saya pun tak menunda untuk berkonsultasi dengan dr Richard. Saya ingat, kami bertemu dr Richard di hari Jumat bada magrib. Saat itu juga, beliau langsung menelepon petugas BPJS untuk penjadwalan ulang di hari senin dan menyetujui pemberkasan dilakukan menyusul. Meski pemeriksaan pra operasi Zauji dilakukan pada hari Selasa, saya tidak punya pilihan lain karena saya paham pengobatan kanker harus dilakukan segera agar penyebaran tidak meluas cepat.

 

Alhamdulillah proses operasi berjalan lancar. Seperti yang disampaikan petugas BPJS, semua biaya pengobatan ditanggung pihak BPJS, begitu pula saat Ibunda menjalani masektomi di RS Ujungberung. Proses perpindahan administrasi BPJS antar rumah sakit dilakukan dengan mudah tanpa kendala dan tak ada biaya yang dikeluarkan.

 

Mampir yuks : Cerita Berjuang Melawan Kanker Payudara.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi

 

Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan segera tanpa menunggu luka pasca operasi sembuh dengan tuntas. Karena kemoterapi hanya bisa dilakukan di RS tertentu, kami mencari alternatif RS lain selain RS Hasan Sadikin karena saat itu RS Hasan Sadikin menjadi RS rujukan pasien Covid 19 yang tentunya bukan tempat yang aman bagi semua orang. Setelah mencari informasi ke berbagai RS, RS Santosa Kopo yang merupakan Cancer Center bisa menerima pasien kemoterapi dengan biaya 100% ditanggung BPJS.

 

Proses pengajuan pengobatan dengan BPJS tentunya dimulai dengan pengajuan kepada pihak BPJS RS Santosa Kopo. BPJS RS Santosa Kopo menempati ruangan tersendiri di lantai 2 dekat dengan bagian pendaftaran. Seluruh berkas yang diperlukan diserahkan dan proses verifikasi akan dilakukan sebelum pasien mulai berobat di RS Santosa Kopo. Petugas melayani dengan baik dan memberikan penjelasan lengkap. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.


Pendaftaran bagi pasien BPJS dilakukan tak jauh beda dengan pasien umum, hanya hanya tentunya kelengkapan berkas yang harus selalu diperhatikan setiap akan kontrol. Berkas BPJS terbagi dua yaitu berkas untuk kontrol di klinik Bedah Onkologi dan berkas untuk kemoterapi di lantai 5 Cancer Center.



Selama proses kemoterapi tak ada kendala yang berarti selama rujukan dari faskes 1 berlaku, berkas lengkap dan mematuhi jadwal dan aturan. Biaya kemoterapi sendiri bisa mencapai Rp. 10 juta per sesi. Dalam 1 paket ada 6x kemoterapi. Tentunya dapat dibayangkan biaya yang harus dikeluarkan pasien kanker untuk menuntaskan. Belum lagi pemeriksaan dokter, laboratoriumd dan lainnya Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan lewat keikutsertaan Ibunda di BPJS mandiri.

 

Saat ini, Ibunda sudah kembali beraktivitas setelah dinyatakan sehat oleh dokter, meski demikian, Ibunda tetap diwajibkan kontrol setiap bulan, menjaga pola makan dan gaya hidup.


Foto : Dokumentasi justmenong