Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 1...Cerita Dimulai


Rasanya ‘kanker atau cancer’ menjadi salah satu kata yang tak pernah saya bayangkan akan hadir dalam hidup saya dan Ibunda. Namun awal tahun ini, kami mendapat kejutan dengan hasil diagnosa dokter.


Berawal terasa ada benjolan di payudara sebelah kiri, mungkin karena dirasa tidak mengganggu dan tidak terasa sakit sehingga Ibunda tidak mengeluh dan mengabaikannya. Namun berselang dua bulan benjolan semakin membesar sehingga dapat diraba dengan tangan sehingga langsung inisiatif untuk memeriksakan ke dokter bedah (bukan dokter umum atau internis).


Meski saya termasuk orang yang lebih memilih pengobatan secara alami seperti herbal namun dalam kasus seperti ini, lebih bijak untuk menjadikan medis sebagai pengobatan utama. Namun sebagai penopang daya tahan tubuh, sayapun mulai rajin mencari informasi mengenai pengobatan alami untuk benjolan di payudara.


Baca : Ikhtiar Pengobatan Kanker Payudara dengan Herbal


Tanpa banyak pertimbangan dokter bedah segera menginstruksikan untuk operasi pengangkatan benjolan atau biopsi. Pada wanita yang telah mengalami menopause, benjolan di payudara sangatlah tidak lazim karena secara teoritis hormon telah berubah sehingga ada indikasi serius yang perlu penanganan segera.


Setelah melengkapi berbagai administrasi dan pemeriksaan pra operasi, biopsi dilaksanakan segera. H-1 operasi, Ibunda sudah siap di rumah sakit. Ini pertama kali saya menunggui beliau menginap di rumah sakit. Tak ada riwayat penyakit berat yang beliau idap seperti hipertensi atau diabetes sehingga kondisi Ibunda relatif aman.



RS Hermina Arcamanik menjadi pilihan karena beliau pernah menjalani pengobatan syaraf kejepit di rumah sakit ini beberapa tahun yang lalu. Manajemen dan penanganan yang efisien menjadi alasan saya memilih rumah sakit ini meski berada agak jauh dari rumah.


Operasi berjalan lancar selama ± 2 jam. Kondisi yang fit membuat Ibunda bisa langsung sadar tanpa keluhan bahkan makan dengan lahap karena rentang puasa pra operasi yang lumayan lama. Meski demikian, gelang identitas warna kuning ( pasien dengan resiko jatuh) membuat Ibunda tak diperkenankan turun dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi. Penggunaan pampers menjadi satu-satunya opsi. Tentunya tak nyaman namun seperti yang disampaikan perawat, apabila pasien atau keluarga pasien tidak mematuhi aturan maka segala resiko di luar tanggung jawab rumah sakit. Secara keseluruhan kondisi cukup baik terutama bagi lansia yang baru saja menjalani biopsi sehingga Ibunda sudah diperkenankan pulang di hari berikutnya.


Hasil biopsi kami peroleh 2 minggu kemudian dan langsung kami konsultasikan dengan dokter bedah yang melakukan tindakan operasi. Sesuai dengan dugaan saya karena saya sempat mengintip hasil biopsi sebelumnya, Ibunda divonis menderita kanker payudara.


Lazimnya, kemoterapi menjadi pengobatan pertama kanker payudara namun dokter menyarankan untuk masektomi atau pengangkatan payudara untuk mencegah penyebaran sedari dini.


Belum reda rasa kaget, dokter memberi kami waktu kurang dari 24 jam untuk memutuskan apakah bersedia menjalani masektomi dalam waktu dekat atau tidak. Tak banyak pengalaman kanker di sekitar kami namun Alhamdulillah, Ibunda adalah wanita yang super kuat. Dalam perjalanan pulang, kami saling berjanji dan menguatkan untuk menghadapi dan menjalani salah satu nikmat ujian ini bersama-sama.

 

Tidak ada ujian kecuali Allah yakin kita akan mampu melewati dan ujian sakit merupakan salah satu kasih sayang Allah bagi hamba-Nya.

 

Bagaimana masektomi dilakukan. Baca : "Breast Cancer.. Fighting Another Battle...Part 2...Masektomi"

Foto : pixabay

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum, teman!
Silakan tulis komentarmu di sini.
Jangan lupa pergunakan bahasa yang baik yaaa