Menilik Jejak Majapahit di Tulungagung, Jawa Timur

January 13, 2019 0 Comments
Menjelang akhir tahun 2018, saya berkesempatan mengunjungi kota Tulungagung, kota di pesisir Jawa Timur, ±150 km dari Surabaya. Tiba di Bandara Juanda, Surabaya hampir jam 11 malam, kami meluncur langsung melalui Kota Kediri dengan perkiraan kami akan tiba di Tulungagung dini hari.

Tengah malam, kami mampir di Ayam Lodho Pak Yusuf. Rumah makan ini terletak di daerah Pogalan, jalan raya yang menghubungkan Trenggalek dan Tulungagung. Ditemani segelas teh yang super manis (untuk saya yang tidak terbiasa), kami tak bisa menahan diri dari ayam lodho yang menggoda selera. Bukan sembarang ayam, ayam lodho dibuat dari ayam kampung muda yang direbus, dibakar dan dikukus kembali sebelum diungkep lengkap dengan bumbunya. Kuah ayam lodho terbuat dari santan kanil (santan kental) dan sisa minyak ayam serta ditambah cabai rawit domba utuh. Rasanya…hmmmm…yummy….


Di sudut malam 


Meski hanya berkesempatan berkeliling dalam satu hari saja, kota penghasil marmer terbesar di Indonesia ini layak menjadi tujuan berlibur. Suasana Tulungagung tidak terlalu ramai dan suasana pedesaan masih terasa. Bolangers bisa menjadikan Tulungagung menjadi alternatif wisata karena banyaknya destinasi yang bisa dikunjungi dari mulai peninggalan bersejarah, agrowisata, air terjun di pegunungan hingga pantai.


Candi Sanggrahan
Keesokan harinya, saya diajak mampir ke Candi Sanggrahan (Candi Cungkup atau Candi Proetoeng), candi yang dibangun pada jaman Majapahit masa pemerintahan Hayam Wuruk (1359 – 1389 M). Candi Sanggrahan dibangun sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa jenazah pendeta wanita Budha kerajaan Majapahit bernama Gayatri yang bergelar Rajapadmi yang akan dibawa dari keraton Majapahit untuk dibakar di sekitar Boyolangu, ± 3 km ke arah barat.

Candi ini berbentuk bujursangkar dan terdiri dari bangunan kaki, tubuh dan atap. Bagian atap candi telah runtuh dan yang tersisa bagian kaki candi dan sedikit badan candi. Bangunan induk candi berukuran Panjang 12,60 m, lebar 9,05 m dan tinggi 5,86 m. Secara umum kompleks Candi Sanggrahan terdiri dari sebuah bangunan induk dan 2 buah sisa bangunan perwara (candi pelengkap kompleks percandian). Ada hal unik mengenai candi ini karena disusun atas 2 batu yang berbeda. Bangunan induk menggunakan batu andesit dengan isian batubata. Bangunan ini terdiri dari 4 tingkat yang masing-masing berdenah bujursangkar dengan arah menghadap barat. Bagian perwara yang berada di sebelah timur terbuat dari bata merah. Bangunan Candi Sanggrahan pada teras/undakan setinggi tidak kurang dari 2 meter.
Bangunan Candi Sanggrahan

Di timur bangun induk dulu terdapat 5 buah arca Budha  yang masing-masing posisi mudra (sikap tangan simbolis Budha) yang berbeda. Kini kelima mudra tersebut disimpan di Museum Wajakensis (Museum Daerah Tulungagung).

Tidak seperti candi pada umumnya, candi ini tidak memiliki hiasan relief pada bagian tubuh candi. Hiasan relief hewan seperti singa dan serigala dapat ditemukan pada dinding candi bagian bawah atau kaki candi yang berada dalam kotak persegi panjang.

Relief Candi

Suasana di sekitar candi cukup sepi karena terletak persis di pedesaan , tepatnya desa Sanggrahan, yang mudah dicapai dengan kendaraan beroda dua atau empat. Bolangers dapat memasuki area candi tanpa adanya pintu masuk atau membeli tiket terlebih dahulu karena areal candi hanya dibatasi dengan pagar kawat sederhana. Bolangers juga dapat naik ke undakan batubata merah untuk memasuki areal candi. Meski, tidak terlalu tinggi, jangan lupa perhatikan saat bolangers menaiki undakan karena tidak ada pegangan di samping undakan.
Undakan menuju areal candi


Candi Boyolangu
Destinasi kedua adalah Candi Boyolangu atau Pendarmaan Gayatri. Pendarmaan merupakan ibadah umat Hindu atau Budha sebagai penghormatan terhadap yang diagungkan. Candi Boyolangu merupakan pendarmaan terhadap Gayatri atau Rajapatni merupakan salah satu istri Raden Wijaya, raja Majapahit pertama. Candi Boyolangu sendiri merupakan penyimpanan abu jenazah Gayatri.

Petunjuk Arah Menuju Candi Boyolangu

Seperti halnya, Candi Sanggrahan, Candi Boyolangu juga terletak di pedesaan dan diapit pemukiman masyarakat Dusun Dadapan, Desa Boyolangu. Tak ada petunjuk yang mencolok kecuali gapura masuk menuju lokasi candi. Saat tiba disana, pintu gerbang candi terkunci sehingga saya hanya bisa mengintip dari luar saja.

Candi Boyolangu

Candi yang ditemukan pada tahun 1914 ini terdiri dari 3 bangunan perwara yang masing-masing menghadap ke barat. Bangunan paling besar merupakan bangunan induk perwara dan berada di tengah. Bangunan induk perwara terdiri dari 2 teras berundak yang kini hanya tinggal bagian kakinya saja. Bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan Panjang dan lebar 11,40 m dengan sisa ketinggian ± 2,3 m. dalam bangunan utama ini terdapat sebuah penggalan arca wanita Budha, yaitu Gayatri, yang sudah rusak (bagian tangan dan kaki sudah hilang) meski masih terlihat baik. 

Tak terasa, sudah tiba waktunya kembali ke rumah. Sebelum pulang, jangan lupa untuk membeli oleh-oleh rambak, kerupuk kulit kerbau, khas Tulungagung.


Referensi : Disarikan dari berbagai sumber

Foto : Dokumentasi pribadi

Foto : Dokumentasi pribadi