Sebuah Catatan Perjalanan Umroh di Madinah : Menautkan Cinta di Rumah Rasulullah

March 13, 2014 0 Comments
It felt like home.
Rumah Rasulullah...rumah yang senantiasa kita rindukan

Seperti rumah, mungkin itu yang bisa menggambarkan perasaan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di kota suci kedua setelah Makkah ini. Madinah Al Munawarah adalah rumah rasulullah. Dataran yang dikelilingi gunung dan perbukitan yang memiliki banyak keutamaan dan nama yang disematkan diantaranya An Najiyah, Al Mubarakah, Al Majinnah, Al Marzuqah, Asy syafiya, Al Mahfufah, Al Marhmah, Al Qudsiyah, Darul Hijrah dan Al Jabirah.

"Sesungguhnya Ibrahim yang menyebabkan Makkah menjadi kota suci dan aku menyebabkan Madinah menjadi kota suci." (HR.Muslim).

Madinah, dahulu bernama Yastrib, terletak di tengah bagian barat Arab Saudi berjarak 430 km arah utara Makkah. Madinah beriklim gurun dengan suhu berkisar 30 – 45°C di musim panas dan suhu rata-rata berkisar 10 – 25°C.

Di kota ini terdapat masjid Nabawi, salah satu masjid utama bagi umat muslim setelah masjidil haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Palestina. Masjid nabawi merupakan masjid kedua yang dibangun rasulullah setelah masjid Quba.  Di sebelah timur masjid Nabawi terdapat makan rasulullah sedangkan ruang di sebelah sisi masjid adalah raudhah yang terletak di antara mimbar dan kamar rasulullah. Raudhah merupakan tempat yang memiliki keutamaan seperti yang disabdakan Rasulullah:

Di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku (kelak) akan berada di atas telagaku.” (HR. At Tirmidzi)

Menapaki kota ini yang penuh berkah dan kebaikan ini serasa menapaki kerinduan pada junjungan kita, Nabi Muhammad. Setiap sudutnya adalah saksi betapa kota ini mendapat tempat istimewa di setiap hati kaum muslimin.

Pelataran Masjid Nabawi dengan Payung Raksasa Ikoniknya

Bada Shalat

Pintu megah Masjid Nabawi

Air Zamzam


Pasar Kaget di Pelataran Masjid Nabawi setiap bada sholat

Silsilah Rasulullah

Aah…rindu kami padamu ya Rasulullah.
It always feels like home with you.



-Baca juga Sebuah Catatan Perjalanan Umroh di Makkah : Memahat Rindu di Bumi-Mu -

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi

Sebuah Catatan Perjalanan Umroh di Makkah : Memahat Rindu di Bumi-Mu

February 22, 2014 0 Comments
Alhamdulillah...akhirnya berkesempatan menatap kota istimewa ini secara langsung saat umroh. Makkah Al Mukaramah....Rasulullah tercinta lahir di kota ini. Berbeda dengan Madinah yang cenderung tenang. Hawa Makkah terasa lebih memanggil kita untuk selalu bergegas dan bersegera menuju rumah Allah.

Kota Makkah adalah kota yang dirindukan, tempat kita selalu ingin kembali seperti halnya doa yang kita lantunkan saat menunaikan tawaf terakhir.

“Ya Allah, janganlah Kau jadikan ini sebagai saat perjumpaan yang terakhir dengan rumah-Mu yang suci. Tetapi sekiranya Engkau telah menetapkannya sebagai perjumpaanku yang terakhir dengannya maka karuniakanlah surga bagiku sebagai gantinya.”

“Semoga kami termasuk orang-orang  yang kembali, orang ahli ibadah, ahli sujud dan kepada Allah kami semua memuji.”
“Aamiin”

Inilah doa yang membawa setiap dari kita selalu ingin kembali untuk menunaikan umroh atau ibadah haji di tanah suci.

Kota Makkah dari ketinggian
Zamzam Tower, Makkah

Teras Masjidil Haram


Kabah, The Most Beautiful Place on Earth


Setiap sudutnya membuat kita merindukannya


Salah satu pintu masuk

Air Zamzam

Suasana di dalam Masjidil Haram

Sai antara Safa dan Marwa

Miqot di Ji'ronah

Berburu rempah di Ji'ronah

Jabal Rahmah, Monumen Pertemuan Adam dan Hawa

Deretan tenda di Padang Arofah..mudah-mudahan Allah menyegerakan kita untuk menunaikan ibadah haji...Aamiin

Mesjid Terapung, Laut Merah, Jeddah


Tulisan, foto-foto dalam album, buah tangan dan cerita hanyalah sebagian kecil oleh-oleh yang kita bawa sepulang umroh. Sesungguhnya, pahatan kerinduan kita kepada tanah suci adalah oleh-oleh dan kenangan terbesar yang senantiasa akan membuat kita selalu merindukan tempat yang dimuliakan Allah ini.

 

Foto : Dokumentasi Pribadi

Istanbul, Turki : Terpesona Konstatinopel : Sightseeing (2)

January 29, 2014 0 Comments
Pesona Konstatinopel, atau yang kini dikenal dengan sebutan Istanbul, Turki, seakan tak pernah putus. Berjuta wisatawan datang mengunjungi Istanbul setiap tahunnya. Sebagai bekas pusat kekhilafahan Utsmaniyah, salah satu daya tarik yang dipancarkan adalah banyaknya situs islam yang masih terpelihara hingga kini dan menjadi situs warisan dunia UNESCO. Istanbul merupakan pusat ekonomi, budaya dan sejarah di Timur Tengah. Berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa dengan lebih dari 95% muslim, Istanbul merupakan perpaduan budaya antara Eropa dan Asia. Kendati bahasa resmi adalah bahasa Turki, sebagian besar masyarakat Istanbul dapat berbahasa Inggris sehingga memudahkan bila bolangers tidak menguasai bahasa Turki.

City Tour

Jalanan yang tertata rapi

Suasana Kota Istanbul

Istanbul adalah pesona yang menggoda dari berbagai sisi. Sebagai daerah yang terletak membentang melintasi selat Bosphorus di Turki Barat Laut, Laut Hitam dan Laut Marmara, Istanbul memiliki keindahan alam yang menarik yang dikelilingi benteng yang telah berusia ratusan tahun sebagai saksi sejarah Bynzatium hingga penaklukan Konstatinopel di abad ke 15.


Di era Turki modern, tata kota Istanbul tetap tidak mengubah nilai historisnya kendati transportasi dan bangunan modern bermunculan. Masyarakat Istanbul sendiri kerap menggunakan ruang publik terbuka sebagai sarana olah raga dan rekreasi. Lapangan terbuka lazim ditemukan dimana saja bahkan dengan fasilitas olah raga lengkap. Sebagian besar masyarakat Istanbul tinggal di apartemen karena mahalnya lahan.

Kawasan perumahan elit di Istanbul Eropa di sisi Selat Bosphorus

Kawasan pertokoan elit di Istanbul Asia

Universitas Istanbul

Kawasan tepi Laut Marmara yang terkenal dengan Kapal Freedom Flotilla yang diserang Israel


Tidak seperti tempat tujuan wisata di negara lain, Istanbul tidak begitu memiliki banyak gerai hidangan fast food seperti McDonalds, Starbuck dan sejenisnya sehingga wisatawan ‘dipaksa’ untuk selalu menyantap hidangan lokal sebagai pengganjal perut. Buah zaitun dan keju khas Turki menjadi menu sarapan, sedangkan kebab dan roti cane menjadi pilihan menu makan siang. Camilan khas Turki pun layak dicoba.
Menu sarapan

Sebagai orang Indonesia sejati, bagi saya, menu sarapan hanya dengan 'telur dan roti' memang rasanya jadi kurang 'nendang' :D sehingga bagi yang kurang ‘klop’ dengan hidangan tersebut, restoran cina atau India bisa dijadikan alternatif lain. 
Roti Cane

Kebab plus nasi


Wisata alam dapat dilakukan dengan melihat menikmati kota Istanbul di daratan Asia dari ketinggian di Çamlıca Tepesi. Dengan uang 1 TL (Turkish Lira) pengunjung bisa menikmati pemandangan indah melalui teropong. Sama seperti di Indonesia, fasilitas umum seperti toilet pun ternyata berbayar juga😃

Pemandangan Istanbul Asia dilihat dari Çamlıca Tepesi

Selat Bosphorus dapat dilalui pula dengan menggunakan kapal feri. Bangunan dan mesjid dengan gaya arsitektur berabad silam dapat dinikmati sepanjang perjalanan. Angin kencang yang kerap menerpa sehingga cara teraman adalah tetap menggunakan jaket selama di kapal. Bila tak nyaman dengan angin kencang di atas dek, bolangers dapat menikmati keindahan selat Bosphorus di kafe yang terletak di geladak kapal ditemani hangatnya segelas teh khas Turki seharga 5 TL.
Kapal Ferri, Sarana transportasi wisata Selat Borphorus

Jembatan melintasi Selat Borphorus yang menghubungkan Istanbul Eropa dan Asia

Pemandangan di Selat Bosphorus

Wisata belanja dapat dilakukan di pasar tradisional Egyptian Bazaar yang dibangun pada tahun 1660. Penamaan tersebut dikarenakan banyaknya rempah-rempah asal Mesir meski banyak juga produk dan makanan khas Turki yang dijual di pasar ini. Selain itu Grand Bazaar dapat dijadikan tujuan wisata belanja lainnya. Tidak perlu khawatir dengan mata uang yang akan digunakan. Dollar, Euro atau Lira (Turkish Lira) dapat digunakan dalam transaksi dengan konversi $1 = 2 lira. 

Banyak suvenir khas Turki yang dapat dibeli dengan harga relatif murah berkisar 1- 2 TL seperti gantungan kunci. Menawar harga adalah sesuatu yang lazim dalam budaya Turki sehingga pembeli tidak perlu ragu untuk meminta harga yang lebih murah. Salah satu kosa kata bahasa Turki yang layak diingat adalah “indirim” yang berarti ‘diskon’.

Kawasan pertokoan

Suasana 
Grand Bazaar di Malam Hari

Egytian Bazaar , destinasi belanja favorit wisatawan

Es krim Dondurma khas Turki, saat ini sudah banyak tersedia di berbagai mall di Indonesia

Manisan khas Turki, super manis

Pashmina sutera khas Turki, $10

Suvenir khas Turki

Karpet dengan motif Ottoman seharga $50

Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Hippodrome, pada awalnya Hippodrome merupakan gelanggang pacuan kuda dan sebagai pusat olahraga dan sosial di jaman Bynzatium. Saat ini tidak ada lagi sisa peninggalan pacuan kuda. Kini kawasan Hippodrome dikenal dengan sebutan Sultanahmet Square. Di kawasan ini masih terdapat dua obelik Mesir yang dipindahkan dari kuil Karnak di Thebes, Mesir. 

Saat melihatnya, hanya ada satu yang terlintas di pikiran saya : Bagaimana caranya memindahkan batu sebesar itu dari Mesir ke Turki dengan peralatan sederhana berabad yang lalu??

Obelik Mesir
Istanbul sebagai salah satu kota terbesar di Turki telah menjadi salah satu kiblat mode fashion. Kulit kambing –Lambskin Leather– merupakan komoditas utama Turki. Salah satu butik ternama di Istanbul, Kircilar, merupakan pemasok jaket kulit bagi beberapa merek busana ternama dunia. Model dan kualitas terbaik menjadikan produk yang dihasilkan sangat eksklusif. Demikian pula perhiasan asli Turki seperti batu turquoise yang berwarna hijau. Hanya saja perlu kocek yang tebal untuk membeli produk-produk tersebut mengingat harga yang ditawarkan tidaklah murah.
Sebut saja harga berkisar 11 juta rupiah untuk jaket termurah, tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk berbelanja. Namun itulah keunggulan pariwisata Turki, semua wisatawan mancanegara 'diwajibkan' untuk berkunjung kedua tempat tersebut.

Peragaan busana di Kircilar Istanbul
        
Batu Turquoise asli Turki

Rasanya tidak penasaran berkeliling Istanbul, kota wisata serba ada. Dan jangan lupa, siapkan baju tebal dan sepatu boots bila berkunjung ke Istanbul di awal Januari ya...dan mungkin bolangers beruntung bisa mendapatkan salju.

-Baca juga Istanbul, Turki : Terpesona Konstatinopel : Sightseeing (1)-

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi



Istanbul, Turki : Terpesona Konstatinopel : Sightseeing (1)

January 22, 2014 0 Comments
Saat berkesempatan untuk melaksanakan umroh plus, tanpa berpikir panjang saya memilih Turki sebagai destinasi lain di luar jadwal perjalanan umroh. Alasan pertama tentu saja karena saya sudah ingin sekali menjejakkan kaki di benua Eropa ;) .
Namun sesungguhnya alasan yang terpenting adalah karena Turki dahulu pernah menjadi pusat kekhalifahan islam. Mengunjungi Turki adalah sebuah keharusan. Tempat dimana semua peninggalan jaya Utsmaniyah berada.
Konstatinopel, kota reruntuhan Byzantium, pagi itu hampir menyentuh 4°C. Dingin namun tetap sarat dengan pesona. Betapa tidak, sejarah penaklukannya telah disabdakan Rasulullah SAW berabad yang lalu. Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash. Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya : “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab : “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.”

Benteng Peninggalan Byzantium

Kota Heraklius yang dimaksudnya adalah Konstantinopel. (H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad)
Penaklukan Konstatinopel dilakukan pertama kali oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M namun mengalami kegagalan. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al Anshari r.a gugur dan dimakamkan di sisi tembok Konstatinopel di Golden Horn yang kelak diabadikan menjadi sebuah mesjid sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.
Mesjid Abu Ayyub Al Anshari
Makam Abu Ayyub Al Anshari r.a

Adalah Sultan Mehmed II yang dikenal juga sebagai Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481), seorang khalifah Utsmaniyah yang menaklukkan kekaisaran Romawi Timur 8 abad kemudian. Ahli di bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa saat berusia 21 tahun. Seorang pemimpin yang tak pernah meninggalkan sholat wajib, tahajjud dan rawatib sepanjang hayatnya.
Jumat, 6 April 1453 M , Sultan Mehmed II disertai Aaq Syamsudin -guru beliau-, Halil Pasha, Zaghanos Pasha dan 250.000 pasukan yang dilengkapi teknologi terbaru saat itu yaitu meriam melakukan penyerangan terhadap Konstatinopel.
Konstantiopel saat itu dikelilingi dengan benteng kokoh dan parit yang sulit ditembus, sedangkan selat Golden Horn sendiri telah dilindungi dengan rantai besar sehingga kapal perang dengan berbagai ukuran tidak dapat melewatinya. Sebuah ide luar biasa dari Sultan Mehmed II muncul yaitu pemindahan 70-an kapal perang melewati bukit di daerah Galata agar dapat memasuki ke teluk Golden Horn yang telah dipasangi rantai dalam waktu satu malam. Taktik ini lantas diakui oleh para sejarawan Barat sebagai salah satu taktik peperangan terbaik. Dengan masuknya kapal perang melalui jalan darat, pasukan Konstatine dapat ditaklukkan dan Konstatinopel dikuasai oleh pasukan Sultan Mehmed II.
Setelah Konstatinopel ditaklukkan penduduk kota berkumpul di Hagia Sophia, sebuah gereja. Sultan Mehmed II memberi perlindungan kepada semua penduduk baik yang beragama Islam, Yahudi ataupun Kristen. Dan Hagia Sohpia diubah menjadi mesjid Aya Sofia sedangkan gereja lain tetap difungsikan sebagaimana biasa. Dan nama Konstatinopel pun diubah menjadi Istanbul.
Pintu Masuk 
Museum Aya Sofia

Istanbul merupakan satu-satunya kota di dunia yang berada di dua benua yaitu Asia dan Eropa yang dipisahkan oleh selat Bosphorus. Kota yang pernah menjadi ibu kota empat kekaisaran -Kekaisaran Romawi (330 – 395), Kekaisaran Romawi Timur (395 – 1204), Kekaisaran Latin (1204 – 1261) dan Kekhilafahan Utsmaniyah (Ottoman)- ini terletak di semenanjung sempit yang terbagi oleh tiga bagian yaitu Laut Marmara, Bosphorus dan Golden Horn.

Istanbul memiliki banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Aya Sofia yang kini dijadikan museum sejak pemerintahan sekuler Mustafa Kemal Attaturk merupakan salah satu ikon wisata Istanbul. Mesjid Biru atau Blue Mosque yang terletak di seberang Museum Aya Sofia menjadi salah satu destinasi utama wisatawan muslim.
Ayo...Kemana kita jalan-jalan?😍


Istana Topkapi (Topkapi Sarayi) yang merupakan kediaman 24 khalifah Utsmaniyah selama 4 abad sangat layak untuk dikunjungi. Istana yang didirikan di atas tanah seluas hampir 700.000 m2 ini kini dijadikan museum yang menyimpan lambang kejayaan kekhilafahan Utsmaniyah dan benda-benda peninggalan Nabi Muhammad SAW.

Wisata belanja dapat dilakukan di Egyptian Bazaar yang dibangun pada tahun 1660. Penamaan tersebut dikarenakan banyaknya rempah-rempah asal Mesir meski banyak juga produk dan makanan khas Turki yang dijual di pasar ini. Selain itu Grand Bazaar dapat dijadikan tujuan wisata belanja lainnya.
Egyptian Bazaar

Wisata alam dapat dilakukan dengan melihat menikmati kota Istanbul di daratan Asia dari ketinggian di Çamlıca Tepesi setelah sebelumnya menyeberangi Selat Bosphorus yang penuh dengan pemandangan indah peradaban masa silam. Perjalanan wisata melalui Selat Bosphorus dapat juga dinikmati dengan kapal feri.

Keindahan Istanbul Asia dilihat dari Çamlıca Tepesi



Selat Bosphorus yang memisahkan Istanbul Asia dan Istanbul Eropa

Terpesona Konstatinopel bukan saja terpesona dengan segala keindahan alam dan arsitektur peradaban berabad silam yang dipadukan dengan kemodernan abad 21. Terpesona Konstatinopel adalah terpesona dengan kejayaan Islam, terpautnya hati dengan sejarah Islam, sejarah yang terkadang luput dari ingatan kaum muslim.

Mesjid Yeni Cami dekat Egyptian Bazaar

-Baca juga Istanbul, Turki : Terpesona Konstatinopel : Sightseeing (2)-

Referensi : Disarikan dari berbagai sumber
Foto : Dokumentasi Pribadi